My Only One

My Only One
Percakapan Di Pagi Hari


__ADS_3

🌺


🌺


Amara berusaha bangkit saat dia tak menemukan keberadaan suaminya di samping. Waktu memang sudah pagi dan dia melihat cahaya matahari di sela tirai yang masih tertutup rapat.


"Ya, saya rasa ini penting. Jadwal besuk sudah harus ditentukan dari sekarang sehingga semuanya memang sudah diatur begitu NMC resmi dibuka nanti." Pintu didorong dari luar dan Galang masuk dengan ponsel menempel di telinga.


"Dan aturan itu harus sudah diterapkan sejak hari ini sehingga semuanya berjalan baik pada saat nanti sudah beroperasi. Jam besuk tidak boleh lebih dari jam tujuh malam kecuali keadaannya benar-benar darurat." Pria itu menatap Amara yang baru saja terbangun.


"Baik, saya rasa cukup untuk sekarang ini. Semuanya bisa di evaluasi nanti setelah NMC dibuka secara resmi." Lalu dia mengakhiri panggilan.


"Kakak dari mana?" Amara bertanya saat pria itu mendekat.


"Dari luar." Galang meletakkan sebuah bungkusan berisi minuman kaleng dan beberapa macam camilan di meja.


"Beli makanan?"


"Sedikit. Juga sudah memeriksa beberapa hal."


"Apa?"


"Hal-hal penting soal rumah sakit."


"Misalnya?"


"Yang berhubungan dengan jam operasional dan semacamnya."


"Jam operasionalnya dibatasi? Bukannya rumah sakit itu seharusnya buka 24 jam ya, nggak boleh berhenti?"


"Memang." Galang duduk di tepi ranjang.


"Terus yang tadi itu apa?"


"Yang mana?"


"Soal jam besuk nggak boleh lebih dari jam tujuh malam?"


"Bukannya semua rumah sakit begitu? Besuk malam itu mengganggu pasien tahu?"


"Mengganggu pasien atau mengganggu yang lain?" Amara tertawa ketika dia teringat kejadian semalam saat mengalami kegagalan pada percobaan pertama mereka untuk berhubungan badan.


"Jangan bahas itu, aku kesal kalau ingat itu."


Perempuan itu masih tertawa.


"Jangan ketawa Neng!"


"Habisnya konyol banget sih?"


"Yang konyol itu kamu."


"Lho, kok aku sih?"


"Iya lah, soalnya kamu nawar-nawarin aku terus, ya akunya tergoda."


Amara tertawa lagi.


"Ish!"


"Ya kenapa nggak dilanjutin? Kan udah aku tawarin lagi?"


"Akunya udah nggak mood." jawab Galang yang bangkit lalu mendekat lagi.


"Mau mandi sekarang? Aku harus pergi kerja sebentar lagi." tawarnya, dan dia segera menarik selimut tebal itu.


"Emangnya Kakak masih kuat mau mandiin aku?" Amara pun berpegangan pada lengan pria itu yang terulur untuk membantunya bergeser ke pinggir.


"Kuat nggak kuat ya tetap harus aku urus. Memangnya mau siapa lagi?" Galang menjawab lalu dia meraup tubuh semampai Amara. Dan dengan mudah membawanya ke kamar mandi.


"Kan ada suster, jadi Kakak nggak harus repot-repot mandiin aku. Kakak bisa langsung pergi kerja."


"Nggak mungkin. Biar aku yang melakukan bagian ini." jawab pria itu lagi seraya mendudukkan Amara di kursi plastiknya.


"Kakak jadi sering terlambat."


"Nggak apa-apa, mereka mengerti."


"Untung bosnya Kak Dim ya? Kalau orang lain mungkin akan jadi masalah."


"Hmm … untung kerja di Nikolai Grup." Galang melepaskan seluruh pakaian yang menempel di tubuh istrinya.


"Coba kalau di tempat lain ya?"


"Hmm …." Lalu dia mulai memandikannya.


Hal ini menjadi semacam rutinitas yang mulai dia sukai. Meski kerap kali membuatnya berdebar dan hampir tak mampu menahan diri, tapi Galang berusaha sekuat yang dia bisa.


Menatap tubuh telanjang Amara menjadi godaan yang berat untuknya, mengingat status mereka yang sudah sah rasanya tidak ada yang bisa menghalanginya untuk menyentuh perempuan itu. Kecuali tentunya cedera tangan dan kakinya yang dikhawatirkan akan mengalami penurunan kondisi jika mereka tidak bisa menahan diri. Dan itu yang sering dia ingat untuk bisa menghentikannya melakukan apapun. Selain gangguan lain yang juga sering menghentikan kegiatan intim di antara mereka.


