
🌺
🌺
Untuk kesekian kalinya Clarra melirik pintu ruangan Galang yang masih tertutup rapat. Pria itu bahkan melewatkan jam istirahat meski beberapa kali dia mengingatkan. Alasannya hanya satu, yaitu dia ingin cepat menyelesaikan pekerjaannya yang sempat terbengkalai.
"Galang sudah pulang?" Dimitri keluar dari ruangannya setelah berhasil menyelesaikan pekerjaannya pada menjelang sore.
"Belum, mungkin pekerjaannya belum selesai." Clarra menjawab.
"Memangnya dia banyak pekerjaan? Aku belum bertemu dengannya hari ini."
"Lumayan."
"Pantas."
"Oh iya, jangan lupa besok pagi ada pertemuan dengan orang dari Mesir."
"Hmm … hanya aku?"
"Seharusnya dengan Galang, tapi dia belum aku beritahu. Umm … aku akan memberitahunya sekarang juga." Perempuan itu bangkit.
"Baiklah, kalau begitu aku akan segera pulang." ucap Dimitri yang segera melenggang ke arah lift.
Clarra segera masuk setelah mengetuk pintu dan mendapati pria itu tengah duduk di bingkai jendela besar sambil menatap keluar. Tampaknya dia sedang melamun karena tidak menyadari kedatangannya meski Clarra beberapa kali memanggil.
Clarra berjalan mendekat dan yang dia dapati adalah pemandangan di bawah sana yang jalannya mulai kembali dipadati kendaraan bermotor.
Beberapa gedung sudah terlihat mulai menyalakan lampunya yang berwarna-warni sehingga terlihat meriah.
"Lang, kamu sudah selesai?" Untuk ketiga kalinya dia bertanya, kali ini sambil menepuk pundaknya.
"Umm … ya?" Galang segera merespon, dengan raut terkejut tentunya. Lamunannya buyar begitu saja dan pikirannya segera kembali ke kepalanya.
"Aku panggil-panggil dari tadi kamu nggak jawab?" ucap Clarra.
"Benarkah?"
"Ya, kamu bahkan tidak keluar untuk makan siang."
"Umm … aku nggak lapar."
"Baiklah. Apa pekerjaanmu sudah selesai? Karena harus aku bawa sekarang."
"Ya, sudah. Bawalah." Galang menjawab.
"Baiklah." Clarra pun mengambil tumpukan map yang sudah rapi seperti biasanya. Namun pada saat dirinya memutar tubuh, lagi-lagi dia mendapati Galang yang kembali tenggelam dalam lamunannya.
Clarra menghembuskan napas pelan, kemudian dia lebih mendekat lagi kepada pria itu yang asyik menikmati pemandangan sore di bawah sana.
Oh tidak, Galang tidak sedang menikmati pemandangan, melainkan tengah menatap ke sebuah bangunan tingkat dua yang terletak sejauh satu blok dari gedung Nikolai Grup. Dan dia sangat hafal siapa pemilik dari bangunan tersebut. Dan sekilas saja dia tahu apa yang sedang pria itu pikirkan.
"Lang, apa kamu tidak akan pulang?" Clarra menepuk lengannya, dan Galang pun kembali tersadar.
"Um … " Pria itu melihat jam di pergelangan tangannya yang sudah menunjukkan hampir pukul lima sore.
__ADS_1
"Tidak ada lembur hari ini." Clarra sedikit terkekeh karenanya, namun kemudian dia terdiam saat melihat raut sendu di wajah kekasihnya.
Kekasih.
"Aku … sepertinya tidak akan langsung pulang." ucap Galang dengan suara pelan.
"Ya?"
"Sepertinya aku akan mampir ke rumah sakit." lanjutnya, meski dia merasa ragu.
Clarra tertegun karenanya. Ini terasa semakin jelas saja baginya. Setelah hari di mana Galang segera berlari begitu dia mengetahui peristiwa kecelakaan yang dialami oleh Amara, hal-hal lain yang muncul di antara mereka memang membuat keadaan menjadi semakin tidak dia mengerti. Terutama dengan hubungan ini.
"Aku akan melihat Ara. Mungkin sampai malam di sana." katanya lagi.
Clarra menganggukkan kepala pelan-pelan.
"Tidak apa-apa?"?”
“Tidak apa, pergilah.” Perempuan itu menjawab.
Galang menatapnya untuk waktu yang cukup lama, namun pikirannya hanya tertuju pada satu orang.
Amara, yang mungkin saat ini tengah berjuang antara hidup dan mati, atau menghadapi rasa sakit yang tidak terbayangkan oleh siapa pun. Dan sepertinya tidak akan mungkin bisa ditahan oleh tubuhnya.
Tiba-tiba saja dia merasakan sesak yang teramat sangat setiap kali mengingat raungan kesakitan gadis itu semalam. Sesuatu seperti mengganjal di tenggorokkannya dan menciptakan rasa sakit diwaktu yang bersamaan.
“Aku … ingin berada di sana saat dia sadar nanti.” katanya dengan suara tercekat.
“Aku … ingin menemani dia saat menghadapi masa-masa sulit.”
