My Only One

My Only One
Makanan


__ADS_3

🌺


🌺


"Kalau begitu, saya permisi?" pamit Nania setelah meletakkan tote bag di atas meja.


"Ya, terima kasih." Daryl sejenak mengalihkan perhatiannya dari pekerjaan yang masih menumpuk.


"Baik." Gadis itu memutar tubuh, dan dia hampir saja keluar dari ruangan tersebut ketika Daryl kembali memanggilnya.


"Nania?"


"Iya Pak?" Dia kembali.


"Mungkin mulai bulan depan kamu tidak usah mengantar lagi makanan ke sini." katanya, dan mereka saling menatap.


Daryl di kursi kerjanya, sementara Nania tertegun di dekat pintu.  Ruangan tersebut seolah menjadi jurang yang membuat mereka berjarak.


"Bulan depan?" Gadis itu membeo.


"Ya, mulai awal bulan depan." jawab Daryl.


Nania terdiam sebentar.


"Baik Pak." katanya, tanpa banyak bertanya.


"Permisi?" Gadis itu kembali memutar tubuh dan hampir membuka pintu.


"Hey, aku belum selesai bicara! Kenapa kamu ini?" Daryl sedikit meninggikan suaranya.


"Ada lagi Pak?" Nania berbalik lagi dengan raut wajahnya yang terlihat kesal.


"Besok sampai akhir bulan ini kamu masih antar makanan untukku ke sini."


"Ya, terus?"


"Setelah itu antar makananku ke Fia's Secret." lanjut Daryl.


"Fia's Secret?" Nania mengerutkan dahi.


"Ya, mulai bulan depan aku bekerja di sana."


Gadis itu berpikir.


"Bisa kan?"


"Jadi, dari Amara's Love saya harus memutar lebih jauh ke Fia's Secret Pak?" Lalu Nania bertanya.


"Kamu tahu jalannya?"


"Tahulah. Siapa yang nggak tahu gedung Fia's Secret? Orang sama terkenalnya kayak Nikolai Grup? Padahal jauh."


"Bagus kalau begitu. Aku tidak perlu sharelok agar kamu tidak tersesat. Lagi pula aku tidak punya nomor hapemu. Susah jadinya?"


"Dih?" Nania menarik salah satu sudut bibirnya ke atas.


"Untuk apa Bapak punya nomor saya? Kayaknya nggak penting?" katanya.


"Apa?"


"Iya ngapain? Kita nggak punya urusan apa-apa. Kalau mau komplain atau order apa aja ya ke nomer resmi Amara's love aja, ngapain sama saya?"


Daryl memutar bola matanya, sebal.


"Permisi Pak? Saya lagi males berantem." Gadis itu segera pergi.


"Dasar, tidak punya sopan santun!" Dan Daryl menggerutu seperti biasa.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Galang memasuki rumah Arfan pada hampir petang. Dia mengerutkan dahi ketika mendengar keributan di ruang tengah. Tepatnya suara tangisan Asha yang terdengar cukup keras.


Pria itu berhenti tepat di ruang penghubung antara ruang tengah dan lorong arah ke kamarnya bersama Amara.


"Kakak?" Suara lain terdengar memanggil.


Galang menoleh dan Amara berada di lantai dua.


"Asha kenapa?" Pria itu bertanya.


"Lagi kambuh, biarin aja."


"Apa? Kambuh?" Dia segera menaiki tangga.


"Iya." Amara menganggukkan kepala.


"Kambuh apa? Asha sakit?"


"Nggak."


"Terus?"


"Kambuh tantrumnya."


"Kenapa bisa begitu?"


"Arkhan makan coklatnya yang di simpan di kulkas."


"Aduh?"


"Udah, nanti juga diem sendiri kalau udah capek. Atau Papa keburu pulang."


"Memangnya Papa ke mana?"


"Tadi pagi sih pergi."


"Tapi itu kasihan Neng. Sudah berapa lama Asha menangis begitu?"


"Dua jam."


"Apa? Lama amat?"


"Dianya belum capek."


"Nggak ada yang mendiamkan apa?"


"Susah kalau dia belum puas nangis. Atau sama pawangnya."


"Dih? Siapa pawangnya?"

__ADS_1


"Ya Papa lah, siapa lagi?"


Galang hampir tertawa.


Lalu pintu tampak terdorong dari luar, dan seseorang masuk dengan tergesa. Sementara mereka berdua mengawasi dari atas. Dan seketika tangisan Asha berhenti dengan sendirinya.


"Kan?" ucap Amara. "Udah Kak, bukan urusan kita." Dia menarik tangan suaminya yang kemudian membantunya masuk ke dalam kamar.


"Kak Arkhan habisin coklat aku Pa!" terdengar aduan Asha di bawah.


"Hanya coklat, bisa beli lagi." Arfan menjawab.


"Tapi itu udah lama aku simpan. Udah diniatin mau dimakan hari ini setelah ngerjain pr."


"Iya, masih bisa beli lagi kan? Ayo kita beli?" bujuk Arfan.


