My Only One

My Only One
Kekesalan Amara


__ADS_3

🌺


🌺


"Mmhhh …." Amara menahan erangan ketika Galang membenamkan alat tempurnya.


Napasnya menderu-deru dan dadanya naik turun dengan cepat. Yang kemudian Galang sentuh dan merematnya dengan gerakan sensual. Tubuh mereka yang masih setengah basah malah membuat keduanya kembali tergoda meski sudah mengulangi percintaan pada subuh tadi.


Perempuan itu menjengit sambil menggigit bibir bawahnya dengan keras di saat suaminya mulai menghentak namun tak menghentikan sentuhan dan cumbuannya walau hanya sedetik.


Galang seperti biasa menahan kaki kanan nya yang masih berbalut perban agar tetap aman, meski sesekali dia sempat kehilangan kendali dan hampir saja lupa, tapi pria itu selalu kembali bisa mengendalikan diri.


"Ssshhh … Kakak!" Amara mendesis.


Perasaannya menjadi semakin gila saja kali ini. Inti tubuhnya terus berkedut kencang setiap kali pria diatas menambah tempo hentakkannya.


"Ummhh …." Dia sedikit menggeram kala merasakan pelepasan mulai menghantamnya, lalu di detik berikutnya Amara melenguh ketika pertahanannya benar-benar runtuh. 


Kedua tangannya memeluk erat pundak Galang, dan area di bawah sana berkedut semakin kencang seiring tubuh polosnya yang mengejang hebat.


"Ah, Kakak!" Perempuan itu hampir berteriak jika saja Galang tidak membungkamnya dengan ciuman dalam saat dia juga merasakan klim*ks menyerangnya tubuhnya.


Galang menekan pinggulnya dengan keras seraya meremat kencang bokong Amara. Sementara sesuatu menyembur di bawah sana.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Arkhan sudah tiga kali mendekati pintu kamar kakaknya yang masih tertutup rapat. Sejak subuh dia sudah siap dengan segala hal.


Remaja 16 tahun itu sudah mandi, mengenakan jeans dan jaket kulit berwarna hitam pemberian Galang, juga menggenggam kunci motor yang sudah menjadi miliknya sejak semalam.


Namun kakak iparnya itu belum juga keluar dari kamar padahal jam sudah menunjukkan hampir setengah tujuh pagi.


Ingin mengetuk pintu tapi dia tidak berani, takut mengganggu penghuni yang ada di dalamnya. Lagi pula, kedua orang tuanya memang menerapkan aturan ketat soal ruang pribadi bagi orang dewasa, dan dia tidak berani untuk melanggarnya.


Arkhan baru saja memutar tubuh ketika terdengar suara 'klek' dari belakang, dan beberapa detik kemudian pintu kamar pun terbuka.


"Aku kirain Kakak lupa?" Anak itu kembali berbalik.


"Sssttt!" Galang menempelkan jari telunjuknya di bibir, mengisyaratkan kepada adik iparnya untuk tidak bersuara.


Dia sudah mengenakan celana jeans dan jaket kulit hitam miliknya yang biasa dipakai untuk berkendara. Sama seperti yang Arkhan kenakan.


"Kak Ara masih tidur?" Arkhan berbisik, dan Galang menjawabnya dengan anggukkan kepala.


"Kakakmu baru saja tidur lagi, jadi jangan berisik!" katanya, yang menutup pintu pelan-pelan, lalu menyeret adik iparnya itu mengendap-endap dan menjauh dari depan kamar.


"Tidur lagi? Perasaan ini udah siang?" Arkhan melihat jam di layar ponselnya. "Udah mau jam tujuh?" Dia mengerutkan dahi.


"Jangan banyak bicara, yang penting aman." ucap Galang yang mengambil kunci motor dan dua helm miliknya. Yang salah satunya dia berikan kepada sang adik ipar.


"Yakin aman?" Arkhan memastikan.


"Yakin. Kakakmu sangat nyenyak barusan."


"Masa?"


"Ya, sehabis mandi dia tidur lagi." Mereka keluar dari unit apartemennya.


"Kok bisa? Kayak bayi habis mandi tidur lagi?"


"Iya, mandinya menguras tenaga. Makanya Kak Ara kelelahan."


"Hum?" Arkhan mengerutkan dahi.


"Eee … cederanya yang menguras tenaga, jadi ya … begitulah." Galang tertawa pelan.


"Emangnya Kakak apain?" Anak itu malah bertanya.


"Eh, sudah! Nggak perlu dibahas. Bukannya kita mau ke SUNMORI?" Galang menariknya masuk ke dalam lift.


