My Only One

My Only One
MOO Ekstrapart #3


__ADS_3

🌺


🌺


"Kok wajahnya banyakan mirip Kakak?" celetuk Amara saat menatap foto hasil USG pada pemeriksaan kehamilannya.


"Tentu saja, mereka anakku." Galang dengan bangganya.


"Maksudnya, muka akunya dikit amat. Apanya yang mirip ya?"


Pria itu tertawa.


"Malah ketawa? Nggak mau ah, pokoknya mereka juga harus mirip aku. Masa muka kakak semua ini?" Perempuan itu meletakkan kembali foto tersebut di meja.


"Ck! Baru kelihatan segini kamu sudah bilang mirip. Mana?" Lalu Galang pun melihatnya juga.


Foto janin yang baru berusia empat bulan namun dengan wajah yang disorot jelas. Segala hal padanya sudah lengkap dan dia sempurna seperti yang dikatakan oleh dokter beberapa saat yang lalu.


Amara bersedekap.


"Ini kan masih berkembang. Siapa tahu makin besar semakin mirip kamu?" Dia duduk di sampingnya.


"Lagi pula kenapa memangnya kalau mirip aku? Kan aku papanya. Kalau mirip Piere baru aneh." 


"Kok bawa-bawa Piere?"


"Misalnya …."


"Kakak ih suka ngada-ngada!"


"Kamu juga kadang begitu?"


Amara membuka mulutnya untuk menjawab. Namun kemudian Galang malah menarik wajahnya dan mencium bibirnya untuk beberapa saat.


"Sudah, jangan diperpanjang. Bisa-bisa kita bertengkar." Pria itu terkekeh.


"Om Galang!!!!!" Teriakan khas itu memecah keheningan rumah.


Anya berlari memasuki rumah besar yang pintunya memang sudah terbuka.


"Ah, si rusuh jadi tamu pertama kita rupanya." Galang bangkit lalu menoleh ke arah pintu masuk.


Tampak anak itu diikuti kedua orang tua dan adik kembarnya di belakang.


"Kok Om Galang rumahnya di sini?" Anya bertanya saat jarak mereka sudah dekat.


"Iya, biar dekat."


"Dekat sama Opa ya?"


"Iya."


"Dia nggak percaya waktu aku bilang kalian sekarang tinggal di sini." Rania berbicara.


"Habisnya, kan waktu itu tinggalnya di rumah Mommy Dygta?" Anya menyahut.


"Iya, sekarang pindah kan." Galang menjawab.

__ADS_1


"Acaranya mulai jam berapa sih? Kok belum ada yang datang?" Rania melihat sekeliling rumah yang masih sepi.


Hanya terlihat dua asisten rumah tangga dan pegawai Amara's Love yang sedang merapikan meja prasmanan di ruang tengah.


"Orang kamu datangnya paling awal. Acara kan masih satu jam lagi." Galang melihat jam tangannya.


"Sudah aku bilang kan?" Dimitri menyela.


"Orang Anya yang nggak sabaran. Lagian udah aku kasih tahu jangan bilang apa-apa dulu. Anya kan suka rusuh kalau tahu mau pergi? Apalagi ketemu Galang." Rania menjawab.


"Ya kalau dia tidak mendengar papi menelpon mungkin tidak akan tahu?" Sedangkan Dimitri membela diri. Dia tak mau disalahkan oleh istrinya.


"Kakak babynya udah gede belum?" Anya kembali berbicara.


"Belum. Masih empat bulan." Amara menjawab.


"Mana?"


"Ini." Perempuan itu menunjuk perutnya yang masih agak rata.


"Ah, masih di perut ya?"


Amara menganggukkan kepala.


"Keluarnya kapan?" Zenya ikut berbicara.


"Nanti kalau udah waktunya."


"Waktunya itu kapan?" tanya bocah tampan itu lagi.


"Kalau udah sembilan bulan."


"Baru empat bulan, kan tadi udah dibipangin?" Galang menjawab dengan sedikit perasaan kesal.


"Berarti …." Anya menggerak-gerakan jarinya untuk menghitung sesuatu.


"In five month's!" sahut Zenya dengan nada riang.


"You right." Anya mengangguk. "Tapi masih lama ya Kak?"


"Iya."


"Mommy, aku juga mau punya adik bayi!" Lalu Anya beralih kepada ibunya.


"Iya, itu kan sebentar lagi ada punya Om Galang." Rania menjawab.


"No! Aku maunya dari perut Mommy!" Anya menepuk perut ibunya.


"Buatkan Pak, kasihan Anya mau punya adik." Galang sedikit tertawa.


"Setiap malam, tapi nggak jadi-jadi." Dimitri menjawab sambil memutar bola matanya.


