My Only One

My Only One
Project #4


__ADS_3

🌺


🌺


"Anya, jangan lari-lari dong!" Rania mengejar putrinya yang berlari menuju area di mana diadakannya acara bagi pasien anak di bagian belakang rumah sakit. Sementara Dimitri mengikutinya dari belakang.


Setelah berpamitan kepada Galang, mereka memutuskan untuk pergi. Namun Anya masih tertarik pada acara yang hari itu diadakan untuk menghibur para pasien yang sedang menjalani perawatan.


"Anya! Astaga!" Rania meraih tangan anak itu setelah berhasil mendapatkannya.


"Mau lihat itu Mommy!" Anya menunjuk pada kumpulan yang tengah menikmati acara.


"Ngga ada apa-apa, cuma orang lain lagi pesta." jawab Rania yang menahan sang putri.


"Iya, mau lihat."


"Nggak usah, kita kan mau ke tempat Kak Ara?"


"Sebentar aja Mommy!"


"Nanti kita telat."


"Telat apa? Mommy bilang kedainya Kak Ara nggak akan ke mana-mana? Ayolah, aku mau ke sana!" gadis cilik itu malah menarik ibunya ke area lapang di mana acara meriah masih berlangsung.


"Wow, it's cool. Kayak ada yang lagi ulang tahun ya Mom?"


"Sebentar aja ya? Malu." Rania terus mengikutinya.


"Kenapa malu?"


"Ya malu, kita kan bukan pasien di sini. Masa mau ikutan pesta?"


Anya berhenti ketika dia sudah berada ditengah-tengah pesta. Lalu menatap beberapa orang yang sepertinya dia kenal. Lalu mengedarkan pandangannya ke arah lain dan wajah itu dia temukan.


"Kak Ara!" Anak itu berteriak saat melihat Amara yang tengah berdiri di dekat stand makanan.


"Hah? Ara?" Rania mengikuti pandangan anaknya.


"Itu ada Kak Ara!" Dia menunjuk ke arah samping di mana beberapa orang tengah mengantri mengambil makanan dan Amara ada di sana. Dengan raut ceria dia menyapa beberapa orang yang datang.


"Kak Ara!" Anya berlari ke arah sana, yang segera mengalihkan perhatian orang yang dimaksud.


"Eh, Anya!" Dan lagi-lagi Rania harus mengejarnya.


"Kak Ara!" Anya tiba di depan meja stand makanan yang dijaganya.


"Hei Anya? Kalian kok ada di sini?" Amara melihat pasangan di belakang anak itu.


"Iya, habis dari …."


"Kakak lagi ngapain ada di sini?" 


"Kakak lagi jaga stand …."


"Kakak lagi jualan?"


"Umm … kayak gitulah." Amara tertawa.


"Kok jualannya di rumah sakit?"


"Iya, ini semacam pesanan Anya."


"Pesanan siapa?"


"Orang rumah sakit."


"Pesen makanan sama Kakak gitu?"


"Iya."


"Kedai Kakak nggak buka dong?"


"Hari ini nggak."


"Yahh …."


"Kenapa?"


"Kata Mommy kedai Kak Ara nggak akan pergi ke mana-mana. Tapi ini taunya pindah jualannya ke rumah sakit? Mommy bohong!" Anya mendelik kepada ibunya.


"Eee … maksudnya bukan gitu kan, tapi …."


"Kedainya libur sehari ini doang Anya, besok buka lagi." Amara menjelaskan, dengan tangannya yang tak berhenti mengeluarkan makanan yang hampir habis diambil para pengunjung.


"Kalau besok nggak bisa makan es krim." Anak itu dengan raut kecewa.


"Es krim terus yang ada di otaknya dia!" Rania menggerutu.


"Yah, … gimana dong?"


"Dirumah juga ada Anya." Dimitri bersuara.


"Nggak mau, yang di rumah nggak enak!" anak itu menghentakkan kakinya di atas tanah berumput itu.


