My Only One

My Only One
Pillowtalk


__ADS_3

🌺


🌺


"Duh, sudah selesai?" Clarra melirik jam digital di sisi meja saat Galang keluar dari ruangan Dimitri pada sore hari, diikuti oleh atasan mereka di belakang.


"Seperti yang kamu lihat." Pria itu meletakkan beberapa dokumen di meja sekretaris.


Galang menyelesaikan pekerjaannya sore itu tepat waktu. Sehingga dia dapat menyerahkan beberapa dokumen yang sudah diperiksanya bersama Dimitri tepat pada saat jam pulang tiba. 


"Padahal yang tadi itu banyak, tapi kalian bisa menyelesaikannya tepat waktu?" Clarra berujar.


"Kamu tidak tahu saja kalau hari ini dia bekerja dengan begitu semangatnya." ucap Dimitri yang melonggarkan lilitan dasinya.


"Bukankah dia memang selalu bersemangat?" Clarra menyahut.


"Tapi kali ini semangatnya bertambah berkali-kali lipat."


"Masa?"


"Yeah, sepertinya cuti selama seminggu sangat berguna untuknya?" Dimitri mencibir.


Clarra menahan senyum sementara orang yang dimaksud tidak menyahut sama sekali.


"Lalu untuk pertemuan besok siapa yang akan pergi?" Clarra kemudian bertanya.


“Aku bisa.” Galang segera menjawab.


“Sendiri tidak apa-apa?”


“Tidak apa-apa Pak.”


“Baiklah, itu bagus sekali.” Sang atasan tertawa senang.


“Memang sudah tugas saya bukan?” 


“Yeah, kamu mengerti.” Dimitri menepuk pundak asistennya.


“Baiklah kalau begitu, saya pulang duluan?” ucap Galang kemudian.


“Masih sore tahu?” Dimitri menyeringai.


“Sudah ada yang menunggu di rumah Pak.” Galang melenggang ke arah lift.


“Huuuh sombong!” Dimitri kembali mencibir.


“Ya kan istri saya tidak balapan Pak, jadi pasti ada di rumah.” Pria itu masuk ke dalam lift yang sudah terbuka.


“Apa katamu?” Atasannya itu bereaksi.


Namun Galang tidak menjawab, dan dia hanya melambaikan tangannya sebelum akhirnya pintu lift tertutup rapat.


“Asisten macam apa itu?” Dimitri menggerutu. “Baru tahu ada asisten seperti dia? Berani-beraninya berkata seperti itu kepadaku?”


Clarra pun tertawa.


“Dasar anak-anak.” katanya sambil menggelengkan kepala.


“Apa?” Lalu Dimitri beralih kepadanya.


“Kalian seperti anak kecil yang berebut mainan, sering sekali saling menyindir dan mengejek?”


“Bukan aku, tapi dia Cla!” 


“Sama saja. Dimi … Dimi!” Clarra tertawa lagi sambil menggelengkan kepala.


“Sepertinya hanya aku direktur yang tidak punya wibawa di mata bawahanku sendiri? Huh, menyebalkan. Inilah akibatnya jika memperkerjakan sahabat istrimu! Dibiarkan bisa ngelunjak, tapi kalau diberi ultimatum pasti kena masalah. Hah!” Pria itupun melenggang ke arah lift.


“Hey Clarra, kamu mau turun sama-sama atau  tidak?” ujarnya ketika dia sudah berada di dalam lift.


“Iya tunggu sebentar.” Clarra pun bergegas pergi.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Amara sudah berada di teras depan, dan dia sudah tidak sabar menyambut kepulangan suaminya dari tempat kerja. Apalagi setelah pria itu memberi kabar jika dirinya akan pulang cepat hari ini.


Terlihat mobil milik Galang memasuki pekarangan rumah, dan Amara tampak gembira karenanya. Wajahnya sumringah dengan senyuman yang ceria.


“Kenapa kamu diluar?” Pria itu turun lalu menutup pintu mobil.


Amara tak langsung menjawab namun dia merentangkan tangannya.


