My Only One

My Only One
The Moment


__ADS_3

🌺


🌺


"See? Mommy tidak bisa menemui kita kan?" Dimitri menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi.


Mereka memilih tempat duduk paling depan di mana pemandangan lintasan terpampang nyata. Menyaksikan sesi kualifikasi yang tengah berlangsung siang itu.


"Mommy sangat cepat, aku nggak bisa lihat." Anya memanjangkan leher kecilnya.


"Aku bisa! See? She's the red one!" Zenya mengarahkan telunjuknya ketika sebuah motor berwarna merah melintas secepat kilat di depan mereka.


"Are you sure?" Anya menatap ke arah yang ditunjuk oleh saudara kembarnya itu.


"Yeah, aku tahu itu mommy." ucap Zenya.


"Hey Mommy, aku sama Zenya disini!" Anya berteriak sambil berdiri di atas kursi. Dia melambaikan tangannya di udara seolah sang ibu bisa melihat keberadaan mereka.


Dan setelah beberapa saat akhirnya sesi pada siang itu berakhir dengan hasil Rania berada di urutan ketiga untuk start esok hari.


Galang terdiam dengan dahi berkerut sehingga kedua alisnya tampak bertautan. Dia mengingat sesuatu yang sepertinya tertinggal di hotel tempat mereka menginap sebelumnya.


"Ada masalah?" Dimitri menangkap gelagat pada asistennya itu.


"Jam tangan saya sepertinya tertinggal di hotel." Galang menjawab.


"Bagaimana bisa?"


"Sepertinya saya lupa. Tadi buru-buru karena Anya terus memanggil."


"Ck!" Dimitri memutar bola matanya.


"Coba telfon? Siapa tahu masih ada?" katanya kemudian.


Dan Galang melakukan apa yang di ucapkan oleh atasannya tersebut, dia menjauh seraya menghubungi hotel yang jaraknya dua jam dari sirkuit dengan harapan jam tangan miliknya yang merupakan hadiah ulang tahun pemberian Amara masih ada.


"Ada masalah apa?" Rania muncul setelah melakukan breefing akhir hari itu.


"Jam tangan Galang tertinggal di hotel."


"Kok bisa?"


"Bisa saja, sepertinya gara-gara Anya."


"Kok Anya?"


"Tahu sendiri kalau dia tidak sabaran? Tahu akan langsung kesini anak-anak kelihatan sangat bersemangat."


"Hmm ...."


"Mommy, balapannya udah?" Zenya datang menghampiri.


"Belum. Balapannya kan besok?"


"Jadi masih ada?"


"Masih lah."


"Jadi sekarang nggak pulang dulu?"


"Nggak, paling besok."


"Oke."


"Jadi ayo kita ke vila dulu?" ajak Rania.


"Anom di mana?" Anya menyela percakapan.


"Masih ada urusan, nanti nyusul."


"Saya harus kembali ke hotel itu Pak." Galang kembali mendekat.


"Jamnya ada?"


"Ada. Mereka menemukannya di kamar."


"Hati-hati Lang, itu baru jam. Gimana kalau yang lain?"


"Iya, aku lupa. Gimana dong?"

__ADS_1


"Dengan siapa kamu pergi kesana?"


"Dengan pemandu saja Pak."


"Baiklah, kalau begitu kami pergi ke villa duluan?" Dimitri bersiap untuk pergi.


"Ya Pak."


Setelahnya kemudian mereka berpisah.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Amara menatap benda yang dia temukan di kamar yang di bersihkannya barusan. Sebuah jam tangan berwarna hitam yang dia rasa mirip dengan milik seseorang. Dia tahu persis, karena sempat membelikannya di hari yang sangat istimewa lebih dari dua tahun yang lalu.


Apakah mungkin ini milik Kak Galang?


Tapi barang seperti ini banyak di dunia, dan semua orang pasti memilikinya? Dia membatin.


"Milik siapa itu?" Piere muncul setelah membawakan barang milik tamu hotel yang baru saja tiba.


"Aku menemukannya di lantai lima tadi pagi." Amara menjawab.


"Milik tamu?"


"Mungkin."


"Tamunya sudah pergi waktu kamu menemukannya?"


"Sepertinya begitu. Aku tidak menemukan siapa-siapa di sana."


"Sudah lapor manager?"


"Harus ya?"


"Ya. Siapa tahu nanti mereka akan kembali dan menanyakannya?"


"Benar juga."


"Ayo, aku antar ke manager?" Piere menyentakkan kepalanya.


"Ada sesuatu yang penting?" Sang manager bertanya begitu kedua bawahannya itu masuk ke ruangannya.


"Ya? Tamu yang mana?"


"Tamu di lantai lima. Kamar nomor 30." Kemudian Amara menyahut.


Manager hampir saja membuka mulutnya untuk berbicara ketika panggilan di telefon kantor berdering.


"Ya?" Dia menjawab panggilan dari resepsionist.


Pria itu kemudian melirik kepada Amara.


"Apa jenis jam tangannya?"


