
🌺
🌺
"Kita malah berputar ke sini, Anya?" Daryl memelankan langkahnya ketika jarak mereka sudah dekat dengan Amara's Love.
"Nggak apa-apa Om, aku mau milkshake strawberry." Anya menarik tangan pamannya yang kerepotan dengan dua kresek camilan yang mereka beli di swalayan dua blok dari Nikolai Medical Center. Yang kemudian menyebabkan mereka berjalan memutar ke arah kedai paling terkenal di area itu.
"Kita beli milkshakenya di tempat lain Anya." Daryl memaksa menghentikan langkah mereka.
"Di mana?" Anya berhenti kemudian memutar tubuh.
"Di ... " Pria itu mengedarkan pandangan ke sekitar untuk mencari tempat yang memungkinkan akan menghindarkan mereka dari kedai milik Amara. Dia sedang tak ingin berkunjung ke tempat itu, apalagi untuk berlama-lama di sana.
"Di sana, ya. Di sana." tunjuknya pada area jalan yang diingatnya ada sebuah kafe yang cukup terkenal juga di kalangan karyawan kantor di kawasan itu.
Anya menatap ke arah sang paman mengarahkan telunjuknya.
"Di sana milkshakenya nggak enak. Strawberrynya bohongan." ucap Anya ketika dia mengingat sesuatu.
"Kalau di tempatnya Kak Ara, strawberrynya itu beneran, ada biji-bijinya gitu. Belum lagi ada buah aslinya. Enak lho." Anak itu kembali menarik pamanya ke arah kedai.
"Mas?"
"Serius Om. Iyakan Zen?" Anya meminta dukungan kepada adik kembarnya yang sama-sama dia tarik seperti Daryl.
Dan Zenya menjawabnya dengan anggukkan kepala. Seperti biasa, anak yang satu itu tidak terlalu banyak bicara meski sang kakak terus berceloteh.
"Dari mana kamu tahu?" Daryl bertanya.
"Waktu itu pas kedainya Kak Ara penuh aku sama Mommy pindah ke tempat itu. Makanya tahu."
"Hmm … kalian rupanya memang benar-benar tukang makan ya?"
"Bukan."
"Terus apa?"
"Seneng jajan." Anya tertawa.
"Sama saja."
"Beda Om. Kalau makan itu di rumah, ini kan beli. Jadi namanya jajan, bukan makan."
Daryl memutar bola matanya.
Dan akhirnya mereka pun tiba di kedai tersebut yang masih tampak lengang. Tentu saja, waktu baru menunjukkan pukul 10.30 menjelang siang.
"Selamat siang, selamat datang di Amara's Love." Suara Nania seperti biasa menyambut kedatangan tamu di kedai tersebut.
"Kakak!" Anya melambaikan tangan saat gadis itu berjalan mendekat.
"Eh ada Anya?" Nania yang memang sudah hafal dengan anak yang satu itu.
"Ada Zenya sama Om Daryl juga Kak." Anya mendongak kepada sang paman yang terdiam.
"Oh iya. Selamat datang Pak Daryl, apa kabar Zenya?" Gadis itu melambaikan tangannya sambil tersenyum.
Kenapa tidak menanyakan kabarku ya? Pria itu membatin.
"I'm oke." jawab Zenya, pendek.
"Kalian nggak sekolah?" Nania berbasa-basi.
"Nggak, lagi bebas. Kan habis ujian." Anya menjawab.
"Oh ya? Wah … enak dong? Habis ujian berarti kalian naik kelas?"
__ADS_1
"Hu'um, jadi TK B."
"Wow? Bagus."
"Iya dong, sebentar lagi aku gede!" Anya dengan bangganya.
"Oke, kalian mau makan?" Nania mundur beberapa langkah ketika Anya menarik Daryl ke satu meja dengan empat kursi di sudut dekat pantry. Dengan pemandangan gedung Nikolai Grup mendominasi.
"Aku mau milkshake." Anya segera duduk diikuti saudara kembar dan pamannya.
"Milkshake?"
"Hu'um."
"Rasa apa?" Nania mengeluarkan buku orderan dari afronnya.
"Strawberry milkshake."
"Oke. Zenya?"
"Cokelat milkshake." anak laki-laki itu menjawab.
"Eh, bukannya kalian nggak boleh makan es krim di hari biasa ya?" Nania mengingat aturan Rania yang sering dia dengar.
"Nggak, kan aku mintanya milshake bukannya es krim?" Anya menjawab.
"Milkshake juga pakai es krim tahu?"
"Masa? Kakak bohong."
"Serius."
"Tapi dikit kan? Banyakan susunya kan?"
"Es krimnya dua scoop. Tambah susu, tambah strawberry dan bahan-bahan lainnya." Nania menjelaskan.
