My Only One

My Only One
Sebuah Kejutan


__ADS_3

🌺


🌺


Anak-anak turun berurutan begitu mobil Galang tiba di depan rumah mereka. Dan Arfan yang seperti biasa menyambutnya di teras.


"Papa!" Asha menghambur ke pelukan ayahnya dengan kedua tangan sibuk memegangi bungkusan.


"Kalian tidak nakal?" Arfan balas memeluk sambil mengecup puncak kepala putri bungsunya.


"Nggak."


"Lalu apa yang kamu bawa?" Pria itu menatap bungkusan di tangan sang putri.


"Makanan." Asha mengangkat bungkusan di kedua tangannya sambil tertawa.


"Makanan?"


"Hmm …." Anak itu mengangguk, kemudian segera masuk ke dalam rumah.


"Papa?" Amara dan Galang menghampiri sang ayah yang menunggu mereka.


"Kamu sehat, Nak?" Arfan menyambut tangan putri pertamanya yang terulur. Dan wajahnya sore itu tampak ramah, tak sekaku biasanya.


"Sehat."


"Masuklah, Mommy sudah menyiapkan makanan untuk kita." Pria itu berujar.


Lalu Galang mendorong kursi roda Amara ke dalam rumah diikuti mertuanya dari belakang.


"Anak-anak tidak merepotkanmu?" Arfan bertanya.


"Umm … tidak Pak." Galang menjawab dengan sedikit terbata. 


Dia terkejut dengan pertanyaan ayah mertuanya yang baru kali ini terjadi setelah mereka menikah. Meski bukan hal besar, tetap saja ini cukup mengherankan.


"Syukurlah."


Mereka berkumpul di ruang tengah.


"Nggak ngerepotin apaan? Seharian makan melulu, belanjaan Kak Galang yang kemarin habis sehari. Terus order online setiap beberapa jam. Belum lagi cucian numpuk." celetuk Amara.


"Neng?" Galang menghentikan ocehan istrinya.


"Apa?"


"Nggak kok, cuma sedikit. Cuciannya aku bersihin terus aku rapihin lagi ke rak." Anandita menyahut setelah mendengar pengaduan kakaknya.


"Ar?"


"Aku juga bantu beresin apartemen tadi sama Aksa. Bukan cuma makan doang kayak Asha." jawab Arkhan yang melirik adik bungsunya.


"Asha?" Arfan merangkul pundak gadis kecil itu yang sibuk dengan makanan yang dibelinya dari mini market yang mereka lewati dalam perjalanan pulang.


Tepatnya, dia yang merengek kepada Galang untuk membelikannya makanan-makanan itu, dan tak ada yang pria itu lakukan selain menuruti keinginannya.


"Aku juga bantuin." katanya yang sedang mengunyah coklat kesukaannya.


"Apaan? Makan terus iya." Arkhan sambil tertawa.


"Nggak ih! Kakak nggak lihat apa, aku yang buangin bekas makan kita ke tong sampah?" protes Asha dengan mulut penuh makanan sehingga pipinya terlihat menggembung.


"Bekas makan kamu kali. Makan kita kan nggak sebanyak kamu?" ucap Arkhan lagi.


"Papa! Kak Ar dari kemarin bilang gitu terus sama aku! Padahal nggak!" Asha mulai merengek.


"Alah, ngadu? Coklatnya habisin dulu, baru mewek!"


"Ar?" Arfan bereaksi.


Sang putra hanya tertawa.


"Kalian sudah datang? Ayo kita makan, semuanya sudah siap!" Dygta muncul dari ruang makan.


Dan keluarga itu pun pindah ke tempat di mana berbagai makanan sudah tertata rapi, dan suasana hangat segera tercipta.


"Kakak …." Amara menarik ujung kaus Galang. Mereka sudah mulai makan namun dirinya merasa tak berselara.


"Ya?" Pria itu menoleh. "Makannya susah? Mau aku suapi lagi?" tawar Galang.


"Bukan."


"Terus kenapa?"


"Ini, bawang bombaynya aku nggak suka. Bau." Amara menatap sapi lada hitam di piringnya.


"Apa?"


"Bawangnya, Kakak ambil."


"Biarkan saja di pinggir lah."


"Nggak mau, penampakannya bikin mual."


"Umm …"


"Kakak ambil!"


Galang menuruti perkataannya.


"Dagingnya juga, aku nggak suka!" bisik Amara setelah beberapa suapan.


