My Only One

My Only One
Yang Sesungguhnya


__ADS_3

🌺


🌺


"Papi, berisik! Aku nggak suka disini." Zenya menutup kedua telinganya rapat-rapat sejak pertama kali menginjakkan kakinya di bangku penonton.


Sirkuit Le Mans hari itu tentu begitu ramai. Sejak di mulainya balapan, semua orang bersorak menyemangati pembalap andalan mereka.


Berbagai poster dan tulisan yang menunjukkan betapa mereka mengidolakan para perempuan paling tangguh di sirkuit itu bertebaran di mana-mana. Tak terkeculi poster dukungan bagi pembalap bernomor 21 itu.


"Papi, mereka kenal Mommy? Kok fotonya Mommy di pegang-pegang?" Anya malah fokus pada sekumpulan orang yang meneriakan nama ibunya sambil memegangi gambar perempuan itu yang berukuran cukup besar.


Sementara dua pria dewasa di dekatnya asyik dengan euphoria itu. Apalagi dengan kemenangan Rania, yang untuk ke sekian kalinya membuktikan diri, dan mengukuhkan posisinya sebagai pembalap wanita paling tangguh di dunia.


"Look! Mommy jadi juara lagi." Dimitri menunjuk podium di mana ke tiga besar juara itu berdiri menerima piala dan melakukan perayaan kemenangan.


"Really?" Zenya menatap ke mana telunjuk sang ayah mengarah.


"Mommy juara berapa?" Anya juga melakukan hal sama.


"First champion!"


"Oh ya?"


"Yeah. See? Mommy pegang piala paling besar."


"Yeayyy, good Mommy!" Dua anak itu tak mengerti, namun dia melihat ayahnya yang begitu gembira dengan kemenangan yang di katakannya tersebut. Membuat mereka berdua ikut beegembira juga.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Kenapa kamu ini gelisah sekali?" Mereka memulai perjalanan ke bandara untuk segera pulang pada sore harinya.


Setelah melewati beberapa seremoni resmi yang di lakukan di sirkuit oleh beberapa sponsor dan federasi, akhirnya mereka bisa pulang juga.


"Iya, dari tadi kayak cacing kepanasan. Pindah sana, pindah sini?" Rania mengamini. Melihat Galang yang tampak gelisah.


"Umm ... sebelum ke bandara, bisa kita mampir dulu sebentar ke suatu tempat?" Pinta Galang yang duduk di kursi belakang sopir.


Mereka mengendarai limosin khusus yang bisa menampung banyak penumpang, yang menjadikan mobil itu leluasa dan tampak nyaman dengan tempat duduk seperti di dalam rumah.


"Ke mana?" Dimitri bertanya.


"Hotel kemarin Pak."


"Hotel?"


"Iya."


"Om mau ketemu sama Kak Ara ya?" Anya buka suara.


"Hah? Ara?" Rania bereaksi. "Emangnya Ara ada di sini ya?"


"Itu, ... umm ... Begitulah. Hehe ..." Galang meneguk air minum di botol yang dia pegang.


"Semalam sampai peluk-pelukan. Hari ini mau peluk-pelukan juga ya?" ucap Anya membuat semua orang terhenyak.


"Pppfffftttthhhh!" Galang hampir saja menyemburkan air yang telah masuk ke dalam mulutnya.


"What?" Kini Dimitri yang bereaksi.


"Iya, semalam Om Galang peluk-pelukan sama Kak Ara. Gini-gini." Anya memperagakan saat dia meihat dua sejoli yang berpelukan di dekat mobil mereka semalam.


"Dudul!" Rania setengah berteriak.


"Cuma pelukan, asli." Pria itu menyeka bibirnya yang basah.


"Astaga! Hahahaha." Dimitri tertawa.


"Kamu keterlaluan!"

__ADS_1


"Cuma sebentar." Galang membela diri.


"Bukan itu masalahnya. Kamu bawa anak-anakku pergi jauh, terus lihat kamu pacaran begitu? kamu racunin otak anak-anakku! Pikiran kamu di mana?"


"Aku nggak pacaran. Cuma ketemu Ara."


"Sama aja dudul!"


"Mommy, pacaran itu apa?" Zenya menyela.


"Tuh kan? Gara-gara kamu aku jadi keceplosan?" Rania berujar.


"Pacaran itu kayak Om Galang sama Kak Ara semalam ya?" Anya ikut bicara.


"Tuh?"


"Peluk-pelukan kayak Mommy sama Papi juga?" sambung anak itu, membuat tiga orang dewasa di dekatnya terdiam.


"Dih, ternyata sebelum lihat aku, mereka udah duluan lihat kamu? Mana sering lagi kayaknya?" Galang menggumam.


"Umm ...."


"Stop! Jangan bahas masalah seperti ini di depan anak-anak. Nanti kita salah menjawab." Dimitri menghentikan perdebatan.


"Jadi, apa boleh saya mampir sebentar ke tempat kerjanya Ara Pak?" Galang mengulang pertanyaan, dan kini ucapannya lebih jelas.


"Baik, sebentar." Dimitri menyetujui.


"Terima kasih Pak."


"Hmm ...."


"Ngotot banget? Mau balikan ya?" Rania menginterupsi.


"Terserah nanti."


"Eh!" Dimitri menyenggol lengan istrinya untuk menghentikan dia berbicara.


"Ya aku cuma ngomong."


"Jangan bicara sembarangan dong?" ucap Galang.


