My Only One

My Only One
First Thing


__ADS_3

🌺


🌺


Galang membuka matanya ketika cahaya pagi menyelinap di sela tirai jendelanya yang masih tertutup rapat. Dia menekan tombol pada jam weker di atas nakas yang berbunyi sejak setengah jam yang lalu.


Tidak biasanya pria itu bangun kesiangan seperti ini. Mungkin karena efek kehujanan semalam yang membuatnya sedikit merasa tidak enak badan. 


Tentu saja, berdiri di bawah guyuran hujan lebat sepertinya merupakan hal yang konyol. 


Setelah mengantarkan Clarra, dan memastikan perempuan itu pulang ke rumahnya dengan selamat, dia pun segera meluncur ke apartemennya. 


Pria itu terkekeh seraya bangkit dan menyingkap selimut tebalnya. Lalu duduk sebentar di tepi ranjang. Mengingat apa yang telah terjadi semalam, dan dia merasa lega karena telah melakukannya.


Ternyata dirinya bisa, dan berhasil.


Lihatlah Ara, aku bisa tanpamu. Selama ini aku hanya tidak sadar, dan menaruh harapan terlalu besar kepadamu. Tapi nyatanya? Aku mampu melangkah lebih jauh dari apa yang aku perkirakan.


Hatinya bermonolog.


Kemudian dia bangkit dan melangkah ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


***


Mereka tiba hampir bersamaan di depan gedung Nikolai Grup. Galang dengan motornya, dan Clarra dengan mobilnya sendiri. Mereka bahkan memarkirkan kendaraannya di tempat yang berdekatan.


Galang memutuskan untuk menunggu perempuan itu turun sendiri dari mobilnya, lalu menyambutnya dengan senyuman saat dia menoleh.


Clarra menunduk dengan pipi merona. Tidak percaya hal seperti ini terjadi lagi kepadanya.


"Apa kamu baik-baik saja?" Galang memulai percakapan.


Clarra menganggukkan kepala.


"Mau aku bawakan?" tawar pria itu yang melihat keadaan kekasihnya yang tampak repot membawa tas laptop dan dua tote bag berisi pekerjaan yang dia bawa ke rumah.


Kekasih.


Galang terkekeh dalam hati. Setelah ini hari-hari mereka pasti tidak akan sama lagi.


"Tidak usah, aku sudah biasa." Clarra menjawab, seraya berjalan mendahuluinya.


"Kamu tidak terkena flu?" Pria itu berusaha mensejajari langkahnya yang cukup cepat.


"Tidak. Papa memberiku obat semalam."


"Hmm … syukurlah."


"Kamu sendiri bagaimana?" Mereka sama-sama menganggukkan kepala ketika berpapasan dengan beberapa karyawan.


"Aku baik." 


"Syukurlah. Atau, kalau mau nanti aku berikan obat dari papa biar kesehatanmu terjaga." ucap perempuan itu. Yang membuat Galang menghentikan langkahnya sejenak. Dia lantas tersenyum karenanya.


"Hey Cla, tunggu! Kenapa sih jalanmu cepat sekali?" protes Galang sambil mengejarnya.


"Setiap hari juga seperti ini." Mereka berhenti di depan lift.


"Selamat pagi Bu Clarra, selamat pagi Pak Galang?" Karyawan yang sudah lebih dulu berada di sana menyapa mereka.


"Pagi." Keduanya menjawab bersamaan.


Kemudian pintu lift terbuka, dan mereka segera masuk ke dalam kotak besi itu.


Suasana di dalam sana hening seperti biasa. Tak ada yang bercakap-cakap atau setidaknya saling menyapa. Berada satu ruangan dengan dua staff utama Nikolai Grup cukup membuat siapa pun ketar-ketir. Jadi mereka memilih untuk diam saja.


Lift terus melesat setelah beberapa kali berhenti di setiap divisi hingga akhirnya tiba di lantai paling atas gedung tersebut.


"Aku kira kamu datang dengan Dimitri?" Clarra baru buka suara setelah mereka tiba di meja yang berada di depan ruangan direktur.


"Tidak, itu hanya sesekali saja. Lagi pula dia punya sopir kan? Kenapa aku harus repot-repot?"


Clarra menoleh ke samping di mana Galang sudah duduk di tempatnya seperti biasa.