"Kenapa sih? Biasanya kamu apa saja dimakan?" Galang kembali mengambil makanan di piring istrinya, untuk kemudian dia pindahkan kepiring miliknya.


Perempuan itu tak menjawab, dia sesekali melirik ke arah orang tuanya yang mulai curiga.


"Galang, makanannya masih banyak, kenapa mengambil punya Ara?" Dygta bereaksi, menyimak percakapan anak dan menantunya yang setengah berbisik-bisik.


"Eee … tidak apa-apa Mom, hanya …."


"Kakak, aku mau sayurannya!" Amara mengalihkan topik pembicaraan, menghindarkan siapa pun untuk bertanya-tanya.


Pria itu kembali melakukan apa yang dia katakan.


"Sekarang apa? Paprikanya kamu tidak mau?" tanya Galang saat dia melanjutkan kegiatan makannya.


"Jangan, paprikanya aku suka. Soalnya warna-warni." Amara terkekeh, kemudian makan dengan lahap.


Arfan dan Dygta saling pandang.


"Kakak, aku nggak suka air dingin. Maunya air panas." ucap Amara disela kegiatan makannya.


"Sebentar." Galang beranjak untuk mengambilkan air panas dari dispenser tak jauh dari meja makan.


"Kakak, makannya udah. Aku kenyang." katanya lagi, padahal Amara baru saja memakan dua sendok paprika dari sapi lada hitam di piringnya. Nasi dan lauk lainnya bahkan belum dia sentuh sama sekali.


"Nasinya belum kamu makan Neng?"

__ADS_1


"Udah kenyang."


"Baru sedikit."


"Kalau banyak-banyak aku mual, nanti muntah lagi." jawabnya, dan itu membuat semua orang tertegun. Kecuali Asha yang selalu makan dengan bersemangat.


"Apa kamu baik-baik saja? Apa kamu sedang sakit?" Arfan tidak tahan untuk tidak bertanya. Sikap putri sulungnya itu hari ini tampak aneh.


"Nggak, cuma lagi nggak enak makan aja." Amara menjawab.


"Seharian ini Kakak nggak enak makan melulu? Padahal belum makan apa-apa dari pagi?" Asha mengunyah makanannya dengan cepat.


"Masa?" Dygta mengalihkan perhatian sejenak.


"Nggak ih, aku makan kok. Nih, aku makan." Perempuan itu melahap makanan di piringnya.


"Hu'um. Cuma minum air panas doang. Pas tadi pagi Kak Ann order makanan juga gitu. Nggak ada yang dimakan. Paling cuma jus stroberry aja, makanannya nggak."


"Order?" Arfan menyela.


"Iya, Kak Galang sama Kak Ar pergi, jadi nggak ada yang masak. Ya udah order aja."


"Eee …." Wajah Arfan dan Galang memucat.


"Cuma berdua? Pergi ke mana?" Dygta bertanya.


"Main."


"Jogging." Galang dan Arkhan bersamaan.


"Main? Jogging?" Arfan mencondongkan tubuhnya.


"Maksudnya … main sambil jogging Pah." Arkhan menjawab.


"Main kali? Kalau jogging nggak mungkin. Masa jogging pakai celana jeans sama bawa helm?" Asha seperti biasa, berbicara tanpa henti.


"Apa?"


"Nggak Pah, maksudnya … itu …."


Percakapan pun terjeda ketika Amara tiba-tiba saja mengalami muntah. Dia menutup mulutnya untuk menahan, namun malah membuatnya tersiksa.


"Kenapa dia?" Arfan bangkit.


Galang segera membawanya ke kamar mandi dan membiarkannya mengeluarkan isi perutnya di sana.


"Kenapa sih muntah jam segini? Ini kan bukan pagi?" keluh pria itu seraya mengusap-usap punggung Amara.


Hal itu tentu saja membuat semua orang panik. Terutama kedua orang tuanya yang masih belum mengerti dengan keadaannya.


"Nggak apa-apa, nggak apa-apa. Aku cuma masuk angin." ucap Amara setelah muntahnya reda.


Dygta memberinya air hangat yang segera diteguknya hingga hampir habis.


"Mungkin kamu sakit, Kak?" ujar perempuan itu yang memeriksa keadaannya.


"Kakak, aku mau pulang." Amara menatap wajah sang suami untuk memberi isyarat. Setelah ini kedua orang tuanya pasti akan banyak bertanya, dan sepertinya tidak akan baik.


