My Only One

My Only One
Keadaan #2


__ADS_3

🌺


🌺


Satu minggu kemudian ...


"Menurutmu, apa kita harus mengajak Clarra juga?" Dimitri menyelesaikan pekerjaannya pada sore hari di gedung kantor Nikolai Grup.


"Mengajak Clarra?" Galang membereskan beberapa file yang sudah mereka teliti, dan memisahkannya sesuai dengan urutan kesepakatan.


"Ya, mengajak Clarra ke Paris. Sepertinya dia butuh liburan?" Pria itu melirik ke arah pintu ketika Clarra pun masuk.


"Tidak perlu repot-repot Pak Direktur. Aku tidak membutuhkan liburan sejauh itu." Ternyata dia mendengar percakapa antara atasannya bersama Galang.


"Benarkah? Pekerjaanmu itu sangat melelahkan. Tidak maukah kamu pergi liburan? Mumpung kita ada agenda ke Paris?"


"Tidak, terima kasih. Tidur di rumah selama libur akhir pekan sudah cukup bagiku." jawab Clarra yang meminta dokumen yang telah Galang bereskan.


"Hah dasar kamu ini?"


Clarra hanya tersenyum. "Ada lagi yang kamu butuhkan?"


"Tidak ada."


"Baiklah, kalau begitu aku akan meyerahkan file-file ini, kemudian pulang." Perempuan itu berbalik.


"Kamu yakin tidak mau ikut ke Paris?" tawar Dimitri lagi.


"Tidak."


"Tidak mau liburan? Lumayan lho, aku berikan liburan gratis." Pria itu membujuk.


"Tidak juga. Lagi pula pergi liburan denganmu sama saja bohong." Namun Clarra tetap menolak.


"Kenapa kamu bilang begitu?"


"Tidak ada yang namanya liburan kalau pergi dengan bos. Aku pasti akan tetap harus mengerjakan sesuatu."


"Siapa bilang?"


"Itu sudah pasti. Jadi, lebih baik aku diam saja di rumah. Lumayan kan bisa istirahat?"


"Serius?"


"Serius." Clarra melenggang keluar.


Sementara Dimitri mencebikkan mulutnya.


"Dia kelamaan bekerja jadinya lupa bagaimana caranya menikmati hidup." kemudian Dimitri bergumam.


"Aku dengar itu Dim." Clarra mundur kembali. "Dan sebaiknya kalian cepat pulang, sudah sore." Dan perempuan itu benar-benar keluar.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Clarra memutuskan untuk berhenti di sebuah taman kota. Duduk di sebuah kursi menikmati minuman yang di belinya di sebuah stand sekitar.


Suasana semakin ramai saat itu karena menjelang akhir pekan dan semua orang ingin menikmati waktu mereka. Entah bersama pasangan, keluarga, ataupun teman.


"Clarra?" Suara bariton terdengar di belakangnya.


Perempuan itu menoleh dan dia mendapati sosok yang dikenalnya berjalan mendekat.


"Apa kabar?" Pria tinggi berkemeja hitam yang bagian lengannya digulung asal itu berhenti pada jarak setengah meter saja.


"Dokter Syahril?" Clarra bangkit kemudian mengangguk pelan.


"Sedang apa kamu disini?" Pria itu berjalan memutar sehingga kini mereka berhadapan.


"Hanya mampir sebentar."


"Pulang bekerja?" Dokter Syahril bertanya.


"Ya."

__ADS_1


"Tidak lembur?"


"Akhir-akhir ini cukup santai." Mereka duduk bersisian.


"Itu bagus. Keadaanmu membaik?" Pria itu kemudian bertanya.


"Cukup baik."


"Syukurlah. Jika cukup istirahat, makan tepat waktu dan pola hidupmu teratur pasti kamu akan baik-baik saja. Sudah aku katakan sejak dulu bukan?"


"Ya, benar."


Keadaan cukup hening untuk beberapa saat. Dan itu cukup membuat canggung. Mereka bahkan tak punya topik lain untuk dibicarakan.


"Bagaimana dengaj Syahnaz?" Akhirnya Clarra terpaksa berbasa-basi.


"Dia sehat." Syahril menjawab.


"Mungkin dia sudah besar sekarang?"


"Ya, sudah kelas satu SD."


"Dia pasti tumbuh jadi anak yang cantik."


"Ya, kamu tahu sendiri."


"Apa dia masih suka menanyakan mamanya?"


"Sekarang tidak terlalu. Dia sudah mengerti kalau mamanya tidak mungkin akan kembali."


Clarra mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Tapi kadang dia suka menanyakanmu." Syahril menoleh, kemudian tersenyum.


Clarra mendengus pelan, dia merasa drama ini akan dimulai lagi. Seorang duda beranak satu yang berusaha memikat hatinya.


"Baiklah Dokter, kalau begitu saya harus ...."


Clarra mengatupkan mulutnya rapat-rapat.


"Iya, sepertinya saya harus ....." dia hampir saja bangkit ketika pria itu menatapnya.


"Duduklah, kita bicara sebentar." pintanya kepada Clarra.


