
🌺
🌺
Mereka tiba di Bandara Internasional Charless De Gaulle pada malam hari. Mendapati bahwa keadaan sudah cukup larut, dan anak-anak terlihat kelelahan.
"Kita pilih hotel terdekat sajalah." Dimitri mendekap Zenya yang sejak mendarat sudah memejamkan mata di pelukannya.
"Hanya dua jam ke villa di dekat sirkuit Pak." Galang memeriksa ponselnya yang terus terhubung dengan pemandu.
"Tidak apa, kita bisa pergi besok dari sini. Kasihan anak-anak kalau harus melanjutkan perjalanan darat selarut ini." Dimitri berujar.
"Saya pesan lagi hotel?" Galang memberikan pilihan.
"Pesanlah." jawab Dimitri yang duduk di kursi terdekat yang dia temukan.
"Baik."
"Dan kabari juga Rania, kalau kita sudah tiba. Katakan tidak usah khawatir karena anak-anak baik-baik saja." Pria itu mengingat beberapa pesan istrinya yang sudah tiba lebih dulu dengan pesawat komersil bersama crewnya beberapa jam yang lalu.
"Ya Pak." Galang segera menghubungi beberapa koneksinya di Paris untuk meminta bantuan.
***
Mereka tiba di sebuah hotel di sekitar menara Eiffel. Setelah mencoba menghubungi beberapa tempat, dan akhirnys hanya hotel itulah yang kebetulan masih memiliki beberapa kamar kosong. Selebihnya sudah di penuhi oleh para pelancong baik dalam maupun luar negeri.
Perhelatan besar Woman Superbike itu bertepatan dengan liburan musim gugur di di wilayah Eropa yang menyebabkan turis berdatangan untuk mendapatkan pengalaman liburan yang berbeda.
Galang membaringkan Anya yang sudah benar-benar terlelap seperti halnya Zenya, seraya memastikan mereka mendapatkan akomodasi yang memadai di hotel yang cukup terkenal di kota Paris itu. Begitupun dua pengasuh yang sejak tadi setia mengawasi kedua anak kembar tersebut.
"Ada lagi yang Bapak butuhkan?" Dua pria ini melenggang keluar dari kamar anak-anak.
"Tidak, aku hanya ingin beristirahat." Dimitri berhenti tepat di depan kamarnya.
"Baik kalau begitu. Bapak bisa panggil saya kalau ada yang kurang." Galang juga melakukan hal yang sama. Kamarnya berada tepat di seberang kamar Dimitri yang memiliki view terbaik di kota itu.
"Yeah, baiklah." Sang atasan segera masuk ke dalam kamarnya, begitu juga dengan Galang.
Pria itu segera menjatuhkan tubuhnya yang terasa letih setelah menyelesaikan urusannya di kamar mandi. Berbalut bathrobe hotel dan handuk yang menjadi alas di bawah kepalanya yang basah.
Dia menyalakan ponsel, dan membuka aplikasi media sosial miliknya. Melihat postingan terakhir yang Amara unggah sebelum akhirnya dia meng-unfollow dirinya beberapa minggu sebelumnya.
Sebuah tulisan perpisahan berlatar belakang menara Eiffel yang semarak masih dia simpan di album, dan menjadi satu-satunya kenang-kenangan yang Amara tinggalkan untuknya.
Sudah begitu lama, namun dirinya masih saja mengingat gadis itu.
Dua tahun, Galang! Dia bergumam dalam hati.
Kemudian Galang bangkit dan berjalan ke arah jendela yang sengaja dia buka lebar-lebar. Merasakan angin dingin yang masuk dengan bebas ke dalam kamarnya di lantai lima hotel terebut. Seraya menatap bangunan megah yang menjadi landmark kota Paris yang berdiri kokoh tak terkalahkan.
"Kamu pasti ada di luar sana, tapi di mana?" Dia bergumam.
"Apa kita masih punya kesempatan?"
"Kalau iya, kamu pasti merasakannya juga. Karena harapanku masih ada." Dia menatap lampu kota di kejauhan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Mau tambah lagi?" Piere menawarkan ketika makanan mereka sudah hampir habis.
Ke empat orang yang berkawan itu memutuskan untuk mampir ke sebuah gerai makanan dalam perjalanan pulang, setelah berletih-letih membereskan pekerjaan mereka.
"Tidak usah, aku sudah kenyang." tolak Amara yang menyuapkan makanan terakhirnya. Begitupun denga kedua teman mereka yang melakukan hal yang sama.
"Terima kasih, Piere. Traktiranmu membuat aku bisa tidur nyenyak malam ini." Abigail berujar.
"Aku juga." sahut Catherine yang mengusap perutnya yang sudah terasa penuh. Semua yang mereka pesan telah berpindah seluruhnya kedalam perut tanpa sisa sedikitpun.
"Ya, makanan di apartemenku utuh malam ini." Amara menimpali, kemudian tertawa.
__ADS_1
"Bukan apa-apa, aku hanya berbagi."
"Kau pasti dapat tip yang banyak hari ini ya?" Abigail meneggak minumannya hingga habis.
