My Only One

My Only One
Kepastian


__ADS_3

🌺


🌺


Clarra segera meninggalkan tempat itu ketika percakapan yang didengarnya malah semakin memanas saja. Ketika Mayang menceramahi putranya secara gamblang tentang apa yang sedang mereka lakukan saat ini, terutama berhubungan dengan interaksi mereka minggu-minggu belakangan.


Dia hanya tak ingin mendengar lebih banyak lagi dan menambah kekecewaan pada hatinya yang baru saja mulai membaik setelah kehadiran pria itu dan segala perhatian yang ditunjukkannya. 


Apalagi Galang yang bersedia pasang badan menghadapi ibu kandungnya sehingga dia menjadi sasaran empuk pada penyerangan dua malam lalu. Dirinya harus melakukan sesuatu untuk apa yang telah Galang hadapi.


“Tidak, tidak mungkin seperti ini. Aku tidak akan menyerah kali ini. Apa yang sudah menjadi milikku tidak akan aku biarkan terlepas untuk orang lain. Tidak lagi.” gumamnya sepanjang perjalanan ke bawah.


“Aku sudah cukup berkorban untuk orang lain, bahkan segala perasaan aku korbankan demi sahabatku agar dia bahagia, namun yang terjadi kepadaku malah sebaliknya. Aku tidak akan mengalah lagi.” Dalam beberapa menit saja dia sudah tiba di area belakang rumah sakit di mana acara itu masih berlangsung.


Namun Clarra tertegun tidak tahu apa yang harus dia lakukan. Terlebih apa yang akan dia katakan kepada Amara yang kini sedang berada di balik kerumunan.


Mereka sudah putus kan? Lalu apa masalahnya jika aku yang bersama Galang sekarang? Kenapa juga mereka harus begitu? Bukankah dua tahun itu lama?


Apakah aku yang bodoh? Atau …


Dia meraba hatinya sendiri. Mengapa perasaannya biasa saja? Meski kecewa tapi Clarra tak merasa hal yang selebihnya dari itu. Hanya kecewa. Padah dulu dirinya sempat merasakan adanya getaran lain setiap kali bersama Galang, tapi setelah sekian lama hal itu tak lagi dia rasakan.


Lalu dia melihat Amara tengah berbicara dengan seorang pria yang sangat dikenal. Pria yang selama ini menguasai dunianya, bahkan di saat paling menyakitkan sekalipun. Dialah yang selalu ada dalam pikirannya bahkan ketika dirinya sedang bersama Galang. Dan dia yang membuatnya merasa kecewa karena tak mau memperjuangkannya setelah perselisihan yang menguras emosi.


Definisi kekecewaan yang lain.


“Hmm …” 


Clarra mengepalkan tangan di kedua sisi tubuhnya. Nyatanya, upaya untuk menghindari Dokter Syahril selama ini sia-sia belaka. Meski hubungan mereka telah berlalu, namun perasaannya masih belum hilang juga. Bahkan setelah segala rasa sakit yang ibunya torehkan tak mampu mengikis perasaan itu dari hatinya. Dan setiap kali mereka bertemu malah menambah luka dan perasaan cinta di waktu yang bersamaan.


Sadar Clarra, di bukan orang yang pantas mendapatkan cintamu.


***


“Acaranya sukses Amara.” Dokter Syahril berjalan mendekat.


Acara itu hampir selesai pada menjelang sore.


“Benarkah? Ah, … seneng banget Pak Dokter.” Amara menepukkan tangan. Dia berhasil menguasai emosinya hari itu, dan dapat menyelesaikan pekerjaannya dengan baik.


“Ya, mungkin untuk selanjutnya kami akan memakai jasamu lagi untuk proyek ini.”


“Iya?” Amara dengan raut terkejut.


“Ya, datanglah besok untuk tanda tangan kontraknya.” jawab Dokter Syahri.


“Tanda tangan kontrak?”


“Ya, kita harus bekerja dengan profesional bukan? Jadi kesepakatannya juga harus dilakukan secara profesional juga. Agar semuanya jelas.”