"Apa kita nggak kesiangan? Kakak bilang harus pagi-pagi?" Arkhan mengingatkan ucapan kakak iparnya semalam.


"Ini juga pagi-pagi, masih sempat lah." Galang menahan tawa.


"Masa?"


"Iya."


"Awas loh, kalau pas kita sampai nanti mereka udah pada pergi, itu salah Kakak!" Remaja itu mendelik.


"Iya iya." Galang menepuk pundak adik iparnya seraya memeriksa ponsel miliknya ketika ada sebuah pesan yang masuk.


"Semuanya sudah siap Pak. Ada sekitar 20 motor yang menunggu di tempat kemarin." Pesan dari nomor bawahannya.


"Baik, terima kasih. Mereka sudah diberi tahu harus apa kan?" Galang mengirim balasan.

__ADS_1


"Sudah Pak, mereka sudah mengerti apa yang harus dilakukan."


"Bagus. Kembali bertugas!" perintahnya kepada sang bawahan.


"Baik Pak."


Galang tak lagi mengirim balasan.


Mereka tiba ti area gedung kosong yang pelataran parkirnya sudah menjadi tempat berkumpul sekitar dua puluhan pengendara motor. 


Semuanya menyambut kedatangan Galang seperti yang sudah direncanakan sebelumnya, saat dia mengenalkan adik iparnya yang tampak antusias.


Dan setelah berbasa-basi sebentar, mereka pun menjalankan rencana awal. Yakni berkendara melewati rute yang sudah ditentukan, dan menunjukkan beberapa hal yang biasa mereka lakukan sebagai komunitas hobby otomotif.


Tidak terlalu jauh, hanya berkeliling kota Jakarta dan menikmati suasana dengan cara yang berbeda. Terutama bagi Arkhan yang baru pertama kali merasakannya.


Melihat tempat-tempat yang jarang dikunjungi, melewati jalan yang jarang dia lalui, dan melihat hal-hal yang tidak pernah dia saksikan dengan matanya sendiri.


Remaja berusia 16 tahun itu tampak bersemangat berada ditengah orang-orang ini. Dia antusias mengikuti kemanapun mereka pergi, dan wajahnya tampak gembira.


Tentu saja, ini seperti sesuatu yang tidak pernah dia bayangkan. Sejak kecil Arkhan tidak pernah mengalami hal-hal sederhana seperti berkendara keliling kota dengan motor atau semacamnya. Segala yang dia dapatkan malah selalu merupakan hal istimewa dan tentu saja yang terbaik.


Tapi Galang, dan mereka menunjukkan hal lain. Ketika semua orang membiarkannya berada ditengah, mengendarai motor cross hijau pemberian sang kakak ipar, dan mengikuti ke manapun mereka pergi.


Namun justru, hal sederhana seperti inilah yang menjadi kesenangannya kini. Dan bagian terbaiknya adalah dia bisa berbaur dengan orang yang tidak dikenal sebelumnya.


Mereka bahkan memutuskan untuk berkumpul terlebih dahulu di sebuah spot makan pinggir kota, setelah menyelesaikan rute pada hampir siang itu.


Makan, bercakap-cakap, dan berdiskusi tentang segala hal. Hingga setelah beberapa saat akhirnya mereka membubarkan diri dan berpisah.


"Senang hari ini?" Galang hampir mengenakan helmnya, begitu juga dengan Arkhan. Mereka menjadi yang paling terakhir pulang.


Adik iparnya itu tersenyum sambil menganggukkan kepala.


"Kalau tidak ada halangan, minggu depan kita ikut lagi. Mungkin rutenya lebih jauh dari ini." ucap Galang yang menaiki motornya.


"Serius?"


"Ya." Mesin dinyalakan dan mereka bersiap untuk pergi.


"Setiap week end aku boleh nginep lagi?" Anak itu bertanya.


"Boleh kalau kamu mau."


"Asik!"


"Apa?"


"Motornya tetap di apartemen, dan cuma dipakai Sabtu Minggu saja. Tetap rajin sekolah, dan jangan membantah Papa dan Mommy!" Galang mengingatkan.


"Ooo … pastinya." Arkhan tertawa.


"Kakak serius. Kalau kamu berulah, Kakak bisa ambil lagi motornya dan membiarkan Papa menghukum kamu." ancam Galang.


"Nggak Kak ih! Aku pasti nurut setelah ini."


"Baik, Kakak pegang janji kamu ya? Awas kalau macam-macam!"


"Sip." Arkhan mengacungkan dua jari tangannya ke depan Galang.


"Ya sudah, kita pulang. Kak Ara pasti sudah bangun."


"Harusnya udah, hampir tengah hari?" Remaja itu melihat jam di layar ponselnya yang sudah menunjukkan pukul 11.30.