"Ish, bedanya apa sih? Kan sama-sama dingin dan manis?" ucap Dimitri lagi.


"Pokoknya enakan es krimnya Kak Ara!"


"Dia pasti bilang gitu kalau ditawarin yang lain." Rania menjelaskan.


"Mungkin rasanya cocok di lidah Anya Kak. Padahal aku bikinnya dengan bahan yang sama. Cuma aku tambahkan beberapa bahan baru aja." Amara menjawab lagi.

__ADS_1


"Emangnya kamu bikin sendiri ya?"


"Ya, semua yang ada di Amara's Love aku bikin sendiri."


"Hmm … pantesan."


"Eh, terus kamu ngapain di sini?"


"Orang rumah sakit pesen makanan dari aku Kak."


"Oh, … ini acara apa sih sebenarnya?"


"Acara untuk pasien anak-anak."


"Tuh Anya, denger nggak Kak Ara bilang? Jadi ayo kita pulang?" ucap Rania kepada putrinya.


"Kenapa pulang? Makan dulu Kak."


"Malu, kan ini acara untuk pasien?"


"Acaranya iya untuk pasien, tapi kalau ada yang datang selain pasien juga nggak apa-apa."


"Hah?"


"Kakak mau makan? Ayo, mau apa? Aku ambilin."


"Bisa gitu? Malu lah."


"Kenapa malu? Orang rumah sakitnya juga bilang Kalau ada pengunjung yang ikut kesini biarin aja nggak apa-apa."


"Masa? Hahaha." Rania tertawa.


"Iya, Kakak mau makan apa? Kak Dim juga? Oh, iya Anya mau es krim kan? Kebetulan Kakak juga bawa lho."


"Oh ya?"


"Hmm … sebentar Kakak ambilin ya? Duduk dulu sana!" Amara keluar dari stand makanan yang dia jaga.


"Kakak mau aku ambilkan apa?" tanya nya kepada Rania.


"Nggak usah."


"Nggak apa-apa Mommy, Kak Ara juga bilang boleh kalau mau makan?"


Rania memutar bola matanya, sementara Dimitri tersenyum sambil menggelengkan kepala.


"Nanti aja, kalau mau kita ambil sendiri." ucap Rania kemudian sebelum akhirnya Amara melakukan apa yang dikatakannya tadi.


***


"Ngomong-ngomong kalian kok ada di sini? Habis besuk siapa?" Amara kembali dengan membawa satu cup es krim buatannya sendiri, yang diberikan kepada Anya.


"Nggak mungkin Mama Fia atau Papi sakit kan? Masa Mommy nggak ngasih tahu aku? Kak Daryl juga padahal kemarin sampai malam ditempat aku."


"Eh, ini kan hari Minggu ya? Emang boleh besuk pasien?" Gadis itu tergelak.


"Om Galang yang sakit." celetuk Anya.


"Apa?"


"Om Galang yang sakit." Anak itu mengulangi ucapannya.


"Kak Galang?"


"Hmm …." Anya mengangguk dengan mulut penuh es krim.


"Beneran?" Gadis itu menatap Rania dan Dimitri bergantian.


"Iya, emangnya kamu nggak tahu ya?" Rania tertawa canggung. Sementara Amara menggelengkan kepala.


"Masa Kakak nggak tahu sih? Kan ada di rumah sakit?" Anya menyahut.


"Serius?" Rania dengan ekspresi heran.


"Iya, aku baru denger. Padahal waktu itu …."


"Ya udah, lagian nggak penting juga kan. Hahaha." Rania tertawa lagi.


"Hmm …." Tapi Amara ingin tahu kenapa Galang sakit.


Jangan-jangan gara-gara kehujanan waktu itu? Nggak lama setelah aku usir kan hujan lebat ya? Duh …


"Sejak kapan Kak Galang dirawat?" Akhirnya dia bertanya.


