
🌺
🌺
"Jadi, … bagaimana?" Piere menyelesaikan acara makannya. Begitu dia tiba di kedai, dan Amara segera saja memberinya makan.
"Bien (bagus)."
"Benarkah?"
"Oui."
"Et la nourriture? (dan makanannya?)."
"Tres delicieux. (enak sekali)." jawab pemuda itu yang menyuapkan rattatouile terakhir ke dalam mulutnya.
Amara tersenyum lebar dan dia hampir saja menepukkan kedua tangannya.
"Tapi …." Piere menjeda kata-katanya seraya meletakkan garpu diatas piring yang kosong, lalu meneguk air putih yang tersisa setengahnya.
"Apa?"
"Seharusnya kamu menyajikan hal yang lebih dari ini." lanjutnya.
"Maksudmu?"
"Kamu tahu, aku ini orang Prancis, dan sudah terbiasa memakan makanan seperti dirumah. Aku bahkan bisa membuatnya sendiri. Jadi … aku sarankan kamu untuk membuat hal lain. Yang lebih spesial, yang lebih istimewa, yang lebih … wow."
"Tapi aku pikir, karena kamu tidak terbiasa dengan makanan asing, maka aku memberikan itu untukmu. Aku kira mungkin lidahmu belum terbiasa dengan rasa lain selain makanan asal negaramu, jadi …."
"Itu bagus. Kamu tahu, berusaha memindahkan rumah orang-orang ke kedai ini dengan menyajikan makanan yang mungkin ada di tempat asal mereka, but it's not enough."
"Sajikanlah makanan yang berbeda. Perkenalkan makanan lain. Yang unik, yang baru, yang tidak ada di rumah mereka. Maka kedaimu akan memiliki nilai lebih dari sekedar tempat malan saja."
"Tapi aku punya banyak macam makanan di sini. Tidak hanya yang kamu tahu, tapi semua makanan khas yang mungkin belum pernah kamu temui di Paris."
"Really?"
"Ya."
"Contohnya?"
"Makanan lokal."
"Lokal?"
"Ya."
"Lalu kenapa kamu memberiku rattatouile, padahal kamu punya variasi makanan lain di sini?" protes Piere.
"Ya seperti yang aku katakan tadi, aku takut kamu terkejut."
"Kenapa aku harus terkejut?"
"Bukankah ini pertama kalinya kamu berkunjung?"
"Well, aku sudah mencari tahu beberapa hal tentang negaramu ini. Kamu tahu, hal-hal sederhana dan umum, termasuk soal makanan. Jadi tidak usah takut untuk memberikan sesuatu yang kamu sebut lokal itu. Karena aku cukup terbuka untuk apa pun."
"Benarkah? Kebanyakan orang asing akan terkejut dengan makanan kami yang memiliki cita rasa yang kuat dan bumbu yang lengkap."
"Oh, you can try to give me something new. Jangan khawatir, sudah aku bilang kalau aku ini terbuka kan?"
"Begitu?"
"Oui."
"Baiklah. Mau mencoba hal lainnya lagi?" tawar Amara lagi.
"Entahlah, apa itu tidak membuatmu rugi?" Piere tertawa.
"Tentu saja tidak. Kamu tahu, bagi kami tamu adalah raja. Jadi harus dijamu sebaik mungkin agar kamu merasa nyaman dan itu artinya kamu diterima disini."
"Benarkah?"
"Ya, tunggu aku buatkan yang lain."
"Oke, terserah kepadamu saja."
Kemudian Amara kembali ke ruang masak. Dia mengolah beberapa macam makanan lain untuk diberikan kepada teman asingnya itu.Â
Satu porsi sate maranggi, ikan colo-colo dengan taburan sambal diatasnya, kemudian ayam bakar khas yang dia miliki menjadi menu andalan untuk ditunjukkan kepada tamu istimewanya sore itu.
"Apa ini?" Piere tertawa sambil menunjuk ikan berselimut irisan bawang merah dan cabai juga tomat merah itu.
"Dia kelihatan lucu dengan irisan bawang dan tomat itu. Dan apakah rasanya pedas?" Dia menunjuk irisan cabai rawit merah diatasnya.
"Ini ikan colo-colo, dan ya rasanya pedas, tapi untukmu sudah aku sesuaikan."
"Benarkah?"
"Ya, kebanyakan orang asing sepertimu tidak akan kuat dengan rasa pedas pada makanan kami."
"Mungkin." Piere memotong sedikit bagian dari daging ikan itu, kemudian memakannya.
__ADS_1
"Ini asam." keningnya berjengit.
"Ya, pakai air lemon juga." jelas Amara.
"And sweet."
"Hmm … garam gula dan sedikit minyak di dalamnya."
"Dan pedas." Pemuda itu tertawa kemudian menenggak air minumnya.
"Nah kan, baru segitu kamu sudah tidak tahan."
"Maaf, ini baru untukku." ucap Piere dan dia masih tertawa.
"Kalau begitu mungkin kamu bisa mencoba sate nya? Ini terkenal."
"Sure? I know this food."
"Hu'um. Makanlah."
Lalu Piere mengambil satu tusuk sate berbahan daging dengan bumbu kecap sederhana itu.
"Hmm …."
"Dellicieux?"
"Yeah, … it's good."
Amara tersenyum.
"Dan apakah ini ayam bakar?" Pemuda itu menunjuk makanan di piring terakhir.
"Ya. Tapi dengan bumbu yang berbeda dari negaramu."
