My Only One

My Only One
Ujian Pertama


__ADS_3

🌺


🌺


Galang menutup pintu setelah orang terakhir keluar dari kamar rawatnya Amara. Kedua orang tua dan keluarga mereka memutuskan untuk pergi pada sore hari setelah sedikit acara ramah tamah yang diadakan oleh Arfan.


Tampaknya semua orang merasa lega dan mereka ikut bahagia. Itu permulaan yang bagus, dan memang harus diapresiasi bukan?


Pria itu lantas menutup jendela yang sempat dibuka agar sirkulasi udara berjalan lancar pada saat beberapa orang berada di ruangan tersebut. 


"Kamu mau sesuatu?" ucapnya saat dia berbalik dan mendapati Amara yang berusaha membenahi posisinya.


"Nggak." Gadis itu menjawab. "Cuma …."


"Apa?" Galang segera mendekat.


"Bisa bukain ini nggak? Rasanya nggak nyaman." Amara menunjuk jepit rambutnya yang berbentuk bunga krisan kecil berwarna putih dihiasi mutiara yang terlihat cantik.


"Oke, bukain yang lain juga boleh." Pria itu bergerak ke belakang tubuhnya dan segera menyentuh rambutnya.


"Apa?" Amara sedikit memutar kepala.


"Ikat rambut misalnya." Galang berusaha menutup mulutnya untuk menahan senyum sambil menyerahkan jepitan bunga itu kepada Amara yang statusnya kini telah menjadi istrinya.


"Siapa juga yang mengikat rambut kamu sekencang ini sih? Kan susah bukanya?" Pria itu menggerutu.


"Ya Mommy lah siapa lagi? Padahal udah aku bilang nggak usah tapi tetep aja diikat. Katanya biar akunya kelihatan agak seger." Amara tampak mengerutkan dahi ketika Galang menarik ikatan rambutnya.


"Pelan-pelan Kak. Kan sakit!" protesnya kemudian.


"Perasaan ini juga pelan-pelan." Galang menjawab.


"Nggak ih, kakak nariknya keras!" Amara menjauhkan kepalanya dari Galang, namun pria itu segera menahannya.


"Ini udah pelan Neng." katanya, dan dia menarik ikatan itu sekaligus hingga benar-benar terlepas dari rambut panjang Amara dan membuatnya tergerai bebas.


"Kakak! Sakit tahu!!" namun gadis itu kembali protes.


"Ish, kenapa sih harus teriak-teriak begitu? Nanti kedengaran keluar dikiranya kita sedang apa?" Galang merapikan rambut Amara.


"Emangnya kenapa? Orang lagi lepasin ikatan rambut? Tapi yang lepasinnya nggak punya perasaan!" Amara sedikit menggeram namun malah membuat Galang tertawa.


"Lepasin lah!" katanya seraya menggendikkan kepala.


"Nggak mungkin." Galang menolak.


"Kan udah lepas ikat rambutnya juga?"


"Yang lainnya belum?" 


"Apaan lagi?"


"Bajunya? Masa kamu tidur mau pakai gaun seperti ini?" Pria itu menarik kain yang menempel di tubuh istrinya.


"Umm …."


"Ayo, aku bantu ganti?" ucap Galang yang turun dari tempat tidur.


"Ganti pakai apa ya? Kayaknya tadi pagi Mama bawa, apa Mommy ya? Pokoknya tadi ada di tas deh."


"Sebentar aku cari dulu." Galang mencari barang yang dimaksud.


Dan setelah beberapa saat dia pun menemukan tas tersebut. Kemudian Galang mengambil sehelai pakaian semacam kemeja lengan pendek yang cukup panjang namun berbahan agak tipis dan ringan.


"Apa mau pakai ini?" Lalu dia menunjukkannya kepada Amara.


"Boleh kayaknya aku harus pakai pakaian panjang sekarang." Amara menjawab.


"Kenapa?"


"Kalau udah tengah malam suka dingin."


"Ya dinginlah. Kan ac nya menyala terus?" Galang kembali ke dekatnya.


"Ih kalau tengah malam ke pagi rasa dinginnya beda tahu Kak?"


"Masa? Rasanya sama saja." Pria itu tergelak.