Galang pun tersenyum, Dia mempercepat langkahnya dan segera menghambur untuk memeluknya.


“Hmm … kangen!” Perempuan itu bergumam.


“Baru sehari?” Galang terkekeh kemudian melepaskan rangkulannya.


“Tapi seminggu ini kita sama-sama terus?”


“Iya juga sih." Pria itu tergelak. "Mau langsung pulang?" tawarnya kemudian, yang Amara jawab dengan anggukkan.


"Baiklah, kita pamitan dulu." Galang menegakkan tubuhnya kemudian mendorong kursi roda yang diduduki Amara ke dalam rumah.


Tampak ruang tengah yang terlihat hangat. Arfan bersama ke empat anaknya tengah bercengkerama setelah menyelesaikan tugas sekolah mereka. Hal itu terlihat dari tas dan buku sekolah yang berserakan di meja dan sofa. Dan anak-anak masih memegang alat tulis mereka.


"Papa?" Amara memanggil sang ayah.


"Ya?" Dan Arfan memalingkan perhatian dari anaknya yang lain.


"Aku mau pulang." ucap Amara.


"Pulang?"


Sang anak menganggukkan kepala.


"Masih sore." Pria itu melihat jam tangannya. "Kenapa tidak menginap saja?"


"Umm …." Amara mendongak ke arah suaminya.


"Besok saya ada rapat pagi, jadi harus menyiapkan beberapa hal. Jadi …."


"Tunggu dulu, Mommy sedang menyiapkan makan. Nanti kalian pulang setelah makan." tukas Arfan saat melihat istrinya yang masuk ke ruangan di mana mereka berada.


"Kebetulan Galang sudah datang? Ayo kita makan dulu?" Dygta dengan keramahannya seperti biasa.


"Kakak mau makan dulu?" Amara bertanya kepada suaminya.


"Kamu mau?"


"Iya. Jadi nanti Kakak nggak perlu masak di apartemen, kan kita udah makan di sini." Perempuan itu tertawa.


"Baiklah." Dan Galang menurut.


Kemudian mereka pindah ke ruang makan di mana hidangan sudah tertata rapi di meja. Yang telah disiapkan oleh Dygta bersama dua asisten rumah tangganya.


"Nah, ayo makan yang banyak, biar kamu cepat sembuh." ucap Arfan kepada putrinya.


"Ayo Galang, makan." Dygta pun berujar kepada menantunya.


"I-iya." jawab Galang yang masih merasa canggung dengan keadaannya.


Ini merupakan hal baru baginya, dan pertama kali berkumpul dengan semua anggota keluarga Amara. Terlebih, makan bersama juga setelah bertahun-tahun mereka saling mengenal.


Dan yang terpenting adalah merupakan hal baru juga berkumpul di dalam rumah dengan anggota keluarga yang cukup banyak. Dia terbiasa hanya berkumpul bersama kedua orang tuanya saja meski dihari raya atau hari istimewa lainnya. Anggota keluarganya tidak banyak dan mereka bahkan jauh dari sanak saudara.


"Galang? Ayo, tidak usah sungkan." Dygta membuyarkan lamunan menantunya.


"Eee … iya, Mom." Galang sedikit tergagap.


"Kamu mau makan apa?" Kemudian dia beralih kepada Amara.


"Apa aja, bebas."


Ada beberapa macam makanan yang Dygta siapkan. Menu-menu yang spesial seperti biasa dan tidak pernah melewatkan menu favorit keluarga ini.


Lalu Galang mengambil nasi dan beberapa macam lauknya ke dalam satu piring, kemudian mereka memulai acara makan pada petang itu.


"Kenapa kalian makannya dari satu piring? Masing-masing saja." Arfan bereaksi ketika melihat Galang yang menyuapi Amara, kemudian dia menyuapkan makanan untuk dirinya sendiri.


"Iya, kan makanannya banyak?" Dygta melakukan hal yang sama.


"Tidak apa-apa, kami memang selalu begini." Galang menjawab.


"Apa?"


"Uuu … romantis." Anandita buka suara setelah menyimak interaksi antara sang kakak dengan pria yang kini berstatus menjadi kakak iparnya tersebut.


