My Only One

My Only One
Project #3


__ADS_3

🌺


🌺


"Ini udah semua kan?" Amara memastikan segalanya telah siap dengan baik. 


Makanan utama, desert, camilan, buah-buahan dan hal lainnya yang dia buat bersama para pegawainya sejak tengah malam tadi.


"Udah Kak. Semuanya udah lengkap." jawab Nania yang ikut bersamanya ke rumah sakit. Bersama Ardi dan Nindi, juga Piere yang memaksa ikut. Kecuali Raka yang dia tinggal di kedai sendirian.


"Bagus. Sebentar lagi acaranya dimulai." ucap Amara dengan semangat ketika melihat sosok yang dikenalnya datang mendekat.


"Selamat siang Dokter?" sapanya kepada Dokter Syahril yang menggandeng tangan putrinya, Syahnaz.


"Siang, bagaimana persiapannya?" Pria itu menatap meja yang sudah dipenuhi berbagai macam makanan yang ditata sedemikian rupa sehingga membuatnya terlihat menarik.


Ditambah dekorasi khas anak-anak di setiap sudut area yang sebelumnya tak pernah dia duga akan seperti ini. Namun Amara ternyata memang totalitas dalam pekerjaannya, sehingga semuanya terlihat sempurna.


Balon dengan warna-warna cerah juga benda-benda berkilauan menjadi hiasan paling mencolok di tempat itu sehingga suasana terlihat menjadi semakin meriah.


"Sudah selesai Dokter. Kalau acaranya mau dimulai sekarang juga bisa." Amara menjawab.


"Baiklah." Kemudian pria itu menoleh ke belakang ketika beberapa orang staf rumah sakit datang. Diikuti beberapa perawat yang membawa pasien anak ke area taman belakang rumah sakit itu.


Semua orang tampak antusias, apa lagi anak-anak yang sedang dalam masa perawatan dan pemulihan dari sakit yang mereka derita. Yang sebagian besarnya tampak merupakan penyakit yang cukup serius.


Dilihat dari kondisi mereka yang sepertinya tidak terlalu baik, namun berusaha berbaur dengan para orang tua yang juga datang untuk menemani anak-anak mereka.


"Kerjamu bagus." bisik Dokter Syahril, memuji.


"Terima kasih. Tapi tadinya agak ragu juga, soalnya ini project pertama Amara's Love, apalagi dengan rumah sakit."


"Benarkah? Tapi kamu seperti profesional. Semuanya terlihat sempurna." Dokter Syahril dengan senyumnya yang menawan.


"Ah, Dokter ini terlalu memuji. Saya ini masih amatir." Amara terkekeh.


"Amatir yang profesional. Pertahankan itu, Ara." ucap dokter itu lagi.


"Baik Dokter, terima kasih." Gadis itu mengangguk.


Kemudian acara pun dimulai oleh seorang perawat. Diawali dengan doa-doa dan ucapan harapan bagi anak-anak yang berada di tempat itu. Khususnya untuk mereka yang tengah dalam masa perawatan, yang menjalani hari-hari yang berat selama ini. Menghadapi ujian kesehatan dan selanjutnya ujian mental yang bisa dipastikan tidaklah mudah.


Segala ucapan penyemangat disampaikan oleh para dokter yang merawat mereka. Sebagai tanda, jika hubungan itu bukan hanya sekedar sebagai paramedik dan pasiennya. Tapi lebih dari itu.


Lalu setelah beberapa lama, acara lainnya pun dilanjutkan dengan hiburan. Dan pihak rumah sakit sengaja mendatangkan figur yang cukup terkenal di kalangan anak-anak. Seorang penyanyi cilik dan seorang pendongeng mulai mempertunjukkan kebolehannya, sehingga membuat rumah sakit sedikit terasa meriah pada hari itu.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


“Mommy, itu ada apa sih dibawah kok rame-rame?” Anya menatap keluar jendela. 


Dari lantai lima ini, pemandangan memang cukup terlihat jelas ke segala penjuru area rumah sakit, sehingga dia dapat melihat apa pun yang terjadi di bawah sana.


“Nggak tahu, mungkin ada yang ulang tahun?” jawab Rania seraya mengikuti pandangan putrinya.


“Kok ulang tahunnya di rumah sakit sih? Kenapa nggak di Mc D apa KFC gitu?” Anak itu terkekeh.


“Ya mana Mommy tahu?”


“Itu acara rutin rumah sakit Bu. memang setiap beberapa bulan sekali disini sering diadakan acara seperti itu. Apalagi ini memang ditetapkan oleh beberapa staff dan donatur tetap.” seorang perawat yang mengantarkan obat ke ruang perawatan Galang menjawab.


“Oh .. memang acara tetap ya?”


“Iya, di khususkan untuk pasien anak-anak.” jelas perawat itu lagi.


