
🌺
🌺
"Kamu masih di sini?" Arfan menutup pintu ruang perawatan Amara rapat-rapat.
Malam sudah semakin larut dan rumah sakit sudah sangat sepi. Dan orang-orang pun sudah pulang ke rumah masing-masing. Tak terkecuali Dygta yang dia paksa untuk pulang karena anak-anaknya yang lain juga membutuhkannya. Kecuali Galang yang memutuskan untuk tetap berada di sana sendirian di ruang tunggu.
Pria itu bangkit seraya mengusap wajahnya yang tampak kusut. Jelas sekali jika dia kelelahan, belum lagi keadaannya yang baru saja mengalami pemukulan beberapa hari yang lalu dan sudah seharusnya pulang dari rumah sakit.
"Pulanglah." ucap Arfan dengan nada dingin seperti biasa.
"Ara …."
"Dia aman. Hanya saja dokter memberinya obat bius yang sangat banyak jadi tidak mungkin sadar untuk waktu yang cukup lama. Hanya agar dia tidak merasakan sakit seperti tadi." Arfan menjelaskan.
"Hanya … izinkan saya untuk berada di sini Pak." Galang memberanikan diri untuk berbicara. Walau mungkin jawabannya tidak akan seperti yang dia bayangkan.
"Kenapa? Kamu pun punya kehidupan sendiri. Ada banyak hal yang harus kamu urus. Lagi pula dia bukan siapa-siapa mu, jadi untuk apa kamu repot-repot memikirkannya?" ucapan pria itu sukses menusuk hati Galang hingga ke bagian yang paling dalam, dan itu rasanya sangat meyakitkan.
Ah, Galang. Belum apa-apa dirimu sudah kalah.
"Saya ingin di sini dulu untuk sementara waktu. Setidaknya sampai Ara bangun."
Arfan menghembuskan napas keras.
"Kamu ini tuli ya? Bukankah sudah saya katakan jika dokter memberinya obat bius yang cukup banyak, dan itu menjadikan Ara tidak akan sadarkan diri untuk waktu yang cukup lama. Entah itu dua hari, tiga hari atau satu minggu. Dan kalau pun besok dia sadar, maka dokter pasti kembali menyuntikkan obat biusnya agar Ara tetap tidak sadar. Percuma kamu tetap di sini."
Galang terdiam.
"Tidak ada gunanya kamu tetap tinggal, karena Ara tidak akan tahu kamu ada."
"Pulanglah."
"Sekali saja Pak. Kenapa Bapak selalu bersikap seperti itu kepada saya? Apakah saya tidak layak untuk Ara? Apa perbedaan kami sangat jauh sehingga Bapak selalu bersikap seperti itu?" Galang tentu saja bereaksi.
"Apa maksudmu?"
"Saya sudah melakukan apa yang saya mampu agar membuat kami setara. Tapi sepertinya itu tidaklah cukup untuk Bapak."
Arfan mendengus.
"Sepertinya Bapak tetap menganggap kalau saya ini tidak pantas untuk bersanding dengan Ara."
"Tentu saja kamu tidak pantas. Kamu pikir kamu pantas ya?"
Galang merasakan tubuhnya menegang.
"Kamu pikir kamu pantas menjadikan Ara sebagai pasangan sementara kamu sudah punya hubungan dengan perempuan lain? Macam sultan saja kamu ini, dengan Clarra serius, tapi Ara juga tidak mau kamu lepaskan. Anak saya tidak pantas kamu perlakukan seperti itu, juga Clarra." ucap Arfan dengan lugas dan tanpa tedeng aling-aling, namun membuat Galang menyadari keadaan sesungguhnya yang sedang dia jalani kini.
"Tentukan hal yang benar-benar prioritas, jadi kamu bisa menyelesaikan malasah apa pun tanpa menimbulkan masalah baru. Dan lagi kamu harus bisa menghadapi permasalahan dengan kepala dingin agar tidak salah langkah dan membuat keputusan keliru. Karena dampaknya akan kamu rasakan seumur hidup." Lalu pria itu melenggang meninggalkan Galang dengan pikirannya sendiri.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Clarra menatap Galang yang berjalan gontai di lorong lantai 20 tempat mereka bekerja. Keadaannya terlihat tidak terlalu baik meski penampilannya cukup rapi.
Wajahnya tampak murung, meski lebam di beberapa bagian juga masih terlihat. Tentu saja beberapa hari belakangan mereka mengalami peristiwa yang cukup menguras pikiran dan energi, dan ini tidak mudah untuk dihadapi.
"Bagaimana keadaanmu?" Perempuan itu bangkit dari kursinya.
Galang mendongak, dan lamunannya buyar seketika.
__ADS_1
"Sudah membaik." jawabnya, lalu dia berhenti ketika jarak mereka sudah dekat.
"Aku pikir kamu tidak akan masuk bekerja dulu, karena …"
"Aku harus bekerja bukan? Aku tidak bisa terlalu lama meninggalkan tugasku di sini. Lagipula ada banyak hal yang harus aku selesaikan."
Clarra menatapnya untuk beberapa saat.
"Ayah dan ibumu sudah pulang?"
"Sudah, tadi aku antarkan mereka ke travel setelah mampir dulu ke rumah sakit menjenguk Ara."
"Hmm …."
"Pekerjaanku banyak hari ini?" Lalu Galang bertanya.
"Tidak terlalu, aku sudah mengerjakannya sejak kemarin, jadi … kamu hanya tinggal mengerjakan bagianmu."
"Baiklah, terima kasih."
"Ya." Clarra mengangguk pelan.
