My Only One

My Only One
Moodnya Ara


__ADS_3

🌺


🌺


"Kenapa kamu ini?" Sofia memeriksa keadaan Darren yang tak turun sejak pagi.


Padahal putranya itu biasanya berolah raga setiap akhir pekan bersamanya juga Satria.


"Kamu sakit?" Dia menyentuh kening Darren untuk memeriksa dan sedikit terkejut ketika merasakan suhu tubuhnya yang lebih panas dari biasanya.


"Tidak Mom, aku hanya tidak enak badan." Darren menjawab.


"Hanya tidak enak badan? Tapi kulitmu merah-merah begini?" Sofia memeriksa wajah dan leher sang putra.


"Badanmu juga, Nak!" katanya, setelah menyingkap piyama Darren.


"Tidak, aku hanya …."


"Papi!! Piiihh! Darren kambuh!" Sofia berteriak memanggil suaminya.


"Tidak Mom!"


"Papiii?" 


"Apa sih kamu teriak-teriak? Ini masih pagi!"


"Coba lihat Darren?" ucap Sofia dan suaminya itu segera maju.


"Dia pasti makan seafodd!" katanya.


"Kamu makan seafood?" Dia bertanya kepada putranya.


"Tidak Mom, aku tidak …."


"Sudah lama kamu tidak begini, dan hanya seafood yang bisa."


"Umm …."


"Darren!"


"Aku … tidak sengaja Mom." Pria itu akhirnya menjawab.


"Apa?"


"Aku … tidak tahu makan siang kemarin mengandung seafood, jadi …."


"Makan di mana kamu?"


"Di … umm … restoran di seberang resort setelah rapat dengan Kak Dim."


Sofia dan Satria terdiam.


"Ya sudah. Mama panggil dokter ya?" Sang ibu meraih ponselnya bermaksud melakukan panggilan.


"Tidak usah Mom, aku sudah ke dokter kemarin."


"Benarkah?"


"Ya, begitu terasa aku langsung ke NMC. Jadi …."


"NMC?"


"Ya. Jadi tenanglah."


Pasangan itu saling pandang.


"Ketemu dengan dokter Kirana?" Sofia mencoba mamancing.


"Ketemu. Dia bahkan yang mengobatiku, kan. Jadinya …." Darren menggantung kata-katanya dan menoleh ke arah kedua orang tuanya.


Dan dia menemukan wajah mereka yang hampir tersenyum.


"What?"


"Kamu sakit, dan mencari orang yang tepat?" Sofia tertawa pelan.


"Maksud Mama?"


"Apa mau pergi ke rumah sakit? Ke NMC lagi? Ayo Mama antar? Papi ayo kita antar Darren ke NMC?" Sofia dengan bersemangat.


"Tidaakkk! Ini bahkan belum tiga hari!" jawab Darren.


"Memangnya kenapa kalau belum tiga hari?"


"Dokter Kirana bilang, kembali kalau setelah tiga hari ruamnya tidak hilang! Eh …." Pria itu segera menutup mulut dengan tangannya.


"Hey!!! Kamu mulai berulah anak muda?" Sang ayah menyahut.


"Ck! Bisakah aku istirahat saja? Bolehkan meminta Mama dan Papi membiarkan aku saja?" Darren berujar.


"Bagaimana bisa? Alergimu harus diobati, Sayang! Ayolah, Mama antar ke NMC." Sofia menarik tangan putranya.


"Tidak Mom!"


"Ayo, kita menemui Dokter Kirana lagi?" Perempuan itu menahan tawa.


"No, Mom!"


"Ayolah Sayang!!"


"No!"


"Sudah Sayang!" Satria menghentikan istrinya. "Kalau dia bilang begitu biarkan saja. Tunggu sampai tiga hari. Hahaha." Dia pun tertawa.


"Stop Pih!" Darren dengan raut frustasi.


Wajahnya yang ruam-ruam semakin memerah karena siasatnya ketahuan orang tuanya.


"Ayolah Sayang, biarkan Darren istirahat. Kita akan mengantarnya tiga hari lagi ke NMC." Satria menarik istrinya keluar.


Meninggalkan putra mereka yang tampak kesal dan kembali menenggelamkan tubuhnya dibawah selimut.


