My Only One

My Only One
Wajah Amara


__ADS_3

🌺


🌺


Satu minggu kemudian …


"Bangun Neng, sudah pagi." Galang menunduk lalu berbisik di telinga Amara, seperti yang selalu dilakukannya setiap dia membangunkan perempuan itu di pagi hari.


Amara mengerang, lalu mengerjap untuk menyesuaikan cahaya yang masuk kedalam matanya, kemudian tertegun.


"Ayo cepat, kita harus ke rumah sakit lagi. Check up sekalian membuka perbannya."


"Emang udah bisa dibuka?" Amara perlahan bangkit lalu duduk bersandar pada kepala ranjang.


"Makanya kita cari tahu. Siapa tahu bisa?" jawab Galang.


"Ya udah." Perempuan itu bergeser lalu menurunkan kakinya perlahan.


Galang membantunya berdiri dan mencoba memapahnya ke kamar mandi seperti di hari-hari sebelumnya.


"Apa tidak terlalu kencang?" Galang memastikan ikatan pada rambut Amara sudah benar. 


Dia tak ingin membuat perempuan itu tampak berantakan meski keadaannya belum sepenuhnya pulih.


"Udah."


"Yakin?"


Amara menganggukkan kepala.


"Baiklah kalau begitu, kita sarapan?"


"Iya." Perempuan itu mengangguk lagi.


Lalu Galang membawanya keluar dari kamar setelah dia juga berganti pakaian, dan segera menuju ke ruang makan.


"Kakak masak lagi?" Amara menatap makanan yang terhidang di meja.


"Ya, seperti biasa." Galang menggeser mangkuk berisi bubur dengan campuran irisan kecil daging ayam dengan sayuran dan jagung. Yang aroma sedapnya segera menguar begitu dia menyendoknya.


"Kenapa bikin sendiri terus? Kan bisa suruh pengurus apartemen untuk masak?" Amara membuka mulutnya begitu pria itu menyodorkan sendok ke dekat mulutnya.


"Nggak apa-apa, cuma bubur."


"Kan Kakak jadinya repot?"


"Nggak, biasa aja." Galang pun menyuapkan kepada dirinya sendiri. 


Memang sudah menjadi kebiasaan mereka berdua untuk makan seperti itu. Apa yang Amara makan, dia memakannya pula. Dari wadah dan sendok yang sama.


Pria itu dengan telaten mengurus segala keperluan Amara dan semua yang perempuan itu butuhkan hingga keadaannya benar-benar membaik.


"Kakak terpaksa masak buat aku ya?"


"Bukan terpaksa, tapi memang sudah seharusnya aku mengurusmu kan?"


"Tapi kan capek?"


"Sudah biasa. Bukankah memang begitu seharusnya? Ibu bilang kalau sudah menikah itu harus saling mengurus. Mungkin ini maksudnya."


"Ibu yang ngajarin Kakak biar bisa ngurus aku?"


"Bukan untuk mengurus kamu, tapi untuk mengurus diriku sendiri."


"Tapi jadinya ngurus aku juga?"


"Itulah gunanya ajaran ibu. Hahaha."


"Dan bagus juga ya?"


"Hu'um." Galang mengangguk sambil tersenyum.


"Mau tambah lagi?" tanya nya ketika mangkoknya sudah kosong.


"Nggak, udah cukup." Amara menggelengkan kepala.


"Oke." Lalu Galang menyodorkan air minum lengkap dengan sedotannya yang langsung disesap oleh Amara.


"Nah, sekarang siap berangkat ke rumah sakit lagi?" Pria itu berujar.


"Sebenernya sih males, tapi apa boleh buat?" Amara menjawab dengan raut tidak senang.


Dan Galang hanya tersenyum seraya merapikan pakaiannya. Memakaikan hoodie dengan penutup kepala dan wajah agar istrinya itu terhindar dari tatapan aneh orang-orang yang mungkin saja akan mereka temui.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Bagaimana kabarnya Ara hari ini?" Senyuman Dokter Kirana menyambut kedatangan mereka pada menjelang siang itu. 


Bahkan Arfan sudah berada di sana untuk menemani putrinya setelah Galang menelfon.


"Baik Dokter, Ara sudah tidak sabar untuk membuka perbannya." jawab Galang yang membantu Amara duduk di blankar pemeriksaan.


"Baik, kita periksa dulu ya? Semoga sudah bisa dibuka." ucap dokter cantik itu.


Dokter kirana segera mendekat dan dia menyentuh wajah sebelah kiri Amara.


"Apa masih terasa sakit?" Dia kemudian bertanya.


"Kadang-kadang, tapi yang paling sering itu gatal." Amara menjawab.


