
🌺
🌺
"Aku boleh makan es krim?" Bola mata Anya membulat sempurna menatap satu porsi besar es krim yang dibawakan oleh pelayan di sebuah restoran.
"Memangnya kamu dilarang makan es krim?" Galang mengalihkan perhatian dari ponselnya.
"Nggak juga sih. Tapi kata Mommy makan es krimnya hari minggu aja. Emangnya ini udah hari Minggu?"
"Ada makan es krim pakai aturan begitu?" Galang menggumam.
"Mommy yang bilang Om."
"Dan kamu nurut?" Pria itu terkekeh.
"Kalau nggak nurut nanti dimarahin sama mommy."
"Memangnya mommy kamu suka marah-marah?"
"Kalau aku nakal."
"Memangnya kamu suka nakal?" Kemudian Galang tertawa.
"Sedikit Om."
"Kamu Zen?" Lalu dia beralih kepada anak laki-laki yang sudah asyik dengan makanan miliknya.
Satu porsi rattatouile yang denhan cepat dia lahap.
"Duh, kamu lapar ya?" Galang menatap piring yang berisi makanan khas negara Prancis itu.
"Hu'um, tadi baru makan sedikit. Anya keburu ngajak pergi." jawab Zenya dengan polosnya.
"Anya itu, memang ya. Apa-apa harus buru-buru. Rusuh." Galang setengah berbisik sambil melirik kepada Anya.
"Aku denger." Gadis kecil itu meyuapkan es krim kedalam mulut kecilnya.
"Eh, katanya nggak boleh makan es krim selain hari Minggu?" Galang mengingatkan.
"Kan udah ada es krim nya? Sayang." Anya menjawab.
"Om bilang Mommy kamu lho."
"Orang Om yang ngasih?"
"Kan tahu nggak boleh?"
"Tapi kan dikasih? Paling nanti Om yang dimarahi Mommy."
"Dih, bisa aja balikin kata-kata?" Pria itu menggerutu. Sementara Anya berlanjut menikmati kudapan manis itu tanpa peduli sekitar.
"Kamu mau es krim juga?" tawar Galang kepada Zenya.
"No."
"Kenapa?"
"Emang ini udah hari Minggu?" Zenya malah bertanya.
"Bukan. Baru hari Sabtu."
"Oh, ... nggak deh."
"Om nggak akan bilang Mommy lho. Ini rahasia."
"No. Aku good boy." ucap bocah itu, dan Galang memahami maksudnya.
Bocah itu tidak akan melanggar apa yang Rania katakan keculai atas seizinnya.
"Nurut sekali kamu ini." Galang mengusap puncak kepalanya. "Tapi kok Anya beda ya?" Kemudian dia tertawa.
Selepas menikmati makanan yang telah dipesan, Galang lantas membawa dua anak ini berkeliling seperti yang mereka inginkan. Mengunjungi beberapa tempat terkenal di sekitar sirkuit hingga tanpa terasa akhirnya tour guide membawa mereka kembali ke kota Paris.
"Eiffel cool!" Zenya menengadahkan kepalanya menatap ujung bangunan tinggi itu dengan ekspresi takjub.
"Kenapa kita jadi balik lagi kesini ya?" Galang menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Sudah sore lho, orang tua kalian nanti khawatir?" ucap pria itu.
"Boleh kita naik ke sana?" Anya menatap wajah Galang dengan mata berbinar.
"Ngantri." mereka menatap antrian yang cukup panjang.
"But i want to go up there!"
"Antriannya panjang, Anya."
"Tapi Om?"
"Jangan merengek! Nggak lihat itu antrianya panjang begitu? Mau disini sampai jam berapa?" Pria itu berujar.
"Kan aku ..."
"Jangan harap Om akan menuruti kemauan kamu ya? Nggak mungkin! Om bukan oma dan opa yang akan menuruti kemauan kamu yang nggak masuk akal!" ucap Galang dengan tegas.
"Ah Om nggak asik."
"Kita pulang ke villa?" tawarnya kemudian.
Anya mengerucutkan mulutnya.
Sementara Galang hanya tertawa. Dia lantas menggandeng tangan dua anak itu dan kembali ke mobil.
***
"Dul, kamu bawa anak-anak ke mana? Ini udah malam!" Pesan Rania masuk ke ponsel Galang.
