
🌺
🌺
Clarra terdiam di sofanya, menatap Galang yang tetap berbaring di tempat tidur dengan pandangan tertuju pada televisi yang menyala. Sementara kedua orang tuanya pun masih berada disana.
“Aku mau pulang sekarang.” Pria itu berujar.
“Aapa?”
“Aku mau pulang sekarang, apa bisa?” Galang mengulang ucapannya.
“Seharusnya tidak bisa. Ini kan hari Minggu. Kenapa memangnya.”
“Aku jenuh.” Galang mengeluh.
“Memangnya siapa juga yang akan merasa nyaman di rumah sakit?” Clarra dengan nada ketus, membuat Galang memalingkan perhatian.
“Ada masalah?” Dia bertanya.
“Tidak ada, kenapa? Kamu merasa ada masalah?” Clarra balik bertanya,
Galang mengerutkan dahi, dan dia masih menatap kekasihnya dengan pikiran heran. Pasalnya tidak biasanya Clarra bersikap demikian apalagi selama dua hari belakangan ini mereka terus bersama.
“Aku coba tanya ke bagian administrasi lah. Siapa tahu ada dokter jaga juga yang bisa mengusahakan kepulanganmu sore ini. Lagi pula kamu sudah tidak apa-apa kan?” Perempuan itu bangkit dari duduknya, lalu melenggang keluar seraya membanting pintu cukup keras.
“Ada apa?” Mayang bereaksi.
Galang menggeleng sambil mengangkat kedua bahunya bersamaan.
Clarra benar-benar mendatangi bagian administrasi di lantai bawah. Dan menemukan beberapa orang petugas jaga di sana. Kemudian segera berbicara dengan mereka untuk beberapa saat. Bernegosiasi dan mengatakan jika keadaan Galang baik-baik saja dan mereka memutuskan akan pulang.
Namun tentu saja mendapat penolakan dari pihak rumah sakit yang bertugas, dan kemampuannya berbicara dan bernegosiasi juga tidak berguna. Yang akhirnya membuat perempuan itu memutuskan untuk kembali ke tempat di mana Galang dirawat.
Dan dia baru akan kembali ke lantai lima saat tanpa sengaja berpapasan dengan Dokter Syahril di lorong menuju lift, dak keduanya sama-sama berhenti.
Tak ada kata yang terucap seperti biasanya, namun pandangan mereka sudah berbicara. Bahwa ada perasaan yang menguar setiap kali bertemu muka. Apa lagi ketika hanya berdua seperti ini.
“Kamu masih di sini?” Pria itu bertanya.
Clarra mengangguk pelan.
“Bagaimana keadaannya? Aku dengar seseorang memukulinya tempo hari?”
“Dia baik, dan rencananya kami akan pulang sore ini tapi tidak bisa." Clarra menjawab.
"Tentu saja tidak bisa. Ini hari Minggu, ingat?" Pria itu berjalan mendekat.
"Hmm … "
"Baiklah …." Lalu Dokter Syahril bergeser ke kiri, dan dia hampir saja melanjutkan langkah.
"Dokter bisa minta resep obatnya lagi?" Clarra memutar tubuh, dan pertanyaannya membuat pria tinggi itu berhenti.
"Resep?" Syahril membeo.
"Ya, yang kemarin sudah habis. Saya mau membelinya lagi tapi lupa tidak bawa resepnya."
"Apa kamu sedang kambuh?" Pria itu kembali mendekat.
"Tidak, hanya saja untuk berjaga-jaga."
"Setiap hari kamu meminum obatnya?"
"Ya, akhir-akhir ini banyak masalah jadi .... Saya membutuhkannya."
__ADS_1
Pria itu terdiam sebentar.
"Kita bisa ke ruanganku, kebetulan Syahnaz tidur di sana, dan aku akan membuatkan resep untukmu sebelum membawanya pulang."
Clarra mengangguk pelan, lalu dia mengikutinya masuk ke ruang prakteknya yang berada tak jauh dari sana.