"Yang nggak ngerasain nggak akan percaya. Orang Kakak kalau tidur kalau nggak pakai mantel ya pakai jaket yang tebel. Ya nggak akan ngerasa."


Galang tertawa.


"Jangan khawatir, nanti tidak akan kedinginan lagi." Lalu dia berujar.


"Hmm …."


"Nanti aku peluk sambil tidur." Galang berbisik.


"Hah?"

__ADS_1


Kemudian dia mengedipkan sebelah matanya.


"Mulai genit."  Amara bergumam.


"Nggak apa-apa, kan sudah halal."


"Hmm …."


"Ayo, harus apa dulu? Buka baju dulu atau …."


"Iyalah, masa mau di dobel? Kakak suka ngaco kadang-kadang?" Amara segera menjawab. 


"Duh? Bicaramu kenapa jadi sepedas ini? Papamu memberi banyak sambal kah tadi pagi?"


"Nggak tahu lah, aku nggak ngerti omongan Kakak."


Galang hanya tersenyum. Pria itu kemudian kembali mendekat, lalu mengulurkan tangannya untuk meraih resleting di bagian belakang gaun milik Amara yang kemudian dia tarik turun hingga terlepas. Membuat gaun berbahan lembut tersebut perlahan turun dengan sendirinya.


Amara sempat menahannya dengan tangan kiri agar benda itu tak benar-benar turun dan membuat apa yang ada dibaliknya terpampang nyata. Meski dia sedikit terlambat karena pada kenyataannya Galang sudah melihatnya terlebih dahulu.


Kulit seputih susu, yang lembut sehalus sutra. Yang dibalut benda bertali yang juga berwarna putih, melindungi dua gundukkan indah yang entah mengapa kini terlihat begitu menantang.


"Yang mana dulu yang harus aku lepaskan?" Galang bertanya lagi, dan debaran di dadanya mulai meningkat.


"Arm Sling nya dulu Kakak!" Amara menunjukkan ikatan yang menahan tangan kanannya yang cedera.


"Oke." Lalu Galang melepaskan kuncian di belakang pundaknya, sementara Amara menahan tangan cederanya dengan tangan kiri yang sehat.


"Sudah." ucap pria itu.


"Tarik dulu, baru ambil kemejanya." Amara memberi tahu apa yang harus suaminya lakukan.


"Baik." Galang meraih kemeja yang dipilihnya, kemudian menampilkannya ke pundak Amara. 


Membantu gadis itu dari mulai memasukkan tangan kanan dengan perlahan hingga berhasil mengenakannya seperti biasa. Lalu memasangkan kancingnya satu persatu.


"Berdiri dulu bisa?" tanya Galang saat dia mengalami kesulitan melepaskan gaun sebelumnya.


"Bisa." Amara mengangguk setelah suaminya itu memasangkan kembali ikatan armslingnya.


Galang kemudian meraup pinggangnya dan membantu Amara bergeser untuk turun dan menahan bobot tubuhnya agar dia bisa berdiri sementara, sehingga gaun putihnya turun dan terjatuh dilantai.


"Oke, terus?"


"Habis ini mau pipis."


"Apa?"


"Kenapa sih nggak dari tadi?" Galang menggaruk kepalanya yang tak gatal.


"Ya masa mau ke kamar mandi nggak pakai baju?"


"Ya nggak apa-apa, kan biar sekalian aku bersihkan. Seharusnya kamu juga mandi."


"Nggak mau. Orang aku nggak ngapa-ngapain, kenapa harus mandi?"


"Biar wangi dan segar sayang." Galang menyentuh dagu Amara dengan dua ujung jarinya, gemas.


"Emangnya aku bau ya?" Namun perempuan itu mengendusi tubuhnya sendiri. "Nggak ah, masih wangi parfum yang Mommy kasih tadi."


"Hadeh." Pria itu memutar bola matanya.


"Cepetan Kakak ih aku udah nggak tahan." rengek Amara.


"Iy iya." Galang kemudian meraup tubuhnya dengan mudah.


"Pakai kursi roda aja!" Terlambat, pria itu telah membawanya ke dalam kamar mandi.


"Kamu bukannya pakai diapers ya?" Galang kemudian memastikan sebelum dirinya mendudukkan Amara di closset.