Malam memang telah merangkak naik namun pria itu belum juga mau kembali. Ditambah anak-anak yang memang begitu menikmati acara jalan-jalan hari itu. Membuat Galang memiliki alasan untuk mengulur waktu.
"Sebentar lagi. Kami masih di dekat Eiffel." Dia membalas.
"Apaan? Jauh Lang!" Pesan dari Rania lagi.
"Iya, sebentar lagi pulang."
"Jangan kemalaman! Besok subuh aku harus siap-siap!" Ancam Rania, seperti memperingatkan pria yang membawa kencan anak gadisnya.
"Iya Oneng." balasnya lagi, diikuti emot tertawa.
"Om, kita lagi nungguin siapa sih disini?" Anya menoleh keluar jendela mobil yang mereka tumpangi.
Sebuah hotel yang dia ingat sebagai tempat mereka menginap semalam terlihat semarak dengan lampu hias di bagian depannya.
Sudah jam delapan waktu Paris, dan suasana terlihat cukup ramai. Mobil terlihat berjajar hingga ke bagian luar, dan tampaknya tempat itu menjadi semakin sibuk saja.
Namun Galang memicingkan matanya ketika dia melihat seorang gadis keluar dari dalam hotel bersama beberapa orang temannya.
Amara dengan jaket tebal untuk menghalau hawa dingin yang mulai menyeruak.
Galang pun merapatkan jaketnya, kemudian dia segera keluar dari mobil.
"Om Galang? Mau ke mana?" Teriakan anak itu cukup nyaring sehingga terdengar keluar. Membuat muda-mudi yang hampir melintas di depan mobil mereka itu menoleh.
Dan Amara tentu saja tertegun demi melihat pria yang berjalan tergesa ke arahnya. Yang tidak dia sangka sama sekali akan kembali.
"Hey, mau pulang?" ucap Galang, langsung pada maksudnya.
"Kakak kesini lagi?"
__ADS_1
"Hanya sedang jalan-jalan." Galang menjawab, seraya melirik pada tiga orang yang ada bersama dengan Amara.
"Om Galang!" Anya membuka kaca mobil kemudian menjulurkan kepalanya.
"Anaknya Rania." Galang berucap, ketika raut wajah Amara berubah saat melihat dua anak kecil di dalam mobil.
"Ngapain kalian malam-malam di sini?"
"Sengaja."
"Sengaja?"
"Mau ketemu kamu lagi." Kedua sudut bibir pria itu tertarik membentuk sebuah senyuman.
"Mungkin besok siang kami langsung pulang jadi, ...."
"Amara, nous rentrons d'abord a' la maison ( Kami pulang duluan)." Catherine berujar. Mereka tahu ada sesuatu dengan temannya itu.
"Umm ...."
"Bye."
"See you." Ketiga orang itu pun pergi tanpa menunggu jawaban Amara.
Gadis itu menghela napas dan menghembuskannya pelan-pelan.
"Ayo, aku antar." Galang menyentakkan kepalanya ke arah mobil.
Dan sepertinya Amara tak memiliki alasan untuk menghindar. Jadi dia memutuskan untuk ikut saja.
Dua anak kecil itu terdiam menatapnya lekat-lekat. Mereka duduk di kursi belakang, sementara Galang di kursi depan bersama sopir sekaligus tour guide mereka.
"Kakak?" Anya menyapanya.
"Itu Kak Ara. Anya ingat?" Galang berujar.
"Kak Ara?"
"Anaknya Mommy Dygta dan Papa Arfan."
"Kakaknya Kak Arkhan?"
"Iya."
"Aku lupa."
"Iya, soalnya kak Ara pergi waktu kamu tiga tahun."
"Kakak kabur?" Anak itu bertanya.
"Tidak, tapi kuliah."
"Kuliah?"
"Sekolah."
"Sekolahnya di mana?"
"Di sini."
"Di Paris?"
"Iya."
"Kok sekolahnya jauh? Naik pesawat terus dong?" Anya dengan polosnya.
"Aku sekali naik pesawat aja pusing, ngantuk. Kakak tiap hari naik pesawat?" Sahut Zenya, tak kalah polosnya. Membuat Galang dan Amara tertawa bersamaan.
"Kakak naik pesawatnya cuma sekali, dari Indonesia aja. Setelahnya ya nggak."
"Kakak sekolahnya nginep?"
"Ya, kaya gitu."
