My Only One

My Only One
Tidur


__ADS_3

🌺


🌺


"Kakak!" Amara menahan tangan Galang yang sudah menggenggam sebelah dadanya. 


Kini hal itu menjadi semacam ritual bagi suaminya ketika hendak pergi tidur. Awalnya dia membiarkannya saja, namun lama kelamaan menjadi sedikit keterlaluan.


Ketika Galang tak hanya memegang, namun juga mempermainkanya demgan sesuka hati. Dan itu mulai membuat Amara kesal.


"Apa sih? Aku mau tidur!" Galang merapatkan tubuhnya kepada Amara.


"Kalau mau tidur ya merem aja, nggak usah rem*s-rem*s bagian ini. Sakit tahu?" protes perempuan itu.


"Masa? Cuma pegang doang padahal?" Galang berhenti sebentar.


"Pegang apanya? Kakak gini-gini terus!" Dia meremat dadanya sendiri.


Galang tertawa.


"Kakak pikir ini apaan? Balon?"


"Iya, balon. Balon kesayangan."


Amara mendengus keras.


"Kakak lepasin lah, aku mau tidur." Amara menarik tangan pria itu agar terlepas dari dadanya.


"Ini juga mau tidur makanya pegang-pegang. Sekarang aku harus megang kamu biar bisa tidur, Neng."


"Iya, kakak yang bisa tidur tapi aku?"


"Memangnya bikin kamu nggak bisa tidur?"


"Kakak pikir?"


"Terus aku harus bagaimana?"


"Nggak tahu, udah lepasin lah biar aku bisa tidur. Rasanya nggak tenang kalau Kakak megangin aku terus."


Galang mengerucutkan mulutnya.


"Minimal jangan gerak-gerak gitu lho, diem aja. Kalau mau pegang, ya pegang doang."


"Oke." Galang terkekeh.


Lalu mereka berdua terdiam dan mencoba untuk tidur. Amara sudah memejamkan mata sementara Galang membenamkan wajahnya di tengkuk perempuan itu. Menghirup aroma tubuhnya yang sangat dia sukai.


Tapi ini aneh, karena biasanya dia akan segera tertidur begitu kepalanya menyentuh bantal.


"Neng?" panggilnya saat tak terdengar lagi suara Amara.


"Kamu sudah tidur?" tanya nya dan dia sedikit mengangkat kepalanya untuk melihat.

__ADS_1


Terlihat kedua matanya yang terpejam dengan napas yang mulai teratur. Amara tampak sangat cantik dalam keadaan tenang seperti ini. Dan Galang tak pernah merasa bosan untuk terus menatap wajahnya sejak perbannya dibuka.


"Neng?" panggilnya lagi, namun Amara bergeming.


Kedua sudut bibirnya kemudian tertarik membentuk sebuah senyuman seiring tangannya yang ada dibalik pakaian tidur Amara kembali meremat buah dadanya yang ranum menggoda.


Perempuan itu masih tak terganggu.


Lalu Galang mengulangi kejahilannya. Dia kembali meremat bulatan kenyal itu lebih keras seraya mempermainkan puncaknya yang mungil.


"Mmm …." Amara menggumam pelan.


Galang tergelak, kemudian dia menyingkap piyama perempuan itu hingga terpampanglah benda yang ada dibaliknya. Dua gundukan indah milik Amara yang tak berpenghalang. Karena perempuan itu memang tidak pernah menggunakan bra ketika sedang tidur.


Galang merasa tenggorokkannya tiba-tiba saja mengering. Menatap bulatan indah yang salah satunya sering dia pegang itu.


Dia beralih menatap wajah Amara yang masih tak terganggu, dan otaknya berputar mencari ide, ketika disaat yang bersamaan kejahilannya berlanjut.


Pria itu menunduk lalu membenamkan wajahnya di belahan dada Amara dan kembali mempermainkannya dengan perasaan gemas.


"Aaaa … Kakak! Kenapa nggak diem? Aku kan mau tidur?" Amara merengek ketika merasakan pria itu tak berhenti mengerjainya.


Padahal dirinya sudah mati-matian menahan perasaannya yang mulai bergejolak setiap kali pria itu menyentuhnya.


Galang tidak berhenti, namun malah meneruskan kegiatannya di dada Amara. Dia bahkan mulai menyesap puncaknya yang telah mencuat dan membuatnya merasa ingin melakukan lebih. Apalagi dia juga merasakan jika alat tempurnya dibawah sana sudah mengeras.


"Kakak!" rengekan Amara tidak berhenti hingga akhirnya Galang bangkit dan tanpa basa-basi dia segera membungkam mulutnya dengan cumbuan.


"Hmmm ...." Pria itu memagut bibir Amara dengan rakus yang setelah beberapa saat mendapat balasan darinya.


Galang melucuti pakaian mereka berdua kemudian bersiap untuk memulai serangan. Sementara Amara dibawahnya sudah dalam keadaan pasrah. Wajahnya memerah dengan napas yang menderu-deru menatap benda yang sudah tegak berdiri. Dadanya bahkan terlihat naik turun dengan cepat dan terlihat semakin menggiurkan di mata Galang.