"Hari ini nggak." Amara menjawab.


"Terus?"


"Nggak ada terusnya, makanya aku mau pipis."


"Umm …."


"Ininya …." Gadis itu sedikit menyingkap kemeja yang tidak terkancing seluruhnya kemudian menarik ****** ******** dengan susah payah.


"Yang sebelah kanan Kak." ucapnya kepada Galang.


"Apa?"


"Tarik biar lepas!" katanya, dan dia menarik benda tersebut. 


Namun yang terjadi kepada Galang adalah, pria itu malah tertegun tak mengerti apa yang harus dia lakukan hingga setelah beberapa saat lamanya Amara mulai merengek.


"Kakak! Malah ngelamun? Aku harus pipis, atau nanti ngompol di celana!"

__ADS_1


"Oo … oke. Aku harus apa?"


"Ya tarik kebawah yang sebelah kanannya." ucap Amara lagi, dan kini Galang melakukan apa yang dia katakan.


C*lana d*lam itu akhirnya terlepas perlahan dengan bantuan Galang, dan dia menggesernya ke sisi kamar mandi.


"Terus?" Pria itu mulai merasa gugup.


"Bantu aku duduk." 


"Oke." Lalu dia kembali melakukan apa yang Amara katakan setelah menarik kemejanya keatas.


Galang menahan pinggangnya hingga gadis itu berhasil duduk di closset yang sudah terbuka.


"Aku cuma pipis aja."


"Oke."


"Kakak jangan lihat, aku malu." Amara menutupi ar*a prib*dinya dengan kedua tangan yang jelas memegang erat kedua ujung kemeja yang tergulung.


"Nggak." Galang mengalihkan pandangan ke arah lain.


"Kakak keluar dulu sana?"


"Nanti kamu susah …."


"Kalau cuma pipis masih bisa. Sana!"


Padahal sudah lihat sedikit. Lagi pula apa masalahnya? Kan sudah sah? Batinnya bermonolog, namun dia tetap menuruti ucapan istrinya.


"Udah Kak." ucap Amara setelah menuntaskan urusannya.


"Hum? Apa?"


"Pipisnya udah."


"Terus?"


"Udah dibersihin juga." katanya saat suara aliran air di dalam sana terdengar nyaring.


"Apa harus dibersihkan lagi?"


"Nggak usah, kan aku bilang juga udah."


"Berarti kamu sudah selesai? Mau kembali ke tempat tidur?"


"Iya, tapi ganti dulu dal*mannya." Amara menjawa.


"Apa?"


"Ganti dalem*nnya, masa aku nggak pakai apa-apa?"


"Umm …." Galang tercenung sebentar namun otaknya berputar keras.


"Kak? Cari lagi celananya di tas yang tadi pasti ada."


"Mm … oke Ra, oke." Pria itu pun bergegas melakukannya.


Berapa lama ini berlangsung? Astaga!! Galang membatin.


"Pakein lagi ya? Hehe." Amara tersenyum lebar saat Galang kembali dan menyodorkan cela*a da*amnya.


Dan tak ada pilihan lain, karena memang dia yang harus melakukannya.


Ujian pertamamu, Galang! Bisakah kau melewati ini? Gumamnya dalam hati.


Dia kemudian membantu Amara untuk kembali bangkit  dan menarik benda kecil itu hingga terpasang dengan benar di tempatnya.


"Sudah pas?" iseng Galang bertanya, sekedar untuk menghilangkan kegugupannya yang terus meningkat.


"Udah."


"Oke, kalau begitu kita kembali ke tempat tidur?"


Amara meganggukkan kepala. Dan tubuh pria itu yang lebih tinggi darinya membuat ia mendongak.


Galang tertegun sebentar.


"Udah Kak. Kita kesana lagi." Namun Amara mengingatkan.


"Umm … iya iya." Dan Galang melakukan hal yang seperti tadi dia lakukan. Membawa Amara kembali ke tempat tidurnya dan membiarkan dia berbaring seperti biasanya. Sementara dirinya berusaha mati-matian untuk menahan diri.


🌺


🌺


🌺


Bersambung ...

__ADS_1


hadeh ... berasa punya bayi ya kang?😂😂


__ADS_2