Syahnaz tertidur cukup lelap di ranjang pemeriksaan. Tampak sekali jika gadis kecil itu sangat kelelahan. Mungkin karena sibuk mengikuti acara beberapa saat sebelumnya, karena memang anak itu selalu bersemangat setiap kali rumah sakit mengadakan event tersebut.
"Acaranya sudah selesai?" Clarra memulai percakapan ketika Dokter Syahril tengah membuatkan resep untuknya.
"Sudah, sepi kan?"
"Ara sudah pulang?" Perempuan itu bertanya pagi.
"Sudah barusan."
"Acaranya diadakan setiap berapa bulan sekali sekarang?"
"Apa?" Syahril mendongak.
"Acaranya Nisa, diadakan setiap berapa bulan sekali?"
Dokter Syahril tertegun sebentar menatap perempuan yang dikenalnya sejak dia menjadi murid Dokter Fahmi di kampus. Yang juga merupakan sahabat dari Nisa, mendiang istrinya yang meninggal saat melahirkan putri mereka.
"Setiap tiga bulan sekali." jawab pria itu.
"Rutin?"
"Ya, sejak satu tahun terakhir kami mengadakannya setiap tiga bulan sekali. Dan pengaruhnya cukup positif bagi anak-anak."
"Cita-cita Nisa terwujud ya?"
"Ya, bersyukur banyak yang tertarik mendonasikan harta mereka juga untuk pengobatan anak-anak."
"Setidaknya keinginan Nisa menjadi nyata."
Clarra memberanikan diri menatap pria di depannya yang kembali menuliskan Resep untuknya.
"Ini. Resepnya mungkin bisa ditebus besok, hari ini apotek tutup." Dokter Syahril menggeser kertas ke depan Clarra yang segera diterima oleh perempuan itu.
"Baik, terima kasih." Clarra menganggukkan kepala.
Lalu mereka sama-sama terdiam untuk beberapa saat.
"Umm … saya pamit." ucap Clarra kemudian, dan dia hampir bangkit. Bersamaan dengan dokter Syahril yang juga beranjak dari kursinya.
"Bisakah kamu tetap di sini sebentar? Aku ingin bicara." ucapan pria itu menghentikan langkah Clarra.
"Bicara soal apa lagi? Saya rasa …."
"Sekali saja kamu tidak menghindar, Clarra!" Syahril meraih pergelangan tangannya.
Meski perempuan itu sempat menolak, namun dia mengencangkan genggaman. Dokter Syahril bahkan menariknya sehingga jarak diantara mereka menghilang dan Clarra hampir terbenam dalam pelukannya.
"Lepaskan!"
"Tidak, sampai kamu mau mendengarkan aku!"
"Apa lagi yang harus aku dengarkan? Semuanya sudah aku dengar dari mulut ibumu!" Clarra menjawab, dan dia meronta untuk melepaskan diri.
"Yang kamu dengar hanya ucapan ibuku, bukan jawabanku." Syahril mencengkeram kedua lengan Clarra dengan kencang sehingga perempuan itu tidak mampu lagi bergerak.
"Jawaban apa? Sudah jelas kamu tidak bisa melakukan banyak hal. Dan apa yang ibumu katakan benar-benar membuatmu mundur."
"Omong kosong! Aku mencintaimu dengan sepenuh hati, tapi kamu yang tidak mau mengerti."
__ADS_1
"Usahamu yang omong kosong! Kamu yang selalu diam dibalik ketiak ibumu dan tidak mampu berbuat apa-apa selain itu! Cintamu hanya kata-kata yang tidak terbukti!" Clarra mulai meninggikan suaranya.
"Bukan aku yang tidak memberimu bukti, aku sedang berjuang, tapi kamu yang tidak mau aku perjuangkan!" Pria itu mengguncangkan tubuh Clarra.
"Berkali-kali aku meminta waktu untuk berbicara, meminta kesempatan kepadamu untuk mengusahakan segalanya. Tapi kamu selalu lari menghindar."
"Lalu aku memberikan kesempatan kepadamu, memberimu waktu sebanyak yang kamu butuhkan agar kita berdua sama-sama mengerti."
