
🌺
🌺
“Kamu mau makan?” Clarra mendekat ke tempat di mana Galang berada.Â
Mereka baru memiliki waktu berdua setelah semua orang pergi, termasuk orang tua Galang yang keluar untuk mengurus sesuatu.
“Tidak.” jawab pria itu.
“Kamu belum makan sejak pagi lho?” Clarra duduk di tepi ranjang.
“Iya, tapi aku belum lapar.”
“Ayolah, biar kamu cepat pulih dan besok diperbolehkan pulang.” Perempuan itu mengambil wadah berisi makanan yang diantarkan perawat beberapa saat sebelumnya.
“Nanti Cla.” tolak Galang.
“Kamu bandel.” ucap Clarra yang membuat pria itu terkekeh.
“Memang.”
“Bandel tapi kalah waktu dipukul?”
“Hey, aku nggak tahu kalau dia mau memukul aku ya? Kalau tahu ya aku menghindar. Apalagi waktu itu mobilnya menyenggol aku, ya jatuhlah. Siapa pun kalau di kerjai seperti itu ya kalah. Aku nggak sempat bangun untuk melawan?”
“Kenapa juga kamu nggak berpikir kalau ternyata kamu dalam bahaya setelah ban mobil kamu ditembak?”
“Aku sempat berpikir begitu, tapi kan nggak mengira kejadiannya akan begini? Aku nggak tahu kalau ini akan jadi malah besar.”
Clarra terdiam untuk beberapa saat.
“Aku juga nggak tahu kalau mamaku sebahaya itu, malu kalau ingat apa yang dikatakan Pak Arfan atau Om Satria.”
“Jangan terlalu dipikirkan, bukankah Pak Satria mengatakan jika ini tidak ada hubungannya? Dia memang mamamu, tapi kamu berbeda darinya."
“Ya, tapi tetap saja Lang.”
“Sekarang yang aku pikirkan hanya bagaimana caranya menghentikan mereka, aku takut akan ada banyak orang yang terseret. Kepadaku saja dia berbuat begini apalagi kepada orang lain?” ucap Clarra lagi.
“Aku pikir dengan membawamu menghadapinya akan membuat dia mengerti keadaanmu, tapi nyatanya aku salah ya?” Galang berujar.
“Hu’um, kita salah. Ternyata Mama nggak bisa di ajak kompromi soal itu.”
“Lalu bagaimana jika seandainya Bu Larra tertangkap dan mereka memprosesnya secara hukum?”
“Entahlah, aku rasa mama pasti akan mengamuk dan semakin tidak terima dengan keaadannya.”
“Bukan dia yang aku khawatirkan, tapi kamu Cla.”
“Aku?” Clarra menunjuk wajahnya sendiri.
“Ya, bagaimana kamu akan semakin depresi soal itu.”
Perempuan itu terdiam lagi dan berpikir.
“Menyedihkan ya?”
Dalang hanya menatapnya.
“Tapi itulah kenyataannya. Aku rasa memang harus ada yang dilakukan untuk menghentikan mama. Ketika keluhanku saja tak dia pedulikan, apalagi peringatan orang lain. Jadi satu-satunya jalan adalah dengan bertindak keras. Membiarkan hukum yang berbicara sepertinya lebih baik dari pada Om Satria yang bertindak, apalagi kalau Pak Arfan yang turun tangan, aku nggak bisa membayangkan apa yang akan terjadi.” Clarra bergidik ngeri.
“Hmm …”
Kemudian mereka sama-sama terdiam.
“Malam itu kamu habis dari mana? Kok pegawainya Ara yang menemukan kamu di jalan?” Lalu Clarra teringat keterangan yang diucapkan Andra.Â
“Pegawainya Ara?”
“Iya, siapa ya namanya aku lupa? Pi … Piere atu siapa ya?”
“Hmm … Piere?’
“Ya, sepertinya Piere. Dia yang menghubungi Pak Arfan, terus Pak Arfan yang menghubungi Pak Andra.”
