
🌺
🌺
"Bajunya Arkhan emang muat?" Amara meletakkan ponselnya begitu Galang keluar dari kamar mandi.
"Lumayan, untung dia punya pakaian yang oversize." Pria itu naik ke tempat tidur.
"Lagian badannya Arkhan nggak jauh beda sama Kakak kayaknya?"
"Hmm …." Galang menggumam.
"Terus sama omongannya Papa gimana?"
"Nggak gimana-gimana."
"Kakak mau ngikutin rencananya Papa?"
Galang terdiam sebentar.
"Memangnya kita bisa menolak rencana Papamu?"
"Nggak bisa ya?"
"Memangnya kamu bisa?"
"Nggak juga sih, hehe."
"Kamu saja anaknya tidak bisa, apalagi aku? Ceramahannya bikin mental down."
"Emang uangnya ada? Kan resepsi itu butuh uang yang nggak sedikit?"
"Ada."
"Beneran?"
"Iya. Lagi pula Papa nggak menekan kita harus seperti apa. Hanya mau kita mengadakan resepsi untuk keluarga kan?"
"Resepsi keluarga versi Papa artinya luas lho."
"Aku tahu."
"Yakin?"
"Yakin. Dan lagi, kalau papamu bicara tidak akan bisa dibantah bukan?"
~ Flashback On ~
"Kalian ini! Abege bukan, anak TK juga bukan. Tapi kelakuan seperti orang yang belum menikah?" Pria itu mondar-mandir di depan anak dan menantunya sambil bercacak pinggang.
Sementara orang yang dimaksud hanya terdiam. Malam ini mereka duduk seperti dua remaja yang tertangkap basah karena telah melakukan kesalahan.
"Kalian pikir ini sesuatu yang bisa disembunyikan? Mana bisa?"
Amara dan Galang semakin mengkeret di pinggiran tempat tidur. Sementara Dygta menggiring anak-anak lainnya untuk keluar.
"Perut Ara akan semakin membesar ditambah gejala kehamilan yang tidak mudah. Lalu apa yang mau disembunyikan? Kalian pikir bisa merahasiakan sesuatu dari Papa?" Lalu dia berhenti.
"Bukan begitu Pak, tapi …."
"Kamu pikir kamu bisa merahasiakan sesuatu dari saya?" ulang Arfan, kini lebih menekan kata-katanya.
"Umm … tidak Pak, maaf."
"Apa sih yang ada di pikiran kalian?"
"Aku … cuma takut Papa khawatir."
"Khawatir? Tentu saja Papa khawatir. Bagaimana tidak khawatir melihat keadaanmu yang seperti ini, lalu sekarang kamu hamil?"
"Tuh kan?"
"Tapi kalau Papa tahu sejak awal, setidaknya kita bisa melakukan sesuatu." Arfan mendekati putrinya.
"Apa?" Kedua mata Amara membulat dengan sempurna. Tangannya segera melindungi perutnya ketika naluri keibuannya muncul begitu saja.
"Papa nggak mungkin setega itu! Ini cucu Papa lho, masa mau begitu?" katanya, dan dia hampir histeris.
"Apa maksudmu?"
"Ini udah jadi lho, biar cuma baru kelihatan titik doang. Tapi ini makhlik hidup, nantinya jadi manusia. Masa mau Papa buang?"
"Ya Tuhan!" Sang ayah menghembuskan napas keras.
__ADS_1
"Nggak apa-apa, kalau Papa nggak mau terima mereka. Aku sama Kak Galang masih mampu. Aku yakin aku bisa, Kak Galang juga, iya kan Kak?"
Arfan memijit pangkal hidungnya yang tiba-tiba terasa nyeri.
"Mereka anak-anakku, aku sayang sama mereka." ucap Amara hampir menangis.
"Kamu pikir Papa ini orang gila apa?" Arfan kemudian duduk di depan putrinya.
"Habisnya Papa bilang mau melakukan sesuatu. Masa mau nyuruh aku buang mereka?"
"Tidak begitu Ara!"
"Terus apa?"
"Soal resepsi." Arfan menjawab.
"Resepsi?"
"Ya. Mungkin kita harus menggelar resepsi dalam waktu dekat ini."
Amara menoleh kepada Galang, dan dia hampir saja memberikan jawabam kepada ayahnya.
"Tidak ada bantahan. Resepsi harus digelar secepatnya, sebelum kandunganmu semakin besar." Arfan berujar setelah ceramahnya yang panjang lebar di depan anak dan menantunya yang baru saja memberinya kabar gembira.
"Sebenarnya nggak harus ada resepsi juga sih Pah, kan udah …."
"Tidak bisa. Setuju atau tidak, itu yang akan Papa lakukan. Bukankah sudah Papa katakan kalau kita akan mengadakan resepsi setelah keadaanmu membaik?"
"Iya sih, tapi …."
"Kamu anak pertama Papa, dan kami ingin melakukan sesuatu soal itu. Pernikahan adalah hal besar yang perlu dirayakan jika kita mampu. Agar orang-orang tahu, dan sebagai pengumuman jika kalian telah saling memiliki. Dan ini penting."
Dua orang di depan terdiam.
"Papa ingin mengadakan hal istimewa untukmu, mungkin untuk yang terakhir kalinya karena setelah ini tidak akan ada urusan lebih lagi."
"Kok Papa bilangnya gitu?"