"Apa?" Pria itu mendongak.


"Hanya kamu asisten yang berani berbuat begitu kepada Dimitri." ucap Clarra dengan raut heran.


"Memangnya kenapa?"


"Biasanya asisten akan mengurus segala kepentingan atasannya."


"Kan sudah ada."


"Siapa?"


"Kamu." Pria itu tersenyum. "Jadi aku hanya tinggal melakukan apa yang tidak bisa kamu lakukan." katanya.


"Tetap saja."


"Hanya katakan saja apa yang harus aku lakukan, dan aku akan melakukannya dengan baik. Selama ini dia tidak pernah protes dengan pekerjaanku."


"Ya, beruntungnya jadi kamu." Clarra duduk di kursi miliknya, di samping Galang.


"Beruntung kenapa?"


"Istri direktur adalah sahabatmu, jadi dia tidak akan berani macam-macam kepadamu."


"Apa?" Galang tertawa. "Tidak ada hubunganya tahu?"


"Benarkah?"


"Ya, tentu saja."


"Tapi sepertinya kalian begitu dekat?"


"Siapa? Aku dan Rania?"


"Siapa lagi?"


"Tentu kami dekat, kami tumbuh bersama tahu."


"Masa?"


"Ya."


"Main bersama, sekolah bersama?"


"Ya, seperti itu." Galang menyalakan laptopnya.


"Eh, kenapa laptopnya dinyalakan di sini?" Perempuan itu bertanya.


"Kenapa katamu? Ya aku mau bekerja lah. Mana pekerjaanku? Sini?"


"Kenapa di sini? Ke ruanganmu sana."


"Tidak mau."


"Kenapa tidak mau?"


"Sudah aku bilang kalau aku nggak suka bekerja sendirian."


"Ya kerja di ruangannya Dimitri saja. Sebentar lagi dia datang kan?"


"Sepupumu itu berisik kalau aku temani bekerja." 


"Berisik bagaimana?"


"Dia bicara terus."


"Kan Dimitri memang begitu. Kamu ini seperti baru saja mengenalnya sih?"


"Akhir-akhir ini dia mengesalkan."


"Mengesalkan bagaimana?"

__ADS_1


"Dia …."


"Om Galang!!!" Dua anak kecil berlari ke arah mereka tanpa di sadari kedatangannya. Dan pasangan suami istri mengikuti dari belakang.


"Cieee, pagi-pagi udah berduaan." Rania yang melihat ke akraban di antara sekretaris dan asisten suaminya itu.


"Kenapa kalian di sini?" Galang segera menyambut dua anak kecil yang menghambur menghampirinya.


"Ikut Papi kerja." Anya menjawab.


"Kalian nggak sekolah?"


"Sekolahnya libur." 


"Kok libur?"


"Gurunya rapat."


"Kayak anak SMA aja?" Pria itu berujar.


"Ya anggap aja gitu." Sahut Rania.


"Terus mau di sini seharian?"


"Iyalah."


"Tidak ada jadwal keluar kan Cla?" Dimitri ikut berbicara.


"Tidak. Hanya bekerja di kantor saja. Semua dokumen sudah aku letakkan di mejamu semalam."


"Baiklah, itu bagus. Ayo?" Dimitri menyentakkan kepalanya ke arah ruanganya.


"Hmm …." Rania mengikuti langkah suaminya.


"Aku nggak. Mau di sini aja." Anya tetap berada di dekat Galang meski adik kembarnya sudah berjalan lebih dulu mengikuti orang tua mereka.


"Om Galangnya lagi kerja lho." Rania menoleh.


"Aku nggak akan ganggu, aku good girl." ucap Annya.


"Beneran ya?"


"Hu'um." Anak itu mengangguk.


"Om kok kerjanya disini?" Anya duduk di kursi yang galang ambil dari ruangannya.


"Memang disini "


"Nggak sama papi?"


"Kan lagi ada mama kamu?"


"Biasanya juga ikut."


Galang memutar bola mata.


"Semalam aku nginep di rumah opa lho." Anak itu terus berbicara.


"Oh ya? Opa sehat?"


"Sehat dong, opa aku rajin olahraga. Tadi pagi aja aku joging sama opa."


"Masa?"


"Hu'um."


