My Only One

My Only One
MOO Extrapart #5


__ADS_3

🌺


🌺


"Jangan menyusahkan suamimu, Ara." Arfan duduk di depan Amara yang tengah menikmati satu porsi kwetiau goreng dan satu cup es boba, minuman yang diinginkannya pada tengah malam seperti itu.


Beruntung, Ardi yang menginap Amara's Love masih terjaga sampai tengah malam karena dia dan Raka harus menyiapkan bahan untuk pesanan pada esok harinya. Menjadikan Galang tak harus bersusah-susah mencari pedagang minuman tersebut yang mustahil akan ditemukan di saat seperti itu.


"Nggak, baru ini doang." Sang putri menjawab kemudian kembali menyesap minuman tersebut. Sementara Galang merebahkan diri di sofa dengan mata terkantuk-kantuk.


"Berarti kamu ada rencana untuk melakukannya lagi?" Arfan melipat kedua tangannya di dada, dan dia menempelkan punggungnya pada sandaran kursi.


"Nggak juga ih, kenapa aku harus bikin rencana kayak gitu? Nggak ada kerjaan banget deh?" Amara menjawab.


"Ya masa ngidam direncanakan? Memangnya liburan?" Dygta memutuskan untuk bergabung dengan suami dan anak sambungnya.


"Tuh, Mommy aja ngerti. Masa Papa nggak?" Amara tanpa menghentikan kegiatan makannya.


Mulutnya penuh hingga membuat pipinya tampak menggembung.


"Bukan masalah mengerti atau tidak, tapi jangan keterlaluan seperti ini. Kasihan Galang." Arfan melirik menantunya.


Dia yakin banyak hal yang putrinya lakukan sehingga mungkin membuat Galang kalang kabut untuk memenuhi keinginannya. Dan Arfan tahu bagaimana repotnya menghadapi perempuan hamil.


"Yee … cuma minta beginian doang?" Amara masih menjawab.


"Ara, sebaiknya kamu …." Namun Arfan menggantung kata-katanya ketika Dygta menyentuh bahunya, memberi suaminya isyarat untuk berhenti bicara.


"Cepat habiskan, setelah itu tidur ya Kak?" ucap perempuan itu yang juga mengisyaratkan kepada Arfan untuk meninggalkan putri mereka.


"Galang, sebaiknya kamu pindah ke kamar. Kamu kelihatan sangat mengantuk." Lalu Dygta beralih kepada menantunya.


"Iya, Mom. Nanti sambil menunggu Ara, siapa tahu mau yang lainnya?" Galang pun menjawab.


"Hmm … ya sudah, kalau begitu kami tinggal tidur ya? Besok harus berangkat ke Bogor pagi-pagi sekali." ucap sang ibu mertua yang menarik suaminya ke kamar mereka.


***


"Kakak?" Amara memanggil Galang yang masih berusaha terjaga meski rasa kantuk terus membuatnya hampir tertidur.


"Ya? Apa sudah selesai?" Pria itu bangkit dari posisi tidurnya.


"Hu'um." Amara menganggukkan kepala.


Kemudian Galang berjalan menghampirinya. Dia melihat sterofoam dan cup minuman dinginnya sudah kosong. Hanya tersisa bongkahan es batu yang sudah mencair.


"Baiklah, kalau begitu ayo kita ke kamar?" Pria itu membantunya berdiri. 


"Ayo." Amara berpegangan pada tangan suaminya.


"Kakak?" Kini mereka sudah berada di tempat tidur dan hampir saja memejamkan mata.


"Ya?"

__ADS_1


"Minggu ini udah telfon ibu sama ayah?" Amara menatap langit-langit kamar yang gelap karena lampu utamanya sudah dimatikan.


"Belum." Galang dengan suara lemah. Matanya benar-benar terasa berat namun dia tak bisa mengabaikan istrinya begitu saja. Karena perempuan itu bisa merajuk sampai pagi nanti.


"Ih, kenapa belum? Kan ibu sama ayah suka nunggu kabar dari kita."


"Iya, Neng. Besok Aa telfon ayah dan ibu. Kalau sekarang pasti lagi pules-pulesnya tidur." Pria itu menjawab lagi.


"Oh, iya ya. Udah mau dini hari." Amara terkekeh ketika melihat jam digital di atas nakas yang  menunjukkan hampir pukul 2 dini hari.


"Iya, makanya kamu juga tidur ya?" Dan Galang benar-benar memejamkan matanya.


"Aku belum ngantuk." ucap Amara. "Kayaknya kehamilan ini bikin aku jadi aneh deh? Biasanya kan tidur lebih awal, makan juga teratur. Tapi sejak hamil banyak yang berubah ya Kak?" 


Namun Galang tak merespon, dan membuat perempuan yang sedang mengandung itu menoleh kepadanya.


"Ih, Kakak kok tidur sih? Aku kan belum ngantuk?" Lalu dia bereaksi.


