My Only One

My Only One
Kelakuan Darren


__ADS_3

🌺


🌺


"Senang sekali kamu hari ini?" Dimitri memperhatikan asistennya yang terlihat riang. Pagi-pagi sekali pria itu tiba di rumahnya untuk pergi bersama menghadiri pertemuan di luar kantor.


"Biasa saja Pak." Galang menjawab. Dia membukakan pintu mobil agar atasannya itu masuk dan mereka bisa segera pergi dan menghindari sesuatu.


"Dudul! Kabar itu beneran?" Rania muncul dari dalam rumah.


Nah kan, bener? Batinnya.


"Kabar apa?" Dia menoleh, begitu pun Dimitri.


"Soal kehamilannya Ara?"


"Kamu sudah tahu?"


"Tahulah. Apa yang aku nggak tahu?" jawab Rania.


"Ah, aku lupa menikah dengan siapa." Galang membenahi letak kaca mata hitam yang bertengger di pangkal hidungnya.


"Hebat kawan! Keadaannya yang sakit bahkan tidak menghalangimu untuk menghamilinya." Dimitri tertawa seraya menepuk bahu asistennya.


Galang memutar bola mata. Kalau sudah begini, atasannya itu pasti tidak akan berhenti mengejeknya. Ditambah sahabatnya yang pastinya akan terus mengoceh.


"Benar kan yang aku bilang soal moodnya yang berubah-ubah? Kamu harus percaya kepadaku yang berpengalaman ini!" ucap Dimitri dengan bangganya.


"Yeah, benar." Galang bergumam.


"Lalu gimana resepsinya? Mau tetep di adain?" Rania bertanya.


"Memangnya aku bisa menolak? Sepertinya tidak. Apalagi semua orang sudah ceramah panjang lebar."


Atasannya itu tertawa.


"Ya gimana nggak ngomel? Orang masih sakit udah dikerjain?" cibir Rania dengan satu sudut bibirnya yang terangkat ke atas.


Galang mendelik.


"Zai, kamu tidak akan mengerti soal itu." Dimitri menyela.


"Soal apa?"


"Perasaan yang tidak bisa ditahan walau kamu mati-matian menahannya." jelas Dimitri.


"Ish! Laki-laki memang begitu!" 


"Memangnya perempuan tidak ya? Aku rasa sama saja, makanya banyak orang melakukannya. Apa lagi kalau sudah menikah. Mana ada orang yang tahan godaan seperti itu?"


"Apaan?"


"Kalau sudah bisa, kenapa harus ditahan? Iyakan Galang?" Atasannya itu tertawa.


"Ck! Pagi-pagi sudah membicarakan hal seperti itu Pak?" protes Galang sambil memutar bola matanya.


"Kenyataannya begitu."


"Ya, itu sebabnya ada Anya dan Zenya kan? Kalau tidak begitu mereka tidak akan ada." Galang pun akhirnya menanggapi bualan atasan dan sahabatnya.


Lagi-lagi Dimitri tertawa.


"Apaan Om manggil aku?" Anak itu juga muncul dengan sepeda kecilnya, diikuti adik kembarnya seperti biasa.


"Dih? Siapa yang manggil? Cuma sebut doang."


"Sama aja Om. Kalau sebut hantu juga itu sama aja manggil."


"Apa hubungannya sama hantu?"


"Ya kalau Om sebut-sebut gitu sama aja manggil."


"Tahu dari mana kamu soal begituan?"


"Kata temen-temen gitu?"


"Huh, banyak racunnya kamu!"


"Nggak ih, cuma kata temen."


"Siap-siap sekolah anak kecil!"


"Belum waktunya Om." Zenya menyahut.


"Memang jam berapa kalian pergi sekolah?"


"Ya sebentar lagi. Kalau Papi pergi kerja itu berarti masih pagi. Aku berangkatnya siangan, ya Mommy?" Anya beralih kepada ibunya.