"Emang bener kamu mau balikan sama dia? Aku kok nggak yakin?"


"Kamu kok bilang begitu?" protes Galang.


"Ya kali aja ...."


"Stop!" Galang berteriak kepada sopir.


"Monsieur?" Pria di balik kemudi menoleh sekilas.


Kemudian Dimitri berbicara dengan bahasa Prancis, yang bermaksud menyuruh pria itu menghentikan laju kendaraannya.


"Di sini kan?" tanya sang atasan setelah limo yang mereka tumpangi berhenti melaju.


"Iya Pak. Saya hanya sebentar." jawab Galang.


"Pergilah." Dimitri Pun mengizinkan, dan Galang segera keluar.


"Mommy, jadi pacaran itu apa? Om Galang mau pacaran dulu ya?" Anya terdengar kembali bertanya.


"Eh, sssttt!" Namun Rania menempelkan telunjuknya di bibir agar anak itu berhenti bertanya.


***


Dan dengan riang Galang melangkahkan kakinya ke dalam area hotel. Di mana suasananya yang tidak terlalu ramai, tapi tidak sepi juga. Tempat itu terlihat normal-normal saja.


Pria itu segera menghampiri resepsionist untuk bertanya.

__ADS_1


"Monsieur?" Perempuan di meja itu menyapanya lebih dulu. Tentu dia masih ingat dengan pria yang siang kemarin mendatangi hotel tempatnya bekerja dan menemui seorang pegawai di sana.


"Amara still here?" Galang bertanya.


"Amara?"


"Yes. I have to meet her, can i?( saya harus menemuinya, bisa?)."


"Wait a second (tunggu sebentar)." Perempuan itu melakukan panggilan lewat telefon hotel.


"She's in the backyard. During rest time after finishing her job ( dia ada di belakang, sedang istirahat setelah menyelesaikan pekerjaannya)." jawab resepsionist setelah meletakan gagang telfon kembali ke tempatnya.


"Can i meet her? (bisakah saya bertemu dengannya?)."


"Sure, you can wait here or, ...."


"Just show me where i have to go (hanya tunjukkan saja saya harus ke mana)." Galang berujar, kemudian sang resepsionist menunjukkan jalan menuju area belakang hotel.


Lalu pria itu bergegas menuju tempat yang telah di tunjuk.


Langkahnya terasa ringan, dan hatinya begitu gembira. Berharap pertemuan ini menghasilkan sesuatu yang mengembalikan mereka pada hubungan yang semestinya. Meski harus berjauhan, setidaknya mereka akan tetap terikat.


Tidak ada yang tidak bisa di bicarakan bukan? Segala hal pasti ada penyelesaiannya. Emosi mereka sedang baik sekarang ini, dan keadaan Amara sepertinya sudah tak sekeras dulu. Buktinya mereka bicara dengan baik kemarin, maka sesepertinya akan dapat membicarakan segalanya dengan baik juga hari ini.


Dia bersumpah, akan melakukan apa saja agar mereka dapat kembali bersama. Dan meyakini Amara juga akan melakukan hal yang sama. Perasaan mereka jelas tidak ada yang berkurang meski telah dua tahun berpisah, malah menjadi semakin besar setelah pertemuan pertama kemarin.


Galang merasakan jantungnya hampir saja meledak, mengingat apa yang akan diucapkannya kepada gadis itu. Dia bahkan sudah mempersiapkannya sejak semalam. Menyusun kata-kata yang baik, dan pastinya Amara tidak akan bisa menolaknya.


Namun langkahnya terhenti tepat di belakang dua sejoli yang sedang berpelukan begitu erat. Gelak tawa yang begitu riang bahkan terdengar nyaring. Dan mereka saling mengatakan sesuatu yang tak dia mengerti.


Galang melihat wajah Amara yang begitu ceria, dan dia berkali-kali memeluk pria di depannya. Dia yang diingatnya ada dalam video di media sosial milik gadis itu.


Pria itu mengetatkan rahang dengan kedua tangannya yang terkepal begitu erat hingga urat-uratnya terlihat menonjol. Dia tak percaya akan melihat adegan seperti ini.


Rupanya ini yang Amara maksud, dia tengah menunjukkan hal yang sebenarnya tengah terjadi, dan keadaan yang sesungguhnya di antara mereka.


Dan harapan itu? Nyatanya sudah punah bahkan di saat dirinya masih menyimpan rasa.


***


"Udah?" Rania menatap wajah sahabatnya lekat-lekat saat dia kembali ke mobil mereka.


Galang menganggukkan kepala.


"Terus?"


"Kita pulang sekarang Pak." ucap pria itu kepada Dimitri. Dia bahkan tak lagi menatap waja Rania.


"Yakin?"


"Iya, sebaiknya kita segera pulang. Besok banyak sekali yang harus kita selesaikan." jawab Galang.


"Baiklah." Lalu Dimitri mengatakan sesuatu kepad sopir mereka yang kemudian kembali menjalankan mobil menuju bandara.


"Terus hasilnya gimana?"


Galang hanya terdiam.


"Lang?" Rania mencondongkan tubuhnya, namun Dimitri segera menarik tangannya untuk menghentikan dia berbicara.


Pria itu menggelengkan kepala saat istrinya menoleh. Dan perjalanan pulang itu dimulai dalam keheningan, kecuali celotehan anak-anak yang asyik dengan dunia mereka sendiri.


🌺


🌺


🌺


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2