"Kakak! Jangan tidur dulu! Masa aku sendirian, kan serem?" Dia kembali mengguncangkan tubuh suaminya.


"Kakak, bangun dulu!!"  Amara terus mengganggunya hingga pria itu akhirnya terjaga.


"Apa lagi seih Neng? Sumpah, aku ini benar-benar ngantuk! Nggak bisa gitu kamu juga tidur? Ini bahkan hampir subuh, astaga!" Galang mengusap wajah kemudian mengacak rambutnya sendiri.


"Aku nggak bisa tidur, Kak!"


"Coba saja lah! Nanti lama-lama tidur. Biasanya juga begitu kan?"


"Sekarang ini nggak bisa, Kak."


"Tapi aku ingat ibu." ucap Amara.


"Ya terus?"


"Umm …." Perempuan itu menatap wajah suaminya.


"Kayaknya …." Amara ragu-ragu.


"Apa lagi? Kamu mau apa lagi sekarang? Makanan? Minuman? Jus atau yang lainnya?"


"Bukan." Dia menggeleng pelan.


"Terus apa? Jangan macam-macam lagi lah. Nanti aku emosi nih!" Galang memperingatkan.


"Nggak macam-mscam kok, tapi cuma satu macam." Amara menjawab, masih menatap wajah pria itu yang terlihat tak karuan.


"Terus apa? Jangan minta yang aneh-aneh, apalagi jam segini. Aku nggak bisa mengabulkannya kalau sekarang." ujar Galang.


"Itu … eee …."


"Apa? Cepat katakan!"


Namun Amara malah terdiam.

__ADS_1


"Hah, ya sudah. Aku mau tidur lagi!" Dan Galang hampir merebahkan lagi kepalanya diatas bantal.


"Kakak?" Lalu Amara kembali memanggil


"Ya Neng?" Dan pria itu mencoba untuk berusaha tetap tenang meski rasa kesal mulai menjalari hati.


Perempuan ini memang menjadi sedikit aneh sejak dia mengandung, dan itu benar-benar menguji kesabarannya. Karena bukan hanya manjanya yang bertambah ratusan kali lipat tapi juga keras kepala dan tidak bisa ditolak. Selalu saja ada hal yang dia minta dan itu harus dikabulkan.


"Ayo kita ke Bandung?." katanya, yang membuat Galang tertegun untuk beberapa detik.


"Kayaknya aku kangen ayah sama ibu deh? Babynya juga. Jadi, ayo kita pergi?" Amara dengan tersenyum ceria. Gigi putihnya terlihat jelas meski di dalam kegelapan kamar mereka.


"Oke, tapi besok ya? Sekarang aku perlu tidur dulu." Galang menjawab, dan kini dia benar-benar merebahkan kepalanya di atas bantal.


"Nggak mau!" Namun perempuan itu menyentuh tangannya.


"Apa kamu bilang?"


"Aku … maunya sekarang. Ayo Kak, kita ke Bandung?" katanya lagi, dan kali ini benar-benar mengikis habis kesabaran suaminya.


"Kak?"


Pria itu mendengus keras, lalu dengan cepat membalikkan tubuhnya ke arah lain.


"Kak? Ayo dong kita …."


Galang menarik selimut kemudian menutupi kepalanya rapat-rapat. Jika saja tidak merasa malu dengan keberadaan mertuanya, rasanya ingin sekali dia berteriak sekencang mungkin untuk melampiaskan kekesalannya tedhadap putri mereka yang merupakan istrinya.


"Kakak? Ayo … aku mau ketemu ibu!"


Dia masih tak merespon.


"Kakak, ayo …."


"Stop Ara!" Dia kemudian menghempaskan selimut yang menutupi tubuhnya.


Kali ini Galang tak lagi bisa menahan diri. 


"Apakah kamu sadar jam berapa sekarang? Mengapa kamu meminta hal konyol seperti itu?" katanya dengan nada kesal.


"Tahu jarak ke Bandung berapa jam? Dan aku harus berkendara sejauh itu dan mengabaikan keselamatan kita hanya demi rengekanmu? Yang benar saja!" Pria itu sedikit menggeram.


Amara terdiam sambil mengatupkan mulutnya rapat-rapat.


"Seharusnya kamu juga berpikir bahwa tidak semua hal bisa aku kabulkan. Aku ini manusia. Aku butuh tidur dan butuh istirahat. Bukan hanya untuk memenuhi semua keinginanmu."


"Mau mengadu lagi pada Papa? Silahkan aku nggak peduli. Paling dia menghajarku karena aku mengabaikan putrinya yang ingin pergi di jam tidak wajar seperti ini." katanya, dan dia kembali menarik selimut hingga menutupi kepalanya, lalu berusaha memejamkan mata.


Galang tidak peduli dengan kemarahan mertuanya yang mungkin akan terjadi jika Amara mengadu. Sebab dia merasa bahwa perempuan itu kali ini memang keterlaluan.


🌺


🌺

__ADS_1


🌺


__ADS_2