My Only One

My Only One
Kebetulan?


__ADS_3

🌺


🌺


"Baiklah, kalau sudah yakin. Aku akan pergi sekarang." Amara meraih tas selempangnya yang semula dia letakkan di sofa.


Mereka memilih sebuah apartemen kecil di sekitar pinggiran wilayah perkantoran yang masih terhubung dengan beberapa jalan utama, yang menjadi tempat tinggal ratusan karyawan perusahaan terdekat sebagai tempat tinggal untuk Piere selama dia berada di Jakarta.


"Oui."


"Bagaimana dengan visa dan segala macamnya?"


"Tidak usah khawatir soal itu. Semuanya sudah aku urus sebelum berangkat ke sini. Nanti kalau ada masalah aku hanya perlu datang ke kedutaan."


"Baiklah kalau begitu. Tapi, boleh aku tanya sesuatu?"


"Apa?"


"Berapa lama kamu akan tinggal di sini?"


"Aku tidak tahu. Mungkin dua atau tiga bulan?"


"Serius, selama itu?"


Piere menganggukkan kepala.


"Hanya liburan?"


"Sebut saja begitu."


"Lalu bagaimana pekerjaanmu di Paris?"


"Aku berhenti."


"Kenapa? Bukankah itu pekerjaan yang sangat kamu inginkan?"


"Well, aku memutuskan untuk berpetualang lebih dahulu sebelum memilih menjalani hidup yang cukup serius. Itu sebabnya aku berkunjung kemari."


"Kamu gila Piere!"


"Yeah, as i said that love really drive us crazy." pemuda pirang itu tertawa.


"Cintamu kepada Kak Rania sangat gila! Sebesar itu kamu menggemarinya."


Piere hanya tersenyum.


"Tapi harus aku katakan kalau Kak Rania itu sudah menikah. Anaknya dua dan suaminya adalah adik ipar Papaku. Jadi nggak mungkin kamu …."


"Wow wow wow! Kamu sepertinya salah mengerti soal itu. Aku hanya penggemar berat, dan kedatanganku tidak ada hubungannya dengan itu. Ya, meskipun kamu menjanjikan aku untuk mempertemukan kami, tapi aku juga tidak segila itu. Memangnya siapa aku ini?" Piere tertawa terbahak-bahak.


"Oo … aku pikir …."


"No! You so innocent. Bukan itu maksudku."


"Baiklah … lalu apa yang akan kamu lakukan selama di sini? Masa hanya liburan?"


"Entahlah, mungkin bekerja di kedaimu atau semacamnya."


"Memangnya kamu mau?"


"Apa bisa?"


"Ah, keren sekali kalau aku punya karyawan lulusan Le Cordon Bleu! Eh tapi berapa aku harus membayarmu ya? Pasti mahal! Aku belum mampu."


Pierre tampak menggelengkan kepala.


"Memangnya kedaimu sedang membutuhkan karyawan?"


"Umm … akhir minggu ini aku ada pesanan untuk rumah sakit, jadi ya … mungkin aku membutuhkan tenaga tambahan." jawab Amara sambil berpikir.


"Deal!" Dan Piere tiba-tiba saja menjabat tangannya untuk bersalaman.


"Apa?"


"Aku akan bekerja di kedaimu. Kapan aku bisa mulai."


"Hah? Benarkah? Ini benar-benar diluar dugaan kan? Hahaha …."


"Yeah, but it's good."


"Aku tahu tapi … berapa aku harus membayarmu? Tidak mungkin aku membayarmu hanya seratus ribu per hari."


"Terserah padamu."


"Jauh-jauh dari Paris dan kamu hanya aku bayar seratus ribu? Sayang sekali, biaya kuliah di Cordon Bleu bahkan tidak akan bisa kamu ganti."


"Kamu tahu, uang memang penting. Tapi ada hal yang lebih penting dari itu."


"Apa?"


"Persahabatan kita." Pemuda itu tersenyum.


"Benarkah?"


"Yeah, and …."


"Dan aku akan mempekerjakan sahabatku di kedai?"


"Ya, sebut saja begitu."


"Bagaimana …."


"Dan kamu harus menanggung soal makan dan semua hal yang berhubungan dengan itu tentunya. Kamu tahu, tenaga dan kemampuanku ini tidaklah gratis."


Amara tertawa lagi.


"Jadi aku hanya harus memberimu makan sebagai tambahannya ya?"


