My Only One

My Only One
Ujian Lainnya


__ADS_3

🌺


🌺


"Aku masih belum ngerti." Amara meletakkan ponsel di dekat bantal saat Galang keluar dari kamar mandi.


Pria itu segera membersihkan tubuh tak lama setelah Arfan pergi dan segera mengunci pintu setelah yakin tidak akan ada yang datang lagi.


"Soal apa?"


"Hubungan soal kecelakaan sama mamanya Kak Clarra."


"Hmm …." 


"Emang yang mukulin Kakak waktu itu mamanya Kak Clarra?" Lalu dia bertanya.


"Orang suruhannya."


"Kok bisa?"


"Bisa."


"Kenapa?"


"Dia marah karena Clarra berani menolak bertemu dan berhubungan dengannya."


"Mama kandungnya?"


"Ya."


"Jadi kak Clarra itu bukan anaknya dokter Fahmi sama tante Vita?"


"Bukan."


"Jadi itu beneran ya?"


"Iya, begitulah." Galang kemudian naik ke tempat tidur.


"Umm …."


"Kamu sudah makan?" Galang menyandarkan tubuh di samping kirinya.


"Udah tadi sama papa. Kakak sendiri?"


"Belum."


"Lho? Makan dulu gih. Atau mau minta Nania anter lagi ke sini?" Amara kembali meraih ponselnya yang sudah dia letakan di dekat bantalnya.


"Nggak usah, aku nggak lapar." Galang merebut benda pipih itu yang kemudian dia lemparkan ke belakang tubuhnya.


"Oke." Kemudian Amara terdiam.


"Apa tangan dan kakimu sudah tidak terasa kaku?" Galang kemudian memeriksa bagian tubuh yang dimaksud.


"Nggak." Amara menjawab.


"Masih sakit?"


"Masih lah."


Galang mengangguk-anggukkan kepala, kemudian tersenyum.


"Jangan senyum-senyum gitu, Kakak bikin aku takut!" protes Amara saat dia merasa kalau suasana ini mulai menegangkan.


Pria itu tertawa.


"Aku tahu apa yang Kakak pikirin."


"Memangnya apa?"


Perempuan itu mengingat ucapannya tadi pagi, dan hal itulah yang saat ini pasti ada dalam pikiran suaminya.


"Duh, aku kok deg-degan ya?" Galang meraba dadanya sendiri, diikuti dengan cengiran khasnya.


"Dih, berlagak gugup padahal emang itu maunya?"


"Nah, kamu mengerti?" Galang tertawa lagi.


"Mm …."


"Tapi nggak mungkin juga kan kalau aku memaksa? Aku suami kejam dong kalau begitu?"


"Eh?"


"Mendingan tidur kan? Kalau tidak nanti aku tersiksa sendiri." Galang membenahi bantal dan bermaksud merebahkan kepalanya.


"Besok aku banyak kerjaan sebelum cuti." katanya, yang sebelumnya membantu Amara untuk menurunkan satu bantal dan membuatnya berbaring.


"Kakak?" Namun Amara segera meraih lengan pria itu.


"Ya?"


"Emangnya Kakak bisa sabar nungguin aku?" Perempuan itu menatap wajah suaminya.


"Sebenarnya tidak. Menyadari kita sudah menikah tapi nggak bisa berbuat apa-apa itu sangat membuat frustasi. Tapi apa boleh buat?" Galang tertawa pelan, namun membuat kedua matanya terpejam erat.


"Jadi, tidur sajalah." katanya, dan dia hampir saja membantu Amara untuk berbaring ketika perempuan itu malah menariknya sehingga mereka segera berciuman.


"Umm …."


Amara memagut begitu lembut namun tangannya menekan tengkuk Galang sehingga ciuman itu berlangsung begitu dalam.


Segera saja, keduanya terhanyut dalam cumbuan dan terbawa suasana. Galang bahkan sudah menjatuhkan diri dan menindih sebagian tubuh perempuan itu.


"Neng …." Galang menarik diri, dan dia berusaha bangkit saat menyadari keadaannya saat ini.


"Nanti aku kebablasan." Dia berbisik dengan napas yang sudah terengah-engah.


"Ya udah." ucap Amara.


"Hum?"


"Kalau Kakak mau … lakuin aja sekarang." Amara dengan segala kepolosannya.


