My Only One

My Only One
Satu Hal


__ADS_3

🌺


🌺


Galang mempercepat langkahnya begitu dia tiba di lantai atas. Menemukan perempuan itu yang sudah duduk manis di meja kerjanya, di depan ruangan Dimitri dua hari setelah dia mengantarnya ke rumah sakit.


"Apa yang sedang kamu lakukan di sini?" Dia lantas bertanya.


Clarra mendongak dan menatap pria itu.


"Bekerja."


"Bukannya kamu sedang sakit? Mengapa sudah ada disini?"


"Kamu berlebihan deh? Asam lambungku hanya kambuh, dan aku masih bisa bangun dari tempat tidur, bukannya mengalami kelumpuhan."


"Tapi bukannya dokter menyuruhmu untuk istirahat? Keadaannmu mengkhawatirkan!"


"Iya, dua hari aku cuti. Dan itu cukup."


Galang menghembuskan napas keras.


"Tumben sekali pagi-pagi begini kamu sudah datang?" Clarra melihat jam tangannya.


"Kan memang sudah tugasku menggantikanmu?"


"Benarkah?" Clarra tersenyum sekilas.


"Bisa?" lanjutnya, dan dia memeriksa beberapa hal di mejanya.


"Bisa lah." Galang mendekat. "Lihat saja sendiri."


Perempuan itu melihat beberapa catatan jadwal dan segala yang sering dia kerjakan. Penyusunan waktu pertemuan dan hal-hal yang berhubungan dengan itu. Dan kesemuanya sudah tertata rapi untuk tiga hari ke depan.


"Benar kan kalau aku bisa?"


Kedua sudut bibir Clarra tertarik ke belakang mementuk sebuah senyuman.


"Malah senyum?" Galang mencondongkan tubuhnya.


"Jadi tidak usah khawatir, sana pulang. Biar aku menggantikanmu untuk beberapa hari. Ambil liburan, pergilah jalan-jalan atau istirahat dirumah."


"Dan kalian disini sangat sibuk." Clarra kembali mendongak.


"Tidak apa-apa. Sana." Galang merasa senang karena sepertinya perempuan ini sudah membaik.


"Tidak." Clarra menggelengkan kepala.


"Cih, dasar pekerja keras!" cibir Galang.


Clarra terdiam.


"Lho, kamu sudah bekerja lagi?" Dimitri muncul setelahnya.


"Ya Dim."


"Sudah sembuh?"


"Sudah."


"Yakin?"


"Yakin."


"Serius? Nanti kalau ada apa-apa Tante Vita akan menyalahkan aku lagi?"


"Tidak akan."


"Aku harap begitu. Jangan sampai Nikolai Grup terlihat buruk karena tidak membiarkan karyawannya istirahat di saat sakit." ucap Dimitri.


"Hahaha ..." Galang menggerak-gerakka telunjuknya ke arah Clarra.


"Tidak, aku baik-baik saja."


"Baik kalau begitu, selamat bekerja."


***


Clarra tertegun di antara meja-meja kantin yang hari itu tampak penuh. Tak ada satupun tempat kosong seperti hari-hari sebelumnya karena pertengahan bulan itu semua orang tengah mengejar deadlinenya masing-masing. Menyebabkan setiap karyawan memilih untuk makan di kantin yag tersedia ketimbang pergi keluar untuk beristirahat.


Meja di sudut tempatnya biasa duduk pun sudah terisi, dan tidak mungkin dirinya bergabung dengan mereka Meski terlihat ada satu kursi tersisa. Dia tak biasa.


Namun Clarra menemukan wajah yang dikenalnya ketika mengedarkan pandangan ke arah lain, tengah menikmati makan siangnya diselingi obrolan hangat dengan pegawai yang lain seperti biasa.


"Kursi ini kosong?" Perempuan itu memutuskan untuk mendekat.


Tiga orang yang berada di sana menghentikan kegiatannya, kemudian mendongak. Termasuk Galang.


"Semua meja sudah penuh, dan aku terlanjur mengambil makanan." Clarra denga nampan makan siangnya di tangan.


"Apa kursinya sudah ada yang mengisi?" Perempuan itu mengulang pertanyaan.


"Tidak, duduklah." jawab Galang yang menggeser beberapa benda di meja sehingga ada ruang untuk Clarra meletakkan nampannya.


"Terima kasih." Dia segera duduk di kursi kosong tersebut.


Tak ada yang berniat memulai pembicaraan, karena semua orang tahu jika perempuan yang baru saja bergabung itu tidak menyukai hal tersebut. Mereka memilih cepat-cepat menyelesaikan makannya agar bisa segera pergi dan kembali menyelesaikan pekerjaannya hari itu. Sekaligus menghindari hal yang tidak diinginkan yang mungkin akan terjadi jika mereka berinteraksi dengan sekertaris nomor satu dari Nikolai Grup itu.


"Bagaimana pekerjaan kalian?" Tanpa diduga Clarra memulai percakapan. Meski ragu, tapi dia mencoba untuk belajar berbasa-basi.


Tiga orang di depannya saling pandang.