"Sementara aku sedang mengusahakan memberi pengertian kepada ibuku, kamu malah bersama orang lain!'
Clarra terperangah.
"Tidakkah kamu mengerti dengan apa yang sedang aku usahakan? Tidakkah kamu mengerti?" Dia kembali mengguncangkan tubuh Clarra yang ada dalam cengkramannya.
"Apa yang kamu usahakan? Aku bahkan tidak tahu kamu sedang berusaha. Kamu tidak pernah mengatakannya kepadaku!" Clarra terus menjawab.
"Karena kamu tidak pernah memberiku kesempatan!" Kini Syahril yang meninggikan suaranya.
Perasaan ini sudah tak mampu dia tahan lagi, dan harus diselesaikan saat ini juga.
"Kamu tidak pernah memberiku kesempatan untuk berbicara. Kamu selalu menolak dan menghindar. Lalu bagaimana aku bisa mengatakannya kepadamu?" Dia kembali memelankan suara saat menyadari keberadaan putrinya yang sedang tertidur.
"Akur mencintaimu, tapi kamu meragukannya. Lalu aku bisa apa? Memaksamu untuk memulai lagi, sementara kamu tidak mau?"
Bibir Clarra bergetar.
"Aku hanya ingin mengatakannya sebelum semuanya terlambat dan aku menyesal. Karena berpisah darimu dengan cara seperti itu rasanya sangat menyakitkan. Tapi untuk mengemis agar kita kembali rasanya tidak mungkin. Kamu sudah dengan orang lain dan aku tidak bisa merubahnya. Apalagi merebutmu kembali. Lalu apa yang harus aku lakukan?"
Clarra merasa tenggorokkannya seperti tercekat. Dadanya mulai terasa sesak dan sesuatu memaksa untuk keluar. Kemudian buliran bening di sudut matanya menyeruak dan membasahi kulit wajahnya yang mulus bak porselen.
"Apa yang harus aku lakukan?" Dokter Syahril mendekatkan wajahnya dan menempelkan kening mereka berdua.
Lalu dalam sekejap mata bibir mereka sudah menempel, dan sedetik kemudian saling memagut begitu dalam. Keduanya seketika terbawa perasaan.
Pria itu mendorongnya sehingga bagian belakang tubuh Clarra membentur pinggiran meja, dan cumbuannya berlanjut tanpa bisa terhindarkan lagi. Mereka memiliki perasaan yang sama namun tak mampu mengungkapkannya dengan kata-kata yang tepat.
"Lalu apa yang harus aku lakukan?" ulang Dokter Syahril setelah melepaskan tautan bibirnya, lalu kembali menempelkan kening mereka berdua.
Kedua tangannya menahan kepala Clarra agar perempuan itu tak menjauh darinya.
"Aku begitu menginginkanmu tapi kamu terus saja menjauh. Membuatku memilih Nisa padahal yang aku inginkan adalah kamu." Kalimat itu meluncur begitu saja dari mulutnya.
"Selama ini aku tersiksa, lalu apa yang harus …."
Tiba-tiba saja Clarra menarik lehernya, dan cumbuan itu kembali terulang.
Dua manusia yang dilanda rindu dan gundah gulana tengah melampiaskan perasaan mereka. Dan tak ada lagi yang ada dalam pikiran selain saling marasakan debaran indah itu.
Ya, indah dan membuat mereka merasa bahagia untuk beberapa saat. Hingga akhirnya keduanya tersadar akan keberadaan sosok anak yang tidurnya tak terganggu.
Clarra mendorong dadanya agar menjauh, seraya menatap wajah dengan rahang tegas itu lekat-lekat.
Benarkah perasaannya seperti ini? Benarkah apa yang mereka lakukan ini? Tapi dia tak mengerti dengan hatinya sendiri.
"Clarra …."
"Maaf." ucap perempuan itu yang kembali mendorong Dokter Syahril hingga mereka benar-benar menjauh dan kemudian dia segera berlari keluar.
🌺
🌺
🌺
Bersambung ...
__ADS_1
Oh My God!!😱😱