"Apa?" Mata Galang membulat dengan sempurna.


Amara menggigit bibirnya keras-keras. Dia tak percaya akan mengatakan hal seperti ini, tapi rasanya tidak apa-apa juga. Toh mereka sudah sah bukan?


"Kaki sama tangan aku masih sakit sih, tapi kayaknya aku bisa tahan deh. Cuma sebentar kan?" katanya, selugu biasanya.


"Hah?" Dada Galang sudah bergejolak hanya dengan mendengar kalimat itu saja.


"Lagian tadi pagi aku udah bilang kan kalau … pegang-pegangannya dilanjut setelah gipsnya dibuka?" Amara mengingat ucapannya tadi pagi.


Otak Galang berputar keras untuk mencerna apa yang Amara ucapkan. "Pegang-pegang?" Katanya kemudian.


"Mmm … mau lebih juga boleh." jawab Amara yang tentu saja membuat dada pria itu bergemuruh riang.


"Serius?"


Amara mengganggukkan kepala.


Lalu tanpa basa basi lagi pria itu segera menyerangnya dengan cumbuan yang lebih ganas dari sebelumnya. Segala kesabaran yang ditahannya beberapa hari ini musnah seketika, dan yang tersisa hanya keinginan untuk menyentuh istrinya.


Dadanya meletup-letup tak karuan dan hasratnya segera menanjak dengan sendirinya ketika Amara pasrah saja dengan apa yang dia lakukan.


Perempuan itu bahkan membiarkannya melepaskan seluruh kancing piyamanya sehingga semuanya terpampang nyata meski dia tak benar-benarbmelepaskan kain itu dari tubuhnya.


Gundukan indah yang masih berbalut bra dan ar*a se*sitifnya yang terbungkus kain segitiga yang dalam pandangan Galang sungguh sangat menggoda.


Ah, rasa-rasanya dia tidak akan bisa berhenti setelah ini.


Galang kemudian melanjutkan cumbuan dengan sebelah tangannya yang mulai menyentuh bagian tubuh Amara yang dia inginkan. Sementara tangan lainnya menahan bobot tubuhnya sendiri agar tak menyakiti perempuan itu.


Dia menaikkan bra milik Amara agar bisa menyentuh dadanya lebih leluasa lagi.

__ADS_1


Kulitnya mulus, dadanya terasa lembut dan kenyal. Pas dalam genggamannya solah benda itu memang diciptakan khusus untuknya. Sesuatu yang mencuat di puncaknya terlihat menggemaskan saat galang menatapnya, dan membuatnya merasa penasaran untuk terus menyentuhnya. Yang ternyata membuat perempuan dibawah bereaksi dan mengeluarkan suara yang terdengar erotis ditelinganya. Yang segera membangkitkan gairah dan membuat sesuatu di bawah sana mengeras dengan sendirinya.


Napas Amara terdengar menderu-deru dan dadanya naik turun dengan cepat. Menambah sensasi lain yang Galang rasakan saat menatap wajahnya yang mulai memerah.


Tangannya kemudian merayap ke bawah, mengusap perut ratanya lalu semakin turun dan akhirnya menemukan area itu.


Galang menelan ludahnya dengan susah payah seraya melanjutkan cumbuan. Merasakan hawa panas yang menguar di sekujur tubuh Amara, begitu juga dengan dirinya.


Sepertinya hal ini akan berhasil?


Galang pun bangkit. Secara perlahan dan hati-hati dia menarik lepas cel*na dal*m milik Amara sehingga semuanya benar-benar tanpa penghalang. Kemudian dia melucuti pakaiannya sendiri.


Amara tampak menggigit bibirnya dengan keras. Menatap pemandangan di depan matanya yang tiba-tiba saja membuatnya merasa pening.


Pahatan tubuh sempurna yang dimiliki oleh suaminya, sungguh membuatnya tak bisa berkata-kata. Ini memang bukan pertama kalinya dia melihat Galang telanjang setelah tadi pagi, namun tetap saja hal tersebut membuatnya menahan napas untuk sejenak.


Dia memang pria pertama yang membuatnya melihat dan melakukan segala hal sehingga dirinya pun menginginkan yang lebih.