__ADS_1


"Lancar, kami sedang menyelesaikan beberapa hal sehingga bisa memenuhi deadline nanti." Galang menjawab.


"Hmm ... Dan kamu, Regina?" tanya Clarra kepada perempuan yang dia kenal bekerja di divisi keuangan.


"Cukup lancar, ada beberapa hal yang harus ditinjau dari dua proyek dan itu cukup melelahkan. Tapi sejauh ini masih bisa ditangani."


Clarra mengangguk-anggukkan kepala.


"Dan kamu, Febri?" Clarra beralih kepada pria di samping Galang.


"Lumayan. Kami sedang berusaha menyelesaikan beberapa surat perjanjian kerjasama seperti yang kamu perintahkan. Aku kira sore ini akan sampai di mejamu sebelum jam pulang." Pria itu menjawab.


"Bagus." Seulas senyum tersungging di bibir Clarra yang biasa tertutup rapat jika bukan sedang membicarakan masalah pekerjaan.


"Dan kamu sendiri?" Regina memberanikan diri untuk bertanya.


"Aku?"


"Ya. Bagaimana pekerjaanmu? Aku dengar kamu sempat masuk rumah sakit kemarin?" Lanjut perempuan itu setelah menyelesaikan makan siangnya.


Clarra tertegun sebentar, lalu dia melirik kepada Galang yang menatapnya dalam diam.


"Baik." Kemudian dia menjawab.


"Syukurlah." Regina berucap.


"Maaf, sepertinya aku harus pergi sekarang, pekerjaanku menunggu." Febri yang tampak sudah menyelesaikan kegiatan makannya.


"Begitu?"


"Ya, kalian tahu, semua pekerjaan itu tidak bisa meyelesaikan dirinya sendiri." Pria itu terkekeh.


"Aku juga, maaf. Laporan mingguanku juga menunggu untuk di kerjakan. Dan aku ingin semuanya selesai tepat waktu." Regina juga berujar.


"Baik." Clarra menjawab sebelum akhirnya dua staff itu pergi setelah makan siang mereka selesai.


Kini yang tertinggal hanya dirinya yang Galang, yang melanjutkan kegiatan makannya dengan tenang tanpa suara. Malah bisa dibilang jika pria itu dengan santai menikmati setiap suapan makanannya.


"Semua orang bekerja dengan cepat ya?" Clarra menyuapkan nasi dengan potongan daging dan sayuran itu kedalam mulutnya.


"Begitulah, semua harus selesai tepat waktu bukan?" Galang menjawab.


"Hmm ... sampai-sampai untuk makan saja mereka buru-buru."


Galang terkekeh.


"Kenapa kamu tertawa?" Clarra menoleh lagi kepada rekan kerjanya itu.


"Baru sadar ya? Kemana saja kamu selama ini? Sepertinya hanya aku saja di Nikolai Grup yang menghabiskan waktu istirahatnya dengan santai?"


"Benarkah?"


"Ya, kadang aku kembali ke atas ketika semua orang sudah pergi dan di kantin ini terasa sepi. Aku suka disini."


"Karena disini banyak makanan." Galang tertawa. "Dan lagi, suasananya mirip di kampus."


Perempuan di dekatnya mengerutkan dahi.


"Pasti karena ingat masa pacaran dengan mantan kekasihmu ya?" Clarra memicingkan matanya.


Galang terdiam dengan ekspresi yang terlihat kesal.


"Apa?" Clarra kembali menyuapkan makanannya tanpa rasa bersalah sedikitpun.


"Kenapa sih kamu harus mengingatkan aku soal itu?"


"Memangnya kenapa?"


"Aku kan sedang berusaha melupakan dia."


"Masa?"


"Aku hampir saja lupa, tapi ucapanmu membuat aku ingat dia lagi."


Clarra memutar bola matanya.


"Ah, selera makanku hilang jadinya." Galang meletakkan sendoknya di piring yang makanan di dalamnya tersisa setengahnya.


"Kamu berlebihan!" Clarra tergelak. Dia suka dengan ekspresi kesal pria itu yang membuatnya terlihat seperti anak kecil.


Dahinya berkerut dan bibirnya mengerucut, kedewasaannya menghilang untuk beberapa saat.


"Dasar kamu menyebalkan!" gumam Galang yang menenggak habis air minumnya.


***


"Eh tadi lihat nggak sih?" lorong masih belum benar-benar lengang pada lewat tengah hari itu.


"Apa?"


"Tiba-tiba saja Bu Clarra berbaur dengan staff lain di kantin."


"Oh ya? Memangnya kenapa? Di sana kan ada Pak Galang?"


"Kalau Pak Galang sudah biasa, tapi Bu Clarra? Dia kan biasanya sendiri. Tidak ada yang boleh mendekat, dan semua orang seperti di musuhinya."


"Kamu ini ada-ada saja?"


"Serius, tadi pertama kalinya dia mau bergabung dengan karyawan lain."


"Bagus kan? Itu artinya dia sadar kalau disini dia tidak bekerja sendirian. Tapi ada juga karyawan lainnya."

__ADS_1


"Atau dia sadar karena hal lainnya." Perempuan itu terkekeh.


