
🌺
🌺
Arfan tertawa sambil meletakkan ponselnya nakas. Lalu dia membenahi letak bantal di belakang tubuhnya.
"Apa yang kamu tertawakan?" Dygta naik ke tempat tidur setelah memastikan anak-anaknya terlelap selepas aktifitas mereka yang padat pada akhir minggu itu.
"Anak-anak muda ini sepertinya sedang menyelami hati mereka masing-masing. Tapi malah membuat keputusan yang mereka sesali pada akhirnya." Pria itu berujar.
"Kamu mengawasi mereka?"
"Memangnya kamu pikir aku akan membiarkan putriku diluar sendirian tanpa pengawasan? Tidak mungkin."
"Iya, maksudku … selain Ara."
"Tentu saja. Siapa pun yang dekat dengan Ara tidak akan luput dari pengawasanku."
"Termasuk Galang?"
"Mm …."
"Jangan katakan kalau kamu juga mengawasi dia."
"Memangnya kenapa?"
"Sudah tidak ada hubungannya dengan Ara."
"Siapa bilang?"
"Memangnya mereka masih berhubungan?"
"Tidak juga."
"Lantas kenapa juga kamu mengawasi Galang?"
"Karena dia masih saja ada di sekitar Ara. Ya jelas ketahuan kalau sedang mengawasinya juga."
"Masa? Dia suka datang ke kedainya Ara?"
"Tidak secara langsung."
Dygta mengerutkan dahi.
"Kamu tidak tahu bagaimana laki-laki."
"Maksudmu?"
Arfan hanya terkekeh.
"Apa?"
"Tidak, cepat tidur. Besok kesiangan." Pria itu merebahkan tubuhnya.
"Besok libur. Lagi pula aku tidak kemana-mana."
“Tidak mau ikut aku ke Bogor ya?”
“Mau apa? Aku malas lah, capek. Dan sedang tidak ingin pergi ke mana-mana.” Dygta hampir saja memejamkan matanya.
“Benar?”
“Iya, lagi pula Mama dan Pami meminta anak-anak untuk berkunjung besok.”
“Oh ya? Memangnya ada acara apa?”
“Tidak tahu, katanya hanya mau berkumpul dengan semua cucunya.”
“Bukan cuma anak-anak kita?”
“Tentu saja. Anya dan Zenya juga pasti ada.”
"Bukanya mwreka memang selalu ada di sana ya?"
"Ah iya, aku lupa kalau mereka sudah seperi penghuni tetap rumahnya Papi." Dygta tertawa.
“Ya sudah, sementara anak-anak di rumah orang tuamu, kita pergi ke Bogor berdua.”
“Hum?” Dygta mendongak.
“Sepertinya kita sudah jarang pergi berdua. Ke mana-mana pasti selalu membawa anak-anak.” Arfan berujar,
“Terus nanti mereka menginap di rumah Papi begitu?”
Pria itu menganggukkan kepala. Dia kemudian tersenyum sambil menggerakkan kedua alisnya keatas dan ke bawah.
“Kamu sedang merencanakan sesuatu?” Dygta memicingkan mata.
“Sebut saja begitu.” Arfan mengulurkan tangannya untuk meraih pinggang perempuan itu dan menariknya sehingga tubuh mereka merapat.
__ADS_1
“Jangan macam-macam Papa!” Dygta tertawa.
“Tidak, hanya satu macam.” Arfan pun ikut tertawa.
“Jadi … itu seperti bulan madu untuk ke sekian kalinya?” Tangan Dygta merayap untuk menyentuh leher suaminya.
“Bisa juga disebut begitu.” Arfan tersenyum.
“Kamu ini ada-ada saja?”
“Tapi bagus kan?” Pria itu mendekatkan wajahnya.
“Tapi tunggu,” ucap Dygta yang menahan dadanya.
“Apa lagi?”
“Apa anak-anak akan bersedia kalau kita tinggalkan?”
“Mereka itu sudah besar Sayang, pasti tidak apa-apa. Lagipula anak-anak selalu betah dirumah orang tuamu.”