"Bagaimana dengan Ara?" perempuan itu kini yang bertanya lagi.
"Dia belum sadar. Dokter memberinya penahan rasa sakit setiap kali dia bangun karena keadaannya yang sangat tidak baik, jadi …."
"Dia sangat parah ya?"
Galang menganggukkan kepala.
"Sekejam itu Mama kepada orang lain, apalagi kepadaku." Clarra tiba-tiba merasa sedih dan menyesal di waktu yang bersamaan.
Apalagi mengingat pertemuannya yang terakhir dengan Amara sebelum gadis itu mengalami kecelakaan. Ingat kalimat yang dia lontarkan kepadanya, terutama ingat siapa yang menyebabkannya mengalami hal buruk seperti itu.
"Sudah."
"Lalu apa rencanamu?"
"Tidak ada."
"Kamu akan menemui mereka?"
"Ya, mungkin nanti."
"Mungkin mereka akan mendapatkan hukuman yang cukup berat, jadi …."
"Aku tahu."
"Mereka juga akan mendekam di dalam penjara untuk waktu yang lama."
"Aku juga tahu. Pak Arfan tidak mungkin melepaskan orang yang telah mencelakai anaknya, jadi … apa lagi? Tentu hukuman beratlah yang akan kedua orang tuaku dapatkan." Clarra terkekeh pelan.
"Orang tua. Bayangkan, kamu mengetahui siapa kedua orang tuamu, dan di saat yang bersamaan kamu juga tahu bahwa mereka penjahat."
Galang terdiam.
"Tapi itulah kenyataan yang harus aku terima bukan? Rasanya ingin sekali mengubur diri sendiri ketika mengetahui kenyataan sepahit ini, tapi hal itu tidak akan menyelesaikan masalahnya. Jadi aku hanya bisa diam saja dan menerima, karena pada kenyataannya mereka memang bersalah."
"Kamu akan baik-baik saja kan?"
"Aku berusaha. Mengetahui ini rasanya sangat berat tapi aku harus menerimanya. Dan rasanya tidak terlalu buruk juga, ketika kamu mengetahui kenyataan yang sebenar-benarnya. Karena itu bukan aku. Dan satu-satunya yang aku pikirkan sekarang ini adalah bagaimana menghadapi Pak Arfan karena yang orang tuaku sakiti adalah anaknya. Dan itu tidaklah mudah."
__ADS_1
"Aku rasa Pak Arfan tidak akan mengaitkan kamu dengan perbuatan orang tuamu."
"Aku tahu, tapi tetap saja setidaknya aku merasa malu."
"Itu pasti. Normalnya manusia begitu bukan?"
"Ya."
"Itu yang membedakanmu dengan mereka, meski darahnya mengalir di tubuhmu. Dan aku harap kamu akan tetap baik seperti ini."
"Aku berusaha."
Galang mengangguk-anggukkan kepala, dia kemudian meneruskan langkah menuju ke ruang kerjanya, berniat menyelesaikan apa yang harus dia selesaikan. Setidaknya tanggung jawab profesionalnya tidak terbengkalai.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Amara merasakan sakit yang luar biasa. Apalagi pada bagian kanan dari tubuhnya yang terkena benturan pada kecelakaan tiga hari yang lalu.
Saat dia memutar haluan untuk kembali ke rumah orang tuanya dan menyadari jika dirinya telah berbuat keliru.
Gadis itu mengerang dalam keremangan. Hanya matanya yang terbuka dan dia tidak bisa menggerakkan lehernya sama sekali bahkan hanya untuk menoleh. Alat yang ditempelkan sebagai penyangga benar-benar membuatnya kan bisa bergerak bahkan hanya sedikit.
"Papa!" Sang ayah selalu menjadi orang pertama yang dia ingat saat membuka mata.
"Papa!" Dia merintih, kemudian terisak.
Rasa sakit terus menjalar seperti tak ada habisnya, tapi ini masih lebih ringan daripada saat hari pertama dirinya sadarkan diri.
"Papa, ini sakit!" Amara menangis.
Lalu beberapa saat kemudian Arfan muncul.
"Iya Kak, Papa di sini." Arfan segera memegang tangan kirinya yang menggapai-gapai di udara.
"Sakit!"
"Ya, Papa tahu. Tapi Papa tidak bisa apa-apa. Maaf." katanya, menenangkan.
"Kita panggil dokter oke?"
Amara tidak menjawab, namun dia hanya menangis kesakitan.
Dan tak lama setelahnya dokter muncul bersama perawatnya. Lalu memeriksa keadaan Amara yang setelah tiga hari mereka buat tidak sadar.
"Kesadarannya memang telah pulih Pak."
"Lalu?"
"Itu hal yang bagus. Karena sepertinya, selain fisiknya, yang lain tidak mengalami gangguan. Tapi itu bisa kita lihat nanti kalau Ara benar-benar pulih."
"Begitu?"
"Ya. Kita berdoa saja, semoga dia tetap baik-baik saja."
Arfan menatap putrinya dalam keadaan tidak berdaya. Dia merasakan sakit yang sama, namun dalam definisi yang berbeda. Bagaimana seorang ayah merasa tidak berdaya seperti ini di saat putrinya sedang terluka, dan dia tidak bisa melakukan apa-apa selain mempercayakannya kepada orang lain yang lebih faham. Padahal biasanya segala hal mampu dia bereskan sendiri. Dan ini adalah kekecewaan yang cukup dalam baginya.
🌺
🌺
🌺
__ADS_1
Bersambung ...
tarik napas dulu gaess, ... mudah-mudahan bisa up lagi. 😁