"Ya … milkshake."
"Nah kan, bukan es krim?"
"Umm …" gadis itu menjengit.
"Aku maunya milkshake aja."
Nania menghembuskan napasnya pelan-pelan. Lebih baik ikuti saja kemauan anak ini dari pada nanti dia repot sendiri. Begitu pikirnya.
"Oke. Dan Bapak?" Nania melirik kepada Daryl yang hari itu tidak banyak bicara. Tidak mengomentari dirinya atau melontarkan ejekan seperti biasanya.
Pria itu tidak merespon, namun dia asyik menatap wajahnya dalam diam.
"Pak? Mau pesan sekarang?" tanya Nani lagi yang membuat lamunan pria itu buyar seketika.
"Hah? Umm … tidak. Buatkan saja pesanan mereka." Daryl menjawab.
"Beneran?" Nania tampak tidak percaya. Karena biasanya Daryl akan merepotkannya dengan memesan makanan yang tidak biasa dan cenderung memakan waktu lama untuk dibuat. Dan terkadang membuat dirinya kerepotan setiap kali pria itu datang berkunjung.
"Iya." Daryl pun menganggukkan kepala.
"Serius? Nggak mau pesan spageti carbonara?"
Daryl kini menggeleng.
"King crabb?"
Pria itu menggeleng lagi.
"Chicken steak atau rattatouile?" Nania mendekat. "Atau paket nasi liwet dadakan komplit dengan semua lauk dan toppingnya?"
__ADS_1
"Tidak." jawabnya, pendek.
"Bapak lagi sakit ya?" Gadis itu sedikit mencondongkan tubuh kecilnya.
Daryl menggeleng lebih pelan.
"Ini aneh." Nania kemudian menegakkan tubuhnya. "Biasanya Bapak bikin masalah kalau ketemu saya? Kalau nggak ledekin saya, ya pesen makanan yang bikin saya pusing!"
Daryl mengerutkan dahi.
"Tidak lihat aku bawa banyak makanan begini ya?" Pria itu meletakkan dua kantong kresek berlogo mini market terkenal di atas meja.
Nania menatap wajah Daryl dan kresek itu secara bergantian.
"Aku punya makanan di sini, jadi kenapa harus pesan?" katanya, datar.
Nania mencebikkan mulutnya.
"Cepat, sana buatkan pesanan anak-anak biar mereka tidak berisik!" ucap pria itu dengan nada kesal.
"Hmm …." Gadis itu menjawab dengan gumaman.
Â
Kemudian dia segera kembali ke pantry untuk melakukan apa yang diminta. Sementara Daryl menatapnya yang dengan cepat mengerjakan tugasnya.
Cih! Apa istimewanya sih anak SMP ini? Penampilannya biasa, pakai kaus kedodoran, jeans belel dan sepatu kets. Kadang rambutnya saja diikat asal dan cenderung berantakan? Batin pria itu yang tak melepaskan pandangannya dari Nania.
"Om lihatin Kak Nania terus?" Anya menginterupsi lamunannya.
"Hah, apa?" Dan lamunan Daryl pun buyar seketika.
"Om lihatin Kak Nania terus." ulang Anya yang juga mengarahkan pandangannya ke pantry.
"Tidak, kamu salah lihat." Daryl menyangkal.
"Masa? Tapi kok lihatnya ke sana terus?"
Daryl mendengus keras. Sepertinya ide membawa anak ini keluar merupakan sebuah bencana.
Dan dia hampir saja berbicara ketika Nania kembali dengan nampan nerisi dua gelas milkshake pesanan keponakan kembarnya.
"Yeayyy!!" Anya da Zenya berjingkrak kegirangan, dan keduanya segera menyesap minuman tersebut begitu Nania meletakkannya di depan mereka.
"Spasibo! (terima kasih)." Zenya dengan wajah sumringah. Ini adalah minuman yang paling dia suka, dan merasa senang karena mendapatkannya.
"Apa?" Nania bereaksi ketika dia tak mengerti dengan ucapan bocah itu.
"Thank you." Zenya mengulaginya.
Nania terdiam.
"Spasibo artinya thank you. Terima kasih." Daryl menjelaskan.
"Ooohh." Gadis itu mengangguk-anggukkan kepala dengan mulutnya yang membulat membentuk huruf O.
"Ada lagi yang mau kalian pesan?" Lalu Nania bertanya lagi.
"No." ucap Anya yang sibuk dengan milkshake strawberry nya.
"Oke, panggil aja kalau butuh yang lainnya ya?" Dia kemudian kembali ke tempat biasa menunggu pengunjung. Sementara Daryl pura-pura sibuk dengan kedua keponakannya.
🌺
🌺
🌺
__ADS_1
Bersambung ...