Perempuan itu merapatkan mulut ketika Galang memasukinya. Dengan lembut dan perlahan dia menekan pinggulnya agar inti tubuh mereka tertaut dengan sempurna seraya menahan sebelah kaki Amara yang masih berbalut perban.


"Ah!" Keduanya mend*sah pelan ketika tubuh mereka sudah menyatu. Lalu terdiam untuk merasakan debaran yang mulai menggila.


Amara menggigit bibirnya kuat-kuat saat Galang mulai menghentak. Menarik dan mendorong pinggulnya perlahan sehingga senjatanya bergerak dibawah sana.


Perempuan itu mulai merintih ketika dia merasakan sakit di pusat tubuhnya. Mereka sudah pernah melakukannya, tapi ini memang sudah berhari-hari sejak malam pertama. Dan itu membuat segalanya seolah-olah masih baru.


"Egghh, Kakak sakit!" Amara meracau.


Galang tak merespon. Dia hanya menatap wajahnya yang keningnya berkerut tajam. Amara mengerjap dengan mulut yang terbuka menahan perasaannya. Sementara pria itu terus bergerak diatasnya.


"Kakak, ahh!" rintihnya lagi, saat rasa sakitnya tak kunjung hilang.


Namun Galang dengan cepat membungkamnya dengan cumbuan. 


Ciumanya turun ke leher dan melewati tulang selangka. Kemudian kembali ke atas dan berlama-lama di belakang telinga.


"Ngh …." Perempuan itu mengerang dan tubuhnya mengejang ketika gelenyar indah merambati setiap indera yang ada.


Setelah beberapa saat perasaan sakitnya berangsur memudar. Yang lama-kelamaan berubah menjadi rasa nikmat.

__ADS_1


"Mm … kakak!" Dia kembali meracau dengan tubuhnya yang menggeliat tak karuan. Kepalanya bahkan sampai terdongak ke belakang dengan kedua mata yang tertutup dan terbuka perlahan.


"Ah, Kakak!" katanya, dan kedua tangannya memeluk erat tubuh Galang. 


Dia bahkan tidak menyadari sebelah tangannya yang masih cedera mendekap tubuh kekar yang tengah berpacu diatasnya.


"Kakak! Euhhh!!" 


"Sakit Neng?" Galang berbisik, dan dia menepelkan mulutnya di telinga Amara.


"Kamu … mau aku … berhenti?" Pria itu menyeringai. Dan kedua tangannya tetap menyentuh setiap bagian tubuh Amara yang semakin lama meresponnya dengan baik. Kini dia mulai mengerti apa saja yang harus dilakukan.


Perempuan itu menatap langit-langit kamar yang temaram. Pikirannya sudah melayang entah kemana sementara perasaannya terus bergejolak seiring hentakan Galang yang kian intens.


Dia mend*sah dan mengerang semenatara kedua tangannya tetap mendekap tubuh suaminya dengan erat.


Pria itu tiba-tiba berhenti menghujam seraya mengankat kepala. Menatap wajah Amara yang juga menatap ke arahnya. Wejahnya tampak merona dengan keringat yang membasahi dahinya. 


Jantung keduanya berdegup kencang dan mereka saling merasakan debaran itu dengan sungguh-sungguh.


Tangan Amara merayap ke bawah menyentuh pinggulnya, kemudian merematnya lalu menekannya sehingga dia merasakan benda di bawah sana kembali menghujam.


Galang kembali menyeringai. Dia mengerti perasaan itu karena dirinya juga merasakan hal yang sama. Yang kemudian membuatnya kembali menggerakkan bagian bawah tubuhnya.


"Mmhh …." Amara kembali mengerang dan tangannya tetap berada di sana.


Sementara pria diatasnya terus memacu tubuhnya sehingga keduanya menemukan rasa yang tak biasa.


"Ah, Kakak! Aku mau pipis!" ucap Amara disela desahannya.


"Hum?" Galang mengerutkan dahi.


"Mau … pipis." ucapnya disela des*han.


Napas Galang menderu-deru, dan sepertinya ini harus segera diselesaikan. Dia lantas mempercepat hentakannya tanpa mengindahkan ucapan Amara.


Akal sehatnya sudah berhamburan dan perasaannya jelas tak karuan. Dan tidak ada kalimat apa pun yang bisa menjabarkannya. Yang ada hanyalah keinginan untuk mendapatkan pelepasan dan meuntaskan pergumulan ini.


Sementara Amara dibawahnya terus mede*ah dan mengerang, membuat Galang semakin kalang kabut mendengar suaranya yang semakin lama menjadi semakin erotis saja.


Apalagi ketika dia merasakan denyutan hebat pada pusat tubuh perempuan itu seiring dia yang setengah menjerit dan mengencangkan cengkeraman pada senjatanya. Galang semakin merasa kehilagan kendali.


Hingga dia tak kuat untuk lebih cepat menghentak dan pada akhirnya menekan pinggulnya lebih dalam saat merasakan segalanya pecah begitu saja. Diikuti sesuatu yang memancar dari tubuhnya.


🌺


🌺


🌺


Bersambung ...


Hadehh, masih pagi🙈🙈

__ADS_1



__ADS_2