
🌺
🌺
Suara decapan kembali mengudara pada dini hari setelah mereka tanpa sengaja terjaga karena Amara yang terus menelusup ke pelukan Galang.
Tubuh yang sama-sama telanjang kembali menggoda hasrat keduanya untuk mengulangi pertautan tubuh sehingga berlangsunglah pergumulan tersebut.
Des*han dan erangan memenuhi kamar di salah satu unit apartemen megah di tengah kota, yang sebagian penghuninya mungkin saja sudah tenggelam di alam mimpi. Namun di sini, penghuninya malah terjaga.
Amara menjengit sehingga kedua alisnya terlihat saling bertautan, dan bibirnya tertutup rapat. Namun napasnya terdengar menderu-deru dengan dadanya yang naik turun dengan cepat.
Sedangkan Galang kembali memacu tubuhnya diatas perempuan itu dan menguasai segala apa yang ada padanya. Kini dia benar-benar memegang kendali atas Amara.
Pria itu menghujaninya dengan ciuman, dan kedua tangannya pun tidak berhenti menyentuhnya hingga ke bagian yang paling sensitif. Dan reaksi dari perempuan itu selalu membuatnya semakin bertambah semangat.
"Ahhh, … Kakak!" Amara mengerang dengan matanya yang mengerjap-ngerjap saat dia merasakan tubuhnya terus merespon setiap sentuhan Galang.
Pusat tubuhnya bahkan terus berdenyut seiring hentakan yang kian menggila, diikuti rintihan dan des*han yang terus keluar dari mulutnya.
"Masih sakit, Yang?" Galang berbisik. Disela pergumulan dia bahkan masih sempat berkelakar.
"Yang mana?" suaranya terdengar putus-putus dengan napasnya yang berhembus keras.
"Ini?" Dia menyentuh tangan kanan Amara yang berusaha dia lindungi agar tetap aman.
"Atau ini?" Lalu dia menyentuh kakinya yang dia tahan sebaik mungkin.
"Umm …."
"Atau ini?" Kemudian dia menambah tempo hentakannya pada pusat tubuh mereka.
Erangan Amara menjadi bertambah keras dan des*hannya pun semakin tak karuan. Wajahnya terlihat benar-benar memerah meski dibawah penerangan yang cukup temaram.
Tangan kirinya meremat bantal di dekat kepala dengan kencang dan dia tampak menggigil.
Galang benar-benar menyukai hal ini. Melihat setiap ekspresi wajahnya, dan respon ditubuh perempuan itu ketika mereka bercinta. Dan hal itu selalu membuatnya ingin melakukan lebih.
"Oohh … Kakak!" Amara meremat lengan Galang dengan keras ketika dia merasakan pelepasan menggulung tubuhnya.
Sedangkan Galang dengan segera mempercepat hentakannya saat dia juga merasakan hal yang sama. Pria itu menghujam begitu dalam seiring lenguhan yang keluar dari mulutnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Pelan-pelan!" protes Amara ketika pria itu menggosok punggungnya.
Pagi-pagi sekali ritual mandi bersama sudah berlangsung karena hari itu adalah hari pertama Galang kembali bekerja.
"Ini juga pelan-pelan." jawab Galang yang berjongkok di sisinya. Mengusapkan sabun dari paha sampai kaki Amara.
"Tapi aku ngerasa nya Kakak keras-keras."
"Semalam aku keras-keras kamu nggak protes? Tadi subuh juga, malah maunya begitu?" Galang menahan senyum ketika dia mengingat kejadian semalam.
"Dan lagi …."
"Stop! Jangan bahas masalah gituan!" Amara menutup mulut pria itu dengan tangannya.
"Kenapa jangan dibahas? Kan bagus biar kita tahu?" Namun Galang menariknya hingga terlepas.
"Aku .... Malu." Amara sedikit menunduk untuk menyembunyikan kedua pipinya yang merona.
"Kenapa malu? Kita kan suami istri." Galang mengulurkan tangan untuk meraih dagunya sehingga dia mendongak dan pandangan mereka kembali bertemu.
"Bahkan sebelum kita melakukannya, aku sudah sering melihatmu telanjang. Jadi apa masalahnya?"
"Umm …."
Pria itu tertawa.
"Kenapa sih kamu lucu sekali?" Dia mencubit pipi Amara lalu mengecup bibirnya dengan gemas.
__ADS_1
"Mmm … mandinya cepetan, nanti Kakak terlambat masuk kerja?" Amara mengingatkan.
"Oh iya, aku masih merasa kalau ini masih masa cuti." Galang melepaskannya lalu melanjutkan acara mandi mereka.
***
"Terima kasih." Galang menutup pintu setelah menerima makanan yang dipesannya lewat aplikasi online.
Dia sudah mengenakan stelan kerjanya, dan Amara sudah memakai dress selutut berwarna soft pink yang pria itu pilihkan. Dan rambutnya juga yang sudah diikat rapi seperti biasa.
"Kakak pesan makanannya?" Amara yang sudah duduk di ruang makan.
"Ya. Pagi ini aku nggak sempat masak. Tidak apa-apa kan?" Pria itu memindahkan makanan-makanan tersebut ke wadah yang sudah tersedia.
"Nggak apa-apa."
Galang tersenyum.
"Tapi dari pada pesen ke orang lain mendingan kita minta Nania kirim aja setiap hari?" Amara berujar.
"Bisa?"