***


"Aduuuhhh, anak ibu!!" Mayang menyongsong kedatangan anak dan menantunya pada lewat tengah hari di kediaman rumah mereka.


"Kenapa tidak mengabari kalau mau datang?" katanya yang memeluk Galang dan Amara secara bergantian.


"Dadakan, Bu." Sang putra menjawab sambil membantu Amara keluar dari dalam mobil dan memindahkannya ke kursi roda.


"Memangnya kalian dari mana?"


"Habis terapi langsung ke sini, sekalian ajak Ara jalan-jalan." katanya.


"Ara sudah baikan? Kok sudah di terapi?" Mayang beralih kepada menantunya.


"Udah bu." Perempuan itu mengangguk.


"Terus bagaimana cucu ibu? Sehat kan?" Mayang menyentuh perut Amara dan mengelusnya dengan lembut.


"Baik Bu, sehat."


"Syukurlah. Ayo ayo masuk? Ayah di belakang sedang membuat meja. Pasti senang kalian datang." Sang ibu menggiring mereka ke dalam rumah.


*


"Kadang-kadang Galang capek Bu." Ibu dan anak itu duduk di ruang makan yang menyatu dengan dapur dengan segelas kopi yang Mayang buatkan untuk putranya. 


Sementara Amara di halaman belakang mengobrol dengan Arif yang tengah menyelesaikan pekerjaannya. Mereka tampak akrab dan sesekali terlihat tertawa.

__ADS_1


"Ya jelas capek. Namanya juga kerja, di mana-mana ya capek. Mana ada kerjaan yag nggak capek?"


"Bukan soal itu." Galang menyesap kopinya.


"Terus soal apa?"


Pria itu terdiam sebentar.


"Salah nggak sih kalau Galang mengeluh?" Dia menatap wajah ibunya.


"Apa yang mau kamu keluhkan?"


Lalu dia menatap ke halaman belakang di mana ayah dan istrinya berada.


"Soal Ara?" Mayang bertanya.


"Keadaan hamil membuat Ara sedikit lebih manja dari biasanya. Kemauannya aneh-aneh dan nggak bisa ditolak. Ditambah dia sering tiba-tiba bersedih atau marah tanpa alasan."


"Moodnya gampag berubah. Itu biasa kalau sedang hamil. Ibu juga dulu begitu." Mayang menyahut.


"Masa?"


"Iya, hampir semua perempuan hamil begitu. H*rmon yang naik turun, perubahan kondisi tubuh, dan keadaan fisik membuatnya sering berbuat diluar kebiasaan. Dan itu biasa. Nanti juga hilang dengan sendirinya."


"Kalau Galang sedang biasa sih nggak apa-apa. Tapi setiap hari itu kan nggak sama. Kadang kita baik-baik saja, dan kadang banyak masalah."


"Terus kamu maunya bagaimana?"


"Nggak gimana-gimana."


"Kamu kesal? Capek? Karena harus mengurus dia juga yang keadaannya seperti itu? Kamu lupa menikah dengan siapa?"


"Capek iya, tapi kalau kesal sepertinya nggak. Kan sudah kewajiban Galang mengurus Ara. Tapi …."


"Terkadang, manusia itu ada di titik terendahnya. Dan yang kamu alami mungkin seperti itu. Tidak apa mengeluh, atau merasa lelah karena kamu adalah manusia biasa. Dan normal untuk mengeluh. Tapi kembali lagi pada kenyataan yang memang seperti ini."


"Ingat, kamu menikahi anak yang lahir dari keluarga seperti Pak Arfan, dan kamu sendiri tahu bagaimana keadaannya. Dia yang begitu dekat dan dimanja oleh orang tuanya sejak kecil dan tiba-tiba hidup denganmu. Ditambah, Ara mengalami cedera yang otomatis menghambat semua yang dia bisa. Dan kamu menikahinya di saat dia belum pulih dan memerlukan perawatan. Ibu bisa membayangkan bagaimana beratnya itu."


"Semua tanggung jawab dan kewajiban itu tiba-tiba diserahkan kepadamu. Tanggung jawab untuk merawatnya, kewajiban mengurusnya, dan segala keperluan yang dulu ditanggung orang tuanya. Itu pasti berat. Tapi memang sudah begitu seharusnya. Mungkin jika keadaannya dibalik, dan kamu yang mengalami hal ini, Ara juga akan melakukan hal yang sama."