Galang mengerutkan dahi.
Ada hubungan apa mereka? batinnya.
“Kamu habis dari tempatnya Ara?” Clarra bertanya lagi, membuat Galang tertegun karenanya.
Pria itu menatap wajahnya lekat-lekat, menerka apa yang sedang Clarra pikirkan saat ini. Apalagi jika dia mengatakan yang sebenarnya bahwa saat itu dirinya memang menemui Amara sebelum kejadian pemukulan itu terjadi.
“Iya.” Dan jawaban itu terlontar dari mulutnya.
Clarra tertegun.
"Kamu bilang mau langsung pulang? Tapi nyatanya …."
"Aku berputar arah, dan kembali ke sana." Galang menggigit bibirnya keras-keras, mengingat kembali apa yang terjadi malam itu. Sebelum akhirnya Amara mengusirnya dan mengatakan kalau dia membencinya.
"Oh, … terus?" Clarra menerka-nerka apa yang terjadi diantara mereka, tapi sesaat kemudian dia menggelengkan kepala untuk mengenyahkan pikiran buruk yang baru saja melintas di benaknya.
"Terus kenapa kamu bilangnya mau langsung pulang? Kalau mau ke tempatnya Ara ya jujur saja."
"Hah?" Galang mengerutkan dahi, tidak percaya dengan reaksi perempuan di depannya.
"Kamu hampir saja membuatku curiga." Clarra tergelak. "Lain kali kalau mau menemui Ara katakan saja, kan aku tidak salah sangka jadinya."
"Serius?"
"Ya. Tapi ngomong-ngomong aku suka kamu berkata jujur seperti ini. Mengatakan kamu pergi ke mana dan menemui siapa." Perempuan itu sedikit mencondongkan tubuhnya, namun malah membuat kening Galang semakin berkerut dalam.
"Kenapa?"
"Aku pikir kamu akan marah tahu aku ke kedainya Ara?"
"Kenapa aku harus marah? Memangnya apa yang kamu lakukan di sana?"
Galang menelan ludahnya dengan susah payah.
Apa kamu juga tidak akan marah kalau tahu apa yang aku lakukan malam itu?
Bibir pria itu berkedut samar.
"Nggak penting, bukankah kalian sudah lama putus? Dan kamu memilih untuk bersama aku?"
Ah, Clarra! Betapa lugunya dirimu.
"Aku nggak mau berpikir macam-macam, depresiku saja sudah membuatku pusing, apa lagi kalau harus ditambah dengan masalah itu. Bayangkan aku akan bagaimana."
Galang mengatupkan bibirnya rapat-rapat.
"Jadi lain kali kalau memang mau ke tempatnya Ara, katakan saja. Setidaknya aku tahu kamu berada di mana."
"Hmm … mungkin setelah hari ini aku tidak akan kesana lagi." ucap Galang kemudian.
"Kenapa?"
Pria itu terdiam sebentar.
"Memang seharusnya tidak seperti itu bukan? Ada hal-hal yang seharusnya aku batasi sehingga tidak akan menimbulkan masalah nantinya."
Clarra menatapnya dengan dahinya sedikit berjengit.
"Hhh …." Galang menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi.
__ADS_1
"Kenapa ya aku merasa seperti ada masalah serius di sini?" Clarra terkekeh.
"Bukankah kita memang sedang menghadapi masalah serius? Urusan Bu Larra dan rencananya yang belum jelas. Ditambah ancaman ini, takutnya malah merembet kepada orang-orang selain kita."
"Memang."
"Jadi sebaiknya, tidak dulu memikirkan soal itu kan?"
"Kamu benar." Clarra mengangguk-anggukkan kepala.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Amara berhenti di lorong lantai lima, melihat ke kanan dan kiri mencari ruangan yang disebutkan oleh Andra setelah dia menelfon dan memaksa pria itu untuk memberitahukan keberadaan Galang. Ditambah keterangan dari perawat jaga setelah dia bertanya.
