
🌺
🌺
“Apa mungkin ini ada hubungannya dengan Clarra?” Andra buka suara setelah mendengarkan penuturan Galang pagi itu.
“Menurut Bapak begitu?”
“Entahlah, aku tidak terlalu tahu mengenai masalah ini. Saat itu aku belum masuk Nikolai grup.” Pria itu menyesap kopi yang dibawakan office boy beberapa saat sebelumnya.
“Yang aku tahu adalah Clarra bukan anak kandung Dokter Fahmi dan Dokter Vita, dan dia ditinggalkan di rumah sakit tak lama setelah dilahirkan oleh perempuan bernama Larra, yang waktu itu masih istrinya Pak Satria.” Andra menyalakan ponselnya.
“Pak Arfan yang lebih tahu, karena dia yang mendampingi Pak Satria jauh sebelum aku.” katanya lagi yang kemudian melakukan panggilan telfon pada satu nomor.
“Ya?” Terdengar jawaban dari seberang begitu telfon tersambung.
“Maaf Pak?” ucap Andra.
“Ada apa?” Suara Arfan terdengar antusias.
“Ini soal Bu Larra.”
“Hmm …” Pria di seberang terdengar menggumam.
Dan Andra hampir saja berbicara ketika Arfan mendahuluinya.
“Katakan kepada Galang jika dia harus hati-hati. Larra tidak akan berhenti hanya sampai Clarra memintanya untuk berhenti mendekat.”
Mulut Andra tampak menganga.
“Berikan ponselmu padanya.” ucap Arfan dan Andra segera menurutinya.
Galang tampak mengerutkan dahi, namun dia menerima benda pipih tersebut tanpa banyak pertanyaan.
“Ha-hallo?”
“Dia bukan perempuan sembarangan. Kamu tidak bisa menganggapnya enteng. Sekarang dia sudah berani menampakkan diri secara terang-terangan karena sedang tersudut. Bisa jadi dia akan berani melakukan hal yang nekat, dan disaat itu tiba kamu harus siap.”
“Apa?”
“Harus selalu waspada, kemanapun kamu pergi. Karena Larra akan sangat serius mengejar apa yang diinginkannya.”
“Apa hubungannya dengan saya?”
“Belum pasti. Hanya saja, hati-hatilah.”
Galang terdiam.
“Dan untuk sementara, jangan dulu ke tempat Ara. Nanti mereka mengira Ara juga harus dilibatkan.”
“Ap-apa?”
“Sebaiknya kalian segera melakukan penyelidikan, dan mulai mengawasi beberapa orang.”
“Apa itu perlu?”
“Tentu saja, keadaannya tidak sebaik yang kamu kira. Apa yang selama ini kamu tahu tidak ada apa-apanya dibandingkan apa yang kami awasi. Dan hubunganmu dengan Clarra menjadi awal kemunculan Larra sekarang-sekarang ini.”
“Begitu?”
“Ya, dan mulai sekarang jaga orang-orang di sekitar. Jangan sampai lengah. Gunakan kekuasaanmu sebagai asisten utama Dimitri untuk menjaga siapa pun yang menurutmu berpotensi untuk diawasi.”
Galang menggigit bibirnya dengan keras.
__ADS_1
“Ingat, posisimu sangat rentan untuk menjadi sasaran siapa pun. Entah itu Larra, saingan bisnis Nikolai Grup, atau yang lainnya. Tampak aman bukan? Tapi ini tidak sesederhana seperti kelihatannya. Bukan hanya kepintaran yang dibutuhkan, tapi juga kecermatan untuk membaca situasi. Itu sebabnya aku mendidikmu dengan keras, agar kamu peka dan tidak mudah goyah.”
Galang merasakan telinganya begitu panas mendengarkan semua perkataan yang dilontarkan Arfan dari seberang. Namun kini semuanya terasa masuk akal baginya. Bagaimana segala hal dijalaninya dengan keras di tahun-tahun awal bergabung di perusahaan tersebut. Namun Galang tak pernah menyangka hal seperti ini akan terjadi.
Ini bahkan sudah lebih dari dua tahun, dan tak ada hal serius apa pun yang terjadi kepadanya, apalagi setelah dirinya menjadi asisten utama Dimitri dan sering mendampinginya ke manapun dia pergi. Menghadapi beberapa tipe klien yang berbeda-beda dengan segala macam intriknya.
“Mengerti, Galang?” ucap Arfan lagi dari seberang.
“Mengerti Pak.” jawab pria itu
“Baik, sekarang mulailah untuk menyusun rencana.”
“Baik Pak.” Lalu percakapan pun diakhiri.
