My Only One

My Only One
Terlambat


__ADS_3

🌺


🌺


Amara mondar-mandir di pelataran parkir hotel tempatnya bekerja. Sambil sesekali melihat jam di layar ponsel, dan menatap jalan yang semakin lama semakin lengang.


Waktu sudah menunjukkan pukul delapan malam, dan dia masih tetap berada di sana. Padahal jam pulang seharusnya sudah lewat.


"Apa yang kau lakukan di sini?" Perempuan yang dia kenal sebagai resepsionist menghampirinya.


"Aku sedang menunggu seseorang." Amara menjawab.


"Siapa?"


Amara tertegun. Dia harus menyebut Galang apa? Pacar? Bukan. Teman? Dia tidak rela menyebut pria itu sebagai teman, karena perasaannya jelas jauh lebih dari itu.


"Oh iya, apa tadi sore kau bertemu dengan pria itu?" Resepsionist kemudian bertanya.


"Pria yang mana?"


"Yang jam tangannya kau temukan di lantai lima."


"Apa?"


"Tidak bertemu? Padahal sudah aku suruh menemuimu di belakang."


"Kapan? Jam berapa?" Amara mulai panik.


"Sekitar jam enam."


"Jam enam?"


"Ya. Jadi kau tak tahu dia datang ya? Aku pikir kalian bertemu, karena tadi dia tergesa keluar." Resepsionist berbicara lagi.


"Dia sempat masuk?"


"Ya, aku tunjukkan jalannya, dan dia kebelakang. Tapi tidak lama dia buru-buru keluar."


"Hah? Jam berapa tadi kamu bilang?"


"Jam enam."


Amara mengingat-ingat sedang apa dia saat itu.


"Mati aku!" Dia menepuk kepalanya sendiri.


"What?"


"Kak Galang pasti lihat aku sedang bicara dengan Piere," ucapnya, "Terus dia lihat juga pas aku ...." Dia mengingat apa yang terjadi setelahnya. Saat dirinya denga Piere saling berpekukan karena begitu bahagia setelah mendapat kabar kelulusan.


"Jadi yang aku lihat tadi itu beneran Kak Galang?" Amara bergumam.


Dia kemudian kembali ke dalam hotel untuk mengambil tas miliknya, kemudian berniat pergi.


"Hey, mau pulang seka ...."


"Aku harus ke bandara!" Amara berteriak.


"What?"


"Aku harus mengejar Kak Galang ke bandara."


"Who?"


"Kak Galang! Pria yang memberimu tip!"


"Ke bandara? Memangnya dia tidak datang kemari? Katamu tadi dia ...."


"Dia datang, tapi pergi lagi." Amara berjalan keluar dengan tergesa.


"Why?"


"Aku nggak tahu, dia bahkan tidak menemuiku."


"Yeah, but why?"


"Mungkin dia melihat sesuatu ...."


"Apa?"


"Ah! Nggak mungkin juga kan, masa dia lihat itu sih?" Amara menjadi semakin panik.


Apalagi ketika tak ada satu pun taksi yang lewat, padahal biasanya kendaraan umum itu sering mondar mandir di jalanan depan hotel tempatnya bekerja, atau datang untuk mengantarkan tamu.


"Kak Galang! Ngga mungkin kayak gitu kan?" Dia dengan nada frustasi, lalu berjongkok di trotoar.


"Hey, apa yang kau lakukan?" Piere menariknya hingga Amara bangkit.


"Apa aku masih bisa mengejarnya?" Gadis itu berujar.


"Mengejarnya ke mana?"


"Ke bandara."


"No way! It's too late!"


Gadis itu mulai terisak.


"Mungkin saja kan, ... pesawatnya ... telat?"


"Apa katamu?"


"Mungkin ... ada sesuatu ... yang membuat pesawatnya terlambat?"


"Tidak mungkin!"


"Mungkin saja. Contohnya kemarin dia menginap di hotel ini, lalu kami bertemu. Padahal selama dua tahun aku menghindarinya?"


"But ...."


"Aku mau ke bandara!" Amara berlari menjauh.


"Hey, tunggu!!" Dan Piere mengejarnya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Bagaimana?" Dimitri mengalihkan perhatiannya sebentar dari laptop begitu Galang kembali setelah berbicara dengan pilot.

__ADS_1


"Mungkin kita harus menunggu sebentar lagi. Badainya baru saja reda." jawab Galang yang kemudian duduk di kursinya semula.


Mereka memutuskan untuk tetap berada di ruang tunggu vip bandara. Setelah mendapat kabar dari pilot satu jam yang lalu bahwa lalu lintas udara di sekitar Eropa harus dihentikan karena badai.


"Aneh sekali, padahal cuaca di sini cukup bagus, tapi kenapa di sana malah ada badai?" Dimitri bergumam.