"Bagus."


"Semalam juga ngumpul. Ada Papa Arfan, ada Mommy Dygta, kak Ann, kak Arkhan, kak Aksa juga kak Asha. Om Daryl sama Om Darren kan pulang."


"Oh ya?"


"Iya. Kak Ara juga ada. Tapi om kok nggak ada? Bukannya kalau pacaran itu suka bareng-bareng ya?" ucapan Anya membuat dua orang dewasa di dekatnya menghentikan pekerjaan.


"Kamu ngomong gitu terus?" Galang bereaksi.


"Astaga." Galang mengusap wajahnya. 


Mengapa dia merasa malu dengan ucapan anak ini? 


"Anya, Om nggak pacaran sama kak Ara. Sekarang cuma temenan." Pria itu mencondongkan tubuhnya ke arah Anya.


"Oh ya?"


"Iya, lagian kenapa sih kamu ingetnya itu terus? Masih kecil juga. Nggak baik tahu?"


Anya terdiam menatap wajah Galang dengan kedua mata bulatnya yang bening.


"Jadi kalau temenan juga boleh pelukan ya? Kan waktu itu …."


"Anya, mau es krim? Ayo kita beli es krim?" Galang mengalihkan perhatiannya.


Mengapa juga anak ini malah membahas hal itu? Bisa-bisa menimbulkan kesalah fahaman kepada Clarra. 


Nggak lucu, masa baru semalam jadian udah berantem gara-gara bahasan anak ini? Huh, anak si oneng kok ngeselin?


"Ayo, kita beli es krim?"


"Nggak boleh, kan bukan hari Mnggu." Anya menjawab.


"Jajan es krim aja harus nunggu hari minggu? Ada-ada aja mommy kamu itu."


"Kata mommy, biar spesial."


"Spesial apanya? Cuma es krim doang?"


"Nggak tahu." Anya menggendikkan bahu.


"Sudah, sekarang diamlah. Om lagi kerja."


"Ah, Om nggak asik." Anya kemudian turun dari kursi.


"Eh, mau ke mana?"


"Ke papi ah, Om nyebelin."


"Apa?"


"Cuma gara-gara nggak mau diajak makan es krim jadi gitu." Anak itu melenggang ke arah pintu ruang kerja ayahnya.


"Hah?"


"Mommy, Om Galangnya nakal, ngajakin aku makan es krim terus." Anya menerobos masuk ke dalam ruangan.


"Apa?" Rania muncul di ambang pintu.


"Bohong, aku cuma bercanda Ran!" Galang membela diri.


"Awas ya?" Perempuan itu mengepalkan tangannya di udara.


"Cuma ngetes. Ternyata dia nurut." Pria itu tertawa.


Sementara Rania mendelik sebelum akhirnya kembali ke dalam.


"Huh, emak sama anak sama ngeselinnya?" Galang bergumam.


Sedangkan Clara tertawa.


"Apa yang kamu tertawakan? Lucu ya, si Anya? Kecil-kecil udah ngeselin?"


"Iya, dan dia sangat jujur."


"Jujur soal apa?"


"Semuanya."

__ADS_1


"Umm …."


"Aku jadi curiga, jangan-jangan dia sering melihat sesuatu?"


"Mungkin. Emak bapaknya kan begitu?"


Clarra menggelengkan kepala.


"Atau waktu ke Paris dia melihat hal lain."


"Apa?"


Perempuan itu menoleh kepada Galang.


"Kamu waktu di Paris ketemu Ara?" kemudian dia bertanya.


"Mm …."


"Aku curiga ada yang terjadi terus dia melihatnya. Makanya bicara terus seperti itu?" Clarra tertawa lagi.


"Jangan bahas itu lah. Nanti kita bertengkar. Kan nggak lucu baru juga jadian?"


Kini Clarra yang terdiam. Dia menatap wajah pria itu yang berseri-seri. Galang juga terlihat menahan senyum.


"Memangnya semalam itu kita beneran jadian ya?" Clarra kembali menghentikan pekerjaannya.


"Memangnya kamu pikir apa?"


"Aku kira …."


"Mencium seorang pria karena alasan iseng? Aku rasa itu nggak masuk akal."


"Aku …."