Amara menunjukkan benda tersebut, dan pria itu bergumam mendengarkan resepsionist berbicara.


"Jika yang di maksud adalah jam tangan hitam dengan merk Xx, memang ada. Room service menemukannya saat membersihkan kamar."


"...."


"Baik." Lalu dia meletakkan gagang telefon di tempatnya.


"Pemiliknya akan mengambil kesini."


"Benarkah Pak?"


"Ya, jadi simpan saja di resepsionist agar mereka bisa dengan mudah mengambilnya." ucap Manager.


"Baik." Kemudian dua pegawai itu kembali ke tempatnya bekerja.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Galang bersama seorang pemandu tiba kembali di depan hotel tempatnya menginap semalam setelah dua jam berkendara. Mereka segera menuju resepsionist yang sebelumnya telah di tunjuk sebagai tempatnya mengambil jam tangan miliknya.


Dia menunjukkan tanda pengenal, juga menerangkan apa yang terjadi sebelum akhirnya menyadari bahwa jam tangannya tertinggal di tempat tersebut.


Dan wajahnya tampak lega ketika resepsionist menunjukkan barang yang dimaksud.


"Mercy." katanya dengan raut gembira.

__ADS_1


"Anda yang menemukannya?" Dia berbicara kepada pemandu yang kemudian menyampaikannya kepada perempuan itu.


"Bukan, tapi pegawai room service." jawab resepsionist.


"Oh, saya harus berterima kasih kepadanya. Dia sudah menemukan barang yang sangat penting bagi saya."


"Dia sedang sibuk, Monsieur. Hotel kami sedang banyak pengunjung." jelas perempuan itu.


"Hanya sebentar. Bisakan Anda memanggilnya? Saya janji tidak akan lama."


"But ..."


"Saya mohon. Hanya sebentar saja."


"Umm ... Amara?" Perempuan itu memanggil seorang pegawai yang melintas. Namun tampaknya pegawai itu tak mendengar. Dia terus melenggang ke arah lift di ujung bangunan.


Galang terhenyak mendengar ucapan perempuan itu.


"Apa katamu?"


"Itu Amara, mungkin dia tahu sesuatu soal jam tangannya. Mungkin dia yang membereskan kamar anda tadi pagi."


"Maksud saya, ... siapa yang anda panggil?" Galang dengan dada bergemuruh.


"Amara, pegawai kami."


"Amara?"


"Ya, Amara."


Pria itu tertegun sebentar. Otaknya tiba-tiba terasa kosong dan tubuhnya serasa membeku. Mungkinkah ini yang dia tunggu-tunggu?


Apakah orang yang di maksud adalah dia? Amaranya yang telah pergi meninggalkannya sejak dua tahun yang lalu? Dia ada di sini? Di hotel ini?


Jantungnya berdebar begitu kencang sehingga Galang merasa dadanya hampir saja meledak. Menimang-nimang apakah benar dia Amara yang di maksud?


"Monsieur?" ucapan Resepsionist membuyarkan lamunannya.


"Where? Where is she?" Galang bereaksi.


Mendengar nama Amara, hanya ada satu dalam pikirannya. Yakni gadis itu yang telah menguasai seluruh hati dan perasaannya. Menghuni dunia dan ingatannya. Yang meskipun dia memaksa menjauh namun tak membuat perasaannya berkurang ataupun menghilang.


"What do you mean?"


"Amara?"


"Shes heading to ...." telunjuk perempuan itu mengarah ke tempat di mana dia melihat Amara melintas.


Dan tanpa menunggu lama lagi Galang segera berlari ke sana. Dengan langkahnya yang lebar dia berusaha mencapai tempat yang di maksud.


Sebuah lift dengan tulisan 'Staff Only' itu tertutup rapat, kemudian angka di atas pintunya terlihat bergerak ke atas. Yang meski tombolnya sudah berusaha dia tekan namun tidak dapat menghentikannya.


Galang kemudian beralih pada lift pengunjung di sisi lainnya, dan sosok itu segera dia temukan. Dan pandangannya tidak mungkin salah.


Gadis yang rambutnya dikucir ke belakang itu hampir saja masuk ke dalam lift ketika teriakan Galang terdengar memanggilnya.


"Ara?"


Kakinya melangkah seraya menoleh ke asal suara. Dan dia sudah berada di dalam lift ketika Galang berlari dan menghentikan pintunya yang hampir tertutup.


Pria itu menerobos masuk dan segera mencapainya dengan mudah.


"Ara?" Suaranya terdengar bergetar.


Tubuhnya yang tinggi menjulang mendorong Amara hingga gadis itu tersudut, dengan sebelah tangan bertumpu pada dinding lift. Dan dia tak menyisakan ruang kosong di antara mereka.


Sementara Amara yang tingginya hanya sebatas dada Galang tampak membeku. Bobirnya tertutup rapat dan lidahnya kelu, dan dia tiba-tiba saja kehilangan kata-kata.


🌺


🌺


🌺


Bersambung ...


Nah, habis ini mau ngapain? 😁😁


__ADS_1



__ADS_2