"Ya, tamu terakhir yang datang memberiku tip yang sangat banyak setelah aku membawakan barang mereka ke lantai lima." Piere bercerita.
"Benarkah? sebanyak apa?"
"Cukup banyak sehingga aku bisa mentraktir kalian."
"Oh ya?"
"Hmm ..." Pria itu membersihkan mulutnya dengan tisu.
"Awalnya aku kira dia salah memberiku uang, tapi dia menolak waktu aku berniat mengembalikannya."
"Beruntung sekali kau ini?"
"Mungkin karena mereka banyakan."
"Benarkah? Satu keluarga?"
"Sepertinya bukan."
"Memangnya berapa orang?" Amara penasaran.
"Enam orang. Dua laki-laki dewasa, dua perempuan dewasa, dan dua ana-anak. Mereka menyewa tiga suit room yang tersisa."
"Aku rasa mereka dua keluarga."
"Tidak mungkin. Satu orang pria Kaukasia, tiga lainnya Asia. Sementara dua anaknya agak mirip dengan pria kaukasia itu?" Pria itu mengingat.
"Tapi sepertinya mereka dari negaramu, Ra." Piere beralih kepada Amara.
"Oh ya?"
"Ya, bicaranya seperti saat kau menelfon keuargamu. Tapi aku tidak mengerti. Hanya saja si pria Kaukasia bisa bicara dengan bahasa Prancis."
"Mungkin mereka memang dari Indonesia."
"Ya, mungkin."
"Baiklah, karena aku sudah kenyang, sebaiknya kita pulang sekarang. Harus menyiapkan tenaga untuk besok?"
"Kau benar."
"Yeah, ... ayolah." Ke empatnya pun segera pergi.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Matahari di awal musim gugur sudah menampakkan sinarnya, meski tak mampu mengusir hawa dingin yang masih mendominasi negara dengan menara paling cantik di dunia itu.
Namun hiruk pikuk kehidupan kota Paris sudah menggeliat sejak masih temaram. Para tamu berurutan turun untuk menikmati suasana yang tak akan mereka dapatkan di tempat lain. Sementara pegawai hotel sudah hilir mudik melaksanakan tugas mereka.
"Come on Papi, aku mau ketemu Mommy!" Zenya menarik tangan Dimitri keluar dari kamarnya. Pria itu bahkan belum sempat membenahi penampilannya setelah mandi.
"Sebentar Zen, Papi harus berpakaian."
"Kan udah?"
"Belum rapi."
"Nggak usah rapi-rapi, Papi bukan mau kerja." Zenya berujar.
"Tetap saja, ...."
"Mommy nunggu kita Papi!"
"Masih pagi Zen, mungkin mommy sedang latihan, atau jogging di lintasan."
__ADS_1
"Pokoknya aku mau ketemu Mommy!" Anak itu mulai merengek.
"Zen, ...." Galang muncul bersama Anya yang sudah rapi. Rambutnya dikuncir dua dengan jepitan rambut kecil berwarna ungu di ikatannya.
"Om Galang, aku kan mau ketemu Mommy. Masa Papi nggak mau sih?" adunya kepada pria itu.
"Bukannya nggak mau, Papi kan baru saja mandi?" Dimitri membela diri.
"Tapi Papi lama, dandannya kayak Anya!" protes anak itu.
"Apa?"
"Iya, pakai ini, pakai ini, pakai ini." Zenya mengusap wajah, kepala dan lehernya sendiri. Memperagakan apa yang dia lihat di lakukan oleh ayahnya.
Dimitri tertawa.
"Itu namanya style." katanya, yang menyugar rambut coklat tembaganya yang baru saja diberi pomade.
"Bad style!" ucap Zenya dengan nada kesal.
"What? Bad style?"
"Ya, Papi kelamaan!"
Dimitri tertawa lagi.
"Zen, ayo kita kebawah duluan?" Galang menyela percakapan.
"Ke Mommy?"
"Bukan, tapi kita jalan-jalan dulu."
"But i want Mommy!" Zenya merengek lagi.
"Kamu tahu nggak, kalau mommy nya sedang latihan? Kalaupun kita datang ke sirkuit, mommy nggak akan bisa lihat kita karena sibuk latihan."
"Why? Mommy nggak boleh lihat kita?"
"Nanti konsentrasi Mommy terpecah, dan akan membuatnya tidak bisa fokus latihan."
"Is that bad?"
"Yeah, it's bad." Galang menjawab.
"Jadi aku nggak boleh ketemu Mommy?"
"Boleh tapi nanti pas mau balapan ya?"
"Boleh?"
"Boleh."
"Asiikk!" Anak itu berteriak kegirangan.
"Jadi ayo kita ke bawah dan menunggu Papi di sana?" ajak Galang kepada anak itu.
"Oke." Kemudian Galang menarik dua anak kecil itu pergi.
🌺
🌺
🌺
Bersambung ...
Reader : "ini kapan ketemunya wooyy, udah kagak nahan!!"
Otor : "nanti kalau udah waktunya." 🤣🤣🤣
__ADS_1
kabuurrrr....