My Only One

My Only One
Sunrise Di Pananjakan


__ADS_3

🌺


🌺


"Kalian yakin mau ke sana dengan motor?" Vita mengantar kepergian anak perempuannya yang secara tiba-tiba.


Clarra melirik kepada Galang yang menunggu dengan setia di teras rumahnya, bersama Fahmi.


"Ini perjalanan malam. Apa tidak sebaiknya pakai mobil saja?" lanjut sang ibu, dengan raut khawatir.


"Biar cepat Ma, biar tidak terjebak macet kalau pulang nanti." Clarra menjawab.


"Begitu ya?"


"Apa aman?" Fahmi meyakinkan kepada Galang.


"Aman Pak." jawab pria itu, pendek.


"Tapi ini pertama kalinya kamu melakukan perjalanan dengan motor, apa tidak sebaiknya ...."


"Tidak apa-apa Ma, jangan khawatir. Galang sudah sering melakukannya." sergah Clarra, yang sudah siap dengan jeans dan jaket tebal milik sang ayah.


"Benar?"


"Iya, dia kan ikut komunitas motor. Jadi pasti sudah tahu apa yang harus dilakukan."


"Mama seperti mau melepasmu camping waktu SMP saja, rasanya khawatir."


Clarra tertawa cukup keras.


"Aku ini sudah 30 tahun, Mama tidak usah seperti itu."


"Tetap saja, bagi Mama kamu ini seperti berumur tiga hari." Vita berujar.


"Aku tahu." Perempuan itu memeluk sang ibu.


"Nah, aku sudah siap. Ayo kita berangkat?" ucapnya kepada Galang.


"Apa kamu yakin? Tidak mau besok saja?" Sekali lagi Fahmi meyakinkan.


"Papa!"


"Hah, baiklah baiklah." Pria itu tertawa.


"Kalau begitu, kami pamit Pak?" Galang segera bangkit.


"Ya, hati-hati. Clarra baru pertama pergi seperti ini, mungkin saja dia akan merepotkanmu, jadi ...." Vita mulai meracau.


"Mama!


"Umm ... maaf."


"Kami pergi." Dua orang itu segera berjalan ke arah motor.


Galang menyerahkan helm kepada Clarra, yang kemudian segera mengenakannya.


"Bisa tidak?" Pria itu memeriksanya. Memastikan penguncinya terpasang dengan benar agar kepala perempuan itu tetap aman.


"Hmm ...." Clarra hanya menggumam.


"Baik, kita siap. Tasnya?"


"Sudah." Clarra memutar sebentar memperlihatkan tas Ransel di punggungnya.


"Baiklah." Galang tersenyum seraya merapatkan jaket milik perempuan itu. Memastikan dia juga aman untuk perjalanan mereka nanti.


Lalu keduanya menaiki motor yang mesinnya sudah dinyalakan sejak tadi. Kemudian segera pergi untuk sama-sama membebaskan pikiran yang berkutat dikepala.


***


Perjalanan berlangsung cukup lancar karena malam hari tidak terjadi drama kemacetan atau padatnya lalu lintas. Apalagi dengan motor, mereka bisa tiba lebih cepat. Mereka berhenti beberapa kali untuk sekedar beristirahat, lalu kembali melanjutkan perjalanan setelahnya.


Dan Kota Malang menjadi persinggahan setelah mereka menempuh perjalanan selama beberapa jam dari Jakarta. Tiba pada dini hari, dan beruntungnya Galang memiliki tempat persinggahan untuk beristirahat sebentar.


Seorang kenalannya dari komunitas motor setempat sempat dia hubungi sehingga mereka tidak menemui kesulitan berarti di jam rawan seperti itu.


"Mau sekarang?" Galang melihat jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul setengah empat pagi.


"Ke mana?" Clarra yang baru saja memejamkan mata. Di sebuah kursi malas di ruang tengah rumah kenalan Galang. Melanjutkan tidurnya yang terjeda selama dalam perjalanan tadi.


