My Only One

My Only One
Drama Di Pagi Hari


__ADS_3

🌺


🌺


"Kakak!" Amara memanggil Galang dengan suara parau.


"Kakak!" panggilnya lagi saat pria itu tak merespon. Dia masih terlelap di sofa sejak semalam. Tampak sekali jika dia sangat kelelahan, karena pria itu segera tidur tak lama setelah merebahkan tubuhnya.


"Kakak!" Amara sedikit mengeraskan suaranya. Dan dia berhasil membuat pria itu terjaga.


Galang tampak menjengit dengan kelopak matanya yang bergetar, kemudian dia terbangun.


Pria itu tercenung sebentar untuk mengumpulkan kesadarannya, kemudian mendongak ke arah Amara.


"Kamu sudah bangun." katanya dengan suara serak khas bangun tidur.


"Mau pipis." Amara setengah berbisik.


"Apa?"


"Aku mau pipis."


Pria itu mengerutkan dahi.


"Aku udah nggak tahan, tapi diapersnya udah penuh. Kalau aku pipis di sini takutnya nanti bocor."


"Hum?" Dia bangkit dengan dahinya yang berkerut tajam seiring otaknya berputar keras untuk mencerna apa yang gadis itu katakan.


"Aku mau pipis Kak, disini aja apa gimana?" Amara mulai merengek.


"Kamu mau ke kamar mandi?" 


"Aku nggak tahu. Ganti diapersnya aja apa gimana? Aku udah nggak tahan."


"Biasanya bagaimana?" Galang malah balik bertanya.


"Kalau penuh ya diganti, kalau nggak nanti bocor. Bisa ke mana-mana."


"Umm … diganti?"


Amara mengangguk pelan, sementara Galang malah tertegun.


"Kakak!" Gadis itu memekik.


"Ya, apa? Kenapa?" Galang berdiri.


"Kakak lelet, kan aku jadinya pipis di sini!" Dia merengek lagi.


"Terus aku harus apa?" Kemudian dia mendekat.


"Panggil suster!"


"Astaga!" Galang menepuk kepalanya sendiri.


Tak lama kemudian dua perawat tiba setelah dipanggil dan mereka segera melakukan apa yang diminta. Membantu membersihkan Amara di tempat tidur dan mengganti apa yang perlu diganti. Sementara Galang menuntaskan ritual paginya di kamar mandi.


"Terima kasih Suster." ucap pria itu setelah perawat menyelesaikan pekerjaan mereka. Yang kemudian segera keluar.


"Papa kamu semalam tidak datang ya?" Galang kembali mendekat lalu duduk di pinggir tempat tidur.


"Nggak tahu, aku kan tidur." Gadis itu menjawab.


"Iya, kan aku juga. Nggak bangun lagi sampai tadi kamu panggil."


"Hu'um. Kakak capek ya nungguin aku terus?" 


"Sedikit."


Amara terdiam.


"Kamu mau duduk?" tawar pria itu saat melihat posisinya yang tampak tidak nyaman.


"Mau, tapi bisa nggak ya?"


"Mau dicoba?"


Amara menganggukkan kepala.


Galang kemudian bangkit dan berjalan memutar ke sebelah kanan. Dia segera meraup tubuh gadis itu perlahan dan membangunkannya. Mendorongnya hingga dia terduduk dan menahannya sebentar sementara dia menumpuk banyak di belakang tubuhnya. Dia kemudian menariknya ke belakang dan menyandarkannya pada tumpukan bantal. 


Amara terdengar menggeram ketika rasa sakit pada cederanya kembali menjalar seiring pergerakan itu, dan rasanya cukup menyiksa.


"Maaf." Galang kembali ke sisi kiri kemudian kembali duduk di dekatnya.


"Sabar ya? Nanti kalau sudah sembuh tidak akan sakit lagi." ucap pria itu, menghiburnya.


"Tapi ini sakit Kak." Amara mulai terisak.


"Aku tahu, tapi mau bagaimana lagi? Kamu harus kuat."


"Nggak, Kakak nggak tahu gimana sakitnya. Sampai-sampai rasanya mau mati aja biar nggak sakit kayak gini." Gadis itu tergugu.


"Sssttt! Jangan ngomong sembarangan."


"Habisnya ini sakit."


"Iya iya." Pria itu menarik selembar tisu, kemudian menyeka air mata yang menyeruak dari netra Amara.