"Ya, karena aku butuh itu. Beruntung sekali karena aku belum berkeluarga jadi kamu tidak harus juga memikirkan keluargaku."


"Ya, kamu benar sekali. Aku punya sahabat sebaik dirimu." Gadis itu mengangguk-anggukkan kepala.


"Yeah, benar. Jadi apa kita sepakat?"

__ADS_1


"Tentang pekerjaanmu?"


"Yes."


"Oke, apa tidak melanggar visa?"


"Tidak. Karena aku memang memilih visa kerja untuk kunjunganku ini."


"Hahah, kamu memang gila Piere!" Amara menepuk-nepuk pundak pemuda itu.


"Yes, you know me!"


"Baik kalau begitu. Kamu bisa mulai bekerja besok. Apa ingat jalannya? Kalau tidak nanti aku jemput."


"Wow, aku langsung diterima?"


"Tentu saja, memangnya apa yang kamu harapkan? Aku mengujimu dulu?"


Piere hanya tertawa.


"Sudah malam Piere, aku harus kembali ke kedai."


"Oke, then."


"Selamat malam, dan selamat datang di Jakarta."


"Merci."


"Sampai jumpa besok."


"Oke." 


Dan Amara pun pergi meninggalkannya.


***


Galang menepikan mobilnya ketika sesuatu terjadi. Ledakan kecil di bagian depan saat dia menuju ke tempatnya pulang mengganggu kestabilan laju kendaraan itu.


Dia keluar, kemudian memeriksa keadaan. Dan benar saja, ban sebelah kanannya bocor dan menyebabkannya tak bisa melanjutkan perjalanan. Padahal jaraknya dari jalan tersebut ke apartemen Sudah tidak terlalu jauh.


"Hah, kenapa ini?" Dia berjongkok dan memeriksa bannya.


"Masa mobil baru seperti ini?" gumamnya, dan dia menendang benda itu.


"Hufftthh …." Dia meniupkan nafasnya ke udara seraya melonggarkan ikatan dasi.


Pria itu kemudian merogoh ponselnya di saku jas untuk melakukan panggilan.


"Ya?" katanya ketika seseorang di seberang menjawab.


"Kirim seseorang untuk mengambil mobilku."


" …."


"Aku mengalami insiden."


"...."


"...."


"Ya, nanti aku kirim lokasinya." Lalu percakapan dia akhiri, dan kemudian mengirimkan pesan lokasi pada nomer tersebut.


Di saat yang bersamaan, melintas pula Amara yang berusaha tak memperhatikan keadaan jalan selain untuk menempuh perjalanan pulang kembali ke kedainya. Namun entah mengapa pandangannya harus beralih ketika dia menangkap sosok yang tentu saja sangat dikenalnha tengah berdiri menyandarkan tubuhnya pada body mobil di suatu jalan yang agak sepi.


Gadis itu hanya melewatinya dan mencoba mengabaikan. Berusaha untuk tidak peduli apapun yang mungkin sedang dia alami.


Hingga setelah beberapa meter jauhnya, Amara masih memeriksa lewat kaca spion. Dan semakin jauh dia malah semakin ingin melihatnya.


"Aarrgghh!" Akhirnya gadis itu tak tahan juga, dan dia menepikan mobilnya ke pinggir. 


Amara berpikir sejenak.


Apa dia sendiri? Apa dia bersama Kak Clarra? Apa yang sedang dilakukannya di sana?


Dia mendengus keras.


Kenapa aku harus peduli? Kenapa aku harus memikirkannya? Dan kenapa juga aku harus melihatnya?


Batinnya berkecamuk.


Dan akhirnya Amara putuskan untuk memutar kembali.


Dia berhenti tepat di depan mobil Galang, yang membuat pria yang sedang melamun itu cukup terkejut.


Amara kemudian turun dan memberanikan diri untuk bertanya.


"Ada masalah?" Dia yang tanpa basa-basi.


Galang tampak menegakkan tubuh lalu melihat jam tangannya.


"Kamu dari mana?" tanya nya dengan kening berkerut.


"Ditanya malah balik nanya?" Gadis itu sambil melirik ke dalam mobil dan dia tak menemukan siapa pun. 


"Kakak sendiri?" Lalu dia bertanya lagi.


"Tadinya." Galang menjawab dan membuat gadis di depannya sedikit menjengit.