"Apaan? Udah aku bilang nggak mau nambah. Dua anak cukup. Ini aja udah pusing." Rania menjawab.


"Pusing apanya? Ada perawat yang ngasuh. Kalau pergi dititip semua di Oma Opanya?" Galang menyahut.


"Pokoknya … cukup lah. Adikku banyak, masa anak juga harus banyak? Kita harus ikut program pemerintah, kan?"

__ADS_1


"Kan seru Kak, rumah rame." Amara ikut berbicara sambil tertawa.


"Ah, berisik. Aku udah tahu gimana rasanya."


"Kalau udah tahu mestinya kamu terbiasa dong?" tukas Galang yang memastikan semua persiapan selesai karena sebentar lagi para tamu akan berdatangan.


"Justru itu, karena udah tahu jadi nggak mau nambah."


"Kasihan Anya tahu?" Galang tertawa.


"Ah, nanti juga dari kalian Anya punya banyak adik. Belum lagi dari Darren sama Daryl. Belum nanti kalau Arkhan, Ann, Asha sama Aksa juga. Kurang banyak gimana coba?"


"Hadeh …."


Lalu keriuhan pun mulai berlangsung ketika anggota keluarga lain mulai berdatangan. Dari mulai Satria dan Sofia, Arfan dan Dygta yang membawa serta ke empat anak mereka. Angga yang membawa anak istri dan kedua orang tua Galang, Mytha bersama keluarganya, diikuti oleh tamu yang sengaja diundang untuk mengikuti acara syukuran rumah sekaligus merayakan empat bulanan kandungan Amara.


***


"Kamu sibuk?" Daryl menghampiri meja prasmanan di mana Nania dan Ardi bertugas menyiapkan hidangan.


Acara ramah tamah berlangsung setelah rangkaian doa dilantunkan oleh pemuka agama dan semua yang hadir untuk mendoakan penghuni rumah beserta keluarganya.


Sebuah piring Daryl isi nasi, potongan daging dan makanan lainnya yang tersedia, seperti halnya yang lain.


Nania menatap ke sekeliling di mana sekitar kurang lebih lima puluh orang tengah sibuk dengan makanan mereka.


"Santai, Pak. Saya kan lagi liburan di pantai. Ini cuma iseng aja jaga prasmanan biar nggak bosen." Nania menjawab sembarang.


Tiba-tiba saja dia merasa kesal kepada pria itu yang berbasa-basi kepadanya. Nania masih ingat interaksi di antara mereka yang berujung kemarahan baginya.


Saat Daryl mencuri ciuman pertamanya tanpa permisi, apalagi ikatan jelas yang yang memungkinkan hal itu terjadi. Dan baginya, sebuah ciuman berarti sesuatu. Tapi tak ada pernyataan jelas dari pria itu yang menunjukkan hubungan di antara mereka.


Daryl tampak mendengus setelah mendengar jawaban gadis itu. Dan dia hampir kembali membuka mulutnya untuk berbicara ketika Nania mendahuluinya.


"Maju, Pak. Yang lainnya juga mau ambil makan." ucap Nania ketika orang di belakang Daryl ikut mengantri.


Pria itu melakukan apa yang dikatakan hingga dia selesai mengambil makanan.


Daryl terdiam sebentar menunggu Nania untuk berbicara lagi, namun gadis itu tampak disibukkan oleh pekerjaannya menata kembali makanan yang berkurang setelah beberapa orang berikutnya mengambil lagi.


Akhirnya Daryl memutuskan untuk pergi saja, meski dia sempat berhenti ketika Nania kembali memanggil.


"Pak?" Yang sedikit membuat kedua sudut bibir pria itu tertarik membentuk sebuah senyuman. Lalu dia berbalik karena merasa bahwa mungkin dirinya memiliki kesempatan untuk berbicara dengannya kali ini.


"Dessertnya ketinggalan." Nania segera menghampirinya dengan satu cup kecil berisi puding dengan warna yang cukup menarik di tangan.


"Nanti marah-marah kalau nggak kebagian." katanya, setelah dia meletakkan cup berisi puding tersebut di piring Daryl. Lalu dia kembali ke tempatnya bekerja.


Sementara pria itu tertegun di tempatnya berdiri sebelum akhirnya Sofia memanggilnya untuk duduk bersamanya.


🌺


🌺


🌺


Karena masih banyak yang nunggu, kita lanjutin ya. Tapi nggak janji bakal up tiap hari karena Emak punya deadline yg cukup banyak. Tapi insya Alloh akan berusaha nambah ekstra partnya. Doain Emaknya lancar aja ya.

__ADS_1


Jangan lupa mampir di ceritanya Om Der di THE SWEETEST FEELING.


Alopyu sekebon😘😘


__ADS_2