
🌺
🌺
"Kak Ara!" Anya berlari begitu dia masuk ke dalam kedai.
Dan Amara memutar tubuh saat dia memberikan kertas pesanan kepada Ardi yang bertugas di dalam bersama Raka.
"Anya?" katanya, dan pandangannya segera beralih kepada pria yang mengikuti anak itu.
"Kalian cuma berdua?" Dia melihat ke belakang Galang.
"Ya, Mommy nggak bisa ikut karena dirumah Opa lagi pada ngumpul."
"Oh ya? Ada siapa aja?"
"Umm …." Anya mencoba mengingat. "Kak Arkhan, Kak Ann, Kak Aksa, Kak Asha. Zenya, Mommy Papi, sama Om Darren. Oma Opa juga. Tapi Papa Arfan sama Mommy Dygta nggak ada. Pergi honeymoon ke Bogor." Anak itu dengan lugunya.
"Apa?" Amara tertawa.
"Aku bingung. Bukannya yang honeymoon itu orang yang baru nikah ya? Kok Papa Arfan sama Mommy Dygta pergi juga. Emangnya mereka baru nikah?"
"Aih, … tahu dari mana kamu soal itu?"
"Dari You Tube." jawab Anya.
"Kebanyakan nonton You Tube kamu!" Amara mengusap puncak kepalanya.
"Habisnya kalau nonton tivi pusing. Banyak berita yang nggak baik buat anak-anak."
Amara tertawa lagi.
"Orang-orang pada ngumpul di rumah Opa, kamu malah ke sini?"
"Kan mau es krim!" Anya dengan senyum lebarnya.
"Ah, … kamu ingat ternyata?"
"Iya dong. So, di mana aku duduknya?" Anak itu melihat sekeliling.
"Ayo di sini. Ini tempat spesial untuk Anya." Amara mengajaknya ke sebuah sudut di sisi kiri di mana mereka bisa melihat pemandangan luar kedai.
"Really? Cool." Anak itu duduk di kursinya.
"See, Om. Di sini aku bisa lihat kantornya Papi." Dia meunjuk gedung tinggi berlogo Nikolai Grup itu.
"Pas kan? Kamu bisa lihat kantor tempat Papi kerja?"
"Hu'um." Anya menganggukkan kepala.
“Kalian beneran datang cuma berdua aja?” Amara kini beralih kepada Galang yang sejak tadi menunggu dia untuk menyapanya.
“Seperti yang kamu lihat.” Pria itu menjawab.
“Maksud aku, kalian nggak datang sama Kak Clarra?” Amara memperjelas pertanyaannya.
“Ya kamu lihat sendiri kan?” Galang pun menjawab.
“Kak Clarra tahu kalau Kakak datang ke sini?”
Galang menggelengkan kepala.
“Kenapa? Kakak diem-diem datang ke sini tanpa sepengetahuan Kak Clarra?”
“Nggak gitu juga.” Pria itu menjawab.
“Maksud Kakak?” Amara pelipat kedua tangannya di dada.
“Aku tidak sengaja kesini. Kalau bukan Anya yang mengajak, aku juga nggak akan kesini.” ucap Galang sekenanya.
“Bohong! Tadi Om yang janji sama aku bakalan ngajak aku ke sini.” celetuk Annya tanpa merasa ragu sekali pun.
“Apa?” Amara membulatkan matanya, sementara wajah Galang sedikit memucat, dan dia menggelengkan kepala.
“Kakak menggunakan Anya sebagai alasan untuk datang ke sini?”
“Nggak ih! Mana ada aku begitu?” sanggah Galang.
“Itu tadi Anya bilang begitu?”
“Anya cuma asal bicara. Dia sendiri yang bilang kalau hari ini mau ke sini. Katanya mau makan es krim. Sampai-sampai dia nahan diri makan di rumahnya Pak Satria.”
“Masa?”
“Si oneng yang bilang begitu.”
Amara memicingkan mata.
“Serius Ra.”