"Aku rasa hal itu bersifat pribadi, nggak semua orang bisa kamu cium seperti itu tanpa alasan yang jelas. Dan aku merasa kalau ciuman itu …."


"Stop!" Clarra menutup mulut pria itu dengan tangannya 


"Kenapa sih harus membahas itu?"


"Ya habisnya kamu …." Galang hampir menarik tangan perempuan itu.


"Kembali bekerja! Deadlinenya harus selesai minggu ini."


"Um …."


"Jangan bicara terus, atau pindah ke ruanganmu. Aku harus bekerja, tahu?"


"Aku juga harus bekerja, tapi tanganmu jangan begini."


Dengan cepat Clarra menarik tangannya kembali. Kemudian mereka sama-sama kembali pada pekerjaan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Semalam kamu tidur jam berapa? Papa lihat lampu kamarmu masih menyala sampai tengah malam?" Arfan menyapa putri sulungnya ketika dia bergabung untuk sarapan.


"Lumayan malam." Amara menjawab. 


"Kenapa?"


"Mama nelfon, tanya kenapa aku nggak pulang ke sana."


"Terus?"


"Ya aku jawab, di ajak kerumah Papi karena kak Darren dan Kak Daryl pulang."


"Mama mu marah?"


"Nggak, cuma ngiranya aku pergi ke mana gitu. Terus, habis itu aku ngerjain ini." Amara menyerahkan buku gambar kepada ayahnya.


"Apa ini?"


"Desain untuk interior kedai nanti." Dia menunjukkan gambar sebuah ruangan.


"Konsepnya nggak terlalu spesifik sih, biar bisa dikunjungi semua kalangan. Terus, itu kan nantinya membidik kalangan perkantoran juga, tapi bisa bikin yang datang merasa enjoy lah."


Arfan mengangguk-anggukkan kepala.


"Detail-detailnya belum semua sih, tapi ini gambaran awalnya doang. Gimana menurut Papa?"


"Bagus. Kamu punya selera sendiri untuk hal seperti ini. Iya kan Sayang?" Pria itu meminta pendapat istrinya.


"Hmm … tapi harus punya menu khusus yang jadi ciri khas kedai kamu dong. Biar orang punya ingatan yang lebih, yang membuat mereka mau datang ke sana."


"Mommy bener. Nanti aku lihat referensinya, sekalian milih daftar menu juga."


"Mau makanan rumahan atau apa?"


"Di mix aja Mom. Dan kayaknya menu rumahan juga bagus, tapi nanti ada variasinya. Western juga ada, terus main coursenya juga lain-lainnya. Nanti deh aku mau minta pendapat sama Piere."


"Piere?" Arfan dan Dygta bersamaan.


"Iya, temen aku yang ketemu waktu wisuda."


"Oh, …."


"Dia udah kerja di hotel terkenal di Paris sekarang."


"Benarkah? Apa pekerjaannya memasak seperti yang kalian pelajari?"


"Gitulah."


"Itu bagus."


"Ya, ide-idenya memang bagus." lalu mereka memulai sarapannya.


"Terus hari ini kamu keluar lagi?" Arfan bertanya.


"Ya, ada sesuatu yang harus aku kerjakan."


"Apa?"


"Merinci apa aja yang harus kita punya untuk kedainya."


"Mau ke sana lagi?"


"Ya."


"Mau Papa temani?"


"Nggak usah, aku bisa sendiri."


"Yakin?"


"Yakin. Nanti Papa bantunya kalau aku butuh modal aja." Gadis itu tertawa.


"Kan itu sudah, membayar sewa ruko dan semacamnya?"


"Iya, itu maksudnya."


"Baiklah. Katakan saja kalau kamu butuh sesuatu."


"Terimakasih Pah."


Arfan tersenyum, kemudian melanjutkan acara sarapan mereka.


🌺


🌺


🌺


Bersambung ...


terima kasih untuk yang tetap bertahan membaca novel ini meski tidak sesuai ekspektasi. Bagi pembaca setia, kalian pasti tahu ciri khas tulisanku. Dan bagi mereka yang mundur karena kecewa, terima kasih sudah menemani perjalanan novel ini. Kalian luar biasa 😉

__ADS_1


oh iya, ada novel kece nih yang rekomended banget untuk di baca. yuk di kepoin.



__ADS_2