Dan disinilah dia setelah melewati beberapa ruangan, berdiri di depan pintu sebuah kamar di mana pria itu berada.
Amara menarik napasnya dalam-dalam untuk mengisi paru-parunya dengan oksigen sebanyak yang dia bisa. Sebelum akhirnya dia mendekatkan tangannya untuk mengetuk pintu.
Namun dia menangkap sebuah pemandangan lain saat melihat lewat kaca kecil di pintu, di mana dua sejoli tengan asyik bercengkerama.
Galang yang duduk setengah berbaring di tempat tidur, dan Clarra yang duduk ditepi ranjang tak jauh darinya. Sepertinya mereka sedang bercakap-cakap. Bahkan lebih dari itu, keduanya tampak begitu akrab. Terlihat dari senyum dan tawa yang terlihat dari keduanya.
Tentu saja, mereka itu kan pacaran. Hal wajar jika mereka begitu bukan? Bahkan kalau pun lebih, maka tidak ada masalah dengan itu? Mengapa juga aku harus peduli? Batinnya.
Dan Amara segera menyadari kehadirannya di sana akan mengganggu momen tersebut. Membuatnya segera mundur seraya menurunkan tangannya yang hampir mengetuk pintu. Kemudian dia memutar tubuh dan bermaksud untuk pergi.
“Ara?” Tanpa disadarinya Mayang sudah ada di belakang bersama suaminya.
“Ibu?” Secara reflek dia menghambur ke arah pasangan itu. Meraih tangan mereka secara bergantian untuk menyalaminya, lalu memeluk Mayang.
“Kamu ada di sini?” ucap perempuan paruh baya itu setelah Amara melepaskan rangkulannya.
Amara menganggukkan kepala.
“Kapan pulang dari Paris?” Perempuan itu pura-pura tidak tahu.
“Udah lama.”
“Ibu baru tahu.”
Gadis itu tersenyum canggung.
“Sedang apa di sini?” Mayang menyelidik. meski dia tahu jika keberadaan gadis itu di sekitar sini kemungkinan mengetahui keadaan putranya.
“Tadi aku ketemu Kak Rania di bawah … aku dengar kalau Kak Galang …”
“Sudah ketemu Galang?” Mayang bertanya.
“Umm … belum.” Amara menjawab.
“Lho?”
“Mmm … aku harus kembali ke bawah Bu.” Amara hampir saja berpamitan.
“Kenapa? Ibu kira kamu mau menjenguk Galang?”
“Nggak jadi Bu, kayaknya Kak Galang lagi istirahat. Tadi aku lihat ….” Amara menggantung kata-katanya.
“Kamu sudah lihat Galang tapi belum ketemu?”
“Eee … iya, gitu maksudnya.”
“Ya sudah, kenapa nggak masuk? Padahal di dalam juga ada Clarra.” Mayang menarik gadis itu ke arah ruang rawat putranya.
“Mmmm … nggak usah Bu, lain kali aja. aku lagi ada urusan.” tolak Amara.
“Urusan apa?” Mereka menghentikan langkah.
“Aku ada kerjaan dibawah Bu, kayaknya harus kembali deh?” Amara berusaha menghindar.
“Kerjaan apa?”
“Acara anak-anak itu?”
“Iya Bu.”
“Begitu?”
Amara kembali menganggukkan kepalanya.
“Kalau begitu aku pamit Bu?” Gadis itu memutuskan untuk pergi, dan Mayang tidak dapat memaksanya untuk ikut masuk.
Mereka hanya menatapnya hingga Amara menjauh dan berbelok ke lorong sebelumnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Ibu sama ayah dari mana?" Galang bereaksi ketika kedua orang tuanya masuk.
"Dari bawah. Habis jalan-jalan."
"Di rumah sakit jalan-jalan?"
"Habisnya jenuh."
"Ya kan udah aku suruh pulang ke apartemen, tinggal panggil orang untuk antar."
