My Only One

My Only One
Terapi Dan Kencan


__ADS_3

🌺


🌺


"Sudah, tidak usah mandi kalau begitu." Galang membawa Amara kembali keluar dari kamar mandi saat perempuan itu tidak berhenti muntah.


"Sumpah, ini nggal enak!" Amara terisak.


"Baru mikir soal mandi aja aku udah mual, apalagi masuk ke kamar mandi." Dia mengusap wajahnya yang berkeringat.


"Iya, makanya tidak usah mandi saja." Galang membasahi handuk kecil dengan air dari wastafel, lalu mengusapkannya pada wajah perempuan itu.


"Tapi nanti aku bau!"


"Pakai deodoran dan parfum yang banyak." Lalu dia mengusapkan handuk basah tersebut pada leher dan seluruh tubuh Amara.


"Kayak bayi aku diseka kayak gini?"


"Ya anggap saja begitu." Galang tertawa.


Dia kemudian mengeringkan tubuh perempuan itu dengan handuk. Memakaikan deodoran hingga membantunya berpakaian seperti biasa.


Mengoleskan krim di wajah lalu menepukkan sedikit bedak dan pelembab bibirnya.


"Lama-lama sepertinya aku bisa jadi tukang make up. Setiap hari mendandani kamu seperti ini." Pria itu terkekeh, dan terakhirmenyemprotkan parfum milik Amara yang aromanya begitu dia sukai.


"Kan udah aku bilang, biar aku aja tapi nggak Kakak kasih?"


"Tidak apa, nanti kalau kamu sembuh juga aku berhenti begini." Dia menyisir rambut panjang Amara, kemudian mengikatnya ke belakang dengan rapi.


"Nah, sudah." Pria itu menatap apa yang sudah dilakukannya dengan puas.


"Apa aku cantik?" Amara menatap cermin.


"Cantik."


"Cuma pakai krim sama bedak doang."


"Nggak apa-apa, begini juga sudah cantik."


Amara juga manatap dirinya yang hanya mengenakan kaus oblong dan celana pendek saja.


"Kita kan mau terapi, setelah itu jalan sebentar. Ke tempat yang dekat saja ya?"


Perempuan itu menganggukkan kepala.


"Baik, kita sarapan dulu? Setelah itu pergi."


"Iya." ucap Amara, dan mereka keluar dari kamar.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sesi terapi di rumah sakit itu dimulai dengan pemeriksaan menyeluruh pada tubuh Amara. Terutama bagian yang cedera, serta kehamilannya.


Dan karena keadaannya yang sudah berbadan dua, terapi akan dipilih yang seringan mungkin. Meskipun tampaknya akan memakan waktu yang cukup lama, tapi itulah pilihan yang paling baik saat ini.


Terapist mengusap kaki kanan Amara. Menekan lututnya perlahan untuk melihat dampak yang mungkin terjadi setelah sesi terapi nanti.


Amara mengernyit dan dia sedikit mendesis ketika rasa sakit menjalar di area yang disentuh.


"Tidak apa-apa, ini hal biasa." ucap terapist yang berada dibawah pengawasan dokter.


"Permulaan semua rasa sakit akan muncul. Begitu juga pada terapi kedua dan ketiga. Tapi akan berangsur menghilang jika sudah melakukanya secara rutin dan tubuh sudah terbiasa." Perempuan itu menerangkan.


"Apa akan lama?"


"Semuanya tergantung pada kondisi kita dan bagaimana melakukannya. Kalau tepat seperti metode yang kami tunjukkan, maka penyembuhan akan berlangsung lebih cepat."


"Beneran?"


"Ya, tapi harus sabar. Dan hati-hati tentunya."


Amara menganggukkan kepala.


Sang terapist melakukan pemijatan pada kaki dan tangannya secara bergantian. Lalu meregangkan otot-otot yang kaku karena sudah hampir dua bulan anggota tubuhnya itu tidak digerakan.

__ADS_1


Amara sempat menjerit-jerit karena merasakan sakit pada kakinya, lalu menangis. Namun dia tidak meminta untuk berhenti. Keinginannya untuk cepat sembuh lebih besar dan bisa mengalahkan rasa sakitnya. Apalagi ketika dirinya mengingat bahwa kini ada bayi dalam kandungannya.


Terutama karena Galang tidak beranjak dari sisinya sedikitpun. Pria itu terus mendampinginya selama sesi terapi tersebut. Hingga akhirnya setelah kurang lebih dua jam semuanya selesai.


"Tiga hari lagi harus kembali ya? Pemijatan seperti ini harus dilakukan setidaknya tiga kali, baru setelahnya belajar berjalan."


"Apa nggak bisa langsung aja Dokter?" Amara bertanya.


"Tidak bisa. Akan sangat berbahaya. Tubuh akan terkejut dan responnya akan kurang baik."


"Gitu ya?"


"Ya. Ingat harus sabar."


"Baiklah."