"Itu biasa. Proses pengeringan pada luka dan menyatunya semua jaringan kulit dan daging memang menimbulkan rasa seperti itu." jelasnya yang memeriksa keadaannya.


"Selain itu ada lagi?" Dia bertanya lagi.


"Nggak ada."


"Baiklah, kita bersiap untuk membukanya ya?"


Amara menganggukkan kepala.


Dengan perlahan dan hati-hati Dokter Kirana melepaskan perekat pada bagian belakang perban di kepala Amara.


Membuka lilitan demi lilitan yang saling menempel satu sama lain hingga permukaan itu semakin menipis, dan tampaklah apa yang berada dibaliknya. Hingga hanya tersisa satu lapisan yang menutup bekas luka operasi di sepanjang tulang pipi dan area rahang Amara.

__ADS_1


Pelan-pelan dia melepaskan lapisan itu, lalu tampak pula area yang awalnya terdapat luka sayatan.


Semua orang menunggu dengan berdebar. Mereka sama-sama penasaran dan merasa ingin tahu, tapi hal itu terasa cukup menegangkan juga untuk dinanti.


Amara menatap wajah Dokter Kirana dalam diam dan dia sendiri begitu merasa ingin tahu dengan keadaannya sendiri saat perempuan itu juga terdiam menatapnya.


"Bagaimana?" Galang maju ke hadapan Amara dan dia tertegun untuk beberapa saat.


Sedangkan Dokter Kirana mundur beberapa langkah ke belakang.


"Apa aku jadi jelek?" Amara buka suara.


Galang tidak segera merespon, begitu juga Arfan yang maju setelahnya.


"Aku jadi jelek ya? Operasinya gagal?" tanya Amara lagi dan dia hampir menangis.


"Kamu bercanda ya? Operasinya berhasil!" Galang merangsek maju kemudian memeluknya dengan erat.


"Masa?"


"Wajah kamu kembali seperti semula dan bekas lukanya hampir tidak terlihat." Pria itu tergelak.


"Beneran?"


"Iya!" Galang menarik diri kemudian mundur.


Amara kemudian menoleh kepada Arfan yang berada di belakang suaminya. Pria itu tersenyum dan raut wajahnya tampak lega.


Lalu dia beralih kepada Dokter Kirana yang juga tersenyum puas di belakang mereka.


"Kalau bisa jangan dulu berekspresi berlebihan karena bekas lukanya masih berproses. Ini masih dalam tahap penyembuhan dan memerlukan perawatan lebih. Tapi secara umum, semuanya baik-baik saja." Dokter itu menerangkan.


"Terima kasih Dokter." ucap Amara dengan penuh syukur.


"Sama-sama. Semoga pemulihannya lebih cepat setelah ini." jawab sang Dokter.


"Saya berikan sesuatu untuk merawatnya selain obat-obatan yang sudah ada ya?" lanjutnya, dan dia beralih ke meja kerjanya.


Satu pouch berisi beberapa buah wadah kecil berbentuk krim dan jel dia berikan beserta obat-obat yang Amara butuhkan untuk membantu pemulihannya.


"Ingat untuk tidak menyentuh bagian bekas operasi terlalu kencang atau menambahkan krim lain ya? Untuk sementara gunakan ini dulu." katanya.


"Nggak boleh pakai make up?" Amara bertanya.


"Boleh, tapi jangan tebal-tebal. Tipis saja, dan ingat pakai produk perawatan ini dulu. Ini khusus untuk pemulihan pasca operasi."


"Iya."


"Baik, ada lagi yang mau ditanyakan?" ucap dokter itu sebelum mengakhiri sesi konsultasi hari itu.


Amara masih menatap wajahnya.


"Kalau tidak ada, berarti semuanya selesai di hari ini." lanjutnya, seraya menutup catatannya.


"Bisa cantik kayak Dokter gimana caranya?" celetuk Amara dengan polosnya.


"Apa?"


Dokter Kirana tertawa mendengar pertanyaan pasiennya.


"Bagian mana yang harus dirubah biar cantik kayak Dokter?" tanya perempuan itu lagi.


"Tidak ada."


"Hum?"


"Tidak ada yang bagian tubuh mana pun yang harus dirubah agar menjadi cantik." jawabnya, diplomasi.


"Masa?" Amara seakan tidak percaya.


"Serius. Tindakan operasi dilakukan hanya dalam keadaan darurat dan jika memang benar-benar diperlukan. Kalau tidak perlu ya tidak usah."


"Tapi artis-artis itu?"


"Mereka hanya melakukannya untuk kebutuhan estetika dan seni. Tapi saran saya sih tidak usah. Ciptaan Tuhan selalu lebih baik."


"Nggak percaya Dokter bilang gitu kalau aku nggak dengar sendiri?"