Namun apa yang sudah tegak berdiri di pusat tubuh pria itu membuatnya sedikit merinding. bentuknya terlihat mengerikan dengan ....


Ah, apakan dia akan sanggup menerimany?


Galang kembali menunduk untuk meraih bibirnya dan mengulangi cumbuan. Sebelah tangannya menarik tangan kiri Amara yang kemudian dia arahkan ke alat tempurnya yang sudah menegang sejak tadi. 


"Mm … " Dan hal itu tentu membuat Amara terkejut. Namun dia tak melepaskannya, malah menggenggamnya dengan erat.


Galang tersenyum dalam cumbuannya dan dia semakin merasa gemas karena kelakuan istrinya.


Bibirnya menelusuri wajah hingga leher jenjang Amara, lalu berhenti saat dia menemukan gundukkan menggoda milik perempuan itu.


Galang menatapnya lekat-lekat lalu dia kembali meremat bulatan kenyal yang puncaknya mencuat menggemaskan. 


Ujung lidahnya menyapu benda mungil itu yang membuat si empunya menggeliat tak karuan. Dan di saat yang bersamaan Amara melepaskan genggaman tangannya dari alat tempur milik Galang.


Dia beralih menekan kepala pria itu sehingga puncak dadanya masuk ke dalam mulutnya dan Galang segera meyesapnya dengan keras.


"Ah!!" Amara mendes*h saat merasakan sengatan hebat merambat di tubuhnya.


Dia meremat rambut dikepala suaminya dengan keras seiring sesapan Galang di dadanya yang semakin kuat.


Sentuhan tangannya di setiap bagian tubuh Amara pun tidak dia hentikan, sehingga perempuan itu semakin menegang saja.


"Mmhhh …" Tubuh Amara menggelinjang dengan matanya yang terpejam. Dia sudah merasakan tubuhnya tersulut gairah.


Galang mendongak untuk menatapnya, dan seringaian muncul di wajahnya.


Jantungnya semakin berdebar dan darahnya seperti mengalir deras. Hasrat sudah di ubun-ubun dan dia merasa tidak akan bisa manahannya lagi.


Galang kemudian bangkit, dan dengan segala keberanian dia melebarkan kedua paha perempuan itu dengan perlahan.


Amara sempat mengerang saat merasakan sakit di lututnya yang muncul ketika Galang menggesernya. Namun dia tahan karena sudah berjanji kepada pria itu.


Kemudian Galang merangsek diantara kedua paha Amara yang sudah terbuka lebar dan mengarahkan alat tempurnya. Naluri alaminya segera bekerja meski dia tak memiliki bayangan sama sekali akan hal tersebut.


"Kakak?" Amara menahan perut pria itu dengan tangan kirinya saat dia merasakan ujung senjata Galang menyentuh pusat tubuhnya.


"Hum?"


"Lutut aku sakit." ucap Amara dengan kening berkerut.


"Eee … kamu mau aku berhenti?" Galang dengan raut frustasi.


Amara menatapnya, dan tiba-tiba saja dia merasa tidak tega. Akhirnya dia menggelengkan kepala.


"Kamu yakin?"


Amara kemudian mengangguk.


"Kaki kamu sakit."


"Akan aku tahan." katanya yang kembali menggigit bibirnya dengan keras.


Galang menarik dan menghembuskan napas pelan-pelan. Kembali bersiap untuk melakukan apa yang ingin dia lakukan.


Galang mendorong pinggulnya, dan benda itu masuk secara perlahan.


"Eghh!" Amara mengerang saat merasakan sesuatu menerobos inti tubuhnya, dan napasnya berhembus dengan cepat.


Sementara Galang mengerjap-ngerjapkan mata saat rasa hangat menjalar dari pangkal paha hingga ke seluruh tubuh. Ini bahkan baru sebagian tapi dia sudah merasa tak karuan.


Pria itu terus mendorong hingga saat alat tempurnya sudah masuk setengahnya dia merasa menabrak sesuatu. Keduanya saling pandang dan kening mereka sama-sama berkerut. Mulut Amara bahkan terbuka saat dia juga mulai merasakan sakit pada inti tubuhnya.


Galang kembali mendorong namun benda di dalam sana rupanya sulit ditembus. 