"Cuma bisa bilang sabar, ini kan sedang berusaha di obati. Dan butuh proses yang nggak sebentar. Tapi yakin, kalau terus dilakukan pasti kamu akan sembuh."


Amara masih terisak.

__ADS_1


"Sudah, kalau nangis terus nanti malah akan tambah sakit." Dia kemudian merangkul gadis itu untuk menenangkannya.


"Sabar ya?"


"Ih, … pacaran terus?" Suara anak kecil menginterupsi percakapan pagi itu.


Galang dan Amara menoleh bersamaan dan mereka menemukan gadis kecil berkuncir dua di ambang pintu, diikuti pria berambut coklat di belakangnya. Siapa lagi kalau bukan Dimitri dan putrinya, Anya.


"Om Galang kalau ketemu Kak Ara pasti pacaran terus." ucap anak itu seraya berjalan mendekat.


"Apaan?"


"Peluk pelukan terus?" ucap Anya lagi.


"Kelakuan kalian mengotori pikiran Anya! Pantas saja, Om Arfan tidak ada, makanya kalian berani mesra-mesraan?" Dimitri menimpali.


"Apaan sih Kak?" protes Amara, sementara Galang segera menarik tangannya begitu dia menyadari sikapnya.


"Awas ketahuan Om Arfan, bisa babak belur kamu nanti." Pria itu mengingatkan.


"Kakak dari mana sih pagi-pagi begini udah ada di sini?" Amara mengalihkan topik pembicaraan.


"Dari bandara." Dimitri menjawab.


"Bandara?"


"Iya, mengantar Mommynya Anya."


"Balapan lagi?"


"Iyalah, apa lagi?"


"Sekarang balapannya di mana?"


"Dekat, cuma di Sepang. Makanya bisa berangkat Sabtu pagi padahal kualifikasinya nanti siang."


"Deket tapi nggak bisa ikut." Anya yang sudah bersedekap di sofa.


"Mommy kamu itu mau kerja, bukannya liburan Anya." Galang menjelaskan.


"Tapi seru tahu Om kalau ikut." Anak itu menjawab.


"Iya, untuk kamu seru tapi bikin orang lain pusing." ucap pria itu lagi.


"Pusing kenapa? Kalau pusing ya minum obat Om, bukanya ngomel."


"Hadeh, mulai." Galang memutar bola matanya.


"Zenya kemana? Nggak ikut?" Amara melihat ke belakang mereka.


"Tadi sebelum antar Mommy, Zenya mampir ke rumah Opa."


"Tumben?"


"Sama dong seperti Bapak?" Galang menahan tawa, membuat atasannya itu mendelik sebal.


Lalu tak lama kemudian Arfan muncul dengan sebuah tote bag di tangan yang kemudian dia letakan di meja.


"Hey, kalian di sini?" Sapanya kepada adik iparnya.


"Papa!" Anya bereaksi saat pria itu menjatuhkan tubuhnya di sofa yang sama.


"Kalian dari mana pagi-pagi begini?" Pertanyaan sama dia lontarkan sambil melihat jam tangannya yang menunjukkan pukul delapan pagi.


"Bandara."


"Bandara?" Arfan membeo.


"Ya, habis antar Mommy." Anya menjawab.


"Balapan lagi?"


"Hu'um, tapi aku nggak boleh ikut. Kata Om Galang Mommy itu mau kerja, bukan liburan."


"Ya memang."


"Tapi kan aku mau ikut."


Arfan hanya tertawa sambil mengusak puncak kepala anak itu.


"Papa bawa apa?" Amara menyela percakapan mereka.


"Makanan."


"Kenapa bawa makanan?"


"Dari subuh Mommy mu memasak dan menyuruh Papa cepat-cepat pergi lagi ke sini." Arfan menjawab, seraya merebahkan kepalanya pada sandaran sofa. Tampak sekali dari wajahnya jika dia sangat kelelahan.


Bagaimana tidak? Dialah yang paling sering bolak-balik ke rumah sakit dan mengusahakan banyak hal dari pada yang lainnya. Untuk memastikan putrinya mendapatkan pelayanan terbaik dari rumah sakit dan mendapatkan pengobatan yang dia perlukan. Sementara anggota keluarga lainnya terutama para ibu dia biarkan mengurus anak yang lainnya.


"Kayak mau ke mana aja bikin banyak makanan?" Amara menggumam.


