My Only One

My Only One
Amara's Love


__ADS_3

🌺


🌺


"Kamu yakin mau jalan pagi?" Clarra menenteng sepatu olah raganya, kemudian duduk di kursi untuk mengenakannya.


"Iya." jawab Galang.


Pagi-pagi sekali pria itu sudah datang ke kediaman Dokter Fahmi dan cukup mengejutkan penghuni rumah besar tersebut.


"Kamu bilang kakinya masih sakit?"


"Sedikit. Tapi kalau di diamkan tidak bagus juga."


Clarra menatapnya sebentar.


"Ya sudah kalau tidak mau ikut, aku pergi sendiri saja." Galang bangkit.


"Eh, … padahal aku nggak bilang apa-apa." Clarra menahannya. "Tunggulah! Dasar tukang ngambek!"


"Ma, Pah, kami pergi."  Clarra berpamitan kepada kedua orang tuanya, setelah itu mereka pergi.


"Mereka itu serius ya?" Vita dan Fahmi berdiri di teras menatap kepergian putrinya bersama Galang.


"Mereka kan bukan anak remaja." sahut Fahmi.


"Aku hanya tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya nanti."


"Apa yang kamu bayangkan?"


Vita terdiam sebentar.


"Entahlah. Apa yang dilakukannya ini benar, atau hanya mengikuti emosi semata."


"Kamu meragukan anakmu?"


Vita menatap suaminya.


"Aku hanya mempertanyakan perasaannya. Kita sama-sama tahu jika Clarra mencintai Syahril sejak lama. Bahkan sebelum dia mengenal Nisa dan menikahinya. Kemudian sempat berhubungan beberapa tahun setelah Nisa meninggal. Apalagi selama itu dia dekat sekali dengan Syahnaz."


"Lalu masalahnya di mana?"


"Aku khawatir ini hanya sekedar pengalihan semata. Kita juga sama-sama tahu bagaimana keadaannya selama ini."


Kini Fahmi yang terdiam.


"Tapi aku melihat Clarra lebih baik sekarang. Dia tidak lagi semurung biasanya. Sepertinya kehadiran Galang berpengaruh cukup baik kepadanya."


"Hmm … memang."


"Lantas apa yang kamu khawatirkan? Bagiku, apa pun yang dia jalani, selama itu membuatnya bahagia, maka biarkanlah. Selama ini dia melalui hari-hari yang berat. Dan aku lebih merasa sedih dengan itu dari pada melihat apa yang dia jalani kini. Terlepas dari apa pun yang tengah dia lakukan. Selama dia tak membahayakan dirinya, maka biarkanlah saja begitu."


Vita menghembuskan napasnya pelan.


"Sudahlah, tidak usah memikirkan hal buruk. Berdoa saja anakmu baik-baik saja." Fahmi menepuk pundak istrinya pelan-pelan.


🌺


🌺


Amara's Love sudah mulai ramai pada menjelang siang itu. Tidak disangka pengunjung sudah mulai mendatangi kedai tersebut sejak menit pertama dibuka, dan semua orang segera menempati kursi yang tersedia.


Semua pegawai tidak terkecuali si empunya kedai yang merangkap sebagai koki pun sudah disibukkan oleh banyaknya pesanan.


Beruntung, mereka sudah mempersiapkan segalanya sejak semalam, sehingga tidak terlalu merepotkan di pagi hari.


"Hampir semuanya paket sarapan Kak." Raka menyerahkan beberapa kertas bertuliskan pesanan pengunjung. 

__ADS_1


"Nania, apa stok masih ada?" Amara yang terampil mengolah bahan makanan yang sudah ditakar dan diatur sedemikian rupa. 


"Aman sampai siang Kak."


"Baik." Dan area masak pun terus disibukkan oleh kegiatan mengolah makanan pesanan dari pelanggan.


Tiga orang pegawai di depan hilir mudik mengantar pesanan ke meja pengunjung. Nania bahkan harus keluar dari posnya untuk membantu rekan-rekannya setelah dia selesai menata makanan olahan Amara.


"Ayam geprek dan es boba untuk meja delapan." Ardi kembali dengan kertas pesanan di tangan.


Amara menjeda pekerjaannya kemudian menoleh.


"Ayam geprek sama es boba?" dia membeo.


"Ya, untuk meja delapan."


"Siapa yang pesan.?" Gadis itu teringat seseorang.


"Nggak tahu." Ardi menggendikkan bahu.


"Laki-laki atau perempuan?" Dia kemudian bertanya.


"Laki-laki."


"Sendiri?"


"Berdua."


Gadis itu menelan ludahnya dengan susah payah. Dia mulai menerka-nerka, mungkinkah Galang datang berkunjung? Kalau iya bagaimana?


Meskipun tidak ada salahnya juga pria itu datang, tapi tetap saja masih membuatnya merasa was- was, entah mengapa.


"Nania, kamu bikin es bobanya, dan aku yang bikin ayam gepreknya." ucapnya kemudian.


"Iya Kak." Lalu mereka mengolah makanan yang ada dalam antrian pesanan tersebut.