“Begitu ya?” Mereka berjalan keluar dari kerumunan.


“Ya. Setelah itu, setiap tiga bulan sekali kamu akan menerima pesanan dari rumah sakit ini untuk acara yang sama. Atau kalau memungkinkan ada acara-acara lainnya yang akan menggunakan jasamu untuk penyediaan makanan.”


“Ba-baik dokter?”


“Kamu setuju?”


“Ya, saya setuju. Besok saya akan datang untuk tanda tangan kontraknya.”


“Itu bagus.” Dokter Syahril dengan senyumannya.


“Kak Ara, aku suka sama es krim sama pudingnya. Enak." Syahnaz muncul setelah menghabiskan makanannya.


"Oh ya? Terima kasih, itu memang menu spesial di Amara's Love." jawab Amara.


"Tapi aku juga suka makanan lainnya. Semuanya enaaakkk."


"Baiklah, memang enak kan?"

__ADS_1


"Hu'um."


"Saya dengar kamu sekolah di Paris ya?" Dokter Syahril kembali berbicara.


"Ya, dari mana Dokter tahu?"


"Saya lihat profil kamu di media sosial."


"Ah, dokter juga main media sosia?"


"Kadang-kadang, kalau sedang jenuh." Pria itu terkekeh.


"Hmm ... Apa nama akunnya? Nanti saya follow."


Dokter Syahril mengeluarkan ponsel kemudian menyalakannya. Lalu menunjukkannya kepada Amara.


"Oke, sudah saya follow. Mohon di folback ya?" Kini gadis itu yang tersenyum.


"Lalu kalau lulusan Paris kenapa kamu memilih buka usaha sendiri? Padahal pasti banyak hotel atau restoran besar pasti bersedia mempekerjakan kamu dengan gaji yang tinggi? Dan lagi, bukannya Pak Arfan juga ada bisnis hotel dan restoran?"


"Masalahnya saya males kalau di suruh-suruh orang Pak. Maunya kerja sesuai dengan keinginan saya. Kebetulan bisa dan ada kesempatan ya udah, buka usaha aja." Amara menjawab sesuai dengan khasnya berbicara.


"Tapi kan repot. Kamu harus memikirkan banyak hal, belum lagi mengurusi hal-hal diluar itu dengan pegawai juga yang kamu bayar?"


"Setiap hal ada resikonya bukan? Tapi selama kita senang menjalaninya, saya rasa nggak ada masalah dengan itu. Lagian kalau udah biasa nggak terlalu sulit juga sih. Pas awal-awal memang pusing, tapi kesininya udah hafal harus gimana, Hehehe."


Syahril mengangguk-anggukkan kepala.


"Memang tipikal Pak Arfan kamu ini. Semangatnya tinggi."


"Iya dong, cuma satu aja bedanya."


"Apa?"


"Itu tadi, saya nggak suka disuruh-suruh." katanya, kemudian tertawa. Dan membuat pria di dekatnya tertawa juga.


"Ehm .... Ara?" Seseorang menginterupsi percakapan tersebut. Yang rupanya adalah Clarra.


"Kak Clarra?" Tentu saja membuat gadis itu terkejut.


"Bisa bicara sebentar? Ada sesuatu yang mau aku tanyakan." katanya, dan dia berusaha menekan perasaannya sendiri.


Bukan karena gadis itu, tapi karena keberadaan pria di dekatnya.


"Aku?"


Clarra menganggukkan kepala.


"Ada apa?"


"Bisa bicara berdua saja? Ini cukup pribadi." jawab Clarra yag sekilas melirik kepada Dokter Syahril, kemudian mengangguk sopan.


"Oh, begitu ya? Umm … oke." Kemudian Amara mengikuti perempuan itu yang berjalan ke sisi lain taman belakang rumah sakit yang cukup jauh dari kerumunan.


"Itu tante Clarra!" Syahnaz bereaksi, namun Syahril segera menahannya ketika gadis kecil itu hampir mengejar mereka.


"Tante Clarranya sedang ada urusan."


"Tapi Papa?"


"Nanti ya? Kita ketemu dengan Tante Clarra."