"Apa?"


"Ada bagusnya kemarin dia sakit selama dua hari, membuatnya bertobat."


"Huss! Jangan bilang begitu!"


"Habisnya dia menyebalkan. Tidak lihat ya, bagaimana dua hari yang lalu waktu dia marah-marah kepadamu karena meminta tambahan waktu?"


"Ummm ...."


"Sepertinya, sakitnya itu adalah karma. Makanya jadi orang tidak boleh seenaknya seperti itu. Mentang-mentang dia paling di andalkan perusahaan lalu membuatnya berlaku seperti itu kepada kita. Nanti kalau pensiun juga aku yakin perusahaan ini tidak akan mempedulikannya lagi."


"Ssssttt, jangan bicara sembarangan. Nanti kalau ada yang dengar bagaimana?"


"Tidak akan! Dia kan kerjanya di atas?"


"Kalau ada orang lain?"


"Orang lain siapa?" Percakapan itu tampak mengasyikan sementara seseorang di ujung lorong mendengarkan dalam diam.


Clarra, yang baru saja kembali dari kantin tanpa sengaja mendengar obrolan tetsebut, dan itu membuat emosinya memuncak.


Dia hampir saja keluar dan menghampiri tiga perempuan di depan sana ketika Galang menarik lengannya untuk menahannya.


"Biar aku yang bertindak." ucap Pria itu, yang mendorong kembali Clarra agar tetap di persembunyiannya.


Galang berjalan dengan santai ke arah tiga pegawai perempuan yang masih belum menyadari keberadaannya. Langkahnya cenderung santai malah hampir tidak terdengar. Hingga akhirnya jaraknya hanya tersisa sekitar satu meteran saja, dan mereka masih membicarakan Clarra dan mejadikannya sebagai bahan lelucon.


"Ehmm ..." Dia berdeham yang segera menghentikan percakapan tersebut.


"Kalian lagi, hadehh ...." katanya, sambil menggelengkan kepala.


"Lalai dalam bekerja, suka bergosip, dan sekarang mengolok-olok orang lain?"


Tiga perempuan itu terdiam.


"Ini kalau Bu Clarra yag mendengarnya sendiri bisa gawat. Kalian pasti akan langsung mendapatkan surat pemecatan." Galang menatap mereka satu persatu.


"Maaf Pak, kami tidak ...."


"Tidak usah beralasan, saya mendengar semua yag kalian katakan. Termasuk menjadikan sakitnya Bu Clarra sebagai lelucon."


Perempuan-perempuan itu mengatupkan mulut mereka.


"Masih untung saya yag mendengar. Bukan Pak Andra, atau Bu Clarta sendiri. Kalau tidak, habis kalian."


"Atau kalian sudah tidak mau bekerja disini ya?"


"Apa? Ti-tidak Pak." Nereka menghelengkan kepala.


"Buktinya kalian lebih banyak bergosip dari pada bekerja?"


"Kami hanya ...."


"Jangan banyak alasan, cepat selesaikan pekerjaan kalian. Dan bukankah kamu juga harus menyelesaika tugasmu yang minta tambahan waktu dua hari itu?" Galang meunjuk salah seorang di antara meraka.


"Kalau sudah selesai cepat antarkan ke mejanya Bu Clarra. Agar pekerjaannya menjadi berkurang. Kalian tahu kenapa dia sampa sakit? Karena dia harus menyelesaikan banyak hal yag seharusnya bisa kita tangani. Jadi, dari pada kalian mengolok-oloknya, lebih baik bantu dia dengan menyelesaikan deadline kalian tepat waktu." ujar pria itu, panjang lebar.


"Cepat!" Galang menaikkan nada suaranya, membuat tiga pegawai perempuan itu terkejut.


"Ba-baik Pak." Mereka segera pergi ke ruangan masing-masing.


"Ayo kita kembali ke atas, dan menyelesaikan pekerjaan kita?" Galang kembali ke hadapan Clarra.


Mereka berjalan pelan menuju lift.


"Kenapa kamu melakukan itu?" Clarra buka suara setelah mereka sudah berada di dalam kotak besi itu.


"Apa?" Galang bersandar dengan kedua tangan dia masukkan ke dalam saku celana.


"Mengatakan apa yang barusan kamu katakan kepada mereka?"


"Tidak kenapa-kenapa."


Clarra menatapnya lekat-lekat.


"Kamu tahu, terkadang orang-orang berbicara sembaranga padahal mereka tidak mengetahui apa-apa. Hanya karena mereka melihat sesuatu, lantas mereka menganggap itulah yang mereka ketahui. Tapi sejujurnya mereka salah."


"Dan kamu berusaha memberi tahu mereka?"


"Tidak." Galang menggelengkan kepala.


"Aku hanya melakukan apa yang harus aku lakukan."


"Apa itu?"


Pria itu tersenyum miring.


"Apa?"


"Mengatakan apa yang aku ketahui tapi tidak mereka ketahui."


Kemudian dua orang itu terdiam dengan pikirannya masing-masing.


🌺


🌺


🌺

__ADS_1


Bersambung ....



__ADS_2