“Bagus ya? Kreatif.”


“Iya, awalnya dimulai oleh istrinya salah satu dokter kami, dan berlanjut sampai sekarang. Meskipun istri dokternya sudah meninggal lama sekali.”


“Masa?”


“Iya.”


“Hebat ya? Papi, aku juga mau kayak gitu. Ngadain acara sosial untuk anak-anak, kayaknya seru deh?" rania berujar.


“Itu bukan ajang seru-seruan Mommy, tapi untuk acara amal.” Dimitri menjawab.


“Iya, maksud aku gitu, hehehe.”


“Iya, nanti kita pertimbangkan.”


“Nggak usah ngadain sendiri, tapi ikut nyumbang aja biar nggak berat.”


“Menurut kamu begitu?’


“Iya, lain kali kita ikut nyumbang untuk acaranya. Untuk anak-anak juga, kayaknya bagus.”


“Hmm … oke, kita atur kalau Galang sudah sembuh ya?” Dimitri mengangguk-anggukkan kepala.


“Apaan? Dia nggak apa-apa, besok juga udah bisa kerja lagi. Iya kan Lang?” Rania beralih kepada sahabatnya.


“Tidak bisa begitu, segala sesuatunya harus diperhitungkan dengan baik.”


“Soal kesehatan mah aku percaya dia nggak apa-apa, Lihat sendiri? cuma lebam-lebam doang mah biasa, namanya juga laki-laki. Patah tulang aja sering gara-gara kecelakan dari motor.” perempuan itu berujar.


Dimitri tertawa karenanya.

__ADS_1


“Kalau patah tulang karena kecelakaan motor kan itu dia sendiri yang bikin, ya nggak akan sakit lah. Ini dipukuli orang sampai babak belur begini? Ajaib aja kalau dia besok udah  bisa kerja.” Angga yang masuk kemudian.


“Om ngaco, mana ada patah tulang yang nggak sakit? Ya sakitlah.” tukas Galang yang sejak tadi mendengarkan percakapan Rania dengan suaminya.


“Sakit tapi diulangi terus?” Angga tak mau kalah.


“Namanya juga hobi, ya diulangi terus. Si Oneng juga kalau nggak diulangi dia nggak bakal jadi juara dunia. Kali cuma jadi jago balap liar, padahal dia sering lebih dari patah tulang.” Galang pun tak ingin diam saja.


“Halah, ngeles aja kamu?” cibir Angga.


“Ya sesuai lah.”


“Apanya yang sesuai?”


“Sesuai sama yang sering nyontohin.”


“Maksud kamu?’


Galang kembali membuka mulutnya untuk menjawab, namun kemudian Rania buka suara untuk melerai.


“Udahan deh, kebiasaan kalau lagi ngobrol malah jadi berantem? Kayak anak TK!”


“:Aku nggak pernah berantem!” Anya bereaksi.


“Apaan?”


“Aku anak TK, tapi aku nggak pernah berantem.”


“Iya, nggak berantem, tapi mukulin anak orang.” Sahut Galang yang kemudian tertawa.


“Kan anak itunya yang duluan ngerjain Zenya, makanya aku pukul. Padahal kan udah aku bilangin jangan ganggu.”


“Tetep aja itu namanya berantem, Anya!” Galang menjawab lagi.


“Bukan Om, ih ngeyel deh?”


“Sssstt! Malah diterusin?” Rania menghentikan perdebatan, namun orang-rang yang berada di ruangan itu malah tertawa karenanya.


“Baiklah Galang, kalau begitu kami pamit.” Satria buka suara setelah beberapa saat.


“Iya Pak, terima kasih sudah repot-repot menjenguk saya.” Galang mengangguk.


“Dan ingat, setelah ini kalian harus lebih waspada. Saya yakin Larra tidak akan berhenti sampai di sini sebelum mendapatkan apa yang dia mau, atau sebelum ada yang menghentikannya.”


“Dan kamu, ….” Lalu dia menoleh kepada Clarra yang tak beranjak dari sisi Galang sejak mengetahui kejadian yang menimpa pria itiu semalam sebelumnya.


“Jangan sampai terpengaruh. Larra memang ibumu, tapi kamu berbeda darinya. Kamu tidak seperti dia.”


Clarra pun menganggukkan kepala.


“Iya Om.”


“Baiklah, siapa yang mau ikut Opa pulang hari ini?” Lalu Satria mengalihkan perhatian kepada dua cucunya.


“Aku nggak.” Anya segera menjawab.


“Kenapa? Biasanya kamu yang paling bersemangat ikut?’


“Hari ini mau ke tempatnya Kak Ara.”


“Hah? Mau apa?”


“Makan es krim, kan udah hari minggu.”


“Astaga!” Rania menepuk kepalanya sendiri.


“Kamu masih menerapkan aturan itu?” Satria tertawa.


