
🌺
🌺
"Bukankah ini hari Minggu? Kenapa juga harus lewat ke sini?" Galang mengeluh ketika mereka berjalan di sepanjang pusat perkantoran. Yang diketahuinya merupakan bagian dari area strategis di mana gedung Nikolai Grup berada.
"Aku dengar di sekitar sini ada kedai yang baru buka. Mereka mengadakan promo selama sepuluh hari ke depan." Clarra melihat-lihat sekitar.
"Kedai apa?"
"Apa ya, namanya aku lupa. Tempo hari waktu pulang dari kantor aku mendapatkan selebarannya."
Galang memutar bola matanya.
"Jangan begitu, kamu jelek!" Clarra mendorong pundak pria itu hingga dia sedikit terhuyung.
"Ish, bercandamu kasar sekali!" protes Galang, namun membuat perempuan di sampingnya tertawa.
"Senang ya, berbuat begitu kepadaku?" Galang menghentikan langkahnya.
"Senang sekali, karena kamu tidak akan melawan kalau aku siksa."
Pria itu mencebik.
"Sudah aku bilang wajahmu jadi jelek kalau begitu!" Clarra tertawa lagi.
"Nah, mungkin itu kedainya?" Clarra menunjuk sebuah bangunan bertingkat dua yang terletak di persimpangan jalan.
Kemudian dia menarik tangan Galang menuju ke tempat tersebut.
"Benar ini tempatnya. Am-mara-s Love?" Clarra mengerutkan dahi, sementara Galang tertegun menatap tempat tersebut.
"Hey, ini juga hanya beberapa blok dari Nikolai Grup!" Perempuan itu menatap lurus ke samping di mana dia melihat area gedung tempatnya bekerja berada.
"Ah, bagus sekali. Ayo kita masuk?" Clarra kembali menarik Galang masuk ke dalam.
Suasana yang nyaman tentu menjadi hal yang paling dominan mereka rasakan ketika masuk. Aura romantis juga mendominasi. Di dukung oleh ornamen dan hiasan khas yang menjadikannya semakin memanjakan pengunjung yang cukup ramai pada tengah hari itu.
"Masuk ke sini berasa mau pacaran." Clarra tertawa karenanya.
"Ya mau makan sambil pacaran juga boleh." Galang menyahut sambil tertawa.
"Selamat siang, selamat datang di Amara's Love." Sambutan pelayan begitu ramah kepada mereka.
"Iya."
"Meja untuk dua orang Kakak? Silahkan sebelah sini." Gadis belia dengan nama Nindi di seragam bagian kirinya menuntun mereka ke tempat kosong di bagian kiri.Â
Mereka berdua segera duduk kemudian menerima buku menu dari paralayan tersebut.
"Di sini apa yang enak?" Clarra mencari tahu.
"Semuanya recomended Kakak, sudah di sesuaikan."
"Begitu ya? Hmm … kamu mau makan apa?" Clarra bertanya kepada Galang yang masih memindai tempat tersebut.
"Lang?"
"Ya?"
"Kamu mau makan apa?" Clarra mengulang pertanyaan.
"Apa saja lah."
Clarra menatapnya sebentar.
"Apa?"
"Aku nggak tahu makanan kesukaan kamu." ucap perempuan itu.
"Aku suka apa saja."
"Benarkah? Tidak ada makanan yang paling kamu sukai?"
"Tidak ada. Aku bisa makan apa saja, semua makanan enak menurutku."
"Baiklah kalau begitu. Kita pesan … chicken steak dan smoothies?"
"Boleh. Kedengarannya enak."
"Baik, itu saja dua ya?"
"Baik kak, ada tambahan?"
"Sepertinya sudah. Kamu bagaimana?" Clarra bertanya kepada Galang.
"Cukup."
"Itu saja Mbak."Â
"Baik, ditunggu sebentar ya?" si pelayan kembali kedalam untuk menyerahkan kertas pesanan.
"Kamu cari apa sih, dari tadi?" Clarra menangkap gelagat Galang yang cukup membuatnya heran.
"Aku sedang melihat-lihat tempat ini." Galang menjawab.
"Kenapa? Bagus ya tempatnya? Konsepnya unik."
__ADS_1
"Hmm …."
"Dari suasananya serasa kita ada di manaaaa gitu."
"Paris." Galang bergumam.
"Apa?"
"Umm …. Lukisan Paris." Pria itu menunjuk sebuah lukisan besar di dinding.
Gambar berwarna cerah dengan latar belakang kota Paris lengkap dengan menara Eiffelnya.
"Iya, bagus." Clarra menoleh ke belakangnya.
"Sudah berapa lama tempat ini buka?"
"Entahlah, sekitar satu minggu mungkin?"
"Kenapa aku tidak tahu? Padahal cukup dekat dengan kantor kita?"
"Kamu kan tidak masuk kerja. Kakimu Sakit, ingat?"
Galang menjengit.
"Oh iya." Pria itu terkekeh.
"Silahkan Kak." pelayan tiba dan segera meletakkan dua porsi pesanan mereka.
"Oh iya, terima kasih." Clarra menggeser salah satu piring ke dekat Galang.
"Cantik sekali, astaga!" Clarra menatap makanan di piring yang di tata sedemikian rupa sehingga terlihat indah dipandang.
Dia segera mengeluarkan ponselnya, kemudian mengambil gambar makanan tersebut.
"Ayo makan!" ucapnya kemudian, setelah dia puas memotret benda itu.
