My Only One

My Only One
Galang Dan Promosi Jabatan


__ADS_3

🌺


🌺


"Kenapa kamu kelihatan senang sekali?" Galang menghentikan pekerjaannya saat melihat Clarra berlari kecil menghampirinya yang sudah beberapa hari ini bertugas di ruangan Dimitri.


"Ada kabar baik." jawab perempuan itu dengan raut sumringah.


"Kabar baik apa?"


"Ivestor dari Taiwan yang tempo hari kita temui setuju untuk berinvestasi di Nikolai Grup." Clarra dengan suara riang. Dia tak pernah merasa sesenang ini mendapat kabar gembira soal keberhasilan negosiasi dengan investor sebelumnya.


Terutama karena ini merupakan investor dari luar negeri, dan sangat penting untuk perusahan tempat mereka bekerja. Di tambah lagi, karena ini keberhasilan pertama Galang sebagai pengganti Dimitri yang menjalankan tugasnya dengan begitu baik.


Sang investor bahkan merasa terkesan dengan presentase dari pria itu yang begitu jelas dan cakap dalam penyampaian materi, sehingga dirinya merasa tertarik untuk melanjutkan kerja sama.


"Benarkah?" Galang benar-benar mengalihkan perhatiannya.


"Ya, tentu saja. Kamu berhasil!" ucap Clarra dengan riang gembira.


Sementara pria di depannya hanya tertegun tidak percaya.


"Sudah aku bilang kan, kalau kamu bisa? Dan terbukti kalau kamu berhasil. Feelingku bagus, jangan-jangan negosiasi lain juga sama berhasilnya?"


"Begitu?" Galang tidak tahu harus berekspresi seperti bagaimana karena dirinya sendiri bingung dan benar-benar tidak mempercayai pendengarannya


"Ish, kamu ini kenapa? Aneh sekali? Masa ekspresimu begitu?" Clarra menatapnya dengan aneh.


"Aku hanya ... terkejut." Galang menjawab.


"Apa?" Kemudian Clarra tertawa.


"Ckckck, Galang ... Galang." Perempuan itu menggelengkan kepala.


"Saking terkejutnya kamu sampai tidak bisa berekspresi begitu?"


"Terus setelah ini apa yang harus aku lakukan?" Galang malah bertanya, yang membuat Clarra tertawa dengan keras.


"Tidak apa-apa, tinggal menunggu penandatanganan kesepakatan dan segala surat perjanjian. Selanjutnya ya bekerja seperti biasa. Masa begitu saja tidak tahu?"


"Hmm ...."


"Cuma hmmm? Dasar Galang!" Clarra memutar bola matanya.


"Baiklah." Pria itu kembali pada pekerjaannya.


Namun malah membuat Clarra tertegun untuk beberapa saat.


"Apa masih ada yang mau kamu katakan?" Galang yang menyadari hal tersebut mendongak.


"Kenapa kamu begitu serius?" Clarra berjalan mendekat.


"Soal apa?"


"Pekerjaan lah, apa lagi?"


"Bukankah memang seharusnya begitu? Tanggung jawab yang Pak Dimitri berikan sangat besar, jadi aku tidak bisa jika tak serius soal ini."


Clarra mendengarkan setiap kalimat yang Galang ucapkan. Dan akhir-akhir ini mereka memang sering berbincang. Membicarakan banyak hal, dan berdiskusi tentang segala sesuatu.


Dan sepertinya mereka cocok dalam banyak hal. Maksudnya, apa pun yang mereka bicarakan selalu menemui kesamaan dan segala hal selalu menjadi topik yang menarik untuk di bahas.


Dan Clarra belum pernah menemukan seseorang yang begitu menyenangkan untuk diajak bicara seperti Galang.


"Sekarang apa?" Pria itu kembali menjeda pekerjaannya.


"Mm ... tidak." Clarra menggelengkan kepala sambil tersenyum tipis.


"Aku ... harus kembali bekerja." Perempuan itu mundur kemudian berbalik. Dan dia kembali ke mejanya di depan ruangan tersebut.


"Ya, aku juga." Dan Galang pun kembali pada pekerjaannya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Apa Papi dan Mama masih mau di sini?" Dimitri memulai percakapan.


"Sepertinya begitu. Tidak apa-apa?" Satria menjawab.


"Tidak apa-apa. Tapi sepertinya kami harus pulang."


