My Only One

My Only One
Kedatangan Piere


__ADS_3

🌺


🌺


"Pergi dulu ya?" Amara memeluk Arfan dan Dygta bergantian, kemudian ke empat adiknya yang tengah sarapan.


"Sarapan dulu." ucap Dygta.


"Nggak bisa Mom, aku udah kesiangan." jawab Amara yang hanya meneguk air hangat yang sudah tersedia.


"Buru-buru amat, mau ke mana sih? Bukannya kedai kamu bukanya sebentar lagi ya?"


"Banyak yang harus aku siapin. Nambahin list belanja, cek barang, periksa stok. Biar nanti sore aku bisa jemput Piere ke bandara."


"Bukannya kamu punya pegawai ya? Kenapa harus cek sendiri."


"Maksud aku mereka yang cek, terus kan aku harus periksa juga. Biar aku juga tahu gimana keadaan bisnis aku."


"Hmm …"


"Good Kak. Memang harusnya seperti itu. Kadang kita juga harus terjun sendiri. Dan untuk beberapa hal kita harus tahu juga." Arfan menyahut.


"Itu maksud aku. Apa lagi ini orderan besar pertama aku. Mana yang ordernya Dokter Syahril lagi duh. Kalau gagal aku yang malu."


"Dokter Syahril itu siapa?" Dygta menjeda kegiatan makannya.


"Papa juga kenal lah. Aku harus pergi sekarang Mom." Gadis itu bergegas pergi.


"Oke, hati-hati." Dygta mengantar kepergian anak sambungnya dengan pandangan.


"Lama-lama dia semakin mirip kamu." Perempuan itu beralih kepada suaminya.


"Iyalah, dia anakku."


"Maksudku, caranya bekerja dan melakukan sesuatu. Seluruh jiwa raga dia masukkan ke sana sehingga seperti tidak ada hal lain yang bisa dikerjakan selain itu."


"Memangnya itu salah? Bagus lah. Dia mengerjakan hal positif."


"Apa?"


"Bagus kan? Dari pada dia bergaul tidak karuan, keluyuran keluar rumah. Lebih baik dia bekerja."


"Mengerikan!" Dygta memicingkan mata.


"Apa yang salah? Lagi pula  tidak ada yang memaksanya untuk melakukan itu semua. Dia mengerjakan apa yang disenangi. Tanpa dikte, tanpa suruhan."


"Hah, aku selalu merasa khawatir dia melakukan itu semua karena mengalihkan pikiran."


"Bagus lah. Pengalihan yang positif."


"Kamu ini!" Dygta menepuk paha Arfan dengan keras sehingga suaminya itu mengaduh kesakitan.


"Kamu ini kenapa sih? Melihat Ara bersedih khawatir, dan ikut bersedih. Dan sekarang melihat dia seperti itu masih saja khawatir. Sebenarnya apa maumu ini?" Pria itu bereaksi.


"Dia harus menunjukkan kepada semua orang betapa sedihnya dia, atau betapa terpuruknya setelah kehilangan seorang pria? Tidak masuk akal!"


"Setidaknya dengan melihat dia bersedih aku tahu apa yang sedang dia alami. Tidak seperti ini."


"Maksudmu dia tidak boleh bangkit dan menegarkan diri? Apa akan ada yang peduli? Aku rasa tidak, selain rasa iba. Dan itu tidak ada gunanya."


"Aku lebih suka dia seperti ini, karena dengan begitu maka aku tahu menjadi seberapa tangguh dia nantinya."


Dygta mendengus.


"Nanti akan ada masanya dia melampiaskan perasaannya. Jika dia tahu memang ada waktunya. Sementara itu, biarkan saja dia begitu. Nanti dia akan tahu kemana harus pergi kalau merasa sudah tidak mampu mengahadapinya sendiri."


"Ya, mudah bagimu untuk berkata seperti itu."


"Mudah katamu? Lalu apa artinya aku memerintahkan pengawasan untuknya selama ini? Kamu pikir mudah bagi seorang ayah untuk melepaskan pengawasan dari anak-anaknya? Tidak sayang!" Arfan dengan nada gemas. 


"Pasti deh, kalau Kakak pulang akhirnya kayak gini." Arkhan buka suara setelah menyimak perdebatan kedua orang tuanya.


"Apa Nak?" 


"Mommy, sama Papa pasti berdebat soal Kak Ara."


"Bukan berdebat, kami hanya bicara."