"Lalu bagaimana dengan crew? Apa mereka juga sama menunggu seperti kita?" Dia kemudian bertanya.


"Tidak Pak, crew sudah terbang satu jam yang lalu sebelum badai terjadi, dan mereka bisa melewatinya. Sekarang sudah ada di wilayah yang aman." Galang pun membaca informasi yang sampai di ponselnya.


"Syukurlah."


"Mommy, Anom kok nggak ikut kita?" Zenya yang sempat tertidur pun kini malah ikut menunggu.


"Iya, Anom buru-buru." Rania menjawab.


"Buru-buru kenapa?"


"Buru-buru mau pulang."


"Pulang ke Enin?"


"Iya." Rania terkekeh.


"Mau pacaran juga ya?" Anya tiba-tiba saja menyahut.


"Eh? Anya kenapa bilang begitu terus?" protes Rania kepada putrinya.


"Huh, Anom juga kan sering peluk-peluk Enin? Pasti karena mau pacaran?" Anak itu dengan polosnya.


"Astaga!" Rania menepuk keningnya, frustasi.


"Ini gara-gara si dudul. Anak gue jadi ingetnya itu terus!" Lalu dia menggerutu.


"Anya, orang pelukan itu bukan cuma mau pacaran lho." Galang kemudian menyahut setelah mendengar percakapan antara ibu dan anak itu.


"Terus ngapain?"


"Ya banyak alasannya."


"Misalnya?"


"Karena sayang, karena sedih, karena mau berpisah, atau karena merayakan sesuatu."


"Terus Om sama Kak Ara yang mana?" Dengan polosnya anak itu bertanya.


"Nah lu?"


Galang terdiam sebentar.


"Kan mau berpisah, kita kan semalam mau pulang." Lalu dia menjawab.


"Oh, jadi kalau mau pergi harus pelukan dulu gitu?"


"Hanya kepada orang yang kamu sayang. Bukannya kepada orang sembarangan. Misalnya Mommy dan Papi, Oma dan Opa, Anom atau Enin. Kepada Zenya juga."


"Kalau sama Om?"


Galang menatap wajah lugu anak berusia lima tahun itu.


"Umm ... bolehlah."


"Ke orang lain?"


"Tidak boleh sembarangan memeluk orang, apalagi yang tidak kenal dan tidak dekat."


"Kenapa?"


"Nggak baik."


"Jadi bolehnya sama siapa aja?"


"Ya sama keluarga."


"Sama pacar juga?"


"Astaga!"


"Gara-gara kamu, Anya jadi ingetnya itu terus." Rania menyela.


Galang tak menjawab, namun dia hanya memutar bola matanya.


"Intinya kamu nggak boleh sembarangan memeluk orang, nggak baik karena akan menimbulkan masalah nantinya."


"Masalah apa?"


"Anya, kenapa sih kamu banyak tanya? Kan sudah Om jelaskan?"


"Kan aku belum ngerti. Mommy bilang kalau nggak ngerti ya tanya." Anak itu menjawab.


"Kan tadi sudah Om jawab."


"Tetep aja."


Dimitri terdengar tertawa.


"Papi kok ketawa?" Sang anak beralih kepada ayahnya.


"Papi senang karena itu artinya kamu pintar."


"Oo, iya dong."


"Nah, karena kamu anak yang pintar, jadi tidak boleh terus mengingat hal yang tidak baik ya?" Pria itu menutup laptop setelah dia menyelesaikan pekerjaannya.


"Misalnya apa?"


"Banyak hal tidak baik, nanti kalau kamu sudah besar akan Papi kasih tahu. Sekarang, cukup dengar penjelasan saja seperti yang Om Galang katakan tadi."


"Nggak boleh pelukan sama orang lain selain Mommy, Papi, Oma, Opa, Anom, Enin, Zen sama Om Galang?"


"Ya benar." Dimitri tertawa lagi seraya menggerakkan tangannya, memberi isyarat kepada anak perempuannya itu untuk mendekat. Kemudian dia meraih tubuh kecil Anya dan mendudukannya di pangkuan.


"Why?" Gadis kecil itu tetap belum puas dengan jawaban yang dia dengar.


"Karena tidak baik. Bisa saja orang yang kamu peluk itu orang jahat yang akan menyakitimu." Dimitri mendapatkan jawabannya.


Anya terdiam, dan dia tampak berpikir.

__ADS_1


"Ya, mungkin mereka orang jahat yang akan menyakitimu." Galang mengulang ucapan atasannya, namun pandangannya dia tujukan ke langit-langit ruang tunggu yang tinggi.


Perasaannya campur aduk dan pikirannya tentu saja kacau. Mengingat hal terakhir kali yang dia lihat yang membuatnya merasa marah.


Kamu sengaja ya berbuat seperti itu? Agar aku melihatnya dan membuatku tetap menjauh? Batinnya bermonolog.


