
🌺
🌺
Galang dan Dimitri melompat dari dalam helikopter yang baru saja mendarat di helipad di atap Nikolai Medical Center.
Setelah keduanya beradu argumen ditengah kemacetan yang tampak tidak akan terurai meski setelah berlangsung selama satu jam lamanya, akhirnya Galang memutuskan untuk menggunakan mesin terbang berlogo huruf N berwarna biru tua itu. Tentunya dengan persetujuan Dimitri, sebagai sang pemimpin perusahaan tempatnya bekerja.
Meninggalkan Merceses Benz Pullman ditengah antrian kendaraan hingga seseorang dari staff muncul untuk mengambil alih.
Galang berlari turun dari helipad dan segera menuju ke area di mana operasi Amara berlangsung.
"Semoga tidak terlambat!" Pria itu bergumam.
Dia dan Dimitri segera melesat menuju ruang operas begitu keluar dari lift dan menemukan Amara yang hampir saja dibawa masuk.
"Tunggu!" Galang berteriak.
Dia kemudian berhenti saat jaraknya cukup dekat dengan Amara. Dan pria itu membungkuk untuk mengatur napasnya yang tersengal-sengal.
Mereka berbicara untuk beberapa saat dan keduanya saling berpelukan. Tampak sekali Galang yang begitu menguatkannya meski ini bukanlah operasi yang berbahaya. Tapi tetap saja, dukungan terbesar pria itu berikan kepada istrinya, sebelum akhirnya mereka benar-benar membawanya masuk.
***
"Nggak apa-apa Bu, doakan saja agar semuanya lancar." Galang menempelkan ponsel ditelinga saat orang tuanya menelfon.
"Iya, sudah dimulai. Nanti aku sampaikan kepada Ara. Terima kasih." Lalu percakapan itu berakhir.
Mereka menunggu dalam diam. Semuanya berkutat dengan pemikirannya masing-masing dan tak ada seorangpun yang berniat untuk berbicara.
Proses itu sudah berlangsung selama kurang lebih satu jam namun belum ada tanda-tanda akan berakhir. Dan sudah membuat Galang mulai merasa frustasi.Â
Sementara di dalam sana, Dokter Kirana mengerjakan tugasnya didampingi dua asisten dan satu petugas lain yang siaga jika sewaktu-waktu dibutuhkan.
Dia melakukan pembedahan kecil pada bagian bekas luka yang memanjang dari pelipis hingga sekitar area tulang pipi dan rahang Amara. Menanamkan jaringan yang dibutuhkan untuk memperbaiki bagian yag rusak dan menambah apa yang hilang sehingga nantinya akan membuat kulit Amara tertutup dengan sempurna.Â
Dan perempuan itu melakukannya dengan sangat hati-hati hingga semuanya selesai tanpa mengalami kendala berarti.
***
Pintu ruang operasi terbuka setelah waktu yang sudah diperkirakan dan mengalihkan semua orang dari lamunanya.
Galang bahkan segera bangkit bersamaan dengan dua petugas yang keluar sambil mendorong blankar di mana Amara yang belum sadarkan diri.
"Pasien harus istirahat sampai dia siuman, dan kita hanya perlu menunggu." ucapnya saat beberapa anggota keluarga menghampiri.
"Bagaimana keadaannya?" Dan Galang segera bertanya.
"Sejauh ini keadaannya sangat baik, tidak ada yang perlu dikhawatirkan." jawab Dokter Kirana, dengan tersenyum seperti biasa.
Kemudian mereka membawanya kembali ke ruang pemulihan dan membiarkan perempuan itu tetap tertidur lelap dibawah pengaruh obat-obatan yang diberikan sebelumnya.
"Baiklah, semuanya sudah selesai. Sepertinya aku harus pulang sekarang." Dimitri menepuk punggung Galang yang tertegun menatap Amara di ujung ranjang.
"Iya Pak, terima kasih." Pria itu tersadar dari lamunanya.
"Tidak usah khawatir, dia akan baik-baik saja." Dimitri dengan penghiburannya.
__ADS_1
Galang mengangguk-anggukkan kepala dan dia menoleh kepada ketiga mertuanya yang masih berada di sana.
"Kami juga sepertinya harus pulang?" Arfan juga mendekat.
"Ya, baiklah."
"Tidak apa-apa jika kami tinggal malam ini?" sambung Mytha yang sudah tampak raut kelelahan di wajahnya.
"Tidak apa-apa, saya bisa." Galang menjawab.
"Baiklah, telfon saja jika ada sesuatu dan salah satu dari kami akan cepat datang jika dibutuhkan." ucap Arfan lagi.
"Ya Pak, terima kasih." Hanya itu yang mampu Galang ucapkan.
Kemudian mereka berempat pergi berurutan untuk kembali ke rumah masing-masing dalam keadaan lega.