"Mereka berangkat setengah sembilan." Rania menjawab.


"Terus ini jam berapa?" tanya Zenya.


"Baru jam tujuh."


"Masih lama Mom?"


"Lumayan."

__ADS_1


"Ya sudah, sana main sepeda lagi. Anak kecil nggak boleh ikut ngobrol sama orang tua." ucap Galang.


"Emangnya Om udah tua? Kan baru om-om?" anak itu menjawab.


"Dih, om-om?"


"Mommy, emangnya Om Galang udah jadi orang tua ya? Kan belum punya anak?" Anya bertanya lagi kepada ibunya.


"Sebentar lagi mau, Anya." Dan Dimitri yang menjawab.


"Oh ya? Kapan? Mana anaknya? Masih bayi atau udah gede kayak aku?"


"Belum ada."


"Kok belum ada? Tadi Papi bilang mau?"


"Iya, nanti beberapa bulan lagi."


"Berarti masih lama?"


Dimitri mengangguk.


"Kenapa lama? Kenapa nggak sekarang aja? Kan bisa main sama aku?"


"Hadeh."


"Nanti kalau udah lahir, dan babynya sudah besar baru bisa main denga Anya." jelas sang ayah.


"Emang anaknya Om Galang masih baby?"


"Belum lahir Anya!" Galang mulai kesal.


"Terus adanya di mana?"


"Masih di perut Kak Ara."


"Kok di perut Kak Ara?"


Tiga orang dewasa itu terdiam.


"Kenapa bisa di perut Kak Ara?" Anak itu bertanya lagi.


"Siapa yang masukin ke sana? Kenapa di masukin? Kan kasihan babynya. Emangnya nggak apa-apa? Nggak sempit gitu?"


"Astaga Tuhan!" Galang menggaruk kepalanya yang tak gatal.


"Terus itu kan …."


"Kita harus segera pergi, Pak. Jangan sampai klien menunggu." Galang mengingatkan atasannya.


"Oh iya, ayolah kita pergi." ucap Dimitri.


"Kan aku belum selesai ngobrolnya?"


"Iya, nanti kita selesaikan ya?"


"Emangnya nanti sore Papi pulang? Jangan-jangan pulang nya malam pas aku udah bobo?"


"Ee …."


"Ya udah kalau mau pergi." Lalu anak itu kembali melajukan sepedanya ke arah belakang rumah.


"Setelah ini Anya pasti banyak tanya sama aku!" Rania berbicara.


"Salah sendiri banyak omong!" Galang buru-buru masuk ke dalam mobil milik atasannya.


"Pergi dulu Zai. Selamat berjuang!" ucap Dimitri sebelum pergi, dan dia mengecup sudut bibir istrinya.


"Jangan pulang malam ya? Nanti bantu aku jawab kalau Anya tanya lagi!"


"Aku nggak janji." Pria itu tertawa kemudian masuk juga ke dalam mobilnya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Bagaimana Pak Darren? Ada keluhan apa?" Dokter Kirana menyambutnya begitu Darren duduk di depannya.


Dia membaca data pasien dan membuat catatan kecil padanya.


"Hanya … masalah kulit." Darren menjawab.


"Kulit?" Perempuan itu menatapnya dengan bibirnya yang menerbitkan senyum.


Oh Tuhan! Apakah dia seorang dewi? Batin Darren dan dia tampak tertegun menatapnya.


Perempuan berusia hampir 30 tahun, single, dan dia seorang dokter spesialis. Setidaknya baru itu data yang dia dapat dari hasil penyelidikannya.


"Pak Darren?" Suara lembut itu membuyarkan lamunannya.


"Eee … ya Dokter? Sepertinya saya mengalami alergi?" Pria itu menunjukkan kulit tangannya yang mengalami ruam merah.


"Alergi?" Dokter Kirana menyentuhnya untuk memeriksa.