"Ke Bromo."


"Memangnya sudah dekat?"


"Dari sini sekitar satu setengah jam lagi."


"Masih jauh ...." Perempuan itu berguling memunggungi Galang kemudian memeluk dirinya sendiri.


"Tapi kalau kita pergi sekarang nanti bisa melihat matahari terbit. Kamu tahu, sunrise di Bromo menjadi daya tarik yang paling besar dan salah satu yang paling indah di dunia." Galang menjelaskan.


"Benarkah?" Clarra kembali berbalik.


"Ya, untuk itulah aku bersikeras ingin datang ke tempat ini."


Clarra tertegun sebentar.


"Kalau kamu lelah tidak apa-apa, istirahatlah. Kita bisa jalan kalau sudah terang nanti." Galang hampir saja kembali ke tempatnya, namun Clarra tiba-tiba saja bangkit.


"Kalau begitu ayo?" katanya, seraya mengenakan sepatu ketsnya lalu meraih jaket miliknya.


"Benar?"


"Ya. Kapan lagi kita ke sini kan?" Perempuan itu berujar.


Lalu dimulailah kembali perjalanan mereka setelah berpamitan kepada pemilik persinggahan, menuju ke salah satu pegunungan paling terkenal di Indonesia itu, yang menjadi salah satu tujuan wisata dan para pendaki untuk menjajal kemampuan mereka untuk menaklukan alam.


Jalanan cukup terang pada dini hari itu. Lampu-lampu di pemukiman warga yang berada di sisi kiri dan kanan jalan menjadi pemandangan tersendiri. Membuat mereka tak merasa kesepian.


Clarra merapatkan pelukannya pada Galang ketika udara terasa semakin dingin saja. Sarung tangan dan jaketnya terasa tidak berguna di saat seperti ini. Sementara pria itu tetap fokus mengendarai motornya dengan tenang.


Mereka tiba di pintu masuk area setelah berkendara selama kurang lebih satu jam setengah. Dan tempat tersebut ternyata sudah di penuhi pengunjung yang di perkirakan berniat melakukan hal yang sama.


"Serius?" Clarra turun seraya melepaskan helmnya.


Galang terdengar tertawa.


"Kamu tidak tahu seantusias apa orang-orang." Dia kemudian merenggangkan tubuhnya yang terasa pegal-pegal.


Berkendara kurang lebih sepuluh jam dari Jakarta, kemudian dilanjutkan dengan satu setengah jam dari Malang hingga akhirnya tiba di tujuan.


Beruntung Galang telah melakukan pemesanan tiket secara online sebelumnya, sehingga dia tak harus bersusah-susah membeli tiket di waktu seperti itu. Menjadikan mereka bisa segera masuk dengan mudah ke dalam area setelah menunjukkan buktinya kepada petugas di depan pintu masuk.


Mereka meneruskan perjalanan ke dalam area tujuan sejauh beberapa ratus meter. Naik ke kawasan yang ternyata tak sesepi yang di perkirakan.


Suasana mulai ramai oleh pengunjung dan beberapa bangunan warung di dekat Bukit Pananjakan itu sudah terang benderang meski keadaan langit masih gelap.


"Kamu mau makan sesuatu?" Galang memarkirkan motornya di dekat salah satu bangunan.


Clarra menatap sekeliling. Ini pertama kalinya dia melihat keadaan tersebut.


"Cla?" Galang menoleh kebelakang, dan mereka masih belum turun dari motor.


Perempuan itu bahkan masih memeluknya dengan erat.


"Hum?" Clarra membuka helmnya.

__ADS_1


"Kamu tidur?"


"Tidak, aku hanya ...." Dia segera melepaskan rangkulan, kemudian turun.


"Pundakku pegal, Lang." Lalu Clarra melepaskan tas ranselnya.


Galang tertawa.


Dia mengulurkan tangannya untuk meraih tas tersebut, lalu meletakkannya di atas motornya.