"Ya karena semua urusanmu akan Galang tangani. Papa hanya akan mengikuti saja." Arfan melirik ke arah menantunya.
Amara pun menoleh kepada suaminya, dan pria itu segera bereaksi.
"Tidak apa-apa, hanya resepsi. Berbagi kebahagiaan dengan orang-orang apa salahnya?" Galang menengahi.
"Tidak masalah, bukan kita yang akan mengerjakan."
"Aku malu, masa masih gini ngadain pesta?" Amara mengusap tangan kanannya yang masih berbalut perban dan ditopang armsling.
Â
"Masih pakai kursi roda juga?" lanjutnya dengan suara yang terdengar sendu.
"Memangnya kenapa? Tidak ada masalah dengan itu. Kenapa juga harus malu? Semua orang juga tahu kalau kamu mengalami kecelakaan."
~ Flashback off ~
"Papamu punya keinginan yang mungkin sudah dipikirkan sejak jauh-jauh hari, jadi … apa salahnya untuk mewujudkannya? Agar keluargamu bahagia."
"Uuhh … susah deh kalau kalian udah kompak?" Amara menggumam.
"Kompak apanya?" Dan Galang malah tertawa.
"Kayaknya kakak sama Papa udah satu server nih? Buktinya Kakak setuju sama apa yang Papa bilang?"
"Memangnya salah ya? Bukankah itu bagus?"
"Iya bagus, mertua sama menantu udah berdamai."
Galang tertawa lagi.
"Dih, senengnya yang udah damai sama mertuanya?"
"Oo iya dong, hebat kan aku? Ternyata cuma begitu saja agar Papamu luluh ya? Aku pikir harus bagaimana agar dia nggak membenci aku lagi, tahunya hanya memberinya cucu sudah membuatnya luluh. Tahu begitu kenapa nggak dari awal saja kita beri tahu?"
Amara mencebikkan mulutnya.
"Segitu juga pakai kejar-kejaran dulu, baru damai?" Dia mengingat kelakuan ayah dan suaminya saat pertama kali rahasia kehamilannya terbuka.
Pria itu mengejarnya bahkan ketika Galang bersembunyi dibalik punggungnya. Dan sang ayah hampir saja menangkapnya jika saja Dygta dan dokter Syahril tak menghalangi. Dan Amara tertawa terbahak-bahak setelahnya.
"Heh?"
"Kalian lucu banget tahu nggak sih? Kalau ketemu tuh kayak kucing sama anjing. Berantem melulu?"
__ADS_1
"Lucu kamu bilang? Itu menyebalkan tahu?"
"Tapi ujungnya jadi damai kan?"
"Heem …"
"Terus soal tinggal di sini dulu gimana?"
"Nggak gimana-gimana, pasrah sajalah." Galang merebahkan tubuhnya.
"Dih, pasrah?"
"Ya mau bagaimana lagi? Sekarang Papamu sedang baik, kalau dibantah lagi nanti bahaya."
"Takut ya?" Amara mengarahkan telunjuknya kepada pria itu.
"Bukanya takut, Neng."
"Lah itu, milih nurut sama papa setelah diceramahin? Kalau nggak takut apa namanya?"
"Keadaan sudah membaik, dan lagi benar juga apa yang papa bilang. Kondisimu yang masih begini, belum lagi kamu sedang hamil muda. Apa nggak sebaiknya tinggal di sini? Ada Papa dan Mommy kalau aku sedang bekerja."
"Mmm …."
"Kenapa?"
"Sebenarnya aku udah betah di apartemen. Cuma kita berdua. Kalau disini kan banyakan, belum lagi ada adik-adikku kan?"
Galang tergelak kemudian bangkit seraya mendekatkan dirinya kepada perempuan itu.
"Jangan bilang kalau kamu takut aktifitas kita terganggu?" Galang sedikit berbisik.
"Apaan?"
"Hmm … aku tahu apa yang kamu pikirkan!"
"Dih, sok tahu?"
"Serius, selama ini kamu kan yang selalu mulai duluan?"
"Emangnya kenapa? Kakak kan nggak peka, makanya harus aku mulai duluan. Nggak suka?"
"Suka." Galang tergelak.
"Terus kenapa ngomongnya gitu?"
"Nggak apa-apa, cuma basa-basi."
"Heleh, basa-basi."
"Terus sekarang …." Galang menelusupkan tangannya dibalik pakaian tidur Amara. Mencari sesuatu yang biasanya dia genggam sebelum tidur.
"Nggak mau!" ucap Amara dengan tegas.
"Aku belum selesai bicara loh?"
"Aku tahu maksud Kakak apa?"
Galang hampir tertawa.
"Akunya ngantuk mau tidur." Perempuan itu menurunkan tubuhnya.
"Baru jam delapan?"
"Tapi aku capek."
"Seharian nggak melakukan apa-apa?"
"Tapi akunya capek." Dia meletakkan tangannya di wajah lalu memejamkan mata.
"Neng?" Galang mengguncangkan tubuhnya, namun Amara tak merespon.
"Beneran tidur ya?" katanya, dan dia menatap perempuan itu yang bergeming.
"Aahhhh!" Dia menggeram, namun kemudian kembali menjatuhkan kepalanya diatas bantal. Tak berani mengusiknya lagi.
🌺
🌺
🌺
Bersambung ....
__ADS_1