“Aku nggak percaya sama Kakak.” Gadis itu menjawab.
__ADS_1
Galang mendengus kesal dan dia mendelik ke arah Anya.
“Beneran Anya gitu?” Lalu Amara beralih lagi kepada bocah yang masih menunggu itu.
“Hu’um.” Anya menangguk. “Habisnya ngajak Mommy sama Papi pada nggak mau. Pas itu ada Om Galang dateng, ya udah.”
“Tadi Anya bilang kalau Om Galang yang ngajak kesini?”
“Emang bener, pas aku ajak Om Galang jawabnya iya, tunggu sebentar. Om nya mau ngobrol dulu sama Opa.”
“Hmm ….”
“Aku beneran nunggu lho, di dekat kolamnya Opa. Sambil dengerin Om Galang sama Opa ngomongin apa.”
“Eee … Anya?” Galang bereaksi.
“Lagi gosippin tante Clarra.” Anak itu setengah berbisik seolah orang lain tidak akan bisa mendengar ucapannya.
“Apa?”
“Astaga!” Galang menghempaskan punggungnya pada sandaran kursi. Dia tak percaya anak kecil ini akan mengatakan hal tersebut.
Amara terdiam sebenyar.
“Kakak mau tahu nggak apa aja yang Om Galang sama Opa obrolin?” Anya berbicara lagi.
“Um ….”
“Itu lho, soal ….”
“Nggak.” Amara memotong ucapannya. “Kakak nggak mau tahu.” katanya.
“Kenapa?” Anya mengerutkan dahi.
“Bukan urusan Kakak.”
“Oh, ….”
“Dan kayaknya itu juga bukan urusan Anya, jadi kenapa Anya harus dengerin hal kayak gitu?” Anak itu mengatupkan mulutnya rapat-rapat.
“Itu nggak baik tahu, anak kecil seharusnya nggak boleh dengerin obrolannya orang tua.”
“Gitu ya?’
“Iya.”
“Aku nggak dengerin lho, tapi kedengeran. Kan aku lagi nungguin Om Galang?”
“Tapi kalau gitu nanti Om galangnya kabur.”
Amara menarik dan menghembuskan napasnya pelan-pelan.
“Ngerti kan sekarang kenapa aku antar dia kesini? Dia ini pintar memutar balikkan fakta.” Galang buka suara.
Amara melirik sekilas, kemudian mendelikkan matanya.
"Selain es krim kamu mau makan apa lagi?" Amara kepada Anya.
"Es krim aja. Hehe …." Anak itu tertawa sambil memperlihatkan gigi putihnya yang berjejer rapi.
"Yakin?"
"Hu'um." Anya mengangguk.
"Oke. Kakak?" Lalu Amara beralih lagi kepada Galang.
"Es boba."
Amara tampak mendengus. Kenapa juga dirinya memasukkan minuman itu kedalam menu utama di kedainya.
"Makannya?" Dia iseng-iseng bertanya.
"Ayam geprek."
"Ck!" Amara berdecak, sementara Galang mengulum senyum. Dia tahu gadis itu sedang merasa kesal saat ini, tapi entah mengapa rasanya begitu menyenangkan melihat ekspresinya.
"Tunggulah sebentar." Gadis itu yang kemudian memutar tubuhnya, lalu dia menyerahkan kertas berisi pesanan kepada orang di ruang memasaknya.
"Nggak apa-apa kalau nunggu? Ini masih numpuk." Ardi menunjuk pesanan lain yang sudah terlebih dahulu diserahkan Nindi kepadanya.
Amara melirik kepada anak kecil yang menunggu di sana. Yang kemudian melambaikan tangan ketika sadar bahwa dia sedang diperhatikan.
"Huftthhh." Amara meniupkan napasnya ke udara. Dan dengan terpaksa dia masuk ke dalam ruang pengolahan makanan itu, lalu memulai pekerjaannya.
"Need help?" Daryl muncul setelah membantu mengantarkan pesanan kepada para pelanggan. Yang juga memanfaatkan kesempatan itu untuk meminta foto bersama.
