
🌺
🌺
Galang tiba-tiba saja menghentikan laju motornya setelah melewati sebuah Pajero yang berhenti di pinggir jalanan yang padat pada jam pulang kerja di sore hari.
Dari kaca spionnya dia melihat seseorang yang dikenal berada dibalik kemudi yang tampak tidak baik-baik saja.
Pria itu menoleh sambil membuka kaca helmnya, dan benar saja, Clarra tampak menempelkan belakang kepalanya pada sandaran, seraya memejamkan mata. Yang kemudian membuatnya memutuskan untuk kembali menghampirinya.
"Apa kamu baik-baik saja?" sapanya ketika jaraknya sudah dekat dengan mobil.
Clarra tak merespon, dia tetap memejamkan mata dengan kening menjengit sehingga kedua alisnya tampak saling bersahutan. Keringat bahkan tampak mengucur di dahinya.
"Clarra?" Galang mengetuk kaca mobilnya yang tertutup rapat.
Perempuan itu bergeming, namun kerutan di dahinya menjadi semakin dalam.
"Cla?" Galang mengetuk lebih keras.
Clarra akhirnya membuka mata, dan dia tampak mengatur napasnya beberapa kali.
"Ada apa?" Galang mendekatkan wajahnya ke kaca, dan dia melihat perempuan itu yang tengah memegangi perutnya dengan raut kesakitan.
"Cla, buka pintunya. Aku mau melihat keadaanmu!" ujar pria itu yang terus mengetuk kaca jendela.
Clarra masih terdiam.
"Ayo Cla, buka pintunya!" ucap Galang lagi.
Tak ada pilihan lain. Clarra melakukan apa yang pria itu katakan sambil menahan rasa sakit yang hebat di sekitar perutnya.
"Kamu kenapa?" Galang segera menarik pintu dan memeriksa keadaan.
"Aku hanya ...." wajah Clarra tampak memucat.
"Kamu sakit?"
"Sepertinya asam lambungku kambuh." jawab Clarra.
"Apa?"
"Obatku habis, aku lupa ...." kemudian dia merintih.
Galang tertegun untuk beberapa saat.
"Pindahlah ke samping." katanya setelah berpikir.
Clarra tak langsung menurut, namun dia malah menatap pria yang selalu datang di saat yang tidak terduga itu.
"Pindah Cla, aku yang bawa mobilnya." Galang mengulangi ucapannya.
Lagi-lagi Clarra tak punya pilihan. Dengan terpaksa dia berpindah ke kursi penumpang di samping setelah Galang membantunya untuk bangkit. Kemudian dia menjalankan mobil tersebut setelah memanggil seseorang untuk mengurus motornya yang akan dia tinggalkan.
***
"Asam lambungmu sudah parah Cla." Pria berjas putih itu memeriksa keadaannya.
Tanpa pikir panjang Galang segera membawanya ke rumah sakit karena Clarra terus merintih kesakitan. Apalagi ketika dia tiba-tiba mengalami sesak napas.
"Sudah saya katakan makan teratur dan minum obatnya." ucap dokter.
"Saya lupa dokter."
"Pasti karena sangat sibuk bekerja?"
__ADS_1
"Begitulah."
"Lain kali jangan lagi. Terlambat sedikit saja, bisa bahaya." Dokter memperingatkan.
"Sudah menelfon pak Fahmi?" Dokter beralih kepada Galang yang sejak tadi berdiri di dekat ranjang pemriksaan. Menyimak percakapan tersebut dalam diam.
"Sudah. Mungkin sebentar lagi beliau datang." Galang menjawab.
"Baiklah, kalau begitu biarkan dia istirahat saja sambil menunggu."
Galang menganggukkan kepala.
"Jangan dulu melepaskan oksigennya ya? setidaknya sampai satu jam ke depan. Saya juga sudah menyuntikkan obat, mudah-mudahan sakitnya reda." ucap Dokter yang kemudian pamit setelahnya.
Galang menatap Clarra yang tampak lemah. Wajahnya pucat dengan masker oksigen yang dia kenakan. Sesak napasnya cukup parah sehingga dia harus menggunakan alat tersebut.
Dia mendekat seraya membuka mulutnya untuk berbicara, namun Clarra segera menghentikannya.
"Jangan tanya apa pun, jangan bicara apa pun. Karena aku tidak mau mengatakan apa pun." ucap perempuan itu, dengan tegas seperti biasa. Keadaannya yang seperti itu bahkan tidak meruntuhkan ketegasannya.