Syahnaz menatap sang ayah, lalu dia menurut seperti biasa.


***


"Ehm … kakak, lagi apa di sini?" Amara memulai percakapan. Berpura-pura tidak mengetahui dengan apa yang menimpa Galang.


Clarra menatapnya lekat-lekat.

__ADS_1


"Malam kemarin Galang datang ke tempatmu?" Perempuan itu langsung mengatakan maksudnya.


Amara mendongak dengan raut terkejut.


"Malam sebelum seseorang memukulinya di perjalanan pulang." lanjut Clarra.


"Umm …."


"Kamu juga pasti tahu kenapa aku ada di sini. Dan kenapa Galang di rawat diatas." Dia memperjelas perkataannya.


"Benar dia mampir ke tempatmu sebelum dipukuli?" Clarra bertanya lagi.


Amara menelan ludahnya dengan susah payah. Dia tak tahu jawaban apa yang harus diberikan kepada perempuan ini. Yang ada dalam pikirannya adalah dampak apa yang akan ditimbulkam dari jawabannya nanti.


"Jawab Ara!"


"Iya Kak." Gadis itu menganggukkan kepala.


"Apa dia sering datang?" Clarra bertanya lagi.


"Nggak, cuma sesekali." Amara menjawab.


"Terus apa yang dia lakukan di sana? Makan? Kalian bicara?"


Amara hampir membuka mulutnya untuk menjawab.


"Padahal malam itu dia mengatakan akan segera pulang setelah mengantarkan aku ke rumah. Tapi nyatanya malah berputar arah dan kembali ke tempat kamu. Kalian kembali berhubungan?"


Amara terperangah kemudian menggelengkan kepala.


"Nggak Kak."


"Aku sebenarnya tidak apa-apa kalau misalnya memang dia sering datang ke tempatmu. Lagipula dia selalu memberi tahu setelah dari sana. Tapi ada sesuatu yang aku rasa dia salah soal itu."


Amara tertegun.


"Harus kamu tahu kalau kami ada hubungan serius sekarang ini. Apa kamu mengerti apa yang aku maksud?"


"Tahu Kak, dan aku ngerti."


"Jadi aku rasa itu sudah jelas ya? Aku hanya ingin meluruskan keadaannya. Jangan sampai nantinya aku yang salah paham dengan hubungan kalian."


Amara mengangguk.


"Aku mengerti kalian pernah lama berhubungan, tapi bukan berarti aku bisa mentolelir hubungan lain setelah ini. Aku harap kamu juga mengerti bagaimana …."


"Kakak nggak usah khawatir, aku sama Kak Galang nggak ada hubungan apa-apa. Aku bahkan memutuskan untuk nggak lagi berinteraksi sama dia untuk alasan apa pun. Dan asal Kakak tahu, malam itu aku mengusir Kak Galang dari kedai padahal hujan sedang lebat-lebatnya. Jadi Kakak nggak usah khawatir soal itu. Hubungan kalian aman, aku janji." Amara berujar.


"Ara, aku hanya …."


"Kakak bisa pegang ucapan aku. Aku bahkan memilih untuk bermusuhan dengan Kak Galang agar kami nggak harus saling menyapa kalau ketemu. Dan aku melarang dia datang lagi ke kedai untuk alasan apa pun."


Clarra terdiam.


"Nggak usah khawatir. Kak Galang hanya milik Kakak seorang, dan aku hanya masa lalu." ucap Amara lagi.


"Masih ada yang mau di bicarakan? Soalnya acaranya sebentar lagi selesai, dan aku harus beres-beres." Amara melihat jam di layar ponselnya.


"Umm … aku rasa cukup untuk sekarang." jawab Clarra yang merasa sedikit lega.


"Oke, aku ke sana lagi ya? Harus  selesaikan pekerjaan hari ini." ucap Amara lagi, dan dia segera pergi.


Gara-gara Papa, aku jadi harus menghadapi masalah ini! Batin Amara, dan seketika dia merasa marah kepada ayahnya.


🌺


🌺


🌺

__ADS_1


Bersambung ....


selamat hari vote!!


__ADS_2