Lalu terdengar reaksi Arkhan yang menahan tawanya.


"Jangan ketawa!" Amara menepuk lengan sang adik yang berada di sampingnya. 


"Setiap hari juga kayak gini, aku kan nggak bisa makan sendiri." Lalu dia beralih kepada ayahnya.


"Bukan romantis-romantisan!" Dia sedikit mendelik.


"Tangan kiri Kakak nggak apa-apa?" Asha pun ikut berkomentar.


"Ya masa makan pakai tangan kiri? Nggak sopan tahu!" Sang kakak menjawab.


"Ya kalau terpaksa nggak apa-apa Kak."  Arkan pun menyahut, lalu tertawa.


"Nggak terbiasa." Amara menjawab lagi.


Katiga adiknya mencebik bersamaan.


"Manja." Aksa yang paling terakhir bersuara.


"Apa?"

__ADS_1


"Bilang aja maunya dimanjain, mentang-mentang udah punya suami? Dulu kalau sakit masih bisa makan sendiri, nah sekarang?" ujar remaja kelas 3 SMP itu.


Amara hampir membuka mulutnya untuk menjawab namun Galang segera mendahuluinya.


"Tidak apa-apa, mumpung masih bisa. Nanti kalau sudah sembuh kan bisa sendiri." katanya.


"Duh, dibelain suaminya?" Arkhan bicara lagi.


"Diamlah, anak-anak nggak perlu ikut campur urusan orang dewasa!" Amara kembali bereaksi.


"Anak-anak apanya? Aku udah SMA tahu?" jawab sang adik.


"Lah, Kakak udah nikah? Jelas kamu masih anak-anak lah?"


Arkhan menarik satu sudut bibirnya ke atas.


"Eh, … kenapa jadi berdebat begini?" Dygta melerai perdebatan diantara anak-anaknya.


"Kenapa sih setelah menikah Kakak jadi nyebelin? Nggak asik." ucap remaja tampan yang sangat mirip dengan ayahnya itu.


"Ya kalau kalian nggak julid duluan Kakak nggak akan jadi nyebelin." Amara menjawab.


"Sudah! Tidak baik berdebat di dekat makanan, nanti tidak berkah." ucap Dygta lagi.


"Ayo lanjutkan makan?" katanya.


"Kakak kebiasaan apa-apa diturutin jadinya gitu." Sang adik menggumam.


"Apa?" Dan Arfan pun mendengarnya dengan cukup jelas.


"Kakak kebiasaan semua kemauannya dituruti Papa, jadinya begitu." Arkhan memperjelas ucapannya yang membuat seisi ruang makan terdiam.


"Kenapa kamu bicara begitu?"


"Ya … karena itu kenyataannya." jawab Arkhan.


"Apaan?" Amara tertawa pelan seraya mengunyah makanan  yang disuapkan Galang kepadanya.


"Kalau Kakak yang minta apa aja pasti dikasih, nggak kayak aku." ucap Arkhan yang menghentikan kegiatan makannya.


"Hum?"


"Maksud kamu apa?" Dygta ikut berbicara.


"Ya kalau aku yang minta sesuatu jarang diturutin, tapi kalau Kakak yang minta semuanya langsung ada." Dengan takut-takut anak itu berbicara.


"Permintaanmu yang mana yang tidak Papa dan Mommy turuti?" Dygta pun menghentikan kegiatan makannya.


Arkhan terdiam.


"Arkhan?"


"Aku … minta motor tapi nggak di beliin. Kakak pulang dari Paris langsung dapat mobil?"


Amara dan Galang saling pandang.


"Astaga!" Arfan menempelkan punggungnya pada sandaran kursi.


"Cuma motor! Kayaknya nggak semahal mobil?"


"Kamu belum cukup umur Arkhan!" ujar sang ayah yang kembali mengunyah makanannya.


"Temen-temen aku udah punya, dan mereka pergi sekolah pakai motor? Iya kan Ann?" Arkhan meminta dukungan kepada saudara kembarnya.