"Oke, lets try."Â
"Gunakan tangan saja biar lebih enak."
"What?"
"Dan makanlah dengan nasi." Amara menggeser satu porsi nasi putih ke tengah meja.
Piere menatap wajahnya untuk beberapa detik.
"Hampir semua makanan di sini pakai nasi."
"Really?"
"Ya."
"Dan jangan lupa makan dengan tangan. Apa kamu sudah cuci tangan?"
"You kidding?"
"No. Budayanya memang begitu."
"Ini kedai!"
"Lalu apa masalahnya?"
"Makan dengan tangan itu tidak sopan!"
"Tidak di sini, kami sudah terbiasa."
"Oh my God!"
"Serius, cobalah."
"Aku tidak percaya harus melakukannya." Piere tertawa lagi.
"Ayolah, seperti ini." Amara memperagakan bagaimana caranya makan dengan tangan kepada temannya itu. "Rasanya lebih enak."
"Oh … God!"
"Ayolah Piere, kamu bilang harus menyajikan sesuatu yang baru, yang unik kepada orang asing sepertimu. Dan akan aku mulai dengan hal seperti ini."
Piere mengangguk-anggukkan kepala. Kemudian dia melakukannya seperti apa yang Amara lakukan. Meski pada awalnya sangat sulit, tapi dia berhasil di percobaannya yang ke sekian.
"Yeay!!! Kamu pintar!" Gadis itu menepukkan tangannya.
"Bagaimana? Sudah terkesan dengan negaraku? Kami unik bukan?"
"Ya ya ya, kalian punya makanan yang sangat enak."
Amara menganggukkan kepala.
"Tapi tolong, buatlah bumbunya agar tidak terlalu pedas. Lidah dan perutku tidak akan kuat." jawab Piere setelah dia menghabiskan makanannya.
"Noted." Gadis itu mengangguk lagi.
"Nah, setelah ini ayo kita mencari tempat tinggal untukmu? Tidak mungkin aku membiarkanmu tidur di sini kan?" ucap Amara setelah yakin pria di hadapannya itu telah mengisi perutnya dengan benar.
"Baiklah baik." Mereka kemudian pergi ke suatu tempat.
__ADS_1
🌺
🌺
Gerimis mulai turun pada hampir malam, menemani perjalanan pulang Galang setelah dia menyelesaikan tugasnya menghadiri pertemuan menggantikan Dimitri.
Sengaja, dia mengambil arah menuju kedai Amara meski harus berputar jauh dari jalur yang seharusnya. Entah mengapa seharian dia terus mengingat gadis itu. Dan Galang berhenti tepat di depan kedai yang malam itu tak seramai biasanya.
"Selamat malam?" Waiter menyambut seperti biasa.
Pria itu menatap sekeliling dan dia tak menemukan wajah yang tak diharapkannya.
"Silahkan." Nania menyapanya dan mempersilahkannya untuk duduk.
"Bapak mau pesan sekarang?" tanya nya kemudian setelah pria itu duduk di kursinya.
"Umm … mungkin kopi." Galang menatap pintu ruang masak di mana dia biasa melihat Amara muncul.
"Baik, ada lagi?"
"Itu dulu."
Nania mengangguk, kemudian segera membuatkan pesanan.
"Silahkan." Gadis itu kembali setelah beberapa saat lalu meletakkan cangkir kopi di meja.Â
"Kalau ada tambahan Bapak bisa panggil saya di dalam." ucap Nania.
"Apa Ara ada?" tanyanya kemudian yang menghentikan langkah Nania ketika gadis itu hampir berlalu.
"Kak Ara?"
"Ya." Galang mengangguk.
"Sudah dari dua jam yang lalu Kak Ara pergi Pak." jawab Nania.
"Pergi? Ke mana?"
"Saya tidak tahu."
"Pulang ke rumah orang tuanya?"
Gadis itu menganggukkan kepala.
"Kurang tahu Pak, saya nggak tanya."
"Hmm …."
"Tapi sepertinya nggak deh, soalnya tadi ada temannya datang ke sini."Â
"Temannya?"
"Ya."
"Siapa?"
"Kurang tahu juga. Kak Ara jemput dari bandara soalnya, terus mereka pergi lagi setelah makan."
"Bandara?"
"Iya."
"Temannya Ara orang asing?"
"Iya Pak."
Galang tertegun.
"Ada lagi Pak?"
"Umm … tidak ada, cukup." jawab pria itu yang menyeruput kopi panasnya pelan-pelan.
Dia terdiam dan berpikir. Mengapa pula dirinya harus selalu datang ke tempat itu setiap kali merasa ingin melihat Amara. Bukankah tidak ada apa pun diantara mereka yang mengharuskan dirinya datang atau menemui gadis itu?
Dan dia menghempaskan punggungnya pada sandaran kursi sambil menyugar rambut hitamnya.
Kenapa kau selalu seperti ini?
Lalu dia kembali menyesap kopinya. Setelah itu mengeluarkan uang untuk membayar minuman tersebut dan meletakkannya di trey bill. Setelah itu memutuskan untuk pergi.
🌺
🌺
🌺
Bersambung ....
maaf gaess, hari ini telat up. Maklum kalau hari Minggu itu dunia emak suka rempong ðŸ¤ðŸ¤
kuy lah like komen sama hadiahnya dulu. Smoga bisa up lagi setelah ini.
alopyu sekebon 😘😘
__ADS_1