Galang terdiam. Tiba-tiba saja dia ingat Amara ketika menatap makanan tersebut. Ketika saat mereka kuliah di kampus yang sama, dan gadis itu yang sering kali membawakannya bekal makan siang yang dihias sedemikian rupa sehingga membuatnya tampak cantik.
"Lang!"
"Hum?" Dia mendongak.
"Cobalah, steaknya enak. Ini lain dari yang pernah aku makan." ucap Clarra.
"Masa?"
"Iya. Cobalah."
Galang kemudian memotong ujung daging ayam yang sudah dimasak dan ditaburi saus khusus di atasnya itu. Kemudian menyuapkannya ke dalam mulutnya. Lalu dia mengunyahnya pelan-pelan.
"Bagaimana? Enak kan?" Clarra sedikit mencondongkan tubuhnya.
Rasanya seperti ….
Kelebatan bayangan hadir di dalam ingatan.
Ketika pada suatu waktu Amara membuatkannya makanan yang sama di kediaman Hari di Bandung. Dan dia tidak akan pernah lupa.
Masa yang indah dan menyenangkan di antara mereka, yang membuat keduanya menjadi semakin dekat.
"Kamu tahu siapa pemilik kedai ini?" Galang kemudian bertanya.
"Tidak tahu. Tapi nama kedainya unik ya? Se unik kedainya sendiri."
Pria itu mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan, mencari sosok yang mungkin dikenalnya.
"Lihat, bukan cuma western. Tapi ada menu lokal juga. Di sini komplit." Clarra menunjukan gambar di buku menu.
"Ayam geprek." Galang membaca tulisan yang terpampang di depannya beserta gambar makanannya.
"Ya, benar. Ah, kenapa aku nggak lihat ini tadi ya? Mungkin aku pesan. Sepertinya enak."
"Kamu mau pesan?"
"Hum? Apa?"
"Pesan ayam gepreknya."
"Tidak. Ini sudah cukup. Mungkin lain kali kalau kesini lagi?"
"Hmm … benar."
"Ya sudah, ayo habiskan?" Clarra kembali pada makanannya, sementara Galang masih memindai keadaan untuk mencari tahu.
***
"Terima kasih, jangan lupa untuk kembali berkunjung nanti." Pelayan menerima pembayaran sebelum mereka pergi.
"Apa kedai ini menerima pesan antar?" Clarra bertanya.
"Menerima kak. Secara online, atau untuk pesanan nasi box, bento dan semacamnya."
"Untuk pesta juga?"
"Pesta apa kak?"
"Pesta ulang tahun misalnya?"
__ADS_1
"Oh, menerima kak."
"Baik, minta nomor telfonnya bisa?"
"Bisa kak. Saya kasih nomor telfonnya owner ya?"
"Oh boleh."
"Baik." Nindi menyerahkan selembar kartu nama yang Clarra terima dan langsung dia masukkan kedalam saku jaketnya.
"Kalau begitu terima kasih."
"Ya kak, terima kasih kembali."
Dan mereka hampir saja berjalan keluar ketika di saat yang bersamaan tamu berikutnya masuk.
"Om Galang!" Anya berlari ke hadapannya.
"Hey?"
"Duh, udah jalan-jalan aja? Udah sembuh ya?" Rania yang datang kemudian.
"Habis jalan pagi."
"Jalan pagi sampai siang?"
"Mm …."
"Cieeeee sambil pacaran?" Perempuan itu tertawa.
"Hmm …." Galang menggumam, sedangkan Clarra terlihat salah tingkah.
"Kalian sudah lama di sini?" Dimitri menginterupsi.
"Lumayan, ini mau pulang."
"Lho? Emang udah makan ya?"
"Sudah, barusan." Galang menganggukkan kepala.
"Oh … ya udah."
"Kalian sendiri dari mana? Sengaja jalan-jalan?" Galang balik bertanya.
"Dari Bandung, tapi mampir dulu soalnya Anya mau ke sini melulu."
"Duh, jauh amat?"
"Iya, kalau dia tidak merengek, mungkin kami sudah pulang." Dimitri berujar.
"Ayo cepet Mommy! Aku mau es krim!" Anya menarik-narik lengan ibunya.
"Sebentar ih, mana mejanya juga pada penuh!"
"Nggak ih, di sana ada yang kosong." Anya menunjuk ke sudut ruangan.
"Oh iya …."
"Selamat datang …." pelayan menghampiri mereka.
"Maunes krim, kata Kak Ara hari minggu mau ngasih aku es krim!" Anya menarik sang ibu ke tempat tersebut.
"Sebentar Anya!"
"Kak Ara!! Aku datang. Mau makan es krim!" gadis kecil itu berteriak.
"Jangan teriak-teriak Anya! Malu!"
"Kak Ara nya mana sih? Katanya mau ngasih aku es krim?"
"Iya, sebentar. Kita harus pesan dulu." Ibu dan anak itu berdebat.
"Kak Ara!!" Anya berteriak lagi.
"Kak Ara nya sibuk masak dek." Nindi menjawab sambil tertawa.
"Tuh, denger? Sabar dong!" Rania berujar.
"Ck! Drama es krim dihari minggu!" Dimitri menghampiri istri dan putrinya.
Sementara Galang dan Clarra terdiam menyimak perdebatan tersebut.
"Ayo pulang?" lalu Galang meraih pergelangan tangan Clarra dan menariknya keluar dari kedai tersebut.
"Hey Dim, Ran. Kami pulang ya?" Clarra melambaikan tangan kepada sepupunya tersebut.
🌺
🌺
🌺
Bersambung ....
hehe, .... anu ...
like komen sama hadiahnya lagi boleh? 😉😉
__ADS_1
alopyu sekebon😘😘