“Tahu sendiri kalau aku tidak terbiasa pergi tanpa mereka?”
Arfan memutar bola matanya.
“Tapi kamu terbiasa aku tinggalkan ya?”
“Eeee … maksudnya tidak begitu.” Dygta tertawa.
Kali ini dia harus memberikan jawaban yang tepat agar suaminya tak merasa gusar. Karena akan sangat berbahaya sekali jika pria di sampingnya ini merasa tidak senang.
“Hmm … baiklah, aku besok pergi sendiri. Lagipula disana juga banyak yang harus aku kerjakan.” Arfan menarik tangannya, kemudian mematikan lampu tidur di atas nakas.
Pria itu kemudian meletakkan tangan diatas wajahnya yang matanya mulai terpejam.
“Eh? Tidak jadi mengajakku pergi ya?” Dygta sedikit bangkit dan mencondongkan tubuhnya ke arah suamiya.
Arfan tak menjawab.
“Sayang?”
“Hmm ….” Pria itu hanya menggumam.
“Kamu mau pergi sendiri?”
“Ya.”
“Bukankah kamu yang tidak mau ikut?”
“Aku tidak bilang begitu.”
“Tadi kamu bilang begitu.”
“Tidak, aku hanya mengatakan jika aku tidak terbiasa pergi tanpa anak-anak.”
“Ya sudah, tidak usah ikut kalau begitu.” Arfan memiringkan tubuhnya ke arah lain sehingga dia memunggungi Dygta.
“Sayang?” Perempuan itu lebih mencondongkan tubuhnya.
“Hmm ….”
“Baiklah.”
“Apa?”
“Besok, setelah mengantarkan anak-anak kerumah Papi kita pergi ya?”
“Kamu juga mau menginap disana?” Arfan membuka mata kemudian menoleh.
“Tidak, kan aku mau ikut kamu?”
Arfan menyunggingkan senyum.
“Lalu bagaiman adengan anak-anak?”
“Ya kita tinggalkan di rumah Papi.”
Arfan kembali berbalik, sehingga Dygta kini berada diatas tubuhnya.
“Tapi mereka nanti mencarimu?”
“Tidak akan, mereka sudah besar, Lagi pula, seperti katamu tadi mereka selalu betah di rumah orang tuaku?” Dygta mengerling manja, kemudian tersenyum.
Arfan menatap wajahnya, dan dia tidak pernah merasa bosan untuk melakukannya.
“Baiklah.” Pria itu menariknya sehingga wajah mereka benar-benar berdekatan.
“Sayang, bukannya kita harus tidur agar besok tidak kesiangan?” Dygta mengingatkan ketika Arfan sudah mulai menyentuh tubuhnya.
“Iya, setelah ini.”
__ADS_1
“Tapi sayang?” Pria itu segera membungkam mulutnya, dan kemudian aktifitas itu segera dimulai seperti biasanya.
🌺
🌺
“Ibu nggak bisa mengatakan apa-apa soal itu.” Mayang meletakkan cangkir berisi teh manis panas di depan Galang.
Pria itu selesai membersihkan diri setelah berolah raga mengenlilingi komplek kediaman orang tuanya sejak pagi tadi.
“Hanya saja, sebagai laki-laki kamu harus punya pendirian. Tidak boleh plin-plan seperti itu.” Dia duduk di kursi terdekat dari putranya.
“Kamu juga harus menentukan sikap. Apa mau kembali kepada Ara, atau melanjutkan hubungan dengan Clarra.” Arif menambahi.
“Makanya, kalau sedang emosi tidak boleh membuat keputusan sembarangan. Pusing sendiri kan jadinya?” Sang ibu menepuk pundaknya.
“Sebagai orang tua, ayah dan ibu hanya bisa mengingatkan. Apalagi ketika kamu berbuat salah. Tapi soal hati kami tidak bisa mengintervensi. Karena nantinya kamu sendiri yang akan merasakan dan menjalani.”