"Coklat yang baru beli rasanya nggak enak! Makanya aku simpan dulu juga. Kak Ar nggak ngerti!" Asha merengek.


"Ya sudah, kita belinya banyak. Jadi kamu punya persediaan ya?"


"Nanti aku harus nunggu lama lagi. Kesel tahu!"


"Ya habis mau bagaimana lagi? Kalau itu satu-satunya coklat yang ada, sementara kamu tidak mau coklat yang baru. Papa harus bagaimana?"


"Pokonya marahin Kak Arkhan, aku nggak mau tahu!"


"Astaga!"


"Kak Ar nya udah salah, ngeyel lagi. Mana ledekin aku terus."


Arfan menghela napas berat.


"Papa!!" Asha merengek lagi.


"Iya iya. Di mana anak itu!!" Lalu Arfan mencari keberadaan putranya.


***


Pria itu kembali setelah beberapa saat, diikuti oleh Arkhan di belakang. Mereka tak banyak bicara dan Arfan segera kembali ke tempat anak bungsunya menunggu.


"Sekali lagi makan makanan aku, awas!" Asha mengancam.


"Cuma coklat doang kayak yang kehilangan harta karun?" Arkhan bergumam.


"Ar?" Arfan bereaksi.


"Iya iya, maaf. Lain kali nggak lagi."


"Awas loh!" Asha mengacungkan telunjuk ke arah kakak laki-lakinya, lalu menyeka matanya yang basah.


"Asha, tidak boleh seperti itu!" ucap Arfan, memperingatkan, membuat anak bungsunya terdiam.


"Nah, masalahnya sudah selesai kan? Sekarang kita makan?" Dygta yang muncul setelah tahu keributan anak-anaknya reda.


"Aku nggak ikut, tadi Papa janji mau beliin coklat." Asha menjawab.


"Apa? Kapan?" tanya Arfan.


"Tadi?"


"Kamu bilang tidak mau, coklat baru rasanya tidak enak?" sang ayah mengingatkan ucapan putrinya beberapa saat yang lalu.


"Kan bisa disimpan lagi kayak kemarin?"


"Ayo Papa! Tadi udah ngajak aku!" Asha menarik-narik lengan  ayahnya.


"Papa!" rengek anak itu lagi.


"Iya iya, astaga! Kenapa sih kamu seperti ini?" Dan tidak ada yang bisa Arfan lakukan selain menuruti keinginan anak bungsunya itu.


"Dasar, tukang ngadu!" Arkhan bergumam setelah mereka pergi, dan dirinya mengikuti ibu dan anggota keluarga lainnya ke ruang makan.


"Kamu itu, makanya kalau punya Asha jangan di ganggu. Kan sudah tahu kalau dia pasti begitu?" Dygta mengisi piring milik Arkhan dengan nasi dan lauknya yang sudah disiapkan sejak sore.


Kali ini mereka makan tanpa Arfan dan Asha yang pergi untuk menuruti keinginan anak itu.


"Iya, dimarahin kan? Bikin gara-gara sih?" Amara menimpali.


"Siapa bilang? Kakak sok tahu deh?" Arkhan menjawab. Dia lantas melahap makanan yang diberikan oleh ibunya.


"Ya kali Papa ngelus-ngelus kamu setelah bikin masalah sama anak kesayangannya? Mustahil." ucap Amara.


"Nggak."


"Masa?"


"Serius."


"Terus tadi itu apa?"


"Bukan apa-apa. Papa cuma bilang nanti jangan gitu lagi."


"Bohong! Dimarahin kan sama Papa? Ayo ngaku!!!" Amara mengarahkan ujung telunjuk kepada adik laki-lakinya itu.


"Nggak. Mana ada Papa marah-marah soal gituan?"


"Terus tadi lama di belakang?"


"Biar Asha diem aja."


"Hah?"


"Huh, kirain di marahin? Sampai kaget!" Anandita ikut berbicara.


Lalu Arkhan tertawa.


***


"Asha kalau diganggu suka begitu?" Galang meletakkan ponsel di atas nakas setelah memastikan jika akhir pekan nanti tidak akan ada pekerjaan tambahan atau pertemuan dadakan yang harus dia hadiri.


"Ya begitu." Amara melepaskan arm slingnya dan mengusap tangan kananya perlahan.


"Kok aku nggak tahu kalau dia begitu?"


"Sebenarnya jarang. Tapi kalau udah kambuh ya begitu."


"Kamu sebut tantrumnya Asha seperti dia mengidap penyakit parah saja?" Galang tertawa.


"Ya memang parah kalau udah gitu. Nggak ada yang bisa ngobatin selain Papa."

__ADS_1


"Padahal tadi penyebabnya cuma coklat ya? Apalagi kalau hal lain?"


"Hal lain dia nggak begitu."


"Masa?"


"Ya. Tapi kalau soal makanan dia kayak yang belum pernah makan. Apa yang dia suka nggak boleh ada yang minta."