Galang menghela napas pelan, dan dia mengurungkan niatnya. Menghindari perdebatan yang mungkin akan terjadi setelahnya.
"Clarra?" Pintu terbuka diikuti suara perempuan memanggil.
Dua orang di dalam menoleh bersamaan.
Vita dan Fahmi menghambur ke dalam, kemudian memeriksa keadaa putri mereka.
"Kamu baik-baik saja? Apa yang terjadi?" Vita memeluknya dengan erat. Tampak sekali dia begitu khawatir.
Sementara Galang mundur untuk memberikan ruang kepada dua orang paruh baya tersebut.
"Nggak apa-apa Ma."
"Sudah ada yang datang? Siapa yang menangani?" Fahmi melakukan hal yang sama.
"Dokter Syahril."
"Apa yang dikatakan dokter?" Vita menoleh kepada Galang yang terdiam di ujung tanjang.
Pria itu mendongak dengan sedikit rasa terkejut
"Umm ...."
"Apa keadaannya parah sehingga dia harus dibawa kesini?" tanya Vita lagi.
"Asam lambungnya kambuh, dan dokter bilang sudah sangat parah?" Galang menjawab.
"Clarra! Kamu pasti lupa meminum obatnya lagi?" Vita kembali beralih kepada putrinya.
"Makanmu tidak teratur lagi?"
Perempuan itu tak menjawab.
"Sudah Mama katakan jangan sampai lupa!"
"Aku tahu, maaf."
"Oh, kamu membuat kami khawatir!"
"Maaf."
***
"Pulanglah, Clarra sudah tidak apa-apa." Vita keluar dari ruang rawat dan mendapati Galang yang masih berada di kursi tunggu.
__ADS_1
"Apa dia akan dirawat?"
"Sepertinya untuk malam ini, ya."
"Terima kasih." ucap Vita kepada pria itu.
"Maaf sudah merepotkan."
Galang menggelengkan kepala. "Tidak apa-apa Bu. Kebetulan saya lewat."
"Ya, beruntung kamu lewat, kalau tidak ...." Perempuan paruh baya itu menghela napasnya dalam-dalam.
"Apa Clarra sudah lama sakit seperti ini?" Galang memutuskan untuk bertanya.
Beberapa saat berada di sana dan menyimak percakapan membuatnya merasa penasaran dengan keadaan seniornya itu.
"Seja kelas tiga SMA. Awal kuliah malah lebih parah, dia sampai mengalami anxiety dan gerd."
"Apa itu?"
"Hal yang lebih parah dari asam lambung itu sendiri."
"Kenapa bisa begitu?"
"Dia sempat mengalami depresi."
"Depresi?"
Vita menganggukkan kepala.
"Kami benar-benar berjuang untuk memulihkannya. Dan tujuh tahun ini berhasil, tapi kebiasaannya yang selalu bekerja terlalu keras membuat dia sering lupa dengan keadaannya sendiri. Dan kejadian ini pasti karena dia lupa makan dan meminum obatnya?"
Galang teringat kejadian tadi siang di kantin ketika perempuan itu pergi sebelum meyentuh makanannya.
"Tadi siang dia memag tidak makan. Tapi masa hanya begitu saja membuat penyakitnya kambuh?"
"Sebenarnya banyak faktor, dan kita tidak tahu mana yang menyebabkannya mengalami hal ini. Dia sangat tertutup."
"Lalu apa yang harus di lakukan? Apa dia butuh perawatan?"
"Tidak ada, hanya di tangani seperti ini nanti dia akan pulih sendiri. Selebihnya, kebiasaannya saja yang harus dirubah."
Galang mengangguk-anggukkan kepala.
"Sekarang pulanglah, kamu pasti kelelahan." ucap Vita lagi.
"Tidak apa-apa, hanya sedikit bantuan."
"Tetap saja kamu sudah menyelamatkan anak kami. Sekarang pulanglah, besok harus bekerja bukan? Dan saya yakin pekerjaanmu akan menjadi lebih banyak karena sepertinya Clarra tidak akn bekerja setidaknya dua hari saja."
"Jangan khawatirkan soal itu, saya akan mengurus pekerjaannya."
"Baik, terima kasih sekali lagi."
"Ya Bu." ucap Galang, yang kemudian pergi setelah melihat keadaan Clarra yang ternyata sudah terlelap dalam penjagaan Fahmi.
🌺
🌺
🌺
Bersambung ....
semoga hari ini lancar lagi, biar bisa crazy up terus.
__ADS_1
like komen hadiahnya masih terus ditunggu ya.
lope lope sekebon 😘😘