"Kakak juga mau sekalian mandi?" Tanya Amara saat pria itu mengeringkan tubuhnya dengan handuk lalu memakaikan bathrobe kepadanya.


"Tidak. Aku mau membantumu berpakaian dulu, baru mandi."


"Kenapa?"

__ADS_1


"Nanti aku kebablasan lagi, dan mungkin akan menyakitimu." Galang kembali membawanya keluar dari kamar mandi.


Dengan telaten pria itu membantunya berpakaian. Dari hal terkecil hingga hal yang paling besar Galang pakaikan kepadanya. Sepertinya dia mulai mahir dengan urusan ini. Dan terakhir dia menyisir rambutnya setelah memakaikan krim pada wajahnya.


"Tunggu sebentar, aku mau mandi dulu ya? Setelah itu kita akan makan bersama." ucap Galang setelah dia menyelesaikan tugasnya.


Hingga setelah beberapa menit dia selesai dengan urusannya, dan keluar dalam keadaan yang sudah rapi. Sudah mengenakan setelan kerja, kemeja  putih dengan dasi dan celana panjang berwarna hitam. Rambutnya juga sudah seklimis biasanya dengan wangi maskulin yang menguar dari tubuhnya.


Dan di saat yang bersamaan masuk pula petugas rumah sakit yang mengantarkan makanan dan obat untuk Amara. 


"Kakak hari ini kerjanya sampai malam?" Amara mengunyah makanan yang disuapkan Galang kepadanya.


"Tidak tahu. Tapi hari ini aku dan Pak Dimitri ada pertemuan diluar kantor." Galang juga menyuapkan makanan pada mulutnya sendiri.


"Oh ya? Di mana?"


"Satu di Hilton, satu lagi di Hotel Indonesia."


"Dua pertemuan?"


"Ya."


"Pertemuannya di dua hotel itu terus ya? Jarang di hotel lain?"


"Karena klien lebih nyaman di sana." Galang kembali menyodorkan makanan ke mulut Amara yang segera dilahap oleh perempuan itu dengan cepat.


"Kira-kira kenapa ya?"


"Selain sangat terkenal, pelayanan dan suasana di dua hotel itu juga salah satu yang terbaik di negara kita."


"Bener juga."


"Yah …."


"Amara's Love bakal gitu nggak ya?"


"Apanya? Terkenal? Kan sudah."


"Masa?" Amara tergelak.


"Iya. Di sekitaran Nikolai Grup siapa yang tidak kenal Amara's Love? Semua orang sepertinya hampir setiap hari maka di sana. Aku lihat juga kedai selalu penuh bahkan sampai malam."


"Duh, kasihan ya anak-anak pasti pada sibuk?"


"Namanya juga bekerja."


"Kakak udah kesana sejak aku di rumah sakit?"


"Belum, cuma lewat."


"Apanya yang harus dilihat? Mereka bekerja dengan baik kok?"


"Kok Kakak tahu?"


"Tahulah, dan memang pasti begitu. Orang ada Piere di sana."


"Oh iya, aku baru ingat sama Piere."


"Tidak usah khawatir. Dia juga baik-baik saja."


"Kakak, apaan sih?" Amara terkekeh sambil meyentuh wajah suaminya. Dia tahu pria itu akan merasa cemburu setiap kali dirinya berbicara soal teman kuliahnya itu.


"Serius, dia bekerja denga baik dan tinggal ditempat yang baik juga. Aku tidak akan membiarkan orang yang sudah menjaga istriku mengalami hal buruk."


"Hum?"


"Aku dan Papamu memintanya untuk tetap tinggal di Jakarta sampai visanya habis dua bulan lagi. Dan selama itu dia tetap bekerja di kedai."


Amara terdiam.


"Setelah itu, terserah dia mau pulang ke Paris atau memperpanjang visanya lagi."


"Aku nggak nyangka kalau ternyata dia kerja untuk Papa. Sempet aneh karena dengan mudahnya dia ninggalin kerjaannya yang bagus itu di Paris demi aku."


"Huh kegeeran?" Galang mencibir.


"Serius Kak, aku emang sempet ke geeran. Hahaha." Amara tertawa.


"Apa?"