"Ya boleh."
"Kok boleh?"
"Maksudnya, nginepnya di apartemen yang deket ke sekolah." Amara menjelaskan.
"Oh, aku kirain nginepnya di sekolah." Anya tertawa, sehingga Amara pun ikut tertawa.
"Kamu lucu banget sih? Berapa tahun?" Amara mencubit pipi Anya dengan gemas. Mereka tiba-tiba saja menjadi akrab.
"Lima tahun. Zenya juga." Anya menepuk lengan saudara kembarnya.
"Udah sekolah?"
"Udah TK A."
"Pantesan pinter."
"Iya dong, kaya Mommy sama Papi." Anak itu dengan bangganya.
"Hmm ... ya." Amara tersenyum.
"Aku turun di sini Kak." ucap Amara, ketika mobil yang mereka tumpangi tiba di depan sebuah bangunan gedung apartemen.
"Kamu tinggal di sini?" Galang menatap area sekeliling.
"Iya."
"Apa aman?" Pria itu bertanya.
"Ini pinggiran Paris yang paling aman Kak."
"Oh iya, aku lupa kalau papamu detektif ulung se Nikolai Grup. Dia pasti sudah memastikan semuanya ya?" Galang tergelak.
"Hmm ... Kakak tahu sendiri kan?" Amara mengamini.
"Aku turun ya?" sambung Amara seraya membuka pintu, kemudian turun. Diikuti Galang yang kemudian berjalan memutat ke arah gadis itu.
"Sebenarnya aku mau bicara banyak denganmu, tapi ...." Ponsel Galang berbunyi nyaring, dan kontak Rania yang memanggil.
Pria itu mendengus keras seraya memejamkan mata sekejap.
"Ya Ran?" Kemudian dia menjawab panggilan.
"Dudul! Kalian di mana?" Perempuan di seberang berteriak nyaring sehingga Galang menjauhkan ponsel dari telinganya.
"Masih di Paris ...."
"Apa??" teriak Rania lagi.
"Sebentar ...."
"Pulang sekarang nggak? Itu bocah dua kamu bawa jauh-jauh! Kalau mau keluyuran jangan bawa anak aku dong!" Rania masih berteriak.
"Sebentar lagi juga pulang Ran."
"Nggak ada sebentar-sebentar lagi! Kalian pokoknya harus pulang sekarang juga. Titik!" ucap Rania.
"Tapi Ran, aku lagi ...."
"Sekarang Galang!" Perempuan itu terdengar menggeram.
Galang mendengus lagi.
"Dudul!!"
__ADS_1
"Iya Ran iya. Huh, dasar Oneng!" Pria itu akhirnya menyerah.
"Lagian Kakak bolak-balik bawa anak-anak? Ya ngamuk ibunya?" Amara terkekeh.
"Tadinya cuma jalan-jalan, tapi malah lanjut ke sini."
"Hmm ... jadi ...."
"Jadi ...." Keduanya berucap bersamaan.
"Kakak harus segera pulang." Amara menoleh kepada anak-anak yang kembali menjulurkan kepala mereka di jendela mobil.
"Ya." Galang mengangggukkan kepala. "Kamu baik-baik ya, di sini?"
"Hmm ... kakak juga."
"Jaga diri Ra."
Dan jaga hatimu juga untuk aku. Batinnya.
"Iya Kak."
"Baiklah ...." Galang bermaksud kembali kedalam mobil ketika gadis itu memanggil.
"Kak Galang?"
"Ya?" Pria itu segera merespon, lalu berbalik.
"Besok kalian pulang jam berapa?" Amara bertanya.
"Umm ... sepertinya nggak lama setelah Rania menyelesaikan balapannya. Kenapa?"
Amara menatap wajah pria di depannya.
"Kalau Kakak mau, mampirlah sebelum pulang. Bisa?" Dia maju beberapa langkah.
"Apa?"
"Mampirlah ke hotel sebentar sebelum pulang. Aku akan meluangkan waktu."
Galang terpaku di tempatnya. Dia seolah tidak mempercayai pendengarannya. Apa ini artinya mereka masih memiliki kesempatan?
"Umm ... aku ...."
"Kalau kakak punya waktu, mampirlah. Tapi kalau nggak bisa ya nggak apa-apa."
"Bisa, aku bisa. Aku pasti mampir ke tempat kerjamu."