Galang mendengarkan perkataan orang tuanya.
“Kami pikir kamu dan Clarra tidak menjalin hubungan seperti itu. Tahunya …”
“Kalau sudah begini mau bagaimana? Masa kamu mau memutuskan Clarra begitu saja? Sementara hubungan kalian baru sebulan ini kan?”
Galang menempelkan punggungnya pada sandaran kursi.
“Mana orang-orang sekantor sudah pada tahu lagi.” katanya, yang menyugar rambut hitamnya yang sedikit memanjang.
“Nah kan? Pasti karena emosi lagi. Kenapa sih akhir-akhir ini kamu lebih sering menuruti emosi dari pada logika? Perasaan dulu anak ibu nggak gitu deh?”
“Aku hanya merasa kalau Clarra nggak pantas mendapat perlakuan seperti itu. Mereka nggak tahu bagaiman keadaan dia yag sebenarnya. Tapi dengan seenak hati menghakimi dan membicarakan hal-hal yang tidak pantas.”
”Dan apakah kamu pikir dia juga pantas untuk kamu perlakukan seperti ini?” Arif berujar.
“Maksud Ayah?”
“Kamu menjalin hubungan dengan Clarra tapi hati dan pikiranmu tetap kepada Ara? Tubuhmu bersama kekasihmu, tapi jiwamu menginginkan mantanmu. Apa itu namanya? Sama saja dengan berselingkuh. Kamu pikir bagaimana perasaan Clarra jika dia mengetahui hal ini?”
Galang terdiam.
“Jadi, buatlah keputusan dengan tegas. Tentukan hatimu akan berlabuh ke mana, dan bertanggung jawablah dengan keputusanmu, apa pun itu. Baru kamu bisa disebut laki-laki sejati.” Arif menambahkan.
“Jangan jadi pengecut, dan jangan pula jadi laki-laki yang egois. Yang hanya memikirkan perasaan dan kepentinganmu sendiri. Apalagi sekarang ada hati yang harus kamu jaga.” Sang ayah bersedekap.
“Apa sih yang mau kamu tunjukkan? Bahwa kamu mampu menggenggam dua hati perempuan dan memiliki mereka sekaligus?’
Pria itu menggelengkan kepala.
“Ayah ngaco!” Galang bereaksi.
‘Ya makanya, tentukan sikap. Kalau mau bersama Ara, ya selesaikan urusanmu dengan Clarra. Tapi kalau mau bersama Clarra maka berhentilah memikirkan Ara.”
“Dipikir ini segampang membalikkan telapak tangan?” Galang menggerutu.
“Ya memang nggak gampang, tapi itu resikonya kalau kamu memilih salah satu. Jangan dua-duanya mau kamu miliki.”
“Nggak gitu Yah.”
“Ya lantas apa? Jangan sampai kamu menyakiti diri sendiri dan mereka. Karena akhirnya sama-sama tidak akan baik.”
Galang kemudian bangkit dari kursinya.
“Mau ke mana kamu?” Mayang mengikuti sang putra dengan pandangannya.
“Ke tempat Om Angga aah ….” Galang menjawab.
“Apa? Mau curhat? Paling dia juga mengatakan hal yang sama seperti yang ayah dan ibu katakan. Apa lagi kalau bicara dengan Mamanya Rania. Bisa di omel habis-habisan kamu.” ucap Mayang, namun putranya tersebut tetap melenggang keluar menuju tempat yang dia maksud.
🌺
🌺
🌺
Bersambung ....
ayo ayo, mau gimana setelah ini? 🤣🤣
like komen hadianya kirim terus ya gaess, yang udah ada vote, boleh lho dikirim sekarang.
alopyu sekebon😘😘
oh iya, emak juga udah up novel terbaru di y o u t u b e lho, kalian mampir kesana ya? Ramaikan lapak emak. like dan subscribe juga biar dapat notifikasi kalau up episode terbaru 😉😉
cari chanel Tiyana Pratama dengan cover ini
oke gaess 😆😆
__ADS_1