"Tapi ujung-ujungnya berdebat."


"Kamu salah tangkap." Dygta menjawab.


"Nggak. Aku udah besar dan tahu mana pembicaraan biasa, dan mana perdebatan."

__ADS_1


"Oh ya?" Sang ibu terkekeh.


"Kalian memang sudah besar kan?"


"Iya, makanya jangan sering berdebat di depan kami."


"Apa? Kami tidak …." Arfan meremat tangan Dygta untuk menghentikannya berbicara.


"Baik, maafkan Papa dan Mommy yang selalu berdebat. Maksud kami hanya berdiskusi, tanpa sadar kalau itu membuat kalian tidak nyaman."


"Oke, are we clear?" jawab Arkhan.


"Ya."


"Good. Nah guys, udah dengar kan? Mulai sekarang Mommy dan Papa nggak akan berdebat lagi. Ingat baik-baik ya? Nanti kalau diulangi bisa kok dibicarakan. Jadi nggak usah ngomel-ngomel lagi dibelakang " anak remaja yang sangat mirip dengan sang ayah itu berbicara kepada ketiga saudaranya.


"Apa?"


"Perdebatan Papa dan Mommy itu kadang bikin kami merasa terganggu. Jadi takut kalau mau apa-apa." sambung Anandita.


"Benarkah?"


"Iya."


"Baik, maafkan Papa dan Mommy. Lain kali tidak akan diulangi. Kalau terjadi kalian boleh protes." Arfan berujar.


"Boleh?" Aksa menimpali.


"Boleh."


"Nggak akan marah?" Lalu Asha pun ikut bersuara.


"Tidak. Kenapa Papa harus marah? Semua orang di rumah ini punya hak untuk bersuara kan?"


"Siip kalau gitu."


"Oke, udah waktunya berangkat sekolah. Jadi, siapa yang mau mengantar kami hari ini?" ucap Arkhan lagi yang melihat jam di layar ponselnya.


"Papa yang antar." Arfan menyesap habis kopi miliknya, lalu bangkit.


"Ayo, kalau sudah selesai kita pergi." katanya kemudian, yang segera diikuti oleh keempat anaknya setelah mereka berpamitan kepada sang ibu.


🌺


🌺


"Hey, kamu udah bisa kerja?" ucap Amara saat jaraknya sudah dekat.


"Udah Kak."


"Ayah kamu gimana? Udah baikan?"


Nania menganggukkan kepala.


"Syukurlah. Tadinya aku ketar-ketir karena kami cuma berempat. Sedangkan kita ada orderan yang lumayan."


"Aku tahu. Nindi semalam menelfon."


"Oh ya? Bagus kalau gitu. Kali nanti nggak akan ada yang nanyain kamu terus.” celetuknya, asal.


“Hah? nanyain aku?” Nania menunjuk wajahnya sendiri.


“Iya.” Amara mengangguk.


“Siapa?”


“Kak Daryl.”


“Apa?” Nania tampak terkejut.


"Ya udah, lanjutkan kerjaannya. Aku ke dalam dulu ya? Nanti setelah ini tolong cek stok sama persediaan bahan."


"O-oke Kak."


Amara kemudian masuk ke dalam ruangannya untuk mengerjakan bagiannya. Merencanakan apa saja yang akan dia lakukan dan membuat daftar beberapa makanan yang akan dibuatnya untuk pesanan akhir minggu ini. Kemudian dia keluar setelah hampir seharian berada di sana.


“Hari ini agak santai ya?” Gadis itu menatap sekeliling yang sore itu tidak terlalu ramai.


“Iya Kak, agak sepi malah. Dari pagi pengunjung nggak se membludak biasanya.” jawab Ardi yang bertugas di depan.


“Nggak apa-apa, nggak selalu ramai juga kan?” Amara menatap keluar kedai yang tampak mendung.


“Kakak mau pergi?” tanya Nindi yang meletakkan nampan di meja pantry.

__ADS_1


“Ya, aku mau jemput temen ke bandara, mungkin balik lagi agak malam. Bisa kan kalau kalian aku tinggal sebentar?” terangnya.


“Bisa Kak. Nggak apa-apa, pergi aja kalau kakak mau pergi.”


“Baik kalau gitu aku pergi. Titip kedai ya?” Dia mengenakan tas selempangnya, kemudian berjalan keluar dari kedai miliknya.