"Tapi saya harus ...."


"Aku perlu berbicara." Syahril dengan suara pelan namun tegas.


Clarra tertegun, namun dia mengalah. Tak punya pilihan lain juga karena memang waktunya memang tepat, dan dia tak punya alasan untuk menghindar.


"Bicaralah." Akhirnya dia kembali menempelkan punggungnya pada sandaran kursi.


Mungkin ini saatnya dia untuk menghadapi pria ini sendiri.


"Aku sudah berbicara dengan orang tuamu, dan jawaban mereka tetaplah sama."


Clarra menggigit bibirnya kuat-kuat.


"Mereka tetap mengatakan jika aku harus berbicara denganmu." Syahril menatap perempuan itu yang terdiam membeku di sampingnya.


"Tapi kamu selalu menghindar setiap kali kita bertemu. Seperti hari ini." Dia terkekeh pelan.


"Maaf." Clarra segera merespon.


"Sekarang kamu malah meminta maaf?"


"Sepertinya saya tidak bisa ... menerima niat baik Anda." Perempuan itu mengepalkan kedua tangannya di atas lututnya sendiri. Berusaha mati-matian menahan sesak yang mulai kembali menyeruak.


Sementara Dokter Syahril menahan napasnya sebentar. Dia sudah mengira dengan jawaban tersebut, namun tidak pernah membayangkan juga jika perempuan ini akan mengatakannya secara langsung.


Syahril pikir Clarra akan mengatakan banyak hal sebagai alasan penolakannya. Tapi rupanya dia tidak seperti itu.


"Apa karena sudah ada orang lain?" Pria itu bertanya.

__ADS_1


"Apa? Tidak." Clarra menggelengkan kepala.


"Aku kira karena sudah ada orang lain, makanya kamu langsung saja menolak." Syahril terkekeh lagi.


"Tidak, tidak ada. Hanya saja ...."


"Lalu bagaimana dengan pria yang tempo hari mengantarmu ke rumah sakit?"


"Hah? Siapa? Galang?"


"Memangnya ada lagi selain dia yang mengantarmu ke rumah sakit?"


"Oo, ... dia ... bukan siapa-siapa. Hanya Galang, asistennya atasanku."


"Benarkah?"


"Ya, tentu saja. Tidak mungkin saya dengan dia ...."


"Jadi apa masalahnya?"


"Masalah apa?"


"Penyebab kamu tidak bisa menerima niatku? Apa karena ada Syahnaz?"


"Bukan, anda tahu itu tidak mungkin. Saya menyayangi Syahnaz sama seperti mamanya, tapi ...."


"Lantas apa?"


Clarra menatap wajah pria yang sempat menjadi pemilik hatinya selama bertahun-tahun itu.


"Anda tahu, saya tidak berminat untuk memiliki hubungan semacam itu. Dan bukankah sudah saya tegaskan jika saya memang tidak bisa? Saya rasa tidak harus saya jelaskan alasannya karena itu hak pribadi saya."


Kini Syahril yang terdiam.


"Jadi saya minta Anda tidak usah bertanya soal ini lagi kepada orang tua saya. Karena jawaban saya sudah jelas bukan?"


"Hanya begitu saja?"


Bibir Clarra terlihat bergetar.


"Ya, dan saya harus segera pulang. Permisi." Perempuan itu kali ini benar-benar bangkit, dan dia hampir saya meninggalkan Dokter Syahril ketika pria itu pun bangkit.


"Apa karena ucapan ibuku?" lalu dia berujar, membuat Clarra menghentikan langkahnya.


"Kalau iya itu penyebabnya, maka aku minta maaf. Ibuku hanya tidak mengerti."


Clarra membeku. "Beliau bukannya tidak mengerti, tapi tidak mau mengerti." Lalu menjawab tanpa mengalihkan pandangan. Kemudian segera pergi.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"See? Semakin dekat ke balapan pengunjung menjadi semakin banyak saja? Hotel kita sudah penuh." Piere meletakkan beberapa barang di trolli dan Amara bersiap untuk kembali menjalankan tugasnya.


"Iya, dan apakah akan setiap hari seperti ini?" Gadis itu menyeka keringat di dahinya.


Sejak pagi dia belum berhenti bekerja. Membereskan kamar, mengganti sprei dan bed cover, juga merapikan barang yang terkadang berserakan di lantai. Entah apa saja yang tamu-tamu itu lakukan di dalam sana sehingga keadannya terkadang terlihat tak karuan.


Belum lagi dia dan pegawai lainnya terkadang harus mengantarkan pesanan, entah itu makanan, minuman dan hal lainnya yang bahkan tak ada dalam bayangan.


"Aku rasa ya, maka bersiaplah."


"Hmm ... bahkan pegawai di resort papa nggak seperti ini." Dia bergumam seraya mendorong trolli tersebut keluar dari pantry.


🌺


🌺


🌺


Bersambung ...


Sabar Neng, ini belum seberapa 😂😂


mana dong, like komen hadiah sama vote nya... aku nungguin nih.

__ADS_1


__ADS_2