Clarra menyiapkan hati dan perasaannya. Walau bagaimana pun, hal ini sudah dia perkirakan sebelumnya. Apalagi selama beberapa hari belakangan ketika dia menangkap gelagat tak biasa pada Galang setiap kali ada sesuatu yang berhubungan dengan Amara
Dia tidak menutup mata, dan juga menyadari bahwa selama ini pria itu masih menyimpan rasa untuk mantan kekasihnya. Hanya saja Clarra berusaha untuk tak menggubrisnya sama sekali. Dia memilih untuk menjalani hubungan ini dengan harapan bahwa pria itu akan menjadi tempatnya bernaung setiap kali dia dalam keadaan yang tidak baik. Dan itu terbukti, selama ini Galang memang bisa menjadi orang yang dia butuhkan. Menjadi tempat berbagi rasa meski tidak sepenuhnya dia nikmati, atau mungkin juga pria itu merasakan hal yang sama. Tapi mereka menjalaninya karena merasa sama-sama mencari tempat yang tepat untuk berbagi rasa.
“Apa kamu akan memutuskan aku?” Clarra buka suara.
Galang menelan ludahnya dengan susah payah. Namun satu keputusan harus dia ambil bukan? Meski sulit, dan ada banyak hal yang dia pikirkan, akhirnya nanti hanyalah satu. Yakni dia akan bersama seseorang yang dipilihnya.
“Kamu akan mengakhiri hubungan ini?” tanya Clarra lagi.
Galang menarik napasnya dalam-dalam untuk mengucapkan kalimat yang hampir seharian ini ada di kepalanya.
“Maaf Cla, ternyata aku salah. Aku tidak bisa tidak mempedulikan Ara walau bagaimanapun keadaannya. Aku tidak bisa begitu saja mengalihkan pikiranku darinya. Dan terlebih, aku tidak bisa menghilangkan perasaanku untuknya.”
Clarra mendekap erat map di antara dada dan kedua tangannya. Meski begitu, ada hal lain di dalam dirinya yang merasa tak rela. Pria ini sudah menunjukkan banyak hal kepadanya dan mereka melalui hari-hari yang menyenangkan, sehingga dia sempat bisa melupakan dan mengendalikan segala depresinya. Belum lagi apa yang Galang lakukan membuatnya merasa jika mereka memiliki ikatan tersendiri. Dan apa yang pria itu alami karena mendampinginya menghadapi Larra membuatnya memiliki rasa yang lain.
Tapi …
“Maafkan aku Cla. Aku tidak ingin membuatmu merasa hanya menjadi sekedar pelarian. Meski mungkin itu yang selama ini aku lakukan. Maaf, aku telah salah memahami perasaanku sendiri dan melibatkanmu dalam hal ini. Tidak seharusnya aku bermain hati dengan siapa pun di saat terluka seperti itu. Aku yang salah.”
Clarra membeku. Sesuatu seperti baru saja terlepas dari pundaknya, dan entah mengapa, meski terasa perih, tapi itu cukup melegakan.
Perempuan itu sedikit mengerutkan dahi.
“Maafkan aku yang harus mengakhiri hubungan ini, kamu bisa marah kepadaku. Maki aku, pukul aku, atau apa pun. Aku layak mendapatkannya.”
__ADS_1
Galang menunggu, dan mereka saling terdiam untuk waktu yang cukup lama. Dan Clarra masih mendekap erat map itu di dadanya.
“Maaf, hanya itu yang bisa aku katakan.” ucapnya lagi, kamudian dia mundur.
Lalu Galang memutar tubuh dan dengan langkah lebar dia bermaksud keluar dari ruang kerjanya.
“Lang?” Namun Clarra kembali memanggil.
“Ya?” Pria itu menahan langkahnya sebentar.
“Kamu mau menjenguk Ara?” Clarra bertanya, lalu dijawab dengan anggukkan oleh Galang.
“Apa aku boleh ikut?” tanya nya lagi.
Galang memutar tubuhnya kembali dan melihat perempuan itu yang mulai terisak.
“Aku harus meminta maaf kepada Ara karena telah mengatakan hal buruk kepadanya.” Clarra dengan suara bergetar.
Sementara Galang mengerutkan dahi.
“Sore itu, sebelum dia mengalami kecelakaan, aku menemuinya dan meminta dia untuk tidak lagi mendekatimu.” jelasnya.
“Apa?” Galang kembali mendekat.
“Aku memintanya untuk tidak lagi mendekatimu, dan mengatakan banyak hal kepadanya.” ulang Clarra dengan jelas.
Dia tidak bisa melupakan hari terakhir itu, yang sempat membuatnya merasa bersalah setiap kali mengingatnya.
“Bukan dia yang mendekatiku tapi aku yang selalu datang kepadanya Cla.”
“Aku tahu.”
“Lantas kenapa kamu beranggapan begitu?”
“Hanya aku dan pikiranku, Lang.” Clarra menjawab.
Galang terdiam lagi, dan dia ingat percakapan yang didengarnya saat berada di rumah sakit antara Dygta dan Sofia yang mengatakan jika Amara sempat bertengkar dengan Arfan sebelum dia mengalami tabrakan. Dan gadis itu yang sempat mengatakan jika apa yang dialaminya tempo hari merupakan perbuatan ayahnya.
Apa ini ada hubungannya? Batin Galang.
“Aku menerima keputusanmu untuk mengakhiri hubungan kita, tapi setidaknya izinkan aku untuk ikut menemuinya sekarang.”
Galang menghembuskan napas keras, tapi bukan hal buruk juga untuk dilakukan. Niat perempuan ini menurutnya baik, dan tidak ada salahnya juga untuk menuruti keinginannya.
“Baiklah, siapa tahu dia sudah sadar.” Galang lantas menyetujui.
🌺
🌺
🌺
Bersambung ...
breath ini, breath out 😔
__ADS_1