Dia terdiam sejenak untuk mengumpulkan tenaga. Lalu setelah menunggu beberapa saat dia kembali menekan pinggulnya dan hampir saja benar-benar menerobos pertahanan Amara ketika di saat yang bersamaan terdengar ketukan di pintu.


"Umm …." Keduanya mengalihkan perhatian.


Galang menajamkan pendengaran dan dia kembali mendengar ketukan di pintu.


"Ada orang." bisik Amara.


Galang terdiam dengan napasnya yang menderu-deru.


"Kakak!" ucap Amara lagi saat ketukan di pintu terdengar semakin kencang.


"Arrgggghh! Siapa yang berkunjung malam-malam begini?" Pria itu menggeram dengan kesal seraya menarik alat tempurnya dengan cepat dari Amara.


Dia lantas berpakaian dan membenahi penampilan Amara dan menutupi tubuh perempuan itu dengan selimut tebalnya. Dan segera berjalan ke arah pintu dengan perasaan gusar yang tak dapat dibayangkan.


"Om Galang?" Sosok Anya melompat ke hadapannya begitu Galang membuka pintu, lalu dia mendongak dan mendapati Zenya, Rania dan Dimitri yang berada di belakangnya.


"Mau apa kalian kesini?" ucapnya dengan nada kesal.


"Nggak sopan! Orang datang mau nengok malah tanya gitu?" Rania menepuk kening sahabatnya.


"Umm …."


"Masa jam segini kalian udah tidur?" Perempuan itu menerobos pintu dan segera masuk ke dalam ruang perawatan.


"Hai Ra? Apa kabar?" lalu dia melambai kepada Amara yang merapatkan selimutnya.


"Eee … hai Kak?" balasnya.


"Aku bawa makanan, siapa tahu kalian belum makan?" Rania meletakkan sebuah tas dengan merk restoran terkenal milik Sofia.


"Aku pikir kamu ke Argentina?" Galang mengejarnya, kemudian berdiri di dekat ranjang. Berusaha menghalangi Rania dari kemungkinan mendekat kepada Amara.


"Emang." 


"Terus?"


"Cuma sehari."


"Kenapa?"


"Orang cuma jajal track baru, balapannya bulan depan."


"Ohh …."


"Pas pulang, eh aku inget belum jenguk Ara. Ya udah …."


"Padahal nggak usah repot-repot. Ara udah baikan." Galang menjawab.


"Nggak repot kok, sekalian jalan-jalan." Rania duduk di pinggiran tempat tidur.


"Jalan-jalan jam segini?" Galang pun ikut duduk disamping Amara.


"Sengaja, biar nggak panas." Rania tertawa.


"Kak Ara demam ya? Kok pakai selimutnya gitu amat?" Anya menginterupsi saat melihat sikap Amara yang tidak berubah sejak mereka masuk ke dalam ruangan itu.


"Nggak, cuma …."


"Kayak kedinginan?" Anak itu pun naik ke tempat tidur.

__ADS_1


"Umm … iya, emang." Amara menjawab dengan kikuk.


"Duh, kasihan. Udah minum obat?" tanya Anya lagi.


"Udah barusan, ini mau istirahat." Galang menyela.


"Duh, sepertinya kita mengganggu?" Dimitri pun maju mendekat.


"Mmm … nggak juga. Hehe …" Amara terkekeh meski dia merasa canggung. Ini bahkan terasa lebih mendebarkan dari pada aktifitas sebelumnya.


"Katanya kamu lusa oprasi wajah?" Rania mengganti topik pembicaraan.


"Iya Kak."


"Bagus deh, biar cepet pulang."


"Hu'um." Amara menganggukkan kepala.


"Gimana dirawat di sini? Lebih enak kan? Nggak kayak di rumah sakit?" ujar Rania lagi dan dia sedikit tertawa.


"Lumayan." Galang menjawab sekenanya.


"Kok cuma lumayan? Ini aku mikirinnya serius tahu?"


"Tumben kamu mikir? Biasanya cuma ingat mesin aja?"


"Sembarangan!" Rania menepuk belakang kepala Galang dengan keras.


"Zai?" Dimitri bereaksi.


"Kenapa sih kamu ngeselin?"


"Ngeselin apanya? Kan aku cuma jawab?" Galang mengusap kepalanya yang terasa sakit.


"Ck! Jawaban kamu ngeselin tahu?"