Baik Ara, kamu menang.


"Permisi Pak?" Seseorang mendorong pintu dari luar setelah mengetuknya terlebih dahulu.


"Ya?" Galang segera merespon.


"Sepertinya kita sudah bisa terbang sekarang?" Seorang pilot muncul dari balik pintu.


"Badainya sudah reda?" Dimitri bertanya.


"Sudah Pak."


"Apa aman? Jika belum aman kita bisa menunggu beberapa jam lagi." Pria itu berujar.


"Aman Pak."


"Kamu yakin?"


"Sangat yakin." jawab sang pilot.


"Kau tahu, keselamatan keluargaku lebih penting, jadi jangan main-main soal ini." Dimitri memperingatkan.


"Seratus persen aman Pak. Badai sudah menjauh, kondisi lalu lintas udara Eropa sudah normal, dan keadaan pesawatpun sangat baik." jelas sang pilot, meyakinkan.


"Baiklah kalau begitu, kau ahlinya di sini bukan?" Dimitri menurunkan Anya dari pangkuannya, lalu dia bangkit.


Kemudian mereka pun bersiap untuk pergi.


***


"Sudah yakin tidak ada yang tertinggal?" Mereka hempir naik ke pesawat berlogo Nikolai Grup yang sudah siap terbang.


"Semuanya sudah." Jawab Galang yang menggiring keluarga atasannya menaiki tangga.


"Yakin?" Rania menyela.


"Memangnya apa lagi?" Galang bereaksi.


"Nggak ada yang mau kamu tunggu?"


"Siapa?"


"Ya nggak tahu, mungkin ...."


"Nggak ada artinya menunggu seseorang yang sudah tidak mau ditunggu. Buang-buang waktu." ucap Galang seraya menarik Zenya untuk dia gendong.


"Cepat, nanti badainya kembali dan kalian nggak bisa pulang. Bisa kacau Nikolai Grup?" Dia mempercepat langkahnya mengejar Dimitri yang sudah menunggu di atas.


"Kalian kenapa sih selalu berdebat?"


"Istri Bapak yang mulai." Galang segera masuk melewati atasannya, kemudian mencapai kursi terdekat.


Dia mendudukkan Zenya dan memastikan keadaannya baik, begitu juga dengan Anya dan dua pengasuhnya.


"Semuanya sudah?" ucapnya, ketika seluruh penumpang sudah siap di kursi mereka.


Kemudian dia pun duduk setelah menginstruksikan kepada pilot untuk segera menerbangkan pesawat mereka.


***


Amara setengah melompat dari taksi yang membawanya bersama Piere. Dia segera berlari memasuki area bandara yang cukup ramai pada malam itu.


Setelah mendapat berita bahwa ada beberapa penerbangan yang ditunda akibat badai, termasuk pesawat Nikolai Grup di dalamnya, dia segera meluncur untuk mengejar Galang.


"Di mana ... di mana?" Gadis itu menatap sekeliling. Berharap ada wajah yang di kenalnya.


"Piere!" Amara berteriak kepada teman sekelasnya.


Pria itu segera bertanya pada pusat informasi, kemudian kembali setelah mendapat kabar.


"Mereka ...."


"Apa Piere?"


Dia menunjuk gerbang keberangkatan.


"Dua menit lagi mereka terbang." katanya, dan Amara segera berlari ke arah yang ditunjuk.


"Tidak mungkin!" Gadis itu setengah berteriak.


"Kak Galang, jangan pergi!" katanya, dan dia hampir menerobos pintu jika saja petugas tidak menghentikannya.


"Aku mohon, aku harus ke sana!" Dia menghiba.


Namun petugas tidak membiarkannya.


"Please, Monsieur!"


"Tidak Nona, Anda dilarang masuk. Pesawat hampir lepas landas dan tidak bisa dihentikan. Itu akan memgacaukan lalu lintas penerbangan."


"Tapi Monsieur, ...."


"Maafkan kami. Pesawatnya sudah terbang."


"Apa?"


Amara menatap keluar lewat kaca besar di depannya. Dan dia memang benar-benar terlambat. Pesawat Nikolai Grup tujuan Indonesia sudah lepas landas dan mengudara menuju rumah. Meninggalkannya tanpa memastikan keadaan terlebih dahulu.


"Aku terlambat, Piere!" katanya, dan kelopak matanya mulai memanas.


Pria itu mendekat, sama-sama menatap keadaan di landasan pacu yang menggelap.


"Kami bahkan tidak saling berpamitan dan mengucap selamat tinggal." Amara menempelkan wajahnya pada kaca besar itu. Dia sesenggukkan.


"I'm sorry." Piere berujar. Dan dia menatap gadis itu yang tampak putus asa.


🌺


🌺


🌺

__ADS_1


Bersambung ...


Nah, semuanya sudah terlambat. Ayo pulang?


__ADS_2