"Ayo." Pria itu menyentakkan kepala.


Setelah memastikan barang berharga mereka bawa, dia kemudian menuntun Clarra untuk masuk ke sebuah warung yang sudah di ramaikan oleh pengunjung. Waktu baru menunjukkan pukul setengah lima pagi, dan cuaca begitu dingin di tempat itu.


Galang membiarkanya untuk duduk di kursi yang tersedia, sementara dirinya memesan sesuatu.


"Hey Cla, kamu mau makan?" tanyanya kepada Clarra.


"Aku nggak biasa makan jam segini."


"Kalau minum?" Galang sambil terkekeh. Melihat ekspresi perempuan itu yang menurutnya begitu lucu.


Masa sih di usia sedewasa itu dia baru berkunjung ke tempat seperti ini? batinnya.


"Boleh lah."


"Mau apa?"


"Terserah, aku nggak tahu minuman yang enak di tempat seperti ini?" jawab Clarra.


"Baik." Galang tertawa lagi, kemudian dia memesankannya sesuatu.


Satu gelas susu beraroma rempah diletakan di depan Clarra, sementara Galang memesan kopi. Dua-duanya sama-sama mengepulkan uap panas dan menguarkan aroma yang khas.


"Kamu masih ngantuk ya? Tadi tidur?" Pria itu memulai percakapan.


"Hmm ... Capek Lang." Clarra menjawab.


"Kan sudah aku bilang, jangan pakai motor. Kamu ngeyel."


"Kan aku nggak tahu kalau perjalanannya akan seperti ini? Aku dulu sering lho ke Malang."


"Masa?"


"Iya. Kalau Mama dan Papa ngajak mudik."


"Hmm ... pasti pakai mobil?" Galang meniup kopinya yang masih panas, kemudian menyeruputnya pelan-pelan.


"Iya. Masa aku pakai motor juga? Kan tidak bisa."


Galang terkekeh.


"Kamu dari tadi tertawa terus? Ada yang lucu ya?" protes Clarra yang juga meletakkan kedua tangannya yang terasa membeku ke gelas kaca di depannya.


"Iya, kamu lucu. Baru pertama kali melakukan perjalanan seperti ini, dan jangan-jangan baru pertama juga ke Bromo ya?"


"Ya." Perempuan itu menjawab.


"Katanya sering ke Malang? Kok belum pernah ke sini?"


"Aku hanya berkunjung ke rumah saudaranya Papa. Tidak ke mana-mana."


"Kenapa? Sayang sekali. Banyak tempat bagus lho di sini? Jangan-jangan ke tempat yang lainnya juga belum pernah?"


Clarra mengangguk sambil tersenyum.


"Astaga! Lebar, lebar!!"


"Hah? Apa kamu bilang?"


"Le-lebar?"


"Sayang, hahahaha ...." Pria itu tertawa.


"Maksudnya?"


"Sayang sekali. Ke mana saja kamu selama ini? Masa hanya sibuk sekolah dan bekerja? Apa enaknya hidup seperti itu?" Galang asal bicara, kemudian dia kembali menyeruput kopinya yang kini tak sepanas sebelumnya.


Dan Clarra hanya menatapnya dalam diam.


"Eh, masa tebakanku benar?"


"Begitulah."


"Gustiiii!" Pria itu mengusap wajahnya beberapa kali.


"Liburan masa tidak pernah?" katanya lagi.


"Hanya di sekitar Jakarta, atau pergi bersama Mama dan Papa."


Galang menggelengkan kepalanya, setengah tidak percaya.


"Teman-temanmu tidak pernah mengajakmu pergi?" Kemudian dia bertanya.


"Teman yang mana? Satu-satunya teman yang aku punya sejak SD adalah Nisa. Tapi dia menikah begitu lulus kuliah, dan meninggal setelah melahirkan bayinya."


"Apa?"