"Ah, cuma perasaan kamu aja kali?" Galang mendelik.


"Umm … Mommy, apa ini?" Zenya memungut sehelai kain berwarna hitam yang tergeletak di dekat kaki ranjang.


Semua orang menoleh, dan Amara bahkan membelalakan mata saat dia mengenali benda tersebut.


"Umm … itu ... " Dan Galang segera merebutnya saat dia juga mengenalinya.


"Bukan apa-apa, hanya sapu tangan. Hehe." Galang segera memasukkannya ke dalam saku celana.


"Sapu tangan?" Rania menggumam. 


Dia jelas melihat renda dan pita kecil pada kain itu dan melihat bentuknya, sepertinya bukan sapu tangan?


Lalu dia dan Dimitri saling pandang.


"Kakak kalau masih sakit nggak bisa ke kedai dong?" Anya membuyarkan kebekuan itu dalam sekejap.


"Nggak." Amara menjawab.


"Yaaah …." Anak itu dengan nada kecewa.


"Kenapa?" 


"Mau makan di sana."


"Tinggal datang ke sana."


"Mau Kakak yang masakin." Anya yang posisi duduknya semakin dekat kepada Amara.


"Nanti kalau Kakak udah sembuh ya?"


"Masih lama nggak?" 


"Nggak tahu."


"Maunya Kakak cepet sembuh biar bisa masakin aku di kedai."


"Oke."


"Ehmm! Anya, ayo kita pulang?" Dimitri menghampiri putrinya yang berada di tempat tidur.


"Kok pulang? Kan mau lihat kak Ara?" jawab sang anak.


"Ini sudah lihat."


"Sebentar amat?"


"Nggak usah lama-lama, lagian udah malam dan kak Ara nya harus istirahat." Rania menyela.


"Yah, Mommy! Kenapa juga jenguk kak Ara nya malem-malem begini? Kenapa nggak siang?"


"Kan Mommynya baru datang?"


Anya terlihat mengerucutkan mulutnya. Namun tak urung juga dia menurut ketika sang ayah meraup tubuhnya untuk menurunkannya dari tempat tidur.


"Pamit ya Ra, semoga oprasinya lancar." ucap Dimitri yang kemudian menarik kedua anaknya ke arah pintu.


"Makasih Kak." Amara menjawab.


Rania pun bangkit dan bermaksud mengikuti suami dan anaknya setelah berpamitan dan memeluk Amara terlebih dahulu. 


"Pergi dulu Dudul!" ucap Rania kepada sahabatnya.


"Jangan diapa-apain dulu Ara nya, masih sakit!" Lalu dia berbisik. Membuat Galang mengerutkan dahi.


"Bye Ra!" katanya lagi sebelum akhirnya dia juga anak dan suaminya benar-benar pergi.


Galang segera menutup pintu dan menguncinya rapat-rapat setelah yakin sahabatnya meninggalkan area tersebut. Namun dia tertegun dengan punggung merapat di belakang pintu.


"Mm … kakak?" Amara bangkit dari posisi berbaringnya.


"Ya?"


"Celana aku?" katanya yang meminta cel*na dalamnya kembali.


"Mm …." Galang merogoh saku celananya dan menarik kain segitiga berwarna hitam itu lalu memberikannya kepada Amara.


"Mau diterusin?" ucap Amara kemudian.


"Hah?" Pria itu mendongak.


"Yang tadi mau di terusin?" katanya, malu-malu.


"Mm ...."


"Sebelum aku pakai lagi celananya?" Lalu dia tertawa.


"Hah!" Galang menggeram.


"Kenapa? Nggak mau?"


"Aku mau makan!" Pria itu berjalan ke arah meja lalu membuka bungkusan yang dibawakan Rania barusan.


"Mau nanti habis makan?" Amara tertawa lagi.


Galang tak menjawab, dan dia hanya memulai acara makannya dengan raut kesal setengah mati.


🌺


🌺


🌺


Bersambung ....


isi tenaga dulu bang?😂😂


eh, udah tau belum kalau emak punya novel baru di ungu? judulnya Oh My Secret Daddy. tapi nama penanya beda. Ketik Thalia87 di kolom pencarian dan kalian akan menemukan petualangan baru di sana.

__ADS_1


__ADS_2