"Makanya."


"Nanti nangis lagi Kak?"


"Nggak tahu, mungkin?"


"Nggak mau Kakak beliin apa gitu? Siapa tahu pas sampai Kak Ara mau dibawain apa?"


"Harus begitu?"


"Ya, dari pada Kakak kena semprot karena pergi nggak bilang-bilang? Lagian kenapa sih kita main rahasia-rahasiaan segala sama Kak Ara?"


"Alah, cuma jalan-jalan. Terus, kalau misalnya kita bicara soal ini kepada Kakakmu, nanti malah ribet sendiri. Kak Ara akan banyak tanya, memangnya kamu mau?"


"Ya nggak juga sih. Nanti kak Ara ngadu sama papa kalau tahu aku motor-motoran kan?"


"Nah, itu maksudnya."


"Ya udah, nggak usah."


"Baiklah, kita langsung pulang?" ucap Galang lagi.

__ADS_1


"Emangnya mau ke mana? Nanti bayi gede Kakak nangis lagi kalau ditinggal lama-lama."


Galang hanya tertawa.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Mereka tiba di unit apartemen Galang pada lewat tengah hari. Dan menemukan tempat itu yang cukup sepi. Tentu saja, Amara pasti masih di kamarnya karena dia sudah pasti tak bisa bangun.


Namun keduanya tertegun ketika mendengar suara dari dapur, dan mendapati perempuan itu yang sudah berada di sana, dengan kursi rodanya dia tengah mengambil makanan dari dalam kulkas.


"Neng?" Galang setengah berlari ke dalam dapur. 


"Kamu sudah bangun?" Dia mendekat.


"Kamu bisa bangun?" Galang terus bertanya.


"Kelihatannya?" Amara menjawab.


"Bagaimana caranya? Kok kamu bisa?"


"Terpaksa, karena lapar." jawab perempuan itu dengan nada ketus.


"Kan aku sudah menyediakan di kamar?"


"Habis tadi pagi. Emang Kakak pikir ini jam berapa?" Amara mendelik.


"Eee …."


"Aku bangun di sini nggak ada siapa-siapa. Pindah ke kursi roda aja sampai jatuh, susah lagi mau bangunnya!" Amara dengan kilat kekesalannya yang kentara, lalu dia membanting pintu lemari pendingin agak keras.


Satu kotak susu cair dan satu buah apel diletakkan di pangkuan, lalu dengan susah payah dia memutar roda pada kursinya dengan sebelah tangan, kemudian mundur.


"Kamu mau kembali ke kamar?" Galang membantunya mendorong kursi roda.


"Iya, disini takutnya ganggu." Amara menjawab.


"Mengganggu siapa?"


"Kakak sama Arkhan yang lagi asik apa-apa barengan, sampai lupa sama aku?" Dia mendelik kepada adik laki-lakinya.


"Duh?" Galang tertegun diambang pintu kamar dan menatap ruangan itu yang berantakan. Selimut sudah berada di lantai, pasti dikarenakan Amara yang berusaha bangun saat dia terjatuh seperti yang dikatakannya tadi.


"Kamu beneran jatuh ya?" katanya, yang segera membawanya masuk lalu membenahi tempat tidur mereka.


Amara tak menjawab, namun dia berusaha pindah  begitu jaraknya sudah dekat dengan tempat tidur.


"Tunggu Neng!" Namun Galang segera menahannya.


"Aku mau pindah lah!" Perempuan itu menepis tangan suaminya.


"Iya, tapi pelan-pelan. Kamu kan …."


"Biar bisa lah! Kalau dibantuin terus kapan bisanya? Kapan sembuhnya?" 


Galang melepaskannya saat dia sudah berada di tempat tidur.


"Susunya … mau aku bukakan?" tawar Galang ketika Amara berusaha membuak kotak susunya.


Amara tak menjawab, namun dia hanya mendelik kepada suaminya. Sepertinya kekesalan masih ada karena kepergian pria itu pagi-pagi sekali saat dia tertidur lagi.


"Cuma mau bantu Neng."


"Nggak usah!" Amara menenggak su*u dari kotak tersebut dengan cepat.


"Itu … dingin lho, kan dari kulkas?"


"Nggak apa-apa, biar terbiasa."


"Umm …."


"Sana, kalau mau pergi lagi. Aku mau tidur." ucapnya, seraya merebahkan kepala diatas bantal.


"Kan sudah siang?"


"Dari pagi aja aku tidur."


"Tapi Neng?"


"Orang seharian aja aku tiduran kan? Sana-sana keluar!" Amara benar-benar mengusirnya kali ini.


🌺


🌺


🌺

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2