"Kenyataannya begitu. Mereka merubah bentuk wajah atau tubuh agar lebih cantik bukan karena perlu, tapi karena ingin."


"Iyakah?"


"Kebanyakan begitu. Dan hanya sedikit diantara mereka yang melakukannya karena terpaksa demi kesehatan. Kamu misalnya."


"Jadi nggak usah ya?"


"Sebetulnya tidak usah."


"Terus kok Dokter bisa cantik?"


"Bisa, karena dirawat, dan itu sebaik-baiknya menjaga apa yang Tuhan ciptakan."


"Hmm … tapi kayaknya Dokter emang udah cantik dari sananya deh? Cuma dirawat aja udah begini."


"Ya, itu anugerah. Dan memang harus dijaga bukan?"


"Iya juga sih."


"Kamu juga cantik."


Amara tersenyum.


"Dokter udah nikah?" Pertanyaannya menjadi lebih pribadi.


"Neng?" Galang mencoba menghentikannya.


"Kenapa tanya soal itu?" Dokter Kirana tertawa pelan.


"Cuma pengen tahu aja."


"Oh … belum."


"Hah? Masa?"

__ADS_1


"Ya."


"Secantik ini belum nikah?"


"Tidak ada hubungannya kecantikan seseorang dengan jodoh. Kalau belum waktunya ya tidak akan dapat."


"Tunangan?"


Dokter Kirana menggelengkan kepala.


"Pacar? Temen deket?"


"Tidak ada juga."


"Duh?"


"Soal jodoh saya pilih-pilih soalnya."


"Mau yang ganteng ya?"


"Kalau ada ya boleh." Sang dokter tertawa lagi.


"Dokter bercanda ya?"


"Ya, hehehe …"


"Candaan dokter lucu."


"Terima kasih."


"Apa sudah cukup? Kita bisa pulang?" Galang menyela percakapan.


"Umm …."


"Mungkin setelah ini dokter ada pasien lagi yang harus berkonsultasi, jadi sebaiknya kita keluar." Pria itu berujar.


"Baiklah. Tapi nanti aku boleh konsultasi sama Dokter?" ucap Amara lagi ketika Galang membantunya pindah ke kursi roda.


"Boleh, chat saja."


"Oke kalau gitu."


"Kami pamit Dokter, terima kasih." Kemudian Galang segera membawanya keluar.


"Kamu apaan sih, pertanyaannya ngawur?" Galang mendorong kursi roda Amara menjauh.


"Cuma tanya Kak."


"Iya, tapi bikin malu."


"Malu bertanya sesat dijalan tahu?"


"Iya sih, tapi …."


"Sudah selesai?" Disaat bersamaan Darren muncul dengan tergesa.


"Dari mana kamu?" tanya Arfan kepada adik iparnya.


"Aku sengaja ke sini, disuruh Mama." Darren menjawab.


"Mama?"


"Ya, Mama menyuruhku melihat keadaan Ara."


"Aku nggak apa-apa, perbannya udah dibuka." Amara menyahut.


"Benarkah?" Pria itu berjalan mendekat.


"Hu'um, lihat aja sendiri."


Darren terkekeh.


"Nah kan, aku bilang juga apa? Kamu cantik lagi." 


Amara menganggukkan kepala.


"Makanya, percayalah kepadaku!" ujar pria itu.


"Iya iya kak Darren."


"Maaf, permisi?" Dokter Kirana muncul lagi setelah beberapa saat.


"Ya?" Mereka semua menoleh serentak.


"Ada yang ketinggalan, untung kalian belum jauh?" Perempuan itu menyerahkan hoodie yang dipakai Amara juga penutup wajahnya.


"Oo, terima kasih Dokter." Galang menerima barang tersebut.


"Baik, kalau begitu saya permisi?" ucap sang Dokter yang selalu melontarkan senyuman manis itu.


"Oke, kita memeriksa tangan dan kakimu sekarang?" Galang meneruskan langkah mereka untuk melanjutkan pemeriksaan pada Amara.


"Boleh." Dan istrinya itu menjawab dengan riang.


Kemudian mereka bertiga segera berlalu dari tempat tersebut kecuali Darren yang masih tertegun di tempatnya berdiri menatap pintu ruang Dokter Kirana yang tertutup rapat.


"Jangan dilihatin terus Kak, Dokter Kirananya sibuk." ucap Amara yang membuyarkan lamunan pria itu.


"Atau, kalau mau kenalan samperin orangnya kedalam. Dia juga jomblo kayak Kakak." 


Darren mengerutkan dahi.


"Kamu ngomong apa sih?" Pria itu berlari mengejar mereka dengan wajah yang memerah.


🌺


🌺


🌺


Bersambung ....


Cieeeee ... Kak Darren mulai 🤣🤣🤣

__ADS_1


__ADS_2