"Iya, kok ada yang se perhatian itu? Jauh-jauh datang ke negara yang belum pernah dia kunjungi untuk bantu temen yang baru dua tahun dia kenal, padahal dia baru aja dapat kerjaan yang jadi mimpinya selama ini. Ehh rupanya dapat tawaran meggiurkan dari papa untuk jagain aku? Dan aku yakin deh kalau bayaran yang papa kasih pasti jauh lebih besar dari bayaran di kedai."


"Tentu saja, mana ada orang asing yang mau capek-capek kerja di kedai dengan bayaran kecil."


"Aku bayar dia gede tahu?"


"Berapa?"


"Seratus ribu perhari."


Tawa Galang pecah seketika.


"Kenapa?"


"Seratus ribu sehari artinya dia cuma dapat tiga juta sebulan. Hanya cukup ntuk makan saja, itu pun dengan menu standar."

__ADS_1


"Yee … dia kan makan di kedai, sementara apartemen aku yang bayar."


Galang tertawa sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Emangnya papa bayar dia berapa? Kakak tahu nggak?"


"Ah, … kamu kena mental kalau aku bilang." jawab Galang yang memberinya air minum dan obatnya ketika kegiatan makan mereka selesai.


"Berapa?"


"Sekelas bodyguard artis."


"Iya berapa?"


"Kalau kamu memberi dia seratus ribu perhari, maka papamu memberinya seratus ribu untuk satu jam kerja. Ya hitung saja berapa lama dia bekerja dalam sehari."


Amara berpikir.


"Gede amat?" Amara mendapatkan bayangan berapa banyak uang yang dikeluarkan oleh ayahnya untuk Piere.


"Pantes aja dia rela melepas kerjaannya di Paris?"


"Makanya."


"Hmmm … tapi dia masih kerja di kedai aku?"


"Masih lah, mau di mana lagi? Dapat makan dan tempat tinggal gratis, hanya meunggu perintah saja untuk melakukan hal lain dari papa atau aku."


"Kakak?"


"Ya."


"Terus nanti aku bayarnya gimana kalau dia masih di kedai?"


"Nggak usah khawatir, itu urusan papamu."


"Kok urusan Papa?"


"Iyalah, kan awalnya dia dapat tugas dari papa? Hanya tinggal menyelesaikan dua bulan lagi."


"Umm …."


"Sudah, tidak usah kamu pikirkan." Galang kemudian membereskan peralatan makannya.


"Aku pergi ya? Sebentar lagi papamu akan datang." Dia melihat jam di pergelangan tangannya.


"Hmm …." 


"Jangan kangen." Pria itu mengecup bibirnya beberapa kali lalu memeluknya.


"Tapi kalau misalnya kangen, kamu bisa mengirim pesan, dan aku akan segera menelfon."


"Dih?"


Galang tertawa lalu dia mengecupi puncak kepalanya.


"Istirahat yang banyak jadi kamu benar-benar siap untuk oprasi besok." katanya, yang masih memeluk erat perempuan itu.


"Kakak jangan ingetin itu terus, aku jadi gugup."


"Gugupan mana? Tahu mau oprasi atau semalam waktu Zenya menemukan saputanganmu?" Galang mengingatkam kejadian semalam saat keluarga atasannya datang menjenguk.


"Kakak!!!" membuat Amara merengek setelahnya.


Galang tertawa lagi kemudian dia megeratkan pelukan.


"Cepatlah sembuh, agar aku bisa membawamu pergi bulan madu." Galang setengah berbisik.


"Masih lama Kak."


"Aku tahu, tapi tetap saja." 


Amara membalas pelukannya dengan melingkarkan tangan kirinya pada pinggang Galang, dan mereka ada dalam posisi itu untuk waktu yang cukup lama.


"Sudah siang, apa kamu tidak akan pergi bekerja?" Suara Arfan menginterupsi.


Dua sejoli yang masih berpelukan itu segera menoleh.


"Bukankah pagi ini ada pertemuan? Itu sebabnya kamu memintaku datang sepagi ini untuk menemani Ara?" Pria itu segera menutup pintu.


"Ee …." Dan Galang melepaskan rangkulannya.


"Cepat sana pergi. Jangan sampai klien menunggu!" ucap mertuanya yang meletakkan barang bawaannya di sofa.


"Iya baik. Pergi dulu." Dan hal itu membuat Galang bergegas pergi.


🌺


🌺


🌺


Bersambung ...


kirim lagi hadiahnya untuk next bab😉

__ADS_1


__ADS_2