“Aturan yang aneh, Oneng!” Angga menyahut.


“Lagian kenapa sih harus ada aturan es krim di hari Minggu? Kan aneh. Gimana kalau tanpa sengaja ada yang ngasih mereka es krim di belakang kamu? Apa itu akan jadi pelanggaran dan kamu hukum?” Galang ikut bereaksi.


“Itu kan kamu, yang ngasih Anya es krim padahal dia udah bilang kalau bukan hari Minggu nggak boleh makan?”


“Ya kan aneh?”


“Itu namanya janji dan kepercayaan, dudul! Aku percaya kalau mereka akan memegang janji  dengan baik, dan aku juga mau mereka memiliki pengalaman yang istimewa pada sesuatu hal. Yang nantinya akan mereka ingat, kalau ada kenang-kenangan itu waktu mereka kecil.”


Galang mencebikkan mulutnya.


“Ah, dudul mah mana ngerti yang kayak gituan? Namanya juga Dudul!" Rania kemudian mendelik.


“Apa itu maksudnya?”


“Mommy, cepetan.” Anya mengguncangkan tangan ibunya.


“Sebentar lagi lah.” jawab Rania.


“Sekarang Mommy, tempatnya Kak Ara pasti udah buka. Ini udah siang kan?”


“Santai lah, kedainya Kak Ara nggak akan pergi ke mana-mana juga kan?”


“Nanti keburu penuh.”


“Nggak akan, kalau kamu datang Kak Ara pasti langsung keluar menyambut kita.”

__ADS_1


“Masa?’


“Iya, kita ini kan tamu spesial di kedainya Kak Ara.”


“Beneran?’


“Iya.”


“Terus kapan mau ke sananya?”


“Nanti ih!”


“Masa mau di sini terus? Opa aja mau pulang?”


“Kalau Opa emang nggak bisa pergi lama-lama.”


“Kenapa?”


“Kan Oma nggak ikut.”


“Apa hubungannya?”


“Nggak ada.”


“Kok Mommy bilangnya gitu?”


“Kamu nggak akan ngerti kalau Mommy bilangin juga.”


“Try me.”


Kemudian Satria tertawa lagi.


“Nah, jawablah Ran. Sementara itu Papi mau pulang. Oke, semuanya? Saya pamit.” ucap pemilik Nikolai grup itu yang kemudian segera keluar dari ruangan tersebut.


“Jejen mau ikut Anom nggak?” Angga pun berbicara setelah besannya pergi.


“Pah?” Dan Rania bereaksi mendengar panggilan sang ayah kepada putranya.


“Maksudnya, Zen.”


Ah, nggak enak rasanya. Batin pria itu.


“Anom mau ke mana?” Zenya bertanya.


“Kita ke tempatnya Om Andra.”


“Aki Andra?”


“Ah iya, lupa.” Pria itu tergelak, “ … kan udah jadi aki-aki ya dia? Hahaha.”


“Iya, sama kayak Anom.” ucap Zenya yang membuat semua orang hampir menyemburkan tawanya.


“Hmm ….” Sementara  Angga menggumam.


“Ayok deh, aku ikut.” Zenya turun dari tempat duduknya.


“Lah, kan kita mau ke tempat Kak Ara?” Anya hampir menghentikan saudara kembarnya.


“Tapi aku mau ikut Anom. Boleh kan Mom?” Anak laki-laki dengan rambut bergelombang itu menatap kepada ibunya.


“Boleh, Anya juga kalau mau ikut Anom juga boleh kok.”


“Apaan? Nggak sanggup kalau bawa anak dua kesana. Bisa ancur rumah si Andra kalau Papa bawa Anya juga.”


“Papa kok gitu?’


"Ya tanya sendiri Anya nya, mau nggak ikut Papa?”


“Noooo.” Anya segera menjawab.


“Kan?”


“Aku kan maunya ke tempat Kak Ara.” ucap anak itu, masih dengan pendiriannya.


“Haih, anaknya Dimitri!” Rania pun menggumam.


“Lah, yang bilang anaknya si Dudul siapa?’ Angga mengulurkan tangannya kepada Zenya, yang segera disambut oleh anak itu.


“Pergi dulu Dul, jangan lama-lama sakitnya. Dunia persilatan lagi nunggu kamu.”


“Apaan sih Om?”


“Sama kayak netijen juga. Hahahah.” Pria itu pun melenggang membawa sang cucu pergi.


🌺


🌺


🌺


Bersambung ....


episodenya kenapa serandom ini ya?😅😅


aku lagi suka nyeritain banyak orang, lagi suka ceritain macam-macam kisah. Dan lagi suka nambah-nambah tokoh. seru aja mereka ngumpul di sini. maaf untuk yang nggak suka boleh skip kok.😄

__ADS_1


__ADS_2