"Kalau nggak salah katanya Jum'at malam. Ada yang bawa dia ke rumah sakit gitu pas ditemuin di jalan pas hujan-hujan."


Tuh kan? Pasti setelah pulang dari kedai.


Amara merasakan hatinya seperti diremat dengan kencang. Walau bagaimana pun, Galang pernah menjadi bagian dari hidupnya, dan perasaannya tidak bisa hilang begitu saja meski banyak hal berubah diantara mereka.


"Um ….


"Mukanya lebam-lebam, ininya juga luka." Anya menunjuk dagunya sendiri seperti yang dia lihat tadi.


"Apa?"


"Katanya ada yang pukulin dia. Siapa ya tadi lupa? Mm …" Rania mengingat dengan keras.


"Kenapa Kak Galang dipukulin?"


"Nggak tahu, tadi aku kurang ngerti apa yang Papi bilang. Nggak terlalu merhatiin juga sih."

__ADS_1


"Om Galang ditabrak, terus di pukulin. Mukanya ditendang." Anya yang masih sibuk dengan es krimnya.


Amara terdiam.


Apa ini ada hubunganya dengan Papa? Apa mereka tahu kalau Kak Galang sering datang?


"Mungkin dibegal." ucap Rania, membuyarkan lamunan Amara.


"Di begal?"


"Iyakan Papi?" Rania beralih kepada suaminya yang malah sibuk denga ponselnya.


"Kurang tahu, kan belum jelas." jawab Dimitri.


"Hmm … kirain kamu tahu?"


Pria itu hanya tertawa.


"Anya makannya sudah belum? Kalau sudah, ayo kita pulang?" Kemudian dia memasukkan ponsel ke dalam saku kemejanya.


"Kok pulang?" Anya bereaksi.


"Sudah siang."


"Aku mau di sini."


"Nggak bisa."


"Kenapa?"


"Kan udah makan es krimnya, jadi sebaiknya kita pulang."


"Nggak mau!"


"Kok nggak mau?"


"Mau sama Kak Ara."


"Nggak bisa lah. Kak Ara nya lagi kerja."


"Yaahh …"


"Ayo cepat!" Rania dan Dimitri pun bangkit. 


"Pamit dulu ya? Makasih es krimnya."


Amara hanya menganggukkan kepala.


"Dah Kak Ara, Mommy sama Papi lagi nggak asik hari ini." Anya dengan raut kecewa.


"Iya, karena hidup itu nggak selalu asik Anya!" Rania menjawab.


"Bye Ra." ucap Dimitri, kemudian mereka pun pergi.


"Hey, is that her?" Piere tiba-tiba saja datang menghampiri. Setelah cukup lama memperhatikan dan dia menyadari siapa yang dilihatnya.


"Hey, Amara!" Piere menepuk pundak Amara dengan keras sehingga membuat gadis itu melonjak karena terkejut.


"Astaga, Piere!"


"Apa yang kamu pikirkan?"


"Apa? Itu … umm …"


"Kamu melamun!"


"Aku tidak melamun, hanya sedang berpikir."


"Apa yang kamu pikirkan?"


Amara menatap Piere untuk beberapa saat.


"Tunggu di sini. Aku harus melihat seseorang dulu." katanya kemudian.


"Apa?"


"Tunggu di sini, aku harus menemui seseorang.." ulang Amara yang beranjak pergi.


"Di mana?"


"Di dalam."


"Siapa?"


Amara tak menjawab, namun dia segera melakukan panggilan dengan ponselnya.


"Hey, bukanya kamu mauegenalkan aku kepada Rania?" Piere setengah berteriak.


Namun gadis itu tak menggubrisnya sama sekali.


🌺


🌺


🌺


Bersambung ...


kira-kira ketemu nggak? 🤨🤨


duh, aku deg degan nih.

__ADS_1


like komen sama hadiahnya dulu, nanti aku tambahin.😚😚


__ADS_2