"Oh, apalagi di apartemen. Sepi dan jauh ke mana-mana." Arif menyahut.
"Kan enak, mau tidur tinggal tidur nggak akan ada yang ganggu."
"Males lah." Sang ibu menjawab.
"Besok juga aku pulang Bu. Apa sore ini ya Cla?"
"Paling besok, sekarang kan hari Minggu. Biasanya dokter nggak akan kasih ijin pulang."
"Ah, aku bosan disini terus."
"Ya memangnya siapa juga yang suka tinggal di rumah sakit? Yang ada jenuh. Makanya dibawah ada acara khusus untuk anak-anak biar mereka tetap bisa senang walaupun sedang dirawat."
"Hiburan gitu ya?"
"Ya."
"Kok tidak ada hiburan untuk pasien dewasa ya?" Galang tergelak.
"Mana ada? Orang dewasa harus bisa menciptakan hiburannya sendiri, tidak seperti anak-anak."
"Hmm …."
"Oh iya, ibu kelupaan. Barusan ada Ara di depan." Mayang baru saja ingat.
"Ara?" Clarra dan Galang menoleh bersamaan.
"Iya, persis di depan pintu. Ibu kira dia sudah masuk kesini, tahunya belum?" terangnya yang membuat dua orang di depannya terdiam seketika.
"Kenapa tidak ibu bawa masuk?"Â Clarra kemudian bertanya.
"Dianya nggak mau. Sempat ibu tanya juga kenapa Ara nggak masuk? Jawabnya karena Galang lagi istirahat."
"Nggak ah, dari tadi kita ngobrol. Iya kan Lang?"Â
Pria itu mengangguk.
"Lah, terus kenapa dia bilangnya begitu?"
"Nggak tahu. Ya kalau aku tahu dia datang tadi aku suruh masuk." jawab Clarra.
__ADS_1
"Hmm … mungkin dia malu." Arif menyela percakapan.
"Malu kenapa?"
"Tidak tahu, bisa karena apa saja. Namanya juga mantan."
"Masa malu, kemarin saja kan Galang baru ketemu dia di kedainya?" Clarra sedikit tertawa.
"Apa?"
"Ibu nggak tahu ya, biarpun mereka mantan tapi tetap berteman lho." lanjut perempuan itu yang membuat kedua orang tua Galang saling pandang.
"Akur lagi. Bagus kan?"
Lalu Galang melirik kepada kedua orang tuanya.
"Ehm …." Galang berdeham sekedar untuk melegakan tenggorokannya.
"Oh iya, tadi Bapak dan Ibu ke bawah kan? Ke acara itu nggak?" Clarra mengalihkan pembicaraan.
"Ah, ini juga. Iya tadi ibu ke sana, baru nemu acara begitu di rumah sakit. Padahal kan biasanya dilarang berisik dirumah sakit itu ya?"
"Di sini memang ada acara rutin seperti itu setiap beberapa bulan sekali." Clarra tiba-tiba saja teringat kepada sahabatnya, Nisa. Yang sering mengadakan acara serupa selama dia masih hidup, dan dirinya juga sering berpartisipasi. Dan hal itulah yang membuat mereka dekat dengan Dokter Syahril pada awalnya.
"Bagus juga ya?"
"Ya."
"Dan ternyata, yang mengadakan stand makanannya itu Ara." Mayang kembali berujar, dan sekali lagi membuat Galang terdiam untuk beberapa saat.
"Kok ibu tahu?"
"Barusan Ara sendiri yang bilang. Makanya dia buru-buru pergi. Padahal sudah ibu ajak untuk masuk."
Clarra teringat percakapan di antara dirinya, Galang dan juga Amara yang bertemu dengan Dokter Syahril tempo hari di kedai.
Mungkin ini maksudnya?
"Kapan ibu ketemu Ara?" Clarra bertanya lagi.
"Barusan."
"Di depan?"
"Iya, di depan pintu."
Clarra tertegun.
"Kenapa dia nggak masuk?"