"Jaga kesehatan dan jangan lupa minum vitamin ya? Saya tidak akan memberikan obat karena takut membahayakan janin. Hanya konsumsi makanan yang sehat saja dan mudah-mudahan itu bisa membantu penyembuhan." Sang dokter berpesan.


"Iya Dokter." Lalu sesi terapi pada hari itu pun berakhir.


***


Mall yang terletak beberapa blok dari NMC  itu menjadi tempat pertama yang mereka kunjungi.


Galang membawanya masuk ke dalam gedung setinggi lima lantai tersebut dan mereka segera menemukan suasana yang cukup ramai. Tentu saja, itu adalah akhir pekan dan hampir semua orang sepertinya menghabiskan waktu untuk bersenang-senang.


"Mau nonton film?" tawar Galang saat dia melihat banner promo di sebuah booth.


"Nggak."


"Terus mau apa?"


"Jalan-jalan aja."


"Keliling, begitu?"


Amara menganggukkan kepala.


"Oke. Tapi sebelumnya kita makan dulu?"


Lalu mereka masuk ke salah satu food court yang cukup luas. Berbagai produk makanan dijajakan di sana dengan bermacam versi dan varian. 


Galang memilih tempat duduk di dekat kaca besar yang menampilkan pemandangan kota Jakarta pada siang hari yang cukup padat. Terutama di jalan-jalan utama dan pusat-pusat keramaian.


Pria itu kembali membawa dua nampan makanan dengan menu berbeda. Satu semacam fastfood lengkap dengan kentang goreng dan minuman bersoda. Dan satu nampan lagi berupa dim sum dengan saus dan minuman dinginnya.


"Aku mau yang itu." Amara menunjuk dim sum milik suaminya.


"Aku lupa nggak tanya kamu maunya apa."


"Kebiasaan."


"Mau pesan lagi?"


"Nggak usah, mau punya Kakak aja."


"Baiklah." Lalu Galang menukar makanan mereka.


"Kalau soal makanan kamu tidak mual? Aku dengar orang hamil itu akan merasa mual waktu makan?"


Amara terdiam merasakan indra pengecapnya yang sedang mengunyah makanan. Kemudian dia menggeleng.


"Nggak." katanya.


"Benarkah?"


"Iya, kecuali kalau nyium bau obat sama air mandi di pagi hari."


Galang terkekeh.


"Aneh ya?"


"Bagus juga sih, jadi aku nggak akan kesusahan kalau soal makananmu ya?"


Amara mengangguk lagi.

__ADS_1


"Cuma males mandi aja."


"Soal itu nggak apa-apa, kamu bisa mandi sore hari. Lagi pula kamu dirumah seharian."


"Sekarang keluar." Amara mengendusi dirinya sendiri, memastikan keadaannya tidak mengganggu.


"Tidak ada yang tahu kamu nggak mandi, kecuali aku." Galang tertawa melihat kelakuan istrinya.


"Bikin malu ya?"


"Siapa?"


"Aku bikin malu Kakak."


"Kenapa harus malu?"


"Penampilan aku kayak gini, belum bisa dandanin diri sendiri." Dia menarik kaus oblongnya. Merasa tidak percaya diri dengan penampilannya.


"Kenapa sih kamu selalu mempermasalahkan penampilan? Padahal aku nggak masalah dengan itu. Begini juga sudah bagus." Galang berujar.


Sementara Amara menatap sekeliling di mana pengunjung lain berada. Orang banyak dengan penampilan berbeda. Dan sebagian besar dari mereka berpenampilan modis dan kekinian.


"Jangan selalu melihat orang lain. Kita nggak tahu bagaimana mereka, dan begitu juga sebaliknya."


"Tapi aku malu."


"Nggak usah malu. Aku nggak masalah walau bagaimana pun keadaanmu."


Amara terdiam.


"Jadi, jangan juga itu membuatmu menjadikannya sebagai masalah. Sekarang makanlah, bukankah kita sedang berkencan?"


"Kencan?"


"Ya, anggap saja ini kencan setelah menikah." Pria itu tertawa.


Amara pun terkekeh.


"Setelah ini kita mau ke mana?" Mereka melanjutkan acara makannya.


"Aku mau makan es krim, beli baju, sama kosmetik."


"Beli lagi? Yang aku belikan waktu kita menikah kan masih ada?"


"Mau beli lagi, siapa tahu aku mau dandan."


"Oh … oke."


"Jangan lupa belanja makanan untuk di apartemen."


"Ah iya, persediaan kita sepertinya sudah habis ya? Apalagi ini hari Sabtu."


"Emangnya kenapa kalau hari Sabtu?"


"Nanti sore kita harus menjemput Arkhan, ingat?"


"Kakak serius Arkhan boleh menginap setiap malam Minggu?"


"Iya."


"Kalau adik-adikku yang lain ikut gimana?"


"Nggak mungkin, cuma Arkhan."


"Hmm … baiklah."


🌺


🌺


🌺


Bersambung ...


Duh duh yang kencan? 😄😄

__ADS_1


__ADS_2