"Pelit!"


"Bukan pelit."


"Terus apa?"


"Cuma … tukang makan aja." Amara tertawa.


"Awas, nanti anak kita mirip Asha." Galang pun ikut tertawa.


"Masa? Kenapa?"


"Akhir-akhir ini kamu sering bertengkar dengan dia."


"Nggak ah, biasa aja."


"Tidak, kamu lebih sering berselisih dengan Asha dibandingkan dengan adik-adikmu yang lain."


"Mitos. Kata siapa bisa gitu? Anak kita masa mirip sama orang lain?"


"Kata orang tua begitu."


"Iya?"


"Yang aku dengar." Lalu dia teringat percakapannya dengan Angga beberapa minggu sebelumnya. Membuatnya bergidik seperti baru saja menemukan hal paling menakutkan di dunia.


"Kenapa? Mau pipis ya?"


"Hah?"


"Cowok kalau mau pipis suka begitu?"


"Nggak, mana ada?"


"Itu, Kakak barusan?" Amara tertawa lagi.


"Bukan mau pipis." katanya.


"Terus mau apa?"


Pria itu mendekatkan bibirnya ke telinga Amara.


"Mau kamu." Dia berbisik.


Amara menahan senyum dengan pipi yang merona.


Galang menarik wajahnya sehingga bibir mereka bertemu. Dan pagutan lembut segera berlangsung.


Dia menahan leher Amara dan sesekali jemarinya merayap di tengkuk kemudian menelusup ke sela rambutnya yang lembut. Menciptakan sensasi geli yang merambat di belakang tubuh perempuan itu.


Lalu tangannya turun menggapai bulatan kenyal favoritnya, dan meremat benda tersebut yang masih berbalut pakaian tidur tipis yang amara kenakan.


Tubuh perempuan itu mengejang seiring lenguhan yang tertahan oleh cumbuan mereka. Dan dia semakin merapatkan tubuhnya sehingga Galang bisa menyentuhnya lebih jauh.


Kini tangannya bahkan sudah menarik kain yang menempel di tubuh Amara, dan dengan mudah dia melepaskannya. Lalu setelah itu Galang menarik lepas kain segitiga yang menutupi bagian bawah tubuhnya. Begitu juga yang dia lakukan kepada dirinya sendiri.


Lalu dia melanjutkan cumbuan dan sentuhannya pada tubuh Amara sehingga membuat perempuan itu siap untuk melakukan lebih.


Galang sudah memposisikan dirinya, dan dia hampir saja membenamkan senjatanya ketika terdengar suara ketukan di pintu.


"Kakak?" Suara Asha terdengar memanggil.


"Kakak udah tidur?" katanya lagi.


Galang dan Amara saling menatap dengan napas menderu-deru.


"Kakak? Kata Papa kita makan? Aku sama Papa bawa makanan enak!" Asha tidak mau berhenti berbicara.


"Kakaaaaaaakkkkk!"


"Astaga!" Galang akhirnya menarik diri dan mengurungkan niatnya untuk menautkan tubuh mereka. 


Dia segera turun dari tempat tidur, lalu berjalan ke arah pintu sambil mengenakan pakaiannya. Sementara Amara menenggelamkan tubuh telanjangnya di balik selimut.


"Ya Asha?" Pria itu membuka pintu sambil menahan kesal di dada.


"Eh, belum tidur?" Asha dengan segala kepolosannya.


"Baru mau." Galang menjawab setenang mungkin, meski suara di kepalanya meraung-raung penuh kekesalan.


"Untung belum. Papa nyuruh aku manggil Kakak sama Kak Ara biar kita makan sama-sama."


"Kak Aranya sudah tidur jadi …."


"Makan apa Sha?" Namun perempuan yang dimaksud malah berbicara dari balik selimutnya.


Galang mendengus kasar.


"Banyak." Sang adik memiringkan tubuhnya untuk bisa mengintip ke ruangan yang hampir gelap itu.


"Ada sate, ayam bakar, macam-macam martabak, mpek-mpek. Uuhhh … nggak kehitung." katanya dengan bersemangat.


"Wah, Asik!" Amara bereaksi.


"Asha tunggu di bawah ya, sebentar lagi Kakak turun?" katanya, kepada adik bungsunya itu. 


Tiba-tiba saja mereka jadi akur? Batin Galang.


"Oke Kak!" Asha mengacungkan dua ibu jarinya, kemudian dia bergegas kembali ke bawah.


"Kamu serius? Bukankah kamu suka merasa mual kalau memakan makanan berat?" Galang menghampiri Amara yang berusaha mengenakan pakaiannya.


"Oh ya? Masa? Tapi kedengarannya enak?"


"Tapi Neng?" Galang membantunya untuk bangkit setelah dia berhasil berpakaian.


"Ayo Kak, kita ke bawah?" Perempuan itu hanya tersenyum memamerkan gigi putihnya yang berjejer rapi.


🌺


🌺

__ADS_1


🌺


Bersambung ...


__ADS_2