"Kan sudah ibu bilang kalau dia buru-buru karena lagi jaga stand."
"Kalau begitu aku mau ke bawah." Clarra turun dadi tepi ranjang.
"Mau apa?" Kini Galang yang bereaksi.
"Mau ketemu Ara."
"Untuk apa?"
Clarra menatap wajah pria itu sejenak.
"Mau ketemu saja lah. Masa kamu doang yang boleh ketemu Ara, sedangkan aku nggak boleh?" Perempuan itu beranjak.
"Tapi Cla?"
"Sebentar ya? Bu saya pergi dulu." pamitnya, dan dia segera keluar meninggalkan orang tua dan anaknya di dalam sana.
"Hahaha." Mayang menggerak-gerakkan jari telunjuknya kepada Galang.
"Ibu kenapa?"
"Punya dosa apa kamu sama Clarra?"
"Dosa?"
"Wajah kamu berubah setiap kali bahas soal Ara, apa lagi barusan."
Galang memalingkan wajah.
"Jangan bilang kamu sudah melakukan sesuatu?" Sang ibu berujar.
"Apaan sih, ibu ngaco!"
"Ibu ini yang melahirkanmu, mengurusmu sampai sebesar ini, dan kamu mau coba-coba bohong sama ibu? pikir lagi!" Mayang mendekat.
"Ah, ibu ngawur! Pakai bawa-bawa soal itu lagi?"
"Ckckck!" Mayang menggelengkan kepala. "Nggak nyangka anak ibu jadi pengecut seperti ini? Ini hasilnya kamu kerja di Nikolai Grup?"
"Apaan? Ibu nggak nyambung."
"Kerja disini membuat kamu jumawa dan merasa sangat berkuasa ya? Sehingga berani mempermainkan dua perempuan seperti ini?"
"Ibu salah!"
"Itu buktinya? Sebelum kecelakaan ternyata kamu menemui Ara dulu, padahal kamu bilang sama Clarra mau langsung pulang? Kualat kamu makanya ada yang pukulin."
"Ibu kan tahu sebabnya apa? Itu orang suruhan mamanya Clarra."
"Tetap saja, siapa tahu ini juga karena kamu berbuat hal buruk!"
"Nggak ada hubungannya Bu."
"Dengar ya, sekalipun kamu diangkat jadi direktur, bagi ibu nggak ada pengaruhnya. Kalau jabatan membuat kamu berbuat semena-mena kayak gini, lebih baik kamu kerja di bengkelnya Angga."
"Kenapa jadi melebar ke mana-mana?"
"Huh gemes ibu kalau lihat kamu yang sekarang, pingin ibu getok aja kepala kamu."
"Ibu nggak ngerti apa yang sedang aku alami."
"Ngerti, ibu ngerti. Kamu lagi kena sindrom kekuasaan. Merasa bisa melakukan banyak hal jadinya begini." Mayang dengan gemasnya.
"Ah, ibu nggak akan ngerti kalau aku jelasin juga."
"Terserah! Ibu sudah terlanjur kecewa sama kamu!"
"Lho, kok kecewa?"
"Kecewa karena anak ibu seperti ini."
Galang memutar bola matanya.
Sementara Clarra kembali tertegun di depan pintu saat dia hampir kembali masuk untuk mengambil ponselnya yang tertinggal. Setelah tanpa sengaja mendengarkan percakapan antara kekasih dan ibunya. Dan sangat jelas, jika hal itu membuatnya berpikir tentang sesuatu.
🌺
🌺
🌺
Bersambung ...
aduh? drama apa lagi sih ini? huh, nggak kelar-kelar! bertele-tele, alurnya lambat, basi, gampang ketebak! monoton, membosankan!
nggak usah baca lagi! gitu aja kok repot?🙄🙄
__ADS_1
jan lupa, mampir di y o u t u b e untuk baca kisahnya Anne di Dear Husband, buat yang suka aja. kalo yang nggak suka ya jangan, nanti muntah 🤣🤣🤣