"Iya, hampir semuanya dikelas bawa motor. Kayaknya cuma kita aja yang masih diantar sopir?" Anandita mengamini.


"Iya, tapi kalian belum cukup umur."


"Tapi mereka bisa?"


"Mereka bukan anak Papa, kalau anak Papa ya tidak akan Papa izinkan. Kamu pikir semudah itu membawa kendaraan sendiri?"


"Gampang kok Pah, aku udah bisa."


"Hah? Bisa dari mana? Kapan belajarnya?"


"Kalau lagi di sekolah aku pinjam motor temen."


"Duh?"


"Ayolah Pah, beliin aku motor. Satu aja, nggak usah dua. Biar Ann aku yang boncengin." Arkhan meminta kepada sang ayah.


"Tidak." Namun pria itu segera menjawab dengan tegas.


"Yah, Pah? Aku udah gede masa sekolahnya masih diantar sopir? Malu Pah!"


"Ada yang mengejekmu di sekolah karena diantar sopir? Siapa? Nanti Papa datang ke sekolah."


"Eh, … nggak-nggak. Mana ada yang berani ledekin anaknya Arfan Sanjaya? Aku cuma mau kayak temen-temen, kan seru?"


"Belum waktunya." jawab Arfan lagi.


"Papa bilang belum waktunya! Kamu belum cukup umur!" Arfan sedikit meninggikan suaranya yang membuat seisi ruang makan terdiam lagi.


"Nanti, kalau kamu sudah 17 tahun, sudah punya KTP dan bisa membuat SIM, baru Papa berikan." lanjutnya dengan tegas.


"Temen aku belum 17 tahun udah bisa bikin KTP sama SIM."


"Mereka bukan anak Papa." jawab Arfan lagi, dan kali ini tidak dapat dibantah.


"Sekarang habiskan makananmu, setelah itu lanjutkan mengerjakan tugas."


"Udah selesai tadi kok."


"Kalau begitu, setelah ini istirahat!"


Arkhan pun terdiam.


"Arkhan?"


"Iya pah." Lalu dia melakukan apa yang ayahnya katakan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Apa papamu selalu sekeras itu?" Galang duduk di pinggir tempat tidur sambil mengusap rambutnya yang basah.


Mereka tiba di apartemen setelah menempuh perjalan pulang seusainya makan dan sedikit bercakap-cakap.


"Nggak. Baru lho aku lihat Papa kayak tadi." 


"Kepadamu tidak seperti itu?"


"Nggak pernah. Ngomong keras aja belum pernah. Mana berani Papa begitu sama aku? Aku ini kan manis dan penurut." Amara berkelakar


"Lagian Arkhan emang agak ngeyel, udah dibilangin belum waktunya dan belum cukup umur masih aja minta motor. Udah dijelasin juga?"


"Memang ini bukan pertama kalinya Arkhan minta?"


"Kayaknya iya, makanya Papa tadi bilang gitu."


"Arkhan kelas satu SMA?"


"Iya."


"Aku dulu dapat motor pas kelas satu SMA."


"Dih? Kan belum punya KTP?"


"Memang."


"Kan nggak boleh?"


"Terpaksa. Karena sekolah jauh terus kalau pakai angkutan umum mahal. Jadinya ayah beliin motor bebek bekas. Jadi uang untuk ongkos bisa buat jajan." Pria itu tertawa.


"Terus SIMnya gimana?"


"Belum punya SIM."


"Terus kalau di jalan gimana?"


"Ya nggak gimana-gimana. Jalan saja."


"Kalau ada polisi?"


"Biasa saja."


"Kalau ditilang?"


"Ya jangan sampai."


"Itu melanggar hukum tahu?"


Galang tertawa.


"Udah melanggar hukum bangga lagi?"


"Bukannya bangga Neng."


"Terus apa namanya?"


"Ummm … apa ya? Itu semacam hal yang tidak bisa kita ikuti karena kebutuhan."


"Nggak ngerti deh sama pernyataan Kakak."