Cukup lama Amara berkendara dari daerah perkantoran itu ke bandara internasional Soekarno Hatta. Melewati rutinitas lalu lintas yang padat dengan segala drama kemacetannya yang membuat frustasi. Untung saja dirinya mengambil waktu satu jam sebelum pesawat diperkirakan mendarat untuk menghindari keterlambatan tersebut.


Dan setelah lebih dari satu jam lamanya dia berkendara, akhirnya tiba di depan bandara yang lumayan ramai juga pada sore itu. Berkali-kali Amara memeriksa layar ponselnya untuk melihat jam dan menduga kalau-kalau Piere mengirimkan pesan kepadanya, namun nihil. 


Dia berjalan tergesa melewati orang-orang yang berlalu lalang di tempat itu, yang kemungkinan juga tengah melakukan hal yang sama dengan dirinya.


Amara kemudian berhenti di depan gerbang kedatangan luar negri, dan menunggu. Pandangannya dia tujukan ke area itu ketika segerombolan orang asing keluar secara berurutan, dan mencari wajah yang dikenalnya.


Dan setelah beberapa saat, wajah itu pun muncul. Pria tinggi dengan rambut pirang dan bermata biru itu berjalan pelan dengan pandangannya yang dia edarkan ke sekelilingnya. Meski Dia tak terlalu mencolok namun keberadaannya di antara kerumunan cukup menyita perhatian Amara.


“Piere?” Gadis itu melambaikan tangan.


Pria yang dimaksud pun mencari asal suara, dan dia tersenyum ketika menemukan wajah yang dikenal.


Piere mempercepat langkahnya, dan dia segera menghambur memeluk Amara begitu jarak mereka cukup dekat.


“God! I’m so happy to found you! (senang sekali telah menemukanmu!)” katanya, dan dia memeluk tubuh Amara dengan erat.


“Kamu sampai dengan selamat Piere!” Amara berbicara dalam bahasa Prancis, tentu saja.


“Oui!” Pemuda itu melepaskan pelukannya, kemudian mereka tersenyum.


“Bagaimana kabarmu?”


“Aku baik, bagaimana denganmu?”


“Baik juga.”


“Oh, aku senang sekali bertemu denganmu!” Dia kembali memeluk tubuh Amara dengan eratnya. Dan gadis itu yang tertawa karenanya.


“Baik, ayo kita pergi?” ajak Amara kemudian.


“Oui, Oui.” Piere segera mengikutinya.


“Kamu sudah memesan hotel atau semacamnya?” Gadis itu melajukan mobilnya keluar dari bandara.


“Apa? Tidak. Bagaimana aku bisa memesan hotel atau semacamnya sedangkan ini pertama kali aku berkunjung kemari. Aku tidak mengenal siapa-siapa selain kamu.” jawab Piere.


“Ah iya, aku lupa!?” Amara tertawa lagi. “Lalu kemana dulu kita ya?”


“Entahlah, kau tuan rumahnya kan?” 


“Hmm ….” Amara terdiam sebentar untuk berpikir, “Kita ke kedai aku dulu lah ya? makan dulu, setelah itu baru memikirkan kamu tinggal di mana selama di sini.”


“It’s up to you. Lagi pula aku memang sudah lapar.” pemuda itu berujar.


“Oh ya? Memangnya di pesawat kamu tidak diberi makan?” Amara terkekeh.


“Aku tidak suka makanannya.”


“Masa?”


“Trust me, itu tidak enak. Atau mungkin seleraku yang tidak cocok dengan menunya.”


“Uh, … kasihan sekali Piere! Mungkin selera kamu yang tidak cocok.” Amara menepuk-nepuk punggung teman sekelas semasa kuliahnya itu.


“Ya, mungkin begitu.”


“Oke, kamu bisa tidur sambil  kita jalan seperti ini.”


“Why? Memangnya kedaimu sangat jauh dari sini ya, sehingga aku bisa tidur segala?”


“Kamu tidak tahu saja apa yang ….” Baru berjalan beberapa puluh meter mobil yang Amara kendaraan sudah menemukan kemacetan.


“Trafict.” ucap Piere yang menempelkan kepalanya pada sandaran kursi.


“Yes, monsieur!” Amara yang tawanya pecah dengan keras.


Lalu pria di kursi penumpang mengomel dengan bahasa yang tidak terlalu jelas untuk dimengerti.


🌺


🌺


🌺


Bersambung ...

__ADS_1


nah nah nah ... apa lagi setelah ini?🤭🤭


aduh ... deg-deg an euyyy😛😛


__ADS_2