
🌺
🌺
Galang turun dari mobil setelah melihat Amara membuka jendela lantai dua kedainya. Belum ada siapa pun yang datang karena hari memang masih sangat pagi, namun pria itu memutuskan untuk mampir.
Sekejap saja pandangan gadis itu teralihkan ketika Galang berdiri tak jauh dari kedai dan menatap ke arahnya. Dia sudah rapi dengan stelan jas berwarna navy dan rambutnya yang klimis. Terlihat seperti eksekutif pada umumnya.
Pria itu tersenyum.
"Aku mau sarapan. Aku kira kedainya sudah buka?" Galang berujar.
"Masih pagi Pak?" Amara menjawab.
"Justru itu." Lalu dia berjalan mendekat ke pintu yang masih tertutup rapat.
Amara terlihat menuruni tangga dengan tergesa. Dia tak percaya pria itu datang pagi-pagi begini setelah kemarin siang membawa Anya pulang tanpa pamit begitu menghabiskan makanannya. Dengan hanya meninggalkan selembar uang pecahan seratus ribu di atas meja.
"Pegawai aku aja belum datang?" Gadis itu membuka pintu.
Galang masih tersenyum.
"Kakak mau masuk atau gimana?" ucap Amara ketika pria itu masih berdiri di depan pintu.
Namun Galang terkekeh, dan dia lantas melangkah masuk kedalam ruangan yang masih temaram itu.
"Memangnya kamu buka dari jam berapa?" Pria itu melihat sekeliling.
"Jam tujuh." Amara membuka beberapa tirai yang masih tertutup.
"Ini sudah jam tujuh lebih?" Galang menatap jam tangannya.
"Iya, hari ini agak santai, soalnya semalam tutup malam banget." Gadis itu berbalik dan dia tertegun saat mengenali jam yang Galang kenakan.
"Kedai ini selalu ramai ya?" Pria itu duduk di kursi pertama yang dia lihat.
"Gitu deh."
"Kamu berhasil."
"Nggak. Belum. Ini baru permulaan, dan aku masih amatir."
"Kamu sudah berhasil untuk ukuran amatir. Setiap hari pengunjung semakin ramai saja. Aku bahkan bisa melihat antrian pada jam makan siang dari ruang kerjaku di atas sana."
"Kakak suka ngintip ya?" Amara mengarahkan ujung telunjuknya kepada Galang.
"Kadang-kadang, kalau aku merasa jenuh dengan pekerjaan." Pria itu menjawab.
"Itu kan kerjaan yang Kakak mau."
"Buka masalah pekerjaannya, tapi kadang ada sesuatu yang membuat kita merasa ingin berhenti dulu sebentar."
"Belum sepuluh tahun Kak. Bayangin Papa aku yang sampai lebih dari dua puluh tahun kerja di sana. Nggak pernah tuh kedengeran bilang jenuh, atau mau berhenti sebentar. Semuanya total Papa lakukan dengan sepenuh hati."
"Ya, kalau soal itu papamu memang nggak ada tandingannya."
"Jelas."
"Dan aku yakin kalau kamu pun akan menjadi seperti dia."
"Pasti dong, harus."
"Ya, sementara aku masih ditempatku berdiri tanpa bisa mengejarmu."
Mereka berdua terdiam.
"Kakak ada rapat pagi atau semacamnya?" Kemudian Amara bertanya setelah beberapa saat.
"Tidak."
__ADS_1
"Atau ada jadwal pertemuan dengan klien?"
"Tidak juga, kenapa?"
"Kok pagi-pagi udah di sini?"
"Kan sudah aku bilang aku mau sarapan?"
"Ya maksudnya …."
"Aku mau kopi." Galang menyela kalimatnya.
"Hum?"
"Aku mau kopi, nggak ada yang lain."
"Kenapa mau kopi malah ke sini sih? Kan bisa di kantor juga?" Amara bergumam sambil melenggang ke arah pantry.
"Ya karena aku mau kopi buatan kamu."
Gadis itu mendelik, tapi tak urung juga dia membuatkan kopi untuknya.
"Baik, sementara awasi saja dulu. Tapi kalau mereka berbuat macam-macam bisa dilakukan tindakan peringatan. Setidaknya jauhkan dulu mereka dari Clarra." Dia berbicara dengan seseorang di telfon saat Amara kembali dan meletakan secangkir kopi di meja.
"...."
"Ya, nanti kita bicarakan lagi, aku sedang ada urusan." Lalu percakapan itu berakhir.
Amara hampir kembali meninggalkannya sendiri ketika pria itu meraih tangannya.
"Duduklah, aku mau bicara."