"Beneran?" Seulas senyum terbit di bibir Amara. Dan itu merupakan senyum paling manis yang Galang lihat dalam kurun waktu dua tahun.
"Iya, aku pasti datang. Tunggu saja."
"Hmm ... aku tunggu." Gadis itu menganggukkan kepala.
"Baiklah, kalau begitu aku pergi."
"Iya Kak." ucap Amara.
Dan Galang terhenyak ketika dalam sekejap mata gadis itu menghambur ke pelukannya.
"Terima kasih Kakak udah datang." Lalu dia berbisik. Sementara Galang tak dapat mengucapkan sepatah kata pun.
"Umm ...."
"Sekarang pulanglah, ... Kak Rania pasti menunggu ...." Amara melepaskan rangkulan.
"I-iya." ucap Galang, seraya mundur.
Dia tak memalingkan pandangannya sama sekali dari gadis itu, hingga akhirnya mereka meninggalkan tempat tersebut.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"DUDULL!!" Teriakan Rania menggema di pekarangan villa pada larut malam itu. Dan dia segera berlari menghampiri ketika mobil yang ditumpangi Galang dan kedua anaknya berhenti di depan teras.
Setelah lebih dari dua jam lamanya mereka menunggu kepulangan sahabat sekaligus asisten suaminya itu. Yang membawa dua anak kembarnya berjalan-jalan sejak siang. Sementara Dimitri berdiri denga kedua tangan terlipat di dada.
"Teu kira-kira! wayah kieu karek balik! ( ngga kira-kira, jam segini baru pulang?)." Rania memukul lengan sahabatnya itu.
"Timana maneh teh?! ( Dari mana kamu?)."
"Kan jalan-jalan Ran?" Galang menjawab.
"Teu mikir? Jaba mawa budak deuih? Dasar Dudul! ( nggak mikir, mana bawa anak lagi?)."
"Maaf aku kan ...."
"Mommy, aku ngantuk." Anya dan Zenya turun ketika Dimitri membukakan pintu mobil untuk mereka.
"Uuuhh, sini-sini. Kalian pasti kecapean." Rania merangkul kedua anaknya.
"Udah makan belum? Jangan-jangan belum lagi?" Rania mendelik kepada sahabatnya itu.
"Kenyang Mommy, tadi itu aku makan, jalan-jalan, terus makan lagi, terus makan es krim, terus ...." Anya menutup mulut dengan tangannya.
"Apa? Makan es krim? Di hari Sabtu?"
"Umm ...."
"Aku nggak Mommy, aku good boy." Zenya membela diri ketika ibunya melirik ke arahnya.
"I promise, i'm good boy."
"Galang!!!" Lalu Rania beralih kepada sahabatnya.
"Aku nggak tahu ada peraturan kayak gitu? Lagian mana ada aturan untuk hari makan es krim? Ada-ada aja kamu ini?" Galang juga membela dirinya.
"Kamu ...."
"Mommy, aku ngantuk." Anya menginterupsi seraya bergelayut di tangan ibunya.
"Ck! Baiklah, cepat masuk. Disini dingin." Rania segara menarik kedua anaknya ke dalam villa.
Sementara Dimitri masih di sana bersama Galang yang terdiam.
"Kamu dalam masalah kawan!" Pria itu berujar.
"Saya tidak bermaksud membawa mereka sampai selarut ini pak. Kalau saja ...."
"Jangan jelaskan kepadaku, aku tidak mau tahu." Dimitri mengangkat kedua tangannya.
"Tapi Pak?"
"Jelaskan saja kepada Rania, aku saja tidak berani melanggar aturan es krim hari Minggunya. Tapi kamu?"
"Saya tidak tahu soal itu. Lagi pula kenapa sih ada aturan seperti itu Pak?"
"Entahlah, itu sahabatmu tahu?"
"Kan istri Bapak?"
"Yeah, memang." Lalu Dimitri pergi mengikuti anak dan istrinya ke dalam. Sementara Galang tergelak seraya berlari ke paviliun samping tempatnya beristirahat.
🌺
🌺
🌺
Bersambung ...
__ADS_1
Cieeeee yang ketemu lagi sama ayang 😂😂
ayo ayo, like komen sama hadiahnya di kencengin lagi? yok bisa yok. Jan sampai Mommy Oneng ngomel-ngomel nih? 😄😄