"Kakak udah selesai selfi-selfinya?" Amara terkekeh, dan dia sudah menyelesaikan pesanan khususnya.
"Sudah. Aku yakin setelah ini trending kedaimu di internet akan melesat jauh dari kafe serupa." Daryl dengan percaya dirinya.
"Oh ya? Kenapa?"
__ADS_1
"Pelangganmu merasa puas dengan pelayanan di kedai ini."
"Masa? Bagus dong. Berarti makanan buatan aku sama anak-anak enak, jadinya …."
"Bukan hanya itu." Daryl menyanggah.
"Apa?"
"Tidak lihat ya tadi aku diajak foto-foto di sana? Mereka pikir aku keren tahu?" Pria setengah bule itu menyugar rambut bergelombangnya yang sedikit berantakan.
"Astaga!" Amara kemudian tertawa.
"Jadi, harus aku antar ke mana pesanan ini?" Daryl menarik nampan berisi es krim dan nasi ayam geprek juga minuman manis itu.
"Tuh, ada keponakan Kakak di sana yang udah nunggu." Amara menunjuk sudut di ujung dekat jendela.
"Who?"
"Anya."
"Really?" Pria itu pun menoleh ke tempat yang ditunjuk. Dan benar saja, anak kecil itu pun sedang melambai ke arahnya.
"Om Daryl!" Anya berteriak.
"Kenapa dia ada di sini? Apa bersama orang tuanya?" Daryl bertanya-tanya.
"Nggak, tapi sama asistennya Kak Dim."
"Galang?"
"Ya siapa lagi? Masa Om Andra?"
"Alright!" Daryl kemudian mengangkat nampan tersebut dan mengantarkannya ke meja di mana keponakannya berada.
"Heh, sedang apa kamu di sini?" Pria itu meletakkan es krim di depan Anya, lalu makanan lainnya di depan Galang.
"Mau makan es krim." Anya menjawab.
"Memangnya di rumah nggak ada ya?"
"Banyak."
"Terus kenapa malah ke sini?"
"Emangnya nggak boleh ya? Om kepo deh?"
"Astaga! Anaknya si Dimitri!" Daryl meraup pipi tembem anak itu dengan gemas.
"Sana-sana, aku mau makan es krim, Om jangan ganggu!" Anya mengibaskan tangannya.
"Siapa juga yang mau mengganggu kamu? Huh, ke geeran." Daryl berujar.
"Sana-sana, Om kerja lagi. Biar punya uang yang banyak kayak Papi aku."
"Duh? Sembarangan!"
Om dan keponakan itu malah berdebat sementara Galang menyimaknya dalam diam.
"Bisa-bisanya kamu betah membawa bocah ini pergi?" Lalu Daryl beralih kepada Galang.
"Sudah biasa." Pria yang dimaksud menjawab.
"Ah, aku lupa. Kamu sahabat ibunya. Jelas tahan dengan kelakuan anaknya ya?"
"Hmm …." Galang hanya menggumam.
"Om ih kalau lagi kerja jangan banyak ngomong sama yang beli, nanti di omein loh. Tuh Kak Ara lagi ngelihatin."
"Hum?" Daryl menoleh ke arah pantry di mana Amara sedang memperhatikan.
"Sana kerja lagi." ucap Anya lagi, membuat adik dari ayahnya itu memutar bola matanya, sebal.
"Sudahlah, aku nggak akan menang menghadapi anak kecil!" Dia mengusak kepala keponakannya itu, kemudian berlalu.
Daryl kembali ke arah pantry dan meletakkan nampan di meja.
"Tidak percaya aku punya keponakan yang menyebalkan seperti Anya?" Dia menggelengkan kepala, membuat Amara tertawa terbahak-bahak.
Sementara Galang memperhatikan dari tempat duduknya.
🌺
🌺
🌺
Bersambung ...
kenapa lihat-lihat? 😂😂
__ADS_1