"Kamu tidak akan mengerti." Galang bangkit kemudian berjalan ke sisi lain kamar. Menggantung handuk di capstock lalu menyisir rambutnya yang sudah setengah kering.


"Aku jadi ada ide nih?" Lalu dia kembali ke dekat Amara dan naik ke tempat tidur.


"Apa?"

__ADS_1


"Di Bandung ada motor dua."


"Terus?"


"Sepertinya nggak akan terpakai untuk waktu yang lama."


"Terus?"


"Kita bawa ke sini."


"Untuk apa?"


"Untuk Arkhan."


"Nggak usah, kan belum di izinin sama Papa? Nanti Papa ngambek lho."


"Memangnya Papamu sekeras itu ya sampai-sampai ngambek kalau aku kasih satu motornya buat Arkhan?"


"Nggak tahu, lagian Papa juga pasti mampu kalau untuk beli motor nggak usah Kakak kasih juga."


"Tentu, Papamu pasti mampu bahkan untuk membeli lebih dari motor seperti yang aku punya. Tapi masalahnya ini Arkhan."


"Arkhan kenapa?"


"Sepertinya dia ada sedikit rasa iri kepadamu."


"Iri kenapa?"


"Nggak dengar tadi apa yang dia bilang?"


Amara mengingat kembali percakapan di rumah orang tuanya pada saat makan sore tadi.


"Dia minta motor tidak dituruti, tapi kamu pulang dari Paris langsung dapat mobil?"


"Kan udah dibilangin kalau dia belum cukup umur. Aku yakin kok kalau misal umurnya Arkhan udah cukup Papa bakal ngasih apa aja yang dia mau?"


"Apa dia akan mengerti?"


"Aku yakin Arkhan akan ngerti. Biar begitu juga sebenarnya dia penurut kok. Cuma kadang dia suka terlalu jujur mengutarakan pikirannya."


"Ya bagus, jadinya kita akan mengerti maunya dia apa. Anak seumuran Arkhan itu sedang jujur-jujurnya mengekspresikan diri. Dia juga sedang berusaha membuktikan kalau dia bisa melakukan apa saja, apalagi di depan teman-tema sebayanya."


"Kakak pikir gitu?"


"Iyalah, kan aku  nggak langsung dewasa. Pernah juga mengalami apa yang Arkhan alami. Dan itu nggak gampang."


"Masa? Kok aku nggak?" Amara tergelak.


"Pengalaman setiap orang beda tahu, apalagi kamu anak perempuan. Orang tua cenderung bersikap lebih lembut kepada anak perempuan apalagi orang tuamu bukan cuma Papa dan Mommy."


Amara terdiam.


"Sedangkan Arkhan? Dia anak laki-laki dan Papa sepertinya bersikap lebih keras kepadanya?"


"Nggak ah sama aja." tukas perempuan itu, meski dirinya juga mengingat dengan keras apa saja yang dialaminya sedari kecil hingga dewasa seperti sekarang ini.


Dan tidak ada satu hal pun yang menjadikannya merasa kecewa atau pun iri atas perlakukan kedua orang tuanya tentang apa yang dia dapat ataupun tidak. Karena pada kenyataannya mereka selalu memberikan apa yang dia inginkan.


"Apa beda ya?"


"Menurut kamu?"


"Aku lihatnya nggak. Semua yang Papa atau Mommy ataupun Mama kasih sesuai kok, apalagi aku rasanya nggak pernah minta macam-macam? Aku kan nggak pernah minta dibeliin motor? Aku nurut semua yang Papa dan Mama bilang, aku juga nurut kalau Papa nganter aku sekolah sampai kelas tiga SMA. Terus mau kemana-mana pasti Papa anter. Papa nggak pernah biarin aku pergi sendiri biarpun cuma kerja kelompok, dan itu nggak apa-apa. "


"Serius?" Galang terkekeh.


Membayangkan perempuan disampingnya ini selalu ditemani ayahnya kemanapun dia pergi sekalipun itu hanya untuk tugas sekolahnya. Dan rasanya menggelikan.


"Iya. Aku kalau bilang mau pergi aja Papa pasti siap nemenin."