Galang terdiam.


"Hanya ingat saja itu. Semua yang dia lakukan, semua yang dia alami dan kehidupannya adalah tanggung jawabmu, tidak terkecuali. Sakit, sehat, susah dan senang kamu yang harus mengusahakan. Capek itu wajar, tapi jangan dijadikan beban. Karena semuanya akan terasa berat kalau kamu menganggapnya sebagai beban. Pandanglah segala yang kamu lakukan sebagai bentuk tanggung jawabmu untuk istrimu, dan kelak anak-anakmu. Memangnya siapa lagi yang akan mengusakahan kebahagiaan mereka selain kamu?"


"Galang tahu Bu."


"Bagus kalau kamu tahu. Itu berarti kamu akan mengerti dengan apa yang akan kamu lakukan."


"Iya."


"Jangan pernah bosan untuk bersabar, bukankah kalian sedang berusaha menyembuhkanya? Nanti kalau dia sudah sembuh dan bisa melakukan semuanya sendiri, sudah pasti tidak akan memerlukan bantuanmu. Dan kamu akan bebas melakukan apa pun."


"Kok ibu bilang begitu?"


"Ya, sepertinya kamu merasa terbebani. Padahal tahu keadaan Ara sejak awal. Bukakah kamu juga yang mendampinginya saat dia lebih parah dari ini? Dan kamu baik-baik saja."


"Galang cuma capek bu."


"Iya, tapi jangan sampai rasa capek itu membuatmu merasa terbebani."


"Nggak juga."


"Semoga tidak."


Galang mengangguk-anggukkan kepala.


"Terus bagaimana dengan resepsinya? Apa yang bisa ibu lakukan untuk membantu?" Mayang mengalihkan topik pembicaraan.


"Nggak ada. Semuanya sudah Galang dan Pak Arfan tangani."


"Serius?"


"Iya, aman. Ibu dan Ayah tinggal datang aja ke Jakarta, nanti Galang kirim orang untuk menjemput."


"Masa minta tolong Om Angga terus?"


"Nggak apa-apa, kan sudah biasa. Apalagi dia sekarang buka rental mobil. Kita gampang kalau mau apa-apa, mobilnya banyak, macam-macam lagi."


"Masa? Om Angga punya rental? Kok aku nggak tahu?"


"Iyalah. Baru sebulan."


"Aki-aki kreatif juga kalau soal bisnis? Padahal sudah punya bengkel kan?"


"Ya bagus, menambah penghasilan biar uang terus bertambah."


"Nah ayah? Bisanya bikin meja?" Galang kembali menatap keluar rumah mereka.


"Memang cuma itu satu-satunya kemampuan ayah. Nggak apa-apa, biar ada kegiatan setelah pensiun. Dari pada naik-naik ke genteng, bahaya."


Galang tertawa. 


"Larang Bu. Kalau ada yang rusak suruh orang aja. Buat apa Galang kirim uang tiap bulan kalau soal begitu saja ayah memaksa mengerjakanya sendiri?"


"Kamu seperti nggak kenal ayah saja?"


"Susah ya Bu, kalau sudah kebiasaan?"


"Begitulah. Kemarin malah minta uang ke ibu untuk beli bahan. Katanya mau membuat box bayi setelah tahu Ara hamil."


"Masa?"


"Iya."


"Ibu kasih?"


"Ya kasih lah, untuk cucunya ini. Biar saja, kegiatan ayah jadi nambah kan?"


"Iya, benar."


***


"Arkhan protes." Galang tertawa setelah meletakkan ponselnya di meja samping tempat tidur.


"Kenapa? Gara-gara kita nginep?" 


"Iya."


"Pasti gara-gara nggak bisa ke SUNMORI besok?"


"Bisa jadi."


"Lagian Kakak nurutin aja sih kemauan dia. Gitu kan jadinya?"


"Cuma naik motor."


"Tapi jadi kebiasaan. Kalau udah gitu, dia pasti mau terus."


"Mungkin. Seru sih."


"Apaan?"


"Naik motor."


"Alah, pegel. Apalagi kalau jarak jauh?"


Galang tertawa.


"Kamu nggak tahu sih serunya?"

