My Only One

My Only One
Papa Mertua


__ADS_3

🌺


🌺


Galang diam saja mendengarkan ceramah siang dari Arfan. Karena pria itu tak mendapatkan kabar perihal kepulangan putrinya dari rumah sakit yang mendadak.


Sementara Amara tetap berada di sisinya menggenggam tangannya dengan erat.


"Kalau kami tidak datang, tidak mungkin tahu Ara pulang hari ini." ucap Arfan masih dalam mode kesal meski Dygta mencoba menghentikannya.


"Maaf." Dan hanya itu yang mampu Galang ucapkan.


"Kamu suaminya, iya. Kamu yang bertanggung jawab kepadanya, iya. Dan kamu yang sekarang berhak atas apa pun yang ada padanya, itu juga iya. Tapi ingat, dia punya orang tua yang mengurus segala keperluannya sebelum dia menjadi istrimu. Bahkan jauh sebelum itu, saya yang mengurus segala hal sejak dia bayi."


"Papa." Dygta kembali bereaksi.


"Apa susahnya memberi tahu kami kalau kalian sudah pulang?" lanjut pria itu, masih berapi-api.


"Iya maaf, saya salah." ucap Galang lagi.


"Aku yang maksa pulang Pah." Amara buka suara. Dia tak terima sang ayah mengomeli suaminya, meski semua ucapannya benar.


"Papa sudah tahu, tidak apa-apa. Dan Papa faham. Tapi setidaknya beri tahu kami Kak, agar kami tidak khawatir juga salah sangka. Kamu tahu, hal semacam ini bisa menjadi pemicu pertengkaran di dalam keluarga."


"Iya Pah, maaf. Aku yang salah." ucap Amara lagi.


Arfan terdiam setelah mendengar putrinya berbicara.


"Udah ya, jangan marah-marah. Kasihan Kak Galangnya capek. Udah urusin aku setiap hari padahal. Mungkin kecapean jadinya lupa." Dia membela suaminya.


Sang ayah mendengus kesal seraya mendelik kepada menantunya.


"Nggak semua orang bisa kayak Papa, dengan pekerjaannya dan banyak tanggung jawab, tapi bisa memanage hal lain dengan baik. Kan masih belajar?" katanya lagi, membuat Galang mengalihkan pandagannya.


Dia tidak percaya jika perempuan yang sedang menggenggam tangannya ini bisa berbicara setenang itu di hadapan pria setegas Arfan.


Memang dia adalah putrinya, tapi merupakan hal yang tidak bisa dipercaya saja hal ini tidak berlaku bagi Amara. 


Ketika hampir semua yang mengenalnya merasa segan, apa lagi yang pernah mendapatkan pendidikan langsung seperti dirinya, tapi hal itu tidak ada pengaruhnya bagi perempuan yang terlihat lemah ini.


"Hhh … kalian ini membuat Papa khawatir tahu?" Arfan menempelkan punggungnya pada sandaran sofa.


Raut wajahnya kini sudah lebih tenang, tak setegang tadi. Membuat orang-orang di sekelilingnya juga terlihat lega.


"Nah, sudah clear kan? Setelah ini kita makan ya? Mommy bawa makanan soalnya." Dygta mengisi jeda yang sempat tercipta di antara mereka, lalu dia melirik barang yang sengaja dibawanya dari rumah.


"Mommy kok repot-repot amat pakai bawa makanan segala?" Amara menyahut.


"Nggak apa-apa, tadinya biar Galang nggak repot harus keluar atau pesan. Siapa tahu kalian juga bosan dengan makanan rumah sakit."


Galang kemudian bangkit dan membawa tote bag yang ditarik Dygta ke meja makan. Mengeluarkan isinya yang terdapat beberapa kotak makanan yang masih hangat.


"Alat makannya di mana?" Perempuan itu mengikuti Galang ke ruang makan.


"Sebentar." Sang menantu beralih pada lemari di dekat counter dapur dan mengambil beberapa peralatan yang dibutuhkan.


Mangkok, piring juga sendok garpu dan gelas yang ke semuanya memiliki warna yang sama.


Dygta terkekeh, tentu ini adalah hal yang unik dari seorang pria seperti Galang. Di mana dia hidup sendiri di Jakarta dengan segudang pekerjaan yang tidak semua orang punya. Hal itu belum berlangsung lama, tapi dia harus beradaptasi untuk hal yang tiba-tiba saja terjadi kepadanya.

__ADS_1


"Jangan terlalu dimasukkan ke dalam hati." Perempuan itu tiba-tiba saja berkata.


"Harap dimaklum, kalau Papanya Ara seperti itu. Sejak bayi dia yang mengurusnya sendiri, dan mereka juga sangat dekat sampai Ara dewasa." katanya, yang sedikit memelankan suara.