"Aku bukan orang yang suka bergaul. Kalau berteman cukup dengan satu orang, dan tidak suka juga pergi jalan-jalan. Aku pikir itu buang-buang waktu."


"Hmmm ... pantas saja?" Galang bergumam.


"Mau menyebutku jomblo?" Clarra bereaksi.


"Hah? Apa? Tidak." Galang menggelengkan kepala.


"Tidak apa-apa kamu menyebutku begitu, karena memang kenyataannya."


"Aku nggak bilang begitu lho, kamu sendiri kan?"


"Hmm ...." Clarra kemudian meniup minumannya yang masih utuh.


"Apa ini enak?" Dia menatap minuman panas berwarna putih itu.


"Enak. Coba saja." jawab Galang.


"Apa aman?"


"Aman. Bagus juga untuk kesehatan."


"Oh ya?" Pelan-pelan dia menyeruput minuman itu.


"Rasanya manis." Clarra mendongak. "Apa ini susu?" Lidahnya mengecap air yang masuk ke mulutnya. "Tapi ada rasa jahenya juga?"


"Ya, ... sebut saja itu susu jahe." ucap Galang.


"Begitu?"


"Baru juga minum minuman seperti ini?"


"Ya. Dan ini enak." Clarra tertawa, kemudian menyesap minuman itu hingga habis setengahnya.


"Kamu ini sebelumnya hidup di planet mana sih? Masa susu jahe saja tidak tahu?"


"Aku tahu ada minuman seperti ini di iklan, tapi nggak tahu rasanya seenak ini." Clarra mengulangi hal tersebut.

__ADS_1


"Hhh ... karunya teuing!" gumam Galang yang menyesap habis kopinya.


"Kalau sudah, ayo kita ke puncak?" katanya kemudian.


"Apa jauh?"


"Tidak, hanya berjalan sedikit juga sampai. Sebentar lagi sunrise." Galang melihat jam tangannya yang sudah menunjukkan hampir pukul lima pagi.


"Oke." Perempuan itu menghabiskan minumannya.


Sebuah area di ketinggian 2770 meter dari permukaan laut itu bernama Bukit Pananjakan. Yang merupakan titik tertinggi yang memungkinkan bisa melihat ke seluruh area Bromo dan gugusan gunung lainnya.


Cuaca memang begitu dingin menusuk tulang, namun hal itu tak menghentika siapa pun untuk terus berdatangan ke tempat itu demi mendapatkan momen yang luar biasa.


Detik-detik matahari muncul sudah tiba, dan mereka sudah siap di tempatnya masing-masing.


Galang memilih tempat terbaik di tengah yang memungkinkannya mendapatkan momen itu dengan sempurna. Begitu juga Clarra.


Sinar keemasan perlahan muncul di timur, dari balik pegunungan yang menciptakan pemandangan yang begitu eksotis. Semburat cahaya terang perlahan naik dan menyinari mayapada. Memanjakan pandangan siapa saja yang berada di sana.


"Whoaaa ...." Clarra dengan ekspresi takjubnya tak mau mengedipkan mata walau hanya sedetik.


Pandangannya menangkap hal yang begitu luar biasa, belum pernah dia lihat, dan belum pernah dia alami.


Kabut putih terhampar menutupi area di bawah sana, lalu berangsur menghilang seiring dengan semakin naiknya sang surya ke cakrawala. Lagi-lagi membuat ketakjuban itu bertambah berkali-kali lipat.


Galang terdiam tak bersuara, dia sama-sama menikmati suasana ini dalam keheningannya sendiri.


Lihatlah Ra, aku datang ke tempat ini. Bukan denganmu, tapi dengan dia yang sama-sama sedang terluka. Entah karena apa.


Kamu tahu, sekarang aku sadar. Mungkin waktu kita telah habis hanya sampai disini. Maafkan karena aku tak bisa menjadi seperti yang kamu inginkan.