__ADS_1


"Ya emang. Kan belum pernah? Dulu kita pernah ke mana aja sih pas pacaran? Paling keliling Bandung. Paling jauh ke Pangalengan?"


"Iya juga sih."


"Coba ya akunya nggak gini? Pasti bisa ikut kalau Kakak mau motoran."


"Nanti kalau sudah sembuh, kita pergi."


"Lama. Keburu akunya lahiran kali?"


"Nggak apa-apa, setelah melahirkan saja."


"Anak-anak?"


"Ada pengasuh. Atau kita titip nenek kakeknya."


"Kita pacaran lagi gitu?"


"Begitu lah." Mereka sudah berbaring, dan tangan Galang seperti biasanya sudah menyelinap dibalik pakaian Amara. 


Segera menggenggam bulatan kenyal tanpa penghalang lain itu dengan nyaman. Dan dia menempelkan tubuh mereka sehingga tak tersisa jarak sedikitpun.


"Ehh tunggu." Amara menahan tangan suaminya yang sudah bergerak tak karuan menyentuh tubuhnya.


"Apa? Di sini tidak akan ada yang mengganggu seperti di rumah papamu." Galang yang sudah bersiap melepaskan pakaiannya.


"Dulu … Waktu Kakak pacaran sama Kak Clarra pernah pergi-pergi nggak sih?" Tiba-tiba saja Amara bertanya.


"Hah? Kenapa kamu bertanya soal itu?"


"Cuma mau tahu."


"Umm …." Galang mengingat.


"Pernah nggak?"


"Kenapa sih kamu tanya? Itukan sudah lama."


"Cuma pengen tahu." jawab Amara.


Galang terdiam.


"Pernah? Ke mana?"


"Jangan bicarakan soal itulah, kan nggak ada hubungannya. Kita sudah menikah, dan Clarra sudah dengan orang lain?"


"Ish, dibilangin cuma pengen tahu?"


"Sudahlah, kita tidur saja."


"Dih, menghindar? Ada yang spesial ya?"


"Nggak Neng."


"Terus kenapa nggak mau cerita?"


"Ya nggak penting."


"Berarti nggak ada yang spesial dong?"


"Nggak ada."


"Berarti bisa cerita dong?"


"Astaga!!" Galang melepaskan tangannya dari tubuh Amara.


"Kan, pasti ada?"


"Nggak penting, nanti kita malah bertengkar?"


"Nggak akan. Kan udah putus?"


"Ck!" Galang berdecak kesal.


"Ada ya?"


Pria itu menggaruk kepalanya yang tak gatal.


"Iya ada, tapi nggak penting. Soalnya itu kejadiannya sebelum kami berhubungan." Galang akhirnya buka suara.


"Oh ya? Jadi sebelum jadian gitu?" Amara penasaran.


"Iya."


"Ke mana?"


Galang terdiam. 


"Ke mana ih? Aku penasaran."


"Nanti kalau aku bilang, kamu ngambek lagi?"


"Nggak akan."


"Benar?"


"Iya, cuma mau tahu doang."


"Serius?"


Amara mengangguk sambil tersenyum.


"Oke."


"Jadi, ke mana?"


"Ke Bromo." ucap pria itu sambil menatap wajahnya.


Senyum di bibir Amara menghilang seketika.


"Nah kan?" Galang bersiap untuk kemungkinan terburuk kalau-kalau perempuan itu akan marah.


Dan benar saja, Amara segera mendorongnya menjauh.


"Kenapa ke Bromo? Dulu kita punya rencana mau ke sana?" 


"Waktu itu kita kan sudah putus?"


"Nggak mau tahu! Kakak jahat malah bawa Ka Clarra ke sana! Aku juga mau ke sana!" Amara perlahan berbalik.


"Iya, nanti kita ke sana ya?" Galang mendekat seraya menyentuh bahunya.


"Nggak mau, udah keduluan sama Kak Clarra!" Amara mulai terisak.


"Lho?"


"Kakak jahat! Huwaaaaaaa …."


"Astaga!" Galang mengusap wajahnya dengan kasar.


🌺


🌺


🌺


Bersambung ...


Nah lu ... Gimana kalau udah gitu? 😆😆😆

__ADS_1


Cus like komen sama hadiahnya kirim lagi.


Alopyu sekebon 😘😘


__ADS_2