Aku nggak berusaha mendekat lho, hanya sedang berusaha melakukan apa yang ingin aku lakukan. Dan itu nggak ada hubungannya denganmu.


Batinnya terus bermonolog sepanjang ia menyelesaikan pekerjaannya.


"Ayamnya Kak!" Nania mengingatkan.


"Hum?"


Sang pegawai segera mengangkat satu potong ayam goreng yang sudah matang dari minyak panas, kemudian matikan kompornya.


"Hampir gosong!" katanya, yang menatap makanan tersebut yang sudah menguning.


"Sambelnya ada?" Nania meletakan benda tersebut diatas talenan, kemudian menggepreknya dengan ulekan seperti yang dia lihat dilakukan oleh Amara.


"Um, … yang tadi saja. Aku bikinnya banyak. Itu nggak terlalu pedas juga, nanti dia sakit perut kalau terlalu pedas. Soalnya kan …." Amara menggantung kata-katanya, sementara dua pegawainya menyimak apa yang dia ucapkan dalam diam.


"Es bobanya udah?" Amara mengalihkan perhatian.


"Udah, siap antar." Nania menunjuk gelas besar berisi minuman manis dengan butiran boba kenyal di dalamnya.


"Oh, … ya udah." Tiba-tiba saja dia jadi salah tingkah.


"Oke, selanjutnya." Nania menyerahkan piring berisi nasi putih panas dengan lauk ayam bertabur sambal itu kepada Ardi yang kemudian segera dia antar kepada pengunjung.


"Paket keluarga untuk dua meja." Raka tiba beberapa saat kemudian.


Nania menerima kertas pesanan, lalu menyerahkannya kepada Amara. Namun tak segera gadis itu terima karena dia tampak melamun.


"Kak!" Panggilan sang pegawai membuyarkan lamunannya.


"I-iya?" Amara tergagap.

__ADS_1


"Dua paket keluarga." ucap Nania seraya menunjukkan kertas di tangannya.


"Oh, baik." Dan Amara pun segera mengerjakan bagiannya.


Namun pikirannya masih tertuju kepada pria yang memesan makanan tadi. Membuat fokusnya tiba-tiba buyar seketika. Dia tak tahu apa yang harus dilakukan, dan berusaha dengan keras untuk mengingat apa saja yang harus di siapkan.


"Astaga, ada apa ini?" Amara mengusap dahinya yang berkeringat. Tiba-tiba saja dia merasa gugup.


Lalu dia berhenti sebentar. Menarik napas dan menghembuskannya pelan-pelan untuk mengembalikan fokusnya yang sempat buyar.


Tidak apa-apa Ara, itu hanya Kak Galang. Dia hanya berkunjung untuk makan, kemudian pergi. Dia nggak akan peduli kepadamu. 


Dunianya sudah berbeda dan kamu tidak lagi ada di dalamnya. Dan itu juga yang harus kamu lakukan. Menyingkirkan dia dari pikiranmu agar semuanya tenang.


Dia berbicara kepada dirinya sendiri.


Lalu Amara mengulangi menarik napas dan menghembuskannya untuk beberapa kali. Hanya agar membuat hati dan pikirannya tenang kembali. Kemudian dia menoleh ke arah pantry untuk mengintip. Melihat keadaan di depan sana yang cukup ramai.


Dia mencari letak meja nomor delapan di mana si pemesan dari makanan yang dibuatnya tadi berada.


Disana memang duduk seorang pria, tapi penampilannya tidak Amara kenal. Apalagi dilihat dari gayanya, pria yang usianya sepertinya jauh lebih tua dari pada Galang.


"Nania?"


"Ya Kak?"


"Meja nomor delapan itu di mana sih aku lupa?" Amara mengerutkan dahi.


"Tuh, di depan kita. Yang ada bapak-bapak lagi makan ayam geprek yang Kakak bikin barusan."


Amara tertegun.


"Es bobanya?" Dia kembali melihat ke arah sana.


"Kayaknya buat anaknya deh?" Nania menunjuk anak kecil di dekat pria tersebut.


"Oh." Amata melongo.


"Emangnya kenapa?"


"Umm …."


"Nggak biasanya kakak tanya soal meja." sang pegawai tertawa.


"Ng … nggak. Cuma tanya. Hahaha." Amara pun akhirnya tertawa.


Dia menepuk kepalanya sendiri, tidak percaya bisa bersikap konyol dengan memikirkan hal seperti itu.


"Kerjaan Kakak udah belum? Punyaku hampir selesai lho." tanya Nania kemudian.


"Iya, ini lagi di kerjain." Amara kembali pada pekerjaannya.


"Ya udah, kita beresin sekarang biar nggak kena komplain lagi."


"Oke."


Amara sempat tertawa pelan sebelum akhirnya dia menyelesaikan pekerjaannya.


Nggak mungkin kayak gitu Ara! Memangnya kamu ini siapa? Merasa sepenting itu sehingga seorang laki-laki mampu berbuat begitu untukmu? Jangan kepedean! Gumamnya dalam hati.


🌺


🌺


🌺


Bersambung ....

__ADS_1


masih ingat aja? 🙉


__ADS_2