
🌺
🌺
Galang mengintip lewat celah pintu yang dia buka sedikit. Memeriksa kalau-kalau Clarra sudah bangun, tapi perempuan itu tampak masih terlelap dibawah selimut yang menutupi seluruh tubuhnya.
Dia lantas kembali menutup pintu kamarnya rapat-rapat dan membiarkannya tetap dalam keadaan seperti itu. Setidaknya Clarra sudah lebih tenang dari pada sebelumnya.
"Clarra baik-baik saja Pak. Dia hanya butuh menenangkan pikirannya. Nanti kalau sudah benar-benar tenang akan saya antarkan." Galang mengirim pesan kepada Fahmi.
"Baik. Tolong jaga dia." Balasan dari seberang.
"Iya Pak. Tidak usah khawatir. Hanya saja, nanti jika Clarra pulang, saya harap tidak ada yang membahas masalah ibunya dulu. Takutnya Clarra malah emosi lagi." Galang kembali mengirimkan pesan.
"Iya, baik."
Lalu pria itu meminum kopinya yang hampir dingin setelah beberapa saat menunggu Clarra yang masih tertidur meski waktu sudah hampir siang.
Galang kemudian kembali membuka aplikasi pesan, dan nama kontak Amara yang di cari.Â
Dia berpikir sebentar. Dan ujung jarinya hampir saja menyentuh tulisan buka blokiran meski dia masih menimbang apakah ini langkah yang tepat untuk dilakukan? Lalu apa dampaknya nanti?
Dan ya, ujung jarinya benar-benar menyentuh layar dan menekan tulisan itu. Dan terbukalah blokiran atas nomor ponsel Amara yang sudah berlangsung selama berminggu-minggu.
"Semalam Clarra datang ke apartemenku. Dia menangis." Lalu pria itu mengirimkan pesan.
Lama Galang menunggu, namun belum ada balasan. Pesan itu bahkan belum Amara baca dan baru bertanda centang dua.
Mungkin dia sibuk.Â
Pria itu menatap layar ponselnya untuk beberapa saat. Hingga kemudian lamunannya buyar saat mendengar suara pintu yang terbuka.
Galang menoleh, dan Clarra yang susldah dalam keadaan segar dengan langkah pelannya keluar dari kamar lalu menghampirinya.
"Sudah lebih baik?" tanyanya saat jarak perempuan itu sudah dekat.
Dan Clarra menganggukkan kepala.
"Duduklah, kita sarapan." ucapnya.
"Tapi ini sudah siang." Clarra dengan suara parau.
"Ya anggap saja sarapan dan makan siang sekaligus." jawab Galang, membuat perempuan itu sedikit terkekeh.
"Ayo, setelah ini aku harus mengantarmu pulang, agar orang tuamu tidak khawatir. Dari semalam mereka menghubungi terus." Pria itu berujar.
Clarra kemudian duduk di kursinya, lalu meneguk air putih yang disodorkan Galang kepadanya.
"Maaf." ucapnya.Â
Galang mendongak.
"Karena sudah merepotkanmu."
Pria itu menatap wajahnya untuk beberapa saat.
"Menarikmu ke dalam masalahku, sehingga kamu terlibat sampai sejauh ini."
Galang menggeleng pelan.
"Katakanlah, jika kamu mau mengatakannya. Jika kamu yakin bahwa aku adalah orang yang tepat untuk kamu ajak bicara."
"Terima kasih." Clarra mengulurkan tangan, kemudian meremat jari-jari milik pria itu.
"Sekarang makan, menangis sampai subuh pasti menguras tenagamu."
Kedua sudut bibir Clarra tertarik pelan membentuk senyuman samar. Kemudian mereka berdua makan dalam diam.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Amara meletakkan ponselnya kembali di atas meja setelah membaca pesan dari Galang yang masuk beberapa saat sebelumnya. Dan merupakan sebuah kejutan ketika mengetahui jika pria itu telah membuka blokiran pada nomor dan media sosialnya.
Namun pesan yang dia baca sempat membuat Amara kecewa, karena hal itu tak sesuai dengan apa yang diperkirakannya semalam. Setelah mereka berbicara panjang lebar dan membahas segala hal.
Amara cepat menyadari bahwa mungkin hal yang diharapkannya tidak akan terjadi. Dan itu sudah terbukti. Kedatangan Clarra ke apartemennya membuatnya yakin jika pria itu tidak akan benar-benar bisa memutuskan bagaimana kelanjutan hubungan mereka.
It's oke Ra, it's oke. Kamu akan baik-baik saja. Bukankah kamu sudah memutuskan untuk merelakan? Jadi lepaskanlah semuanya. Agar hidupmu bahagia, dan bisa menerima semua yang terjadi setelah ini.