Dan sekarang aku akan melepaskan semuanya. Semoga kita sama-sama bahagia dengan siapa pun.


Batinnya bermonolog untuk beberapa saat, sementara Clarra menoleh untuk melihat reaksinya.


Wajah dengan raut yang selalu menyenangkan itu tampak membeku. Kedua matanya yang sipit menatap ke arah cahaya yang semakin lama semakin terang benderang. Dan sinar mentari pagi membuatnya terlihat begitu mempesona.


"Bagus ya?" Tiba-tiba saja Galang menoleh, membuat perempuan itu membuang muka. Padahal dia sedang menikmati pemandangan lain.


"Hmm ...." Clarra hanya menggumam.


Dia mengerjap-ngerjapkan matanya untuk membuat kesadarannya kembali. Seperti terjadi sesuatu dengam hatinya.


"Beberapa kali kesini tapi aku tetap menyukainya. Suasananya tidak pernah berubah, malah semakin baik saja setiap kalinya. Aku rasa aku harus menyarankan kepada Pak Dimitri untuk membuka hotel di sekitat sini." Galang berujar.


"Apa? hotel?"


"Ya. Sepertinya bagus. Prospeknya juga menjanjikan."


"Umm ...."


"Bagaimana menurutmu?" Pria itu memiringkan wajahnya.


"Ba-bagus." Clarra tak berani menatapnya.


"Kamu mau ke bawah?" Tanya Galang kemudian.


"Ke mana?" Clarra pura-pura melihat ke bawah bukit.


"Ke bawah, ke gurun. Mencoba sesuatu di sana."


"Sesuatu?"


"Naik kuda, berkendara dengan mobil di gurun pasir."


"Pasir berbisik." Clarra mengguman.


"Kamu tahu soal itu?"


"Itu terkenal kan?"


"Yeah."


"Kamu tahu, ini pertama kalinya seseorang mengajakku melakukan banyak hal?" Dia memberanikan diri untuk menoleh dan menatap wajah Galang.


"Apakah itu hal buruk?"


"Tidak, aku menemukan hal baru denganmu. Dan itu bagus."


Galang tersenyum.


"Aku tidak tahu apa saja yang membuatmu selalu menjaga jarak dengan semua orang selain yang telah kamu ceritakan kepadaku. Dan aku yakin itu berat. Tapi lihatlah, dunia diluar sana terlalu indah untuk kamu lewatkan. Dan aku tidak mau melewatkannya walau hanya sebentar." Galang menatap wajah perempuan yang dikenalnya selalu tegas itu.


"Dan kamu sedang berusaha menghilangkan kegundahanmu sendiri dengan menikmati semua ini." Clarra balas menatapnya.


Kedua sudut bibir Galang tertarik membentuk sebuah senyuman.


"Kamu mengerti."


"Kamu menghindar?" Clarra bertanya.


"Tidak, aku hanya sedang melepaskannya."


"Melepaskannya?"


"Ya."


"Itu berarti ... melupakannya?"


"Mungkin."


"Kenapa?"


"Karena sudah tidak ada harapan."


"Menurutmu begitu?"


Galang menganggukkan kepala.


"Lalu apa rencanamu setelah semuanya berakhir?"


"Tidak ada, hanya menikmati semuanya sendirian. Tapi karena sekarang ada kamu, mungkin aku akan membaginya bersamamu." Pria itu tertawa sehingga kedua matanya terpejam membentuk lengkungan.


Clarra semakin terdiam karenanya.


Sesuatu terjadi pada hatinya, dan dia menyadarinya.


Jangan seperti ini!


"Ayo kita ke bawah." Pria itu bangkit seraya meraih tangannya.


Dengan terpaksa Clarra mengikuti langkahnya.


"Hati-hati, disini licin." ucap pria itu yang menggenggam pergelangan tangannya dengan erat.


🌺


🌺


🌺


Bersambung ...


Aku juga mau kesana sama ayang🤭🤭

__ADS_1


__ADS_2