"Katanya biar kamu banyak makan, jadi cepat sembuh."


"Disini juga ada makanan."


"Tahu sendiri bagaimana Mommy mu. Lebih baik menurut sajalah dari pada mendengarnya mengomel."


"Hmm …


"Papa bawa es krim nggak?" Anya tiba-tiba saja bertanya.

__ADS_1


"Tidak. Papa tidak tahu kalau kamu ada di sini. Kalau tahu ya papa bawa. Lagi pula ini masih pagi, tidak baik makan es krim."


"No, bukan buat aku." Anya menggelengkan kepala. "Lagian ini kan bukan hari Minggu, aku belum boleh makan es krim."


"Ah, aturan es krim di hari Minggu?" Arfan tertawa.


Anya menganggukkan kepala.


"Terus buat siapa?"


"Buat Om Galang." jawab anak itu.


"Om Galang?" Arfan melirik kepada pria yang dimaksud yang duduk di dekat putrinya.


"Hu'um, biar nggak sewot terus." 


"Sewot kenapa?" Kening Arfan tampak menjengit.


"Mungkin karena ketahuan pel …." belum anak itu menyelesaikan kalimatnya, sang ayah sudah membekap mulutnya agar dia berhenti.


"Dim?


"Anya kadang-kadang suka sembarangan kalau bicara Om. Hehe …"


"Tadi Om Galang …" Anya berusaha melepaskan tangan Dimitri dari mulutnya.


"Dim, lepaskan Anya, kasihan! Kenapa sih kamu berbuat begitu?" Arfan bereaksi.


"Tidak apa-apa Om, hanya …."


"Om Galang ketahuan …."


"Sepertinya kami harus pulang Om, ada janji sarapan dengan Papi." Pria itu segera meraih tubuh kecil putrinya tanpa melepaskan bekapan tangannya.


"Itu Anya mau bilang apa? Kenapa sih kamu tahan seperti itu?"


"Tidak apa Om, dia pasti asal bicara." Dimitri berjalan mundur. Bisa timbul kekacauan kalau Arfan mendengar perkataan putrinya.


"Pamit ya Om?" ucapnya, yang kemudian segera keluar dari ruangan tersebut.


Lalu Amara terdengar terkekeh.


"Kenapa Anya lucu ya? Dia sukanya ceplas-ceplos. Mirip Kak Rania."


"Namanya juga anak si Oneng." Galang menyahut, belum menyadari pandangan Arfan yang beralih ke arah mereka.


"Apa waktu kecil Kak Rania kayak gitu?" Amara kemudian mendongak sehingga wajah mereka tampak begitu dekat.


"Lebih parah."


"Masa?" Gadis itu masih tertawa, meski sesekali meringis karena menahan sakit.


"Hmm … Anya masih mending tidak main kelereng di lapangan dengan anak tetangga, atau main layangan di atas genteng."


"Masa?"


"Kamu nggak akan percaya kalau aku cerita."


"Ceritain aja, pasti seru."


"Seru, soalnya dia ….


"Heh heh heh, … apa-apaan kalian ini?" Arfan bereaksi, membuat dua sejoli ini berhenti berbicara.


"Kenapa kalian sedekat ini? Minggir minggir!" Kemudian pria itu bangkit.


"Jadi kamu begini ya kalau saya tidak ada? Duduk sedekat ini dengan Ara. Cari kesempatan?"


"Umm …"


Arfan tampak menyipitkan mata.


"Jangan-jangan kamu …


"Tidak Pak, baru tadi. Eh." Galang menutup mulut dengan tangannya.


"Nah kan?"


"Tidak Pak, maksud saya …"


"Minggir!" Pria itu mengusirnya dari dekat Amara.


"Saya izinkan kamu ada di sini bukan berarti kamu bisa berbuat lebih ya?"


"Hum?"


"Jangan mentang-mentang saya biarkan kamu menemani Ara, lantas kamu merasa bisa dengan mudah mendekat lagi."


"Tidak Pak, saya hanya ….


"Minggir, jangan dekat-dekat. Enak saja kamu!" ucap Arfan yang kemudian duduk di tempat Galang sebelumnya duduk.


🌺


🌺


🌺


Bersambung ...


hadeh, ada-ada aja.

__ADS_1


like komen sama hadiahnya lagi dong, pliss.


alopyu sekebon😘😘


__ADS_2