
🌺
🌺
"Kan aku bilang juga apa? Kamu sih ngeyel, nekat juga menghadap Bu Clarra. Kan udah tahu kalau dia gitu. Nggak ada toleransi, nggak ada alasan."
"Tapi berhasil juga kan? Lumayan nambah waktu buat kita. Dari pada keteteran."
"Tapi Bu Clarra kalau marah serem ya? Lain kali jangan gitu lagi ah, ngeri lihatnya."
"Pantesan dia jomblo terus, orangnya galak gitu. Mana ada cowok yang mau mendekat? Belum apa-apa udah takut duluan?" Kemudian ketiga perempuan itu tertawa.
Tanpa sengaja Galang melintas setelah memeriksa sesuatu sebelum naik ke lantai atas dan mendapati bawahannya yang sedang bercakap-cakap di lorong sambil tertawa.
"Cepat selesaikan tugas kalian. Jangan sampai kena sp 3 ya nanti?" Dia bereaksi.
"Eh, Pak?"
"Pantas kalian tidak bisa mengejar deadline, kebanyakan bergosip." Pria itu berujar.
"Maaf Pak."
"Nggak perlu minta maaf, kerjakan saja tugas kalian. Bu Clarra sudah berbaik hati memberi kesempatan, biasanya dia tidak begitu kan?"
Tiga perempuan itu terdiam.
"Cepat, cepat!" Galang menjentikkan jarinya, membuat mereka segera berhamburan ke dalam ruangan.
***
Galang tiba di lantai atas dengan beberapa dokumen yang akan dia serahkan kepada Dimitri.
Melintas di depan meja Clarra di mana perempuan itu tengah fokus pada pekerjaannya.
Awalnya Galang tak berniat untuk menyapanya, namun kejadian beberapa saat yang lalu benar-benar mengusik hatinya.
Bagaimana dia melihat seniornya itu bersikap tidak begitu baik kepada pegawai, dan hal tersebut menurutnya tidak bagus.
"Ehm, ...." Galang berdeham, kemudian mundur.
"Apa kamu sibuk?" Lalu dia bertanya.
Clarra mengangkat kepala, dan wajah itu mendominasi pandangan.
"Aku tanya, apa kamu sibuk?" Galang mengulangi pertanyaan.
"Seperti yang kamu lihat." Clarra menjawab. "Ada yang penting?" Kemudian dia menjawab.
"Aku rasa ya, kita harus bicara."
Clarra meletakkan alat tulisnya.
"Maka bicaralah."
Galang terdiam sebentar.
"Ada apa?"
"Bisa tidak kamu menurunkan arogansimu sedikit saja?" ucap Galang tanpa ragu.
"Apa? Arogansi yang mana maksudmu?"
"Arogansimu kepada pegawai lain."
Clarra membuka mulutnya hendak menyanggah.
"Jangan karena kamu senior, lalu membuatmu merasa bisa mengatakan apa saja kepada mereka. Lalu bersikap keras teehadap apa pun yang terjadi. Bahkan tidak memberikan toleransi sedikitpun."
"Ooo, aku tahu. Ini karena masalah yang tadi, bukan?" Perempuan itu bangkit dari kursinya.
"Kamu mau membela mereka? Membela orang-orang pemalas seperti itu? Kenapa?" Dia melipat kedua tangannya di dada.
"Aku tidak sedang membela mereka. Tapi aku sedang melakukan apa yang seharusnya aku lakukan. Aku tidak setuju dengan cara mereka bekerja, tapi aku juga tidak setuju dengan sikapmu yang seperti itu."
"Ada apa dengan sikapku? Aku juga sedang melakukan apa yang menjadi tugasku. Dan tugas mereka juga untuk menyelesaikan pekerjaan tepat waktu, tapi kamu lihat sendiri bukan? Mereka bahkan tidak sanggup. Jadi, bagian mananya yang harus aku beri toleransi?"
"Setidaknya bicaralah dengan baik."
"Bicara dengan baik katamu? Mereka saja tidak sopan dengan menemuiku di jam istirahat. Membuat selera makanku hilang saja."
__ADS_1
Galang mendengus kasar. Perempuan ini memang tak bisa di ajak berkompromi. Segala sesuatunya memang harus selalu seperti yang dia atur. Belum lagi sepertinya moodnya sedang tidak baik hari ini. Mungkin itu yang membuatnya bersikap demikian?
"Ada lagi yang mau kamu katakan?" Clarra berujar setelah pria di hadapannya tak lagi berbicara.
"Atau kamu juga akan seperti mereka? Bersikap segan di depan tapi membicarakan aku di belakang?"
"Tidak apa-apa, aku sudah terbiasa. Bahkan saat mereka menghubungkan kesendirianku dengan sikap yang kamu bilang tidak toleransi itu."
"Cla, aku tidak seperti itu ...."
"Cepat kerjakan tugasmu, aku tidak akan peduli dengan apa yang ada di dalam pikiranmu!"
Galang kehilangan kata-kata. Menjawab pun percuma, karena perempuan itu tidak akan bisa dia kalahkan.
"Sana, Dimitri sudah menunggumu sejak tadi." ucap Clarra lagi, dan Galang memutuskan untuk mengalah kemudian berlalu dari hadapannya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Bulan depan Rania balapan di Prancis." Dimitri tak mengalihkan pandangan dari dokumen yang tengah dia periksa ulang.