"Bisalah, apanya yang nggak bisa?"
"Nanti Nania kejauhan mengantarnya."
"Nggak apa-apa, itu kan udah kerjaannya dia. Nanti aku tambahin bonusnya. Lagian bisa diantar sama Ardi atau Raka. Jadi Kakak nggak terlalu repot kalau pagi-pagi. Udah kerja, harus ngurusin aku juga di rumah."
"Nggak repot, kan sudah seharusnya." Galang tersenyum hingga kedua matanya terlihat seperti bulan sabit.
"Iya, tapi seharusnya aku yang urus Kakak sebelum berangkat kerja. Bukan malah sebaliknya."
"Nggak apa-apa, nanti kalau sudah sembuh juga begitu. Atau mungkin lebih?" Galang tergelak.
"Iya lebih." Dan Amara tersenyum.
"Nanti selama aku bekerja, kamu dirumah Papa ya?" Pria itu mulai menyuapinya seperti biasa.
"Kenapa?"
"Kan ada yang ngurus apartemen?"
"Pengurus apartemen cuma sebentar. Setelah selesai beres-beres ya mereka keluar lah."
"Emang nggak boleh nemenin penghuni ya?"
"Boleh sih kalau dia nggak kerja di unit lain. Tapi kita harus bayar lebih. Ya sama seperti kalau punya Art kan?"
"Iya juga."
"Jadi aku pikir, mungkin sebaiknya kamu di rumah Papa saja selama aku bekerja. Pagi aku antar ke sana, dan sore aku jemput setelah bekerja. Lagi pula kalau di sana kamu nggak akan merasa bosan."
Amara menganggukkan kepala.
"Kalau misal mau ke rumah Mama boleh nggak?"
"Ya boleh. Bisa gantian lah."
"Oke." Perempuan itu tersenyum sambil mengangkat jempolnya ke atas.
"Mau tambah tidak?" Galang menunjukkan piring yang sudah kosong.
"Nggak, aku udah." Amara yang meneguk air minumnya.
"Ya sudah, kalau begitu kita pergi sekarang?"
"Hu'um."
"Baik." Pria itu membereskan meja makan. Memindahkan wadah kotor ke bak cuci seperti biasa.
***
__ADS_1
"Aku pergi ya?" Galang berpamitan setelah sedikit berbasa-basi dengan kedua mertuanya.
"Iya." Amara menganggukkan kepala.
"Mudah-mudahan tidak ada jadwal tambahan jadi aku bisa pulang tepat waktu."
Perempuan itu menggangguk lagi.
"Titip Ara ya? Maaf merepotkan." Lalu dia beralih kepada Dygta dan Arfan yang menyimak interaksi itu dalam diam.
"Bercanda ya? Mana ada kata-kata seperti itu dari orang tua? Kalau ada anak yang datang sudah tentu kami akan menyambutnya dengan tangan terbuka." Arfan menjawab.
"Mm … iya, maksud saya …."
"Papa, jangan begitu. Kebiasaan!" Dygta meremat tangan suaminya.
"Pergilah Lang, jangan khawatirkan Ara. Kamu sudah melakukan hal yang tepat dengan mengantarkannya ke sini." ucap Dygta kepada menantunya.
"Iya, sekali lagi terima kasih." Galang menjawab.
"Oh iya, apa adik-adik sudah pergi? Mungkin bisa sekalian saya antar?"
"Tidak usah repot-repot, mereka pergi pagi-pagi sekali, tidak sesiang ini." Arfan sedikit menyindir.
"Umm …."
"Sudah Lang, pergilah. Adik-adik perginya tadi pagi diantar sopir." Dan Dygta menyela.
"Baik kalau begitu, saya pamit." ucap sang menantu yang mundur beberapa langkah.
"Kakak?" Namun Amara kembali memanggil.
"Ya?"Â
"Mau peluk dulu boleh?" Perempuan itu merentangkan tangan kirinya.
"Eee …." Galang melirik ke arah mertuanya yang masih berada di sana.
"Peluuuukkk!" Amara menggerakkan tangannya, yang jelas tak mampu Galang tolak.
Dia kemudian kembali mendekat dan membungkuk. Lalu memeluk tubuh istrinya untuk beberapa saat.
"Kakak jangan kangen aku ya, biar kerjanya fokus." Dia berbisik.
Galang terkekeh, lalu melepaskannya.
"Cium?" ucap Amara lagi, dan itu membuat suaminya tergagap.
"Mmm …"
"Ciumnya di sini biar kayak suami istri beneran." Perempuan itu menepuk keningnya sendiri.
"Kita kan nikahnya beneran Neng?" protes Galang yang membuat Amara tertawa.
"Iya iya, itunya juga benaran kan ya?"
"Eh?" Galang membulatkan matanya sehingga Amara menutup mulut dengan tangannya.
"Aku beneran pergi ya? Nanti telat." Lalu dia melihat jam tangannya.
"Iya, hati-hati." jawab Amara.
"Saya berangkat Pak, Mom." katanya lagi kepada kedua mertuanya.
Dygta menganggukkan kepala sedangkan Arfan hanya memutar bola matanya. Kemudian mereka masuk ke dalam rumah setelah Galang meninggalkan tempat tersebut.
🌺
🌺
🌺
__ADS_1
Bersambung ...
Astojiimm, si Papa! Masih aja jutek sama menantu. ðŸ¤ðŸ¤