"Iya, Papi mengerti. Kalian pulanglah." Satria menatap seluruh anggota keluarganya satu persatu.


Anak dan menantu, juga cucu-cucunya yang memang tidak pernah melewatkan sehari pun kebersamaan itu sejak mereka tiba di mansion milik Nikolai. Hingga hari terakhir ini mereka pun masih sering berkumpul untuk menghangatkan suasana yang masih berkabung pasca wafatnya sang pemilik rumah.


"Kalian juga, Arfan?" tanya Satria kemudian.


"Sepertinya begitu Pak." Arfan menjawab.


"Baiklah."

__ADS_1


"Tadinya kami mau menunggu Ara, tapi sepertinya dia tidak akan sempat kesini. Beberapa hari lagi dia ujian dan banyak hal yang harus dia siapkan." Dygta ikut berbicara.


"Jangan memaksakan. Apalagi kalau sampai mengganggu kuliahnya. Sayang." sergah Satria.


"Iya, tidak jadi Pih."


"Rania juga, kapan pergi balapan?" Pria itu beralih kepada menantu perempuannya yang sibuk memperhatikan anak kembarnya yang makan dengan semangat.


"Seminggu lagi Pih." Sang menantu pun menoleh.


"Baik. Kalau begitu Mama dan Papi pulang minggu depan."


"Nggak usah buru-buru. Kalau masih mau di sini nggak apa-apa." ucap Rania.


"Tapi kan kamu mau pergi balapan? Di mana nanti?" Sofia menyahut.


"Di Portugal Ma."


"Tuh kan? Jauh lagi? Bagaimana dengan anak-anak?" Sofia melirik kedua cucunya yang masih berusia lima tahun itu.


"Nggak apa-apa, nggak usah di pikirin. Soal Anya sama Zenya nanti aku yang atur."


"Mau di tinggal di rumah dengan pengasuh?"


"Mau ke Anom!" Zenya menyahut dengan suara kencang.


"Apa?"


"Kalau Mommy mau pergi, aku mau ke Bandung aja sama Anom." ucap anak laki-laki dengan rambut coklat bergelombangnya yang mulai memanjang.


"Tapi mungkin Mommy lama."


"Nggak apa-apa. Biar lama juga di rumah Anomnya." Anya menjawab.


"Kamu juga?" Dimitri bereaksi.


"Iya, masa Zenya ke Bandung aku ditinggal sendiri?" ucap Anya.


"Kan ada Papi dan suster?"


"Nggak mau, kalau Zenya ke Bandung aku juga mau ikut."


"Kan Anomnya juga pergi sama Mommy?"


"Ada Enin sama Om Ega."


"Tapi sekolah kamu bagaimana?"


"Terlalu lama Zai."


"Cuma dua malam."


"Tiga hari dua malam."


"Nggak apa-apa, sesekali."


"Terus aku sendiri di rumah?"


"Kamu kayak baru aku tinggalin aja?"


"Tapi kan biasanya anak-anak tidak ikut pergi?" Mereka mulai berdebat.


"Mereka cuma ke Bandung, kamu bisa nyusul kalau mau. Sekalian sama Galang yang mudik."


"Haih, apa hubungannya dengan dia?"


"Ya kali kamu kesepian di sana, kan ada dia yang bisa di ajak ngobrol?"


"Oh ya, bagaimana pekerjaan yang kamu serahkan kepada Galang?" Satria mengalihkan topik pembicaraan.


"Berjalan baik Pih. Siang tadi Clarra baru saja mengabari kalau investor Taiwan berhasil di yakinkan, dan akhirnya mereka bersedia menanamkan uangnya di Nikolai Grup."


"Benarkah? Bagus sekali?"


"Tentu saja. Aku nggak salah menyerahkan pekerjaan ini kepada Galang. Dan mungkin untuk ke depannya aku juga akan melibatkan dia untuk beberapa hal."


"Kalau memang dia bisa di andalkan ya apa salahnya?"


"Ya, dia cukup bagus menangani pekerjaan lain sebelumnya. Dia tidak akan berhenti sebelum berhasil. Tapi untuk yang ini, Galang hanya perlu sekali meyakinkan investor dan dia juga berhasil."


"Ya, Galang memang cepat belajar."


"Papi tahu sendiri kan?"


"Hmm ...." Satria mengangguk-anggukkan kepala.