"Ya Pak?" Galang bereaksi.
"Bisa aturkan jadwal untukku?" Lalu pria itu mendongak.
"Aturkan jadwal untuk apa?"
"Agar aku bisa menemaninya ke sana."
"Bapak mau mendampingi Rania balapan?" Sang asisten mendekat.
"Ya, sekalian aku mau membawa anak-anak juga. Kasihan mereka selalu meminta ikut, tapi tidak pernah aku bawa. Aku rasa sekarang mereka cukup besar untuk aku bawa menonton."
"Jadi tolong aturkan jadwal agar saatnya tiba nanti aku bisa pergi."
"Baik Pak." Galang mengangguk.
"Sore ini tidak ada pertemuan lagi?" Sang atasan kemudian bertanya.
"Tidak ada Pak. Hanya saja besok pagi kita harus menghadiri pertemuan dengan orang dari Nikolai Otomotif."
"Oh ya? Ada apa?"
"Mereka sudah menemukannya?"
"Sepertinya sudah. Dari kabar yang saya terima, ada dua pembalap yang akan mereka masukkan, dan itu membutuhkan persetujuan Bapak."
"Kenapa harus ada persetujuanku? Kalau memang mereka mampu dan berpotensi, ya terima saja."
"Tapi mereka tetap ingin bertemu Bapak."
"Begitu ya?"
"Ya Pak."
"Jadwalku besok selain itu apa lagi?"
"Tidak ada Pak, kita stay di kantor."
Dimitri mengangguk-anggukkan kepala.
"Baik, kalau begitu kita terima mereka besok di sini." Dia berujar.
"Baik Pak, saya akan mengabari mereka."
"Hmmm ... Kamu tahu, terkadang aku ingin meminta Rania untuk berhenti balapan saja. Anak-anak semakin besar, dan mereka sangat membutuhkan kehadiran ibunya." Dimitri merebahkan punggungnya pada sandaran kursi.
"Lalu kenapa Bapak tidak menyuruh Rania untuk berhenti?"
"Kamu seperti tidak tahu saja bagaimana sahabatmu itu? Dia tidak akan berhenti kalau memang belum ingin berhenti. Lagi pula, aku tidak tega mematahkan semangatnya."
"Tapi Bapak Galau?"
Dimitri tertawa.
"Seandainya kami tidak punya anak, mungkin aku tidak akan segalau ini. Perasaanku kacau kalau sudah melihat Zenya merajuk karena ingin Mommynya."
"Pilihannya memang sulit Pak."
"Yeah, ... tapi, di usia berapa pembalap biasanya pensiun?"
__ADS_1
"Tergantung kemampuannya. Ada yang di usia 30, 35, 40 ...."
"Menurutmu di usia berapa Rania akan pensiun?"
"Tidak tahu, karena sepertinya semangatnya masih sangat besar." Galang terkekeh.
"Pastinya masih lama ya?"
"Mungkin."
"Hufftthhh ...." Dimitri meniupkan napasnya dengan cepat.
"Coba dibicarakan saja Pak, siapa tahu Rania mau memikirkannya."
"Menurutmu begitu?"
"Perlu dicoba Pak."
"Apa dia tidak akan marah?"
"Masa marah? Kan hanya bicara."
Dimitri terdiam.
"Atau, nanti kamu yang bicara kepadanya ya?" Dia dengan idenya yang brilian.
"Saya Pak?"
"Iya, biasanya Rania akan menurut kepadamu?"
"Maaf Pak, tapi saya tidak mau." Galang mundur beberapa langkah ketika perasaannya mulai tidak enak.
"Hey, hanya bicara."
"Tidak. Saya tidak mau ikut campur urusan rumah tangga orang Pak."
"Tidak ikut campur urusan rumah tangga, ini hanya berbicara kepadanya."
"Bapak saja. Bapak kan suaminya?"
"Kamu sahabatnya?"
"Suami adalah orang paling dekat, saya hanya orang luar."
"Galang?"
"Permisi Pak, sebentar lagi jam pulang. Kebetulan kita tidak ada lembur, jadi saya akan turun ke bawah. Dan kalau saya tidak kembali kesini, itu artinya saya sudah pulang."
"Hey, bonya siapa di sini?"
"Ya Bapak." Galang hampir membuka pintu.
"Seharusnya kamu menuruti perintahku?"
"Kalau masalah pekerjaan saya pasti mau, tapi kalai masalah Si Oneng saya nggak mau. Dia kalau marah serem." Galang benar-benar membuka pintu.
"Hey, kamu bekerja kepadaku!"
"Itu urusan pribadi Pak. Ingat, jangan campur adukkan urusan pribadi dengan pekerjaan."
"Tapi pekerjaanmu termasuk mengurus keluargaku."
"Kalau untuk anak-anak bisa, tapi tidak untuk Rania." Galang melangkah keluar.
"Hey Galang!"
"Selamat sore Pak?"
Dan Dimitri kembali pada posisi duduknya.
🌺
🌺
🌺
Bersambung ...
like komen sama hadiahnya kirim terus ya, biar aku semangat. Apalagi kalau NTnya selancar ini. Seneng deh 😂😂
__ADS_1