"Nggak pergi dengan teman-teman?"


"Pernah janjian di mall, nonton gitu atau makan. Tapi pasti Papa anter terus nungguin aku sampai selesai."


"Astaga, sampai segitunya. Papamu kurang kerjaan ya? Bukannya dulu dia kerja di Nikolai Grup sebelum Pak Dimitri pulang dari Rusia?"


"Ya kan perginya pas weekend kalau Papa libur. Kalau di hari kerja Papa nggak pernah kasih izin."


"Hmm … ish aku nggak bisa bayangin gimana rasanya pergi dengan teman-teman tapi Papamu ikut?"


"Nggak apa-apa, kan Papa nggak ikut ngumpul. Pasti nunggunya agak jauh yang penting akunya tetep kelihatan."


"Dan kamu nggak apa-apa?'


"Nggak, kan udah biasa."


"Haih!" Galang menggelengkan kepala.


"Emangnya kenapa?"


"Nggak kenapa-kenapa, cuma … rasanya aneh." Pria itu tergelak.


"Kan aku udah biasa, malah rasanya aneh kalau nggak Papa anter. Kadang aku suka nggak jadi pergi kalau Papa nggak ada."


"Benar-benar anak Papa ya kamu ini?" 


"Emang kalau ke anak laki-laki nggak gitu ya? Termasuk Arkhan?"


"Mungkin konteksnya beda?"


"Nggak tahu deh." Amara menggendikkan bahu.


"Atau kamu pernah nggak merasa iri kepada adik-adikmu yang banyak itu?"


"Kenapa harus iri? Kan mereka anak-anaknya Papa juga?"


"Ya kalau Papa memberikan apa gitu kepada mereka?"


"Nggak."


"Masa?"


"Iya. Kan aku udah dapetin apa aja yang aku mau, biarpun mungkin beda sama apa yang adik-adikku dapet."


"Hmm … kamu memang selugu itu."


"Emangnya Kakak pernah merasa iri?" Kini Amara yang bertanya.


"Iri kepada siapa? Aku kan nggak punya saudara."


"Oh iya lupa."


"Cuma waktu kuliah kadang suka dengar teman-teman mengeluh soal keluarga mereka yang saling iri dengan saudara karena orang tuanya pilih kasih."


"Papa aku nggak pilih kasih tahu? Cuma memperlakukan semua anak-anaknya sesuai dengan umur dan kebutuhan."


"Ya ya ya …." Galang mengangguk-anggukkan kepala kemudian tertawa. Perempuan ini benar-benar begitu membela ayahnya.


"Udah ah ngobrol terus, aku ngantuk." Amara menurunkan tubuhnya sehingga dia berbaring.


"Iya aku juga. Mana besok harus pergi pagi-pagi lagi?" Galang pun melakukan hal yang sama. Dia lalu merapatkan tubuh mereka.


"Pagi banget?"


"Iya." Tangannya sudah menyelinap dibalik piyama perempuan itu, dan segera menemukan benda favoritnya.


"Oh ya udah." Amara membenahi letak bantal sehingga kepalanya nyaman di sana.


Keduanya terdiam dan mencoba untuk memejamkan mata.


"Neng?" Galang kembali berbicara.


"Hum?"


"Aku belum ngantuk."


"Biasanya langsung tidur kalau kepala udah nempel di bantal?"


"Sekarang nggak bisa."


"Kenapa?"


Pria itu bangkit kemudian melepaskan kausnya.


"Umm …."


"Mungkin karena belum anu." Dia tertawa kemudian menyingkap piyama Amara.


"Anu?"


Galang tersenyum kemudian mulai mencumbu perempuan itu.


"Nanti Kakak kesiangan!" Amara sempat menahannya, namun Galang menulikan pendengaran.


Lalu pertautan indah itu segera terjadi dan tidak dapat terelakan lagi.


🌺


🌺


🌺


Bersambung ....


Gempur teroooosss 😂😂😂


Cus like komen sama hadiahnya? Ini 2711 kata lho.


Alopyu sekebon 😘😘

__ADS_1


__ADS_2