"Tapi sekarang jadi berdua karena kamu datang?" lanjut Galang, sehingga Amara mencebikkan mulutnya.


"Lagi ngapain Kakak di sini? Mana sendirian lagi?" Tanya Amara kemudian.


"Aku menunggu orang dari bengkel." Galang pun menjawab.


"Emangnya mobil Kakak kenapa? Masa masih baru udah mogok? Payah banget?" Gadis itu mendekat dan melihat mobil Galang yang begitu mengkilap.


"Tadi bannya meledak."


"Apa?"


"Bannya meledak."


"Kok bisa? Bukannya ini mobil baru?"

__ADS_1


"Tidak tahu."


"Kok nggak tahu? Bukannya Kakak ngerti soal kendaraan? Emang nggak Kakak periksa?"


"Aku lagi malas memeriksa sesuatu." pria itu dengan santainya.


"Ish!!!"


"Kamu dari mana jam segini masih ada di jalan?" Galang kembali melihat jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul 9.30 malam.


"Habis dari suatu tempat."


"Dari mana?"


"Itu urusan aku. Nggak usah kepo."


Galang terkekeh sambil menggelengkan kepalanya.


"Bilang nggak usah kepo tapi berhenti pas lihat aku?"


"Jangan ke geeran, itu karena Kakak sendirian. Kalau ada orang lain aku nggak akan balik lagi. Udah malam, mana jalan udah sepi. Kalau ada begal gimana?"


"Ya lawan."


"Kalau kalah gimana?"


"Ya mati. Apa lagi?"


"Sembarangan aja kalau ngomong?"


Lalu sebuah mobil derek tiba, yang dikenali berasal dari bengkel Nikolai Otomotif yang dia telefon beberapa saat yang lalu, dan mereka segera bertindak.


"Aku lihat besok pagi." katanya, setelah mereka memasangkan pengait pada mobil miliknya.


"Baik Pak. Kalau begitu kami pamit?" ucap pengemudi mobil derek.


"Ya, terima kasih." jawab Galang, kemudian mobil derek itu pun pergi.


"Nah, sekarang kamu mau ke mana?" Dia kemudian beralih kepada Amara yang masih berada di sana.


"Pulanglah ke kedai, masa mau keluyuran?"


"Kali aja kamu mau ke mana dulu gitu?"


Amara menggelengkan kepala.


"Kamu memang tinggal di kedai sekarang?" Lalu Galang bertanya.


"Iya."


"Kenapa?"


"Biar nggak bolak-balik pulang. Capek."


"Hmm …."


"Kakak butuh tumpangan untuk pulang?"


"Nggak. Sebentar lagi ada yang jemput. Aku sudah menelfon seseorang."


"Siapa? Kak Clarra?"


"Bukan. Masih orang kantor." 


"Oh … kenapa nggak barusan aja sih diantar sama mobil derek? Kan bisa mereka anterin Kakak pulang dulu."


"Nanti aku harus tinggalin kamu duluan dong?"


"Hah?" Lalu tiba pula lah seseorang dengan mobil lainnya. Dan Amara perkirakan sebagai staff bawahan pria di depannya.


"Ayo aku antar sampai kedai?" ucap Galang yang hampir masuk ke mobil jemputannya.


"Kok ke kedai?"


"Iya, antar kamu dulu."


"Nggak usah, aku juga kan bawa mobil."


"Udah malam. Nggak baik perempuan berkendara sendirian. Keadaan sekarang lagi nggak baik."


"Umm …."


"Cepat." Pria itu menggiringnya ke arah mobil kemudian membukakan pintu.


"Eh, … Kenapa aku duduknya di sini?" protes Amara yang digiring ke kursi penumpang oleh Galang. Sementara pria itu memutar ke arah kemudi.


"Aku antar." Dia sudah siap dibalik stir.


"Kan Kakak ada mobil sendiri?"


"Masa aku di mobil itu sementara kamu menyetir sendiri?"


"Emangnya kenapa?"


"Nggak apa-apa, cuma nggak etis."


"Ngomong soal etis?" Amara menggumam.


Lalu pria itu menyalakan mesin dan segera melajukan mobil milik Amara pergi dari tempat tersebut.


🌺


🌺


🌺


Bersambung ...


hayoooo kesempatan dalam kesempitan niihh🤭🤭


hari Senin waktunya vote gaess. kuy di gasskeun !!


alopyu sekebon😘😘

__ADS_1


__ADS_2