"Umm …."


"Tunggu, duduk dulu. Acara makan kita bahkan belum selesai?" sergah Arfan yang datang mendekat.


"Tapi aku mau pulang." ucap Amara lagi, dan dia tetap menatap wajah suaminya.


"Mm … baiklah, kalau begitu … ayo kita …." Baru saja dia berniat membawanya kembali ke kursi roda, namun Amara tiba-tiba saja terhuyung lalu jatuh tak sadarkan diri dalam pelukannya.


***


"Kenapa dia Galang??" Mereka membawanya ke lantai dua. 


Merebahkan tubuh Amara yang terkulai lemas, masih belum tersadar dari pingsannya.


"Kenapa? Apa ada yang kami tidak tahu?" Arfan bertanya kepada menantunya.


"Ti-tidak Pak, hanya …."


"Sayang, panggil dokter!" Pria itu beralih kepada Dygta.


"Tidak usah Pak, Ara tidak apa-apa." Galang berujar.


"Tidak apa-apa katamu? Putriku muntah dan pingsan, dan kau bilang tidak apa-apa?" Arfan merangsek kemudian mencengkram pakaian menantunya.


"Eee … ya, Ara hanya …."


"Cepat panggil dokter!" Pria itu berteriak.


***


"Kakak!" Amara terjaga setelah Dygta berusaha membuatnya terbangun. 


Galang segera mendekatinya bersamaan dengan kedatangan dokter Syahril ke tempat itu. Yang segera memeriksanya seperti yang Arfan perintahkan.


Semua orang terdiam dan menunggunya melakukan pemeriksaan sementara Amara dan Galang tidak bisa berbuat apa-apa. Sudah pasti rahasia mereka hari ini akan terbongkar dan keduanya tak memiliki cara untuk menghindar.


"Apa … kalian sudah melakukan pemeriksaan baru-baru ini?" Dokter Syahril melepaskan stetoskop dari telinganya setelah melakukan pemeriksaan.


Dua orang yang dimaksud belum menjawab.


"Sudah?" Pria itu bertanya lagi.


"Su-sudah." Namun akhirnya Galang menjawab, meski Amara sempat menahannya.


"Dan hasilnya?" lanjut Dokter Syahril sambil menahan senyum. Dia tahu ada sesuatu dengan pasangan ini.


"Mm … itu …." Galang dan Amara saling pandang. 


Mereka ragu, apakah ini hal yang tepat untuk dilakukan sekarang? Tapi jika tidak segera diutarakan juga akan menyebabkan kecurigaan diatara kedua orang tua. Terlebih, memang tak ada cara lain untuk menghindar.


"Ada apa ini? Bisakah kamu menjelaskan?" Arfan kepada Dokter Syahril.


"Saya bisa saja menjelaskan Pak, tapi sepertinya Galang lebih berhak untuk menyampaikannya kepada Bapak dan Ibu?"


"Apa maksudmu?"


Mereka kemudian menatap Galang lekat-lekat, terutama Arfan.


"Eee …." Pasangan ini saling berpegangan tangan. Mereka seolah tengah bersiap untuk menghadapi penghakiman.


"Ada apa Galang?" Arfan sedikit menggeram. Dia mengira sesuatu yang buruk terjadi kepada putrinya.


"Tidak ada Pak, hanya …." Galang menelan ludahnya keras-keras.


"Katakan ada apa!" Sang mertua hampir berteriak.


"Tidak ada Pak, Ara hanya sedang hamil!" Dan akhirnya kalimat itu keluar juga dari mulutnya.


"Apa?"

__ADS_1


"Hamil?" Dygta pun kembali mendekat.


"Ya, Ara hamil. Itu sebabnya dia tidak terlalu bersemangat, selera makannya hilang dan muntah-muntah!" Pria itu menjelaskan.


"Apa katamu?"


"Ara sedang hamil." ucap Galang lagi dan dia sedang bersiap untuk menerima kemarahan mertuanya kalau-kalau itu terjadi.


Semua orang terdiam terlebih Arfan. Dia menatap anak dan menantunya secara bergantian.


"Kalian … kamu … benar hamil?" Arfan menatap putrinya seakan tidak percaya.


Dan Amara mengangguk dengan takut-takut. Dia tahu ayahnya akan bereaksi jika tahu mengenai masalah ini.


"Ohh … kamu hamil! Kalian akan punya anak?" Pria itu meraup kepala putrinya, lalu menyentuh perutnya.