"Umm … ya." 


"Sudah berlangsung berapa lama seperti ini?" Perempuan itu bagkit seraya memasangkan stetoskopnya.


"Ta-tadi … maksud saya barusan, Dokter." Darren sedikit terkejut ketika dia mendekat.

__ADS_1


"Barusan?"


"Iya, setelah saya makan siang."


"Makan siang?"


Darren menganggukkan kepala.


"Mohon izin memeriksa detak jantungnya, Pak?" katanya seraya mengarahkan stetoskop kepada pria di depannya.


"Ba-baik." Dan Darren membuka kancing jasnya.


Perempuan itu menempelkan benda tersebut di area sekitar dada Darren dan mendengarkan detak jantungnya dengan seksama.


"Anda punya riwayat penyakit apa?" Lalu dia bertanya.


"Ti-tidak ada."


"Apa anda gugup? Kenapa detak jantung anda cepat sekali?" Kirana tertawa pelan.


"Jangan takut, saya hanya memeriksa, Pak."


"Tidak, hanya saja …."


"Apa yang Anda makan hari ini?"


"Umm … udang, ikan … seafood?"


"Anda alergi seafood?"


Darren tak langsung menjawab. Jika dia mengatakan iya, maka habislah rencana ini. Tapi jika mengatakan tidak, maka sandiwaranya pasti akan ketahuan.


Masa bodoh! Hanya ini satu-satunya cara! Hatinya mendebat pikiran.


"Tidak tahu, Dokter. Makanya saya datang ke sini." Dia pun menjawab.


"Sebelumnya tidak pernah?" Lalu sang dokter kembali memeriksa ruam di tangannya.


"Tidak. Belum pernah. Baru kali ini." bohongnya, padahal sejak kecil dirinya memang alergi seafood. 


Tapi hari ini Darren melakukan kegilaan itu dengan memakan apa yang membuatnya merasa tersiksa.


"Aneh sekali Pak?"


"Ya, memang."


"Selain di tangan, ruamnya di mana lagi?" Dokter bertanya.


"Di badan, Dokter. Apa harus sata tunjukkan?" Pria itu melonggarkan ikatan dasinya.


"Oo tidak usah Pak, tidak perlu." Kirana tertawa lagi.


"Baiklah."


Aku gila!


"Baik, saya akan memberikan obat pereda dulu ya? Kalau dalam waktu tiga hari ruamnya belum hilang, Pak Darren bisa kembali ke sini."


"Tiga hari?"


"Ya." Dia mengeluarkan beberapa jenis obat dari penyimpanannya.


Setidaknya kita bisa bertemu lagi. Batinnya sambil menatap perempuan itu.


"Sebenarnya Pak Darren bisa berobat di bagian umum agar lebih mudah di akses, dan lagi …."


"Saya mau yang spesifik." Pria itu memotong ucapannya.


"Maaf Pak?" Kirana mendongak.


"Maksud saya, spesialis lebih baik kan?" Darren meralat ucapannya.


"Menurut Bapak begitu?"


"Ya."


"Baiklah." Perempuan itu tersenyum.


"Silahkan Pak, ini obatnya. Diminum tiga kali sehari setelah makan ya? Dan ingat, hindari dulu semua jenis ikan dan makanan olahan berbahan sama. Agar alerginya cepat reda."


"Iya Dokter." Darren menerima obat-obatan tersebut.


"Baik, semoga cepat sembuh."


"Ya, terima kasih." Pria itu bangkit.


Tapi aku tidak mau cepat-cepat sembuh. Gumamnya dalam hati, dan dia segera pergi.


🌺


🌺


🌺


Bersambung ...


Ecie cieeeee ... Pak Darren mulai aktif nih?

__ADS_1


Mana hadiahnya? Like komen juga dong biar akunya tetep semangat.


alopyu sekebon😘😘😘


__ADS_2