Galang menoleh.


"Sebenarnya niatnya baik memberi nasehat, hanya terkadang caranya lain. Kamu sudah tahu kan? Cara dia mendidikmu dulu juga seperti itu?"


Sang menantu menganggukkan kepala.


"Itulah caranya bersikap. Selama kamu benar tidak usah takut."


"Saya tidak takut Bu, eh Mom."


"Hanya terkejut, iya kan?" Dygta tertawa.


"Sedikit." Galang pun ikut tertawa.


"Apa kalian sudah selesai? Kami sudah lapar di sini?" Suara Arfan menginterupsi percakapan tersebut.


"Sudah Sayang, kemarilah." Dygta memastikan semua makanan yang dibawanya dari rumah sudah siap di meja.


Arfan tampak membantu Amara untuk pindah ke ruang makan, sementara Dygta menahan Galang yang hampir saja membantu Amara pula.


"Biarkan dia yang melakukannya." Perempuan itu berbisik, dan Galang pun menurut.


Kemudian acara makan pada hampir sore itu berlangsung hangat. Dan semuanya dimulai ketika anak-anak Arfan yang lain mulai bercerita tentang kegiatan mereka. Tanggapan demi tanggapan dilontarkan oleh orang dewasa yang terkadang berubah menjadi candaan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Galang keluar dari kamar mandi sambil mengusak rambutnya yang basah. Dia kemudian mendekat ke sisi ranjang di mana Amara sudah berada. Setelah memandikannya seperti biasa, dia beralih untuk mengurus dirinya sendiri.


"Iya, kan satu minggu." Galang menjawab. "Kenapa?" Dia menyampirkan handuk pada gantungan baju tak jauh darinya, kemudian duduk di dekat Amara.


"Lumayan lama ya?"


"Hmm …." Pria itu kemudian naik ke tempat tidur.


"Dan selama itu kita tetep di sini?"


"Ya memang mau ke mana lagi? Ke rumah orang tuamu? Aku pikir nggak enak soalnya aku sedang nggak kerja. Mau ke Bandung tapi keadaanmu seperti ini, nggak bagus juga untuk kesehatanmu kan?" Pria itu membenahi bantalnya lalu duduk bersandar.


"Terus soal Papa tadi siang …." Amara menjeda ucapannya.


"Papamu kenapa?"


"Maaf."


"Kenapa minta maaf?"


"Papa masih aja gitu padahal kita udah nikah."


"Terus?"


"Aku kadang malu sama Kakak."


"Kenapa mesti malu?"


"Soalnya Papa masih sering marah-marah sama Kakak."

__ADS_1


Galang tergelak.


"Maafin Papa ya?"


"Sudah watak Papamu begitu, kita bisa apa? Asal jangan membuat masalah degannya, sepertinya kita aman."


"Kakak nggak marah?"


"Nggak. Hanya kadang aku merasa takut salah dalam bertindak, atau ada perbuatanku yang kurang pantas. Karena Papamu begitu perfeksionis dalam segala hal. Dan aku menikahi putrinya."


"Sabar ya? Nanti juga nggak. Papa aslinya baik kok, tapi kalau sama orang lain nggak tahu kenapa suka gitu."


Galang menggelengkan kepala sambil tersenyum.


"Sekarang tidurlah, sudah malam."


Amara melirik jam diatas nakas.


"Baru jam delapan?"


"Hmm … tapi aku capek." Galang merebahkan kepalanya diatas bantal.


"Capek habis ngapain? Dari siang udah di sini?"


"Nggak tahu. Mungkin karena pulang dari rumah sakit." Pria itu mengulurkan tangannya untuk memeluk Amara yang juga menurunkan tubuhnya sehingga mereka sama-sama berbaring.


"Beneran mau tidur?" tanya Amara.


"Hu'um." matanya mulai terkantuk-kantuk.


"Nggak mau nerusin yang tadi?"


"Nggak ah, nanti ada yag ganggu lagi." Galang sedikit tertawa.


"Serius?"


"Hmm … kamunya juga masih begini. Sepertinya gangguan itu sengaja didatangkan biar kita nggak macam-macam dulu."


"Gitu ya?"


"Iya."


"Kakak?"


"Tidur Neng, aku beneran ngantuk." Galang bergumam, namun tangannya menyelinap dibalik piyama Amara dan langsung menelusup meraup sebelah dadanya.


Dalam beberapa menit saja sudah terdengar dengkuran halus didekat telinganya, membuat Amara menoleh.


"Huh, dasar tukang tidur!" katanya, yang menemukan Galang sudah memejamkan mata.


🌺


🌺


🌺


Bersambung ...


waktunya untuk vote!!😘😘

__ADS_1


__ADS_2