"Papa akan jadi kakek?" Dia kemudian memegang kedua bahu sang anak dan menatap wajahnya yang pucat.


"Eee … kayaknya gitu …." 


"Oh, … anakku! Kamu akan jadi ibu!" ucap Arfan yang menarik Amara dalam pelukan.


Reaksi yang tidak terduga, tetapi sepertinya cukup bagus? Pria itu tidak meradang dan tidak marah seperti yang sudah diperkirakan. Dan hal tersebut membuat Galang bisa bernapas lega. Hal yang dia takutkan nyatanya hanya perkiraan saja.


"Umm … Papa nggak apa-apa?" Amara pun sama terkejutnya.


"Memangnya kenapa?" Sang ayah menarik diri.


"Aku … hamil."


"Ya, lalu?"


"Sebentar lagi punya anak."


"Memangnya kenapa? Bukankah umumnya orang menikah begitu?"


"Ng … nggak marah?"


"Kenapa harus marah?"


"Karena aku hamilnya sekarang?"


"Memangnya kenapa kalau hamilnya sekarang?"


"Akunya masih begini?"


"Terus?"


"Papa nggak marah? Hehe …." Amara terkekeh, dia pun merasa lega.


"Tidak, memangnya …."


"Yang penting Papa nggak marah!" Amara kembali memeluk sang ayah.


Dygta merangkul putri sambungnya, begitu juga dia mengusap punggung Galang. 


"Selamat!" katanya, dan semua orang merasa lega. Apalagi dua tersangka utamanya.


"Kalian sudah memeriksakannya?" Arfan kemudian bertanya.


"Seperti yang Dokter Syahril katakan, sudah." Galang melirik dokter itu yang bersiap untuk pulang.


"Kapan? Kenapa kami tidak tahu?"


"Hanya … mau memberikan kejutan. Hehe …." Galang tertawa pelan. Dia merasa senang karena ayah mertuanya mulai bersikap ramah kepadanya.


"Ya, kamu berhasil membuat Papa terkejut!" Arfan juga menepuk punggung menantunya.


Ohh … anak-anakku! Bagus sekali kalian membuat kakek menjadi baik! Batinnya, dengan hati riang. Tembok beku ini ternyata bisa dia robohkan hanya dengan memberikannya cucu.


"Ya, hehe …." Dan Galang hanya tertawa.


"Bagus sekali Nak! Jangan lupa beritahu juga orang tuamu, mereka juga pasti aka senang mendengarnya." ucap Arfan lagi dengan wajah yang sumringah.


"Ya Pak." Galang mengangguk-anggukkan kepala.


"Ngomong-ngomong, berapa minggu usianya? Sudah USG?" Arfan bertanya lagi.


"Sudah Pak, sudah. Kalau dihitung sampai minggu ini mungkin mereka sudah enam minggu." jawab Galang.


"Mereka?" Dygta bergumam.


"Ya, mereka. Bayinya ada dua." Galang dengan bangganya.


"Kembar?" Dygta kembali berbicara.


"Iya Mom, bayinya kembar."


"Aaaahh … Kamu hebat sekali!!" Reaksi Dygta tentu saja menjadi hal yang paling menyenangkan untuk dilihat.


"Berapa minggu katamu tadi?" Arfan kembali bertanya. 


"Enam." Galang menjawab lagi.


"Enam minggu?"


"Ya, enam minggu. Itu berarti satu bulan setengah? Ya, satu bulan setengah."


Arfan terdiam dengan kening berkerut tajam. Kedua alisnya bahkan terlihat saling bertautan saking kerasnya dia berpikir.


"Itu berarti …." Dia mengingat-ingat berapa lama mereka menikah dan keadaannya bagaimana.


Kemudian matanya membulat saat dia mengingat sesuatu.


"Tak lama setelah kalian pindah ke NMC?"


"Eeee …."


"Dan Ara masih benar-benar sakit waktu itu?" Pria itu setengah berteriak.


"Umm …."


"Galang! Kamu keterlaluan kepada putriku!" Arfan kembali merangsek dan dia hampir meraih Galang, jika saja sang menantu tidak sigap meloncat ke belakang Amara.


"Papa!!"


"Ke sini kamu!! Dia masih sakit waktu itu!!"


"Ampun Pak! Saya tidak sengaja!!" Galang bersembunyi di balik punggung istrinya, sementara yang lain malah tertawa.


🌺


🌺


🌺


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2