"Bicara lagi? Ada apa lagi sih?" Gadis itu pun kembali.
"Duduklah dulu." Galang meniup kopi yag masih panas, kemudian menyeruputnya pelan-pelan.
"Sepuluh menit lagi." Galang pun melakukan hal yang sama.
"Sebenarnya nggak ada hal serius yang harus kita bicarakan lagi bukan? Semuanya udah aku bilang malam itu. Dan sebenarnya Kakak juga nggak harus mengatakan apa-apa lagi. Kita kan udah nggak ada apa-apa, ngerti nggak sih?"
"Ya, aku tahu."
"Terus kenapa Kakak bersikap seolah diantara kita masih ada sesuatu? Belum lagi ada Kak Clarra, ini aku merasa kayak kita lagi selingkuh tahu nggak? Apa lagi kalau Kakak datang kesini sendiri. Dan pasti Kak Clarra nggak tahu kalau Kakak ke sini."
Galang tertawa.
"Jangan ketawa Dudul! Udah aku bilang kalau mau ke sini harus sama Kak Clarra. Biar aku nggak oleng. Ini malah ngeyel sendiri. Mana kemarin bawa-bawa Anya lagi buat alesan."
"Sudah aku bilang itu maunya Anya, bukan aku yang memakai dia sebagai alasan." Galang menjelaskan.
Namun Amara mencebik.
"Cowok tuh kalau udah sekali bohong pasti kesananya bakal bohong terus. Lihat deh, setelah ini kalau Kak Clarra tanya abis dari mana dulu, pasti Kakak nggak akan bilang dari sini."
"Oh ya?"Â
"Hmm." Amara mengangguk.
"Sok tahu."
"Aku mah yakin."
"Memangnya kalau aku jujur kepada Clarra habis dari sini kira-kira dia akan bagaimana?"
"Ya marahlah. Masa pacarnya habis nemuin cewek lain dia biasa aja, nggak mungkin."
"Mau taruhan?" Pria itu kembali menyesap kopinya.
"Kenapa pakai taruhan segala?"
__ADS_1
"Entahlah, sepertinya ini menarik." Galang tergelak.
"Ish! Kakak nyebelin tahu nggak?"
Dia hanya mengangguk.
"Jangan cuma ngangguk-ngangguk. Makin lama Kakak jadi makin nyebelin."
"Iya, aku tahu."
"Kalau tahu kenapa masih gini aja?"
"Nggak kenapa-kenapa, aku cuma kangen." Galang menggigit bibirnya dengan keras. Tidak percaya dia mengatakan hal seperti itu, padahal mereka sudah tak menjalin hubungan apa-apa.
"Umm …."
"Hanya saja aku nggak bisa melakukan apa-apa selain mengatakan ini. Keadaannya yang nggak memungkinkan untuk …."
"Sebentar lagi jam kerja Kakak dimulai." Amara mengalihkan perhatian, membuat Galang kembali melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya.
"Sana kerja, kan udah minum kopi di sini?"
"Sebentar aku habiskan."
"Baiklah." Amara bangkit dari kursinya, berbarengan dengan para pegawainya yang tiba hampir bersamaan.
"Kalian telat!" ucapya, saat ke empat anak muda itu masuk.
"Maaf Kak, maaf. Semalam …."Â
"Cepat prepare, mungkin sebentar lagi kita akan kedatangan banyak tamu. Nih, tamu pertama udah datang." Amada menunjuk Galang yang masih menikmati kopinya.
"Ee … iya Kak." Lalu mereka berempat menghambur ke dalam dan mengambil pekerjaannya masing-masing.
"Udah?" Amara beralih kepada Galang yang bangkit.
"Hmm …." Pria itu mengangguk sambil meletakkan selembar uang di atas meja.
"Nggak usah dibayar, itu gratis." Amara berujat.
"Kenapa? Bukankah aku pelanggan pertama mu hari ini." Galang melirik, kemudian tersenyum miring.
"Tapi itu kebanyakan." Amara menatap uang kertas berwarna biru yang Galang letakkan di sana.
"Nggak apa-apa, untuk tips. Karena pagi ini kamu sudah menemani aku ngobrol." Dia menjawab.
"Itu cuma basa-basi."
"Aku tahu, tapi tetap saja aku merasa senang."
Amara memutar bola mata.
"Aku pergi." Galang berjalan mundur.
"Hmm …."Â
Pria itu berbalik, lalu bergegas keluar menuju ke mobilnya.
🌺
🌺
🌺
Bersambung ....
kamu tuh manis, tapi nyebelin😒
like komen sama hadiahnya mana?
__ADS_1