“Jadi seserius itu masalahnya?" Galang menyerahkan ponsel kembali kepada Andra.
“Jika Pak Arfan sudah berkata begitu saya rasa memang serius.” Pria di depannya menjawab.
Dan Galang mengangguk-anggukkan kepala.
“Tunggu apa lagi? Cepat lakukan seperti apa yang Pak Arfan katakan tadi!” Andra berujar.
“Baik Pak.” Galang pun segera melaksanakannya.
***
“Bonjour. {selamat pagi}” Senyuman Amara menjadi hal yang ditunggunya pagi itu. Yang mendominasi pandangan Piere begitu dia membuka pintu apartemennya.
“Aku pikir kamu bisa saja lupa jalannya, atau tersesat dalam perjalanan ke kedai, dan itu akan sangat berbahaya untukmu. Jadi aku putuskan untuk menjemputmu ke sini.” Gadis itu dengan suaranya yang riang, seperti biasanya.
“Manis sekali.” Piere tersenyum karenanya.
“Oh iya, aku memang semanis itu.” Amara masuk kedalam apartemen tersebut setelah Pere memberikannya jalan.
"Jadi, apakah kamu sudah siap bekerja hari ini?” Lalu dia meyakinkan.
“Kalau begitu tunggu apa lagi? Cepat kita pergi!” Gadis itu berujar.
“Now?”
“Ya, memangnya kapan?”
“Aku rasa jam tujuh masih terlalu pagi bukan?” Pemuda itu melirik jam dinding di dekat televisi.
“Memang harusnya sepagi ini Pak.”
“Really?”
“Ya, kami biasanya mencari sarapan sejak subuh.”
“What? Why?”
“Karena sebagian orang masuk kerja sangat pagi, sehingga mereka membutuhkan makanan lebih awal.”
“Begitu?”
“Ya.”
“Di Paris juga begitu, tapi kamu tak harus ….”
“Ssst!” Amara menempelkan telunjuknya di bibir Pierre sehingga dia berhenti berbicara. “Jangan samakan disini dengan di Paris, karena jelas segalanya berbeda.”
“Umm ….”
__ADS_1
“Sekarang cepatlah kita pergi!”
“Oke-oke, baru hari pertama saja kamu sudah galak kepadaku?”
“Eh, aku nggak galak tahu. Kan kamu sendiri yang mau bekerja di kedaiku, jadi ya …"
Piere tertawa.
“Apa yang kamu tertawakan? Ada yang lucu ya?”
Namun pemuda itu menggelengkan kepala.
“Lalu kenapa?”
Piere melenggang ke dalam kamar lalu kembali sudah dalam keadaan rapi. Dengan jeans hitam dan kaos putih dilapisi jaket denim berwarna biru muda. Membuat penampilannya tampak mencolok.
“Aku tidak harus mengenakan seragam formal bukan? Kemarin aku lihat pegawaimu berpakaian santai?”
“Tidak. Aku malah sedang berpikir agar pegawai menggunakan kaos seragam agar kedaiku mempunyai ciri khas.”
“Hmm ….”
“Tapi nanti.” Amara tersenyum lagi. “Sudah siap? ayo cepat kita pergi.”
“Baiklah, Mademoiselle (nona).” Dan mereka pun segera keluar dari unit tersebut.
"Nah, setiap hari kamu jalan sini saja. Jaraknya cukup dekat ke kedai jadi tidak usah pakai kendaraan. Ingat patokan jalannya ya?" Amara menunjuk nama-nama blok di jalan itu.
"Oui."
"Jangan bicara dengan orang asing, itu sangat berbahaya."
Piere menoleh kapadanya.
"Kamu bicara begitu seperti aku ini anak kecil?"
Amara tertawa.
"Kamu kan baru di sini?"
"Yeah, jadi siapa orang asingnya disini?"
Amara menghentikan langkahnya.
"Sebenarnya, kamu sih. Hahaha." Gadis itu tergelak.
"Jadi tidak ada yang bahaya soal ini kan?" Piere berujar.
"Ya, … tapi jangan terlalu cepat percaya kepada orang baru juga sih. Kita kan tidak tahu."
"Yeah, cukup pelajaran dasarnya." Dan mereka sudah tiba di depan kedai milik Amara.
"Wow?" Piere dibuat takjub dengan pemandangan pagi itu.
Di mana kedai sudah mulai di datangi pengunjung yang pastinya berniat sarapan di tempat tersebut.
"Kan, aku bilang juga apa?" Amara menggiringnya masuk untuk memulai pekerjaan mereka pada hari itu.
🌺
🌺
🌺
__ADS_1
Bersambung ...
terus? 😂😂😂