Galang mengembalikan perhatiannya kepada Amara yang lelap tak terganggu. Lalu dia mendekat seraya menatap wajahnya yang ditutupi perban dan hanya menyisakan sedikit celah untuk mata, juga hidung dan mulut untuk bernapas.Â
Pria itu kemudian naik ke tempat tidur lalu membaringkan tubuh tingginya di dekat Amara. Memeluknya seperti yang biasa dia lakukan beberapa hari ini, dan memejamkan mata tak lama setelahnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Nggg …." Amara mengerang saat merasakan nyeri pada area sekitar wajahnya.Â
Rasa perih mendominasi hingga rasanya dia sudah tak tahan sehingga membuatnya dengan terpaksa membuka mata, meski kantuk masih menguasanya.
Ruangan itu tampak sepi namun pencahayaan cukup terang sehingga dia bisa melihat jam dinding yang sudah menunjukkan pukul enam pagi.
Amara meyentuh wajahnya yang terasa kaku dan dia mendapati kain perban yang menutupi sebagian besarnya hingga ke kepala.
"Kakak! Bangun!" panggilnya lagi, dan dia mengguncangkan lengan Galang.
"Kakak!" Dia mengeraskan suaranya sehingga pria itu terjaga dengan sendirinya.
"Hum? Ya Apa? Aku sudah datang, tidak usah khawatir. Aku di sini." Pria itu segera bangkit.
"Kakak, muka aku sakit!" gumam Amara, dan dia hampir menyentuh wajahnya.
"Eehh, jangan dipegang. Biarkan saja." Namun pria itu menahan tangannya.
"Jam berapa ini?" Galang kemudian melihat jam tangannya.
"Kamu bangun dari tadi?" lalu dia turun dari tempat tidur.
"Nggak, baru aja." Amara menjawab dengan suara yang tidak terlalu jelas seraya mengulurkan tangannya meminta bantuan untuk bangkit, dan Galang segera mendudukkannya setelah menumpuk bantal di belakang perempuan itu.
"Tunggu sebentar." Galang segera berlari ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan dia kembali setelah beberapa menit dalam keadaan yang sudah segar.
"Bagaimana perasaanmu?" Dia menarik kursi ke dekat Amara kemudian duduk.
"Sakitlah, apa lagi? Pertanyaan Kakak suka aneh kadang-kadang?" Amara menjawab dengan kesal.
"Aku … cuma tanya Neng."
"Iya, pertanyaan Kakak aneh." Dia berbicara sambil merapatkan giginya. Sebelah wajahnya yang terasa sakit dan kaku tidak bisa membuatnya leluasa berbicara.
"Aneh sebelah mananya?" Pria itu tertawa.
__ADS_1
"Ya aneh, itu sama aja kayak Kakak nanya sama anak yang baru aja disunat."
"Hah? Apa hubungannya?" Galang mengerutkan dahi.
"Kayak tanya gimana anunya setelah diaunat?" Amara semakin dibuat kesal oleh pertanyaan suaminya, namun Galang malah kembali tertawa.
"Dih, ketawa melulu? Seneng banget lihat orang kesakitan?" Perempuan itu misuh-misuh.
"Kamu marah-marah terus sih? Sepertinya benar lagi pms ya?" Galang menunduk untuk melihat Amara lebih jelas.
"Apa hubungannya sama pms? Kakak ngaco!"
"Kan perempuan kalau lagi pms suka marah-marah dan emosi nggak jelas?"
"Bukan karena pms Kakak! Ini karena muka aku sakit banget!" keluhnya lagi, dan dia mendesis.
"Ditahan, semoga tidak lama."
"Kakak nggak tahu sih rasanya, makanya bisa ngomong gitu?"
"Iya, aku nggak tahu apa-apa soal yang sakit-sakit. Cuma kamu yang tahu sakitnya." Pria itu menjawab.
"Apa itu maksudnya?"
Galang tak menjawab.
"Terus habis ini apa lagi? Berapa lama aku kayak mumi gini? Rasanya mulai nggak enak." Amara menggerutu.
"Jangan marah-marah terus, nanti bekas operasinya jelek." Galang bangkit lalu dia berpindah ke sisi perempuan itu.
"Aku nggak marah-marah, cuma nanya."
"Tapi tanya biasa saja, jangan pakai emosi. Kamu mau wajahmu berkerut karena terganggu?"
"Apaan? Ya nggak lah."
"Makanya diam."
Amara langsung menutup mulutnya rapat-rapat.
"Nah, begitu kan manis?" Lalu Galang mengelus puncak kepalanya.
"Sebentar, Aa mau panggil Dokter Kirana ya? Semalam dia bilang begitu kalau kamu sudah bangun." Pria itu kemudian pergi keluar, meninggalkan Amara yang mencebik sebal.
"Padahal bisa pakai bel?" dan dia bergumam.
🌺
🌺
🌺
Bersambung ...
Mulai, mulai ...🤣🤣🤣
Kuy like, komen sama hadiahnya kirim terus
__ADS_1