"Om Arfan pasti bangga." Dimitri menoleh kepada kakak iparnya yang terlihat fokus dengan makan malamnya. Namun Arfan terbatuk setela mendengar ucapannya.


"Ap-apa?"

__ADS_1


"Om Arfa pasti bangga. Dia anak didik Om juga kan, dan sekarang sudah bisa bekerja seperti kita."


"Umm ...."


"Bagus Arfan, tidak sia-sia kamu mendidiknya dengan keras. Dan hari ini dia bisa membuktikan dirinya sendiri." Satria berujar.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Galang tertegun dengan ponselnya yang menyala. Sebuah notifikasi di akun media sosialnya menunjukkan sesuatu yang cukup membuatnya kecewa. Ketika tanda unfollow di kolom terlihat sangat jelas. Dari siapa lagi kalau bukan Amara.


Rupanya gadis itu bena-benar serius dengan ucapannya. Segala hal perlahan dia jauhkan. Tak hanya foto-foto kenangan mereka yang sudah tak ada di laman postingannya selain kegiatan kuliah dan kesehariannya.


Dan kini, satu-satunya hal yang bisa membuat mereka tetap bisa saling memeriksa keadaan pun sudah lain lagi fungsinya.


"Hhhh ...." Galang mehembuskan napasnya keras.


Kepalanya dia rebahkan pada sandaran kursi dengan pandangan menyusuri langit-langit ruang kerja atasannya itu.


Tentu saja, ini sudah dua tahun. Batinnya.


Kemudian perhatiannya tertuju ke pintu ketika benda itu terbuka. Dan wajah Clarra yang muncul.


"Sudah waktunya pulang, apa kamu masih mau di sini?" Perempuan itu masuk.


Dia berniat membereskan meja kerja Dimitri, namun urung dia lakukan karena benda tersebut sudah rapi.


"Aku pikir belum selesai makanya kamu belum keluar?"


"Sudah dari tadi." Galang bangkit dari kursinya.


"Terus kenapa masih di sini?"


"Tidak tahu." Pria itu tertawa sambil mengenakan jasnya.


"Ish, dasar kamu ini?" Clarra mengambil dokumen yang sudah Galang selesaikan, kemudian menyimpannya di tempat yang aman.


"Kamu ... juga sudah selesai?" Kemudian Galang bertanya.


"Sudah. Jadwal untuk besok juga sudah aku atur."


"Huh, hebat. Jadi besok aku masih menggantikan Pak Dimitri?" Galang menekan tombol blokir pada kolom pengaturan di akun media sosialnya.


Baik kalau maumu begitu. dia membatin.


"Ya, sepertinya begitu. Kenapa? Sudah capek ya?" Mereka berjalan keluar dari ruangan tersebut.


"Lumayan. Ternyata jadi Pak Dimitri itu nggak gampang. Banyak yang harus di pikirkan dan di kerjakan. Selain ini ya masih banyak lagi."


"Kamu seperti yang baru bekerja di sini saja?" Clarra mengunci ruangan itu, kemudian mengambil tasnya di meja yang juga sudah rapi.


"Selama ini aku kan hanya menemani dia dan mengerjakan hal-hal kecil saja." Galang menunggunya di depan lift.


"Sekarang tahu kan bagaimana?"


"Ya."


"Dan mengerti apa yang harus kamu kerjakan."


"Benar."


"Dan selanjutnya itu juga yang mungkin akan menjadi tugasmu."


"Masa?" Mereka masuk ke dalam lift yang pintunya sudah terbuka.


"Iya."


"Duh?"


"Selamat Pak, kamu baru saja di promosikan." Clarra menepuk pundak rekan kerjanya tersebut.


Sementara Galang menempelkan punggung pada dinding mengkilap di belakangnya.


🌺


🌺


🌺


Bersambung ...


Ni kapan sih Ara nya keluar? Dia kan main carakternya. Kenapa Clarra mulu?


Sabar gaess, semua akan keluar pada waktunya, ehh ... 🤣🤣🤣 Ara kan masih sibuk kuliah sama mengejar mimpi.


Nanti kalau udah beres dan dia memutuskan untuk pulang, bisa ambyar dunia Kang Dudul 😆


udah waktunya vote nih 😜 mau dong dikirim vote biar masuk ranking. tapi like komen sama hadiahnya jangan lupa ya?


lope lope sekebon 😘😘

__ADS_1



__ADS_2