__ADS_1
Batinnya bermonolog.
"Hello sunshine!" Sosok yang sangat dikenalnya sudah berada di depan pantry dan menyapanya seperti biasa.
"Kakak bikin aku kaget!" Gadis itu meletakkan posel di dalam saku afronnya.
"Masih pagi udah kesini aja? Nggak ada kerjaan ya?" katanya yang mempersiapkan segala hal yang dibutuhkan untuk hari itu.
"Tidak ada. Ini kan hari Minggu. Lagi pula aku sudah berjanji kepadamu kan?" jawab pria itu, membuat Amara tersenyum.
"Tumben sendiri? Kak Darren ke mana?"
"Dia langsung pulang setelah lari pagi."
"Terus kenapa Kakak malah ke sini?"
"Kenapa? Memangnya nggak boleh ya kalau aku kesini?"
"Nggak juga sih, hahaha …." Gadis itu tertawa.
"Aku lapar. Mau minta sarapan boleh?" Daryl dengan raut memohon.
"Udah siang."
"Maka buatkan makanan untuk sarapan sekaligus makan siang."
"Emang ada makanan semacam itu?"
"Bukankah itu tugasmu sebagai koki? Membuatkan makanan apa pun yang dipesan oleh pelangganmu?"
"Hmm … belum pernah ada yang memesan yang kayak gitu."
"Maka buatlah untukku terlebih dahulu. Sehingga jika nanti ada yang pesan, kamu tahu apa yang harus dibuat."
"Sebagai pelanggan Kakak sukanya maksa." Amara mendelik.
"Kalau nggak maksa aku nggak akan dapat yang aku mau." Daryl menjawab.
"Hmm …."
"Ayolah chef Ara! Buatkan makanan untukku!" ucap pria itu yang kemudian mencari tempat duduk.
"Satu pegawaimu sepertinya nggak masuk ya?" Daryl menikmati makanannya ditemani Amara yang tengah membuat konten untuk sosial medianya.
Baru ada beberapa pengunjung yang datang, dan dirinya cukup santai saat itu.
"Hu'um. Nania yang nggak masuk."
"Lho, kenapa dia tidak masuk? Mestinya hari Minggu seperti ini dia masuk dong?" Pria itu berhenti sebentar.
"Nggak apa-apa."
"Nggak apa-apa? Harusnya di akhir pekan seperti ini dia tidak mengambil libur. Kan kedai sedang ramai-ramainya."
"Ayahnya masih sakit. Jadi dia minta izin untuk nggak masuk. Ya aku kasihlah, kasihan."
Daryl terdiam.
"Biasa aja kali, nggak usah lebay gitu. Kalau nggak ada masalah juga dia nggak kayak gini kok." Amara tertawa.
"Udah, makan lagi, habisin. Malah diem. Nggak enak ya?"
"Siapa bilang? Ini enak kok. Malah ini makanan terenak yang pernah aku makan selama ini." Daryl kembali melahap makanannya.
Amara mencebikkan mulutnya.
"Serius."
"Iya iya, kalau Kakak yang bilang aku percaya."Â
"Memang kenyataannya begitu." ucap Daryl, dan dia menunjukkan piringnya yang telah kosong.
"Hmm …. Kakak lapar sekali ya?"
"Sudah tahu baru bertanya?"
Kemudian gadis itu tertawa lagi.
__ADS_1
"Senang sekali kamu ya? Tertawa terus."
"Iya, habisnya kalau ada Kakak rasanya aku ada hiburan. Jadi lupa kalau sedang sedih." jawab Amara.
"Memangnya kamu sedang sedih? Sedih kenapa?" Namun malah membuat pria itu bertanya.
"Hah? Umm … Nggak apa-apa. Maksud aku, kalau misalnya aku lagi sedih, terus ketemu Kakak. Eh, aku jadi lupa sama sedihnya." Amara dengan wajahnya yang ceria.
Daryl memicingkan mata.
"Apa sih?"
"Sepertinya ada yang sedang kamu sembunyikan?" Pria itu menyelidik.
"Apaan? Kakak ngarang." Amara lagi-lagi tertawa, dan kali ini lebih keras.
Namun pria di depannya menatapnya lekat-lekat.
"I know you." ucapnya, kemudian. "Kita tumbuh sejak kecil dan kamu nggak pernah seperti ini sebelumnya. Meski kita sempat tidak bersama selama beberapa tahun."
"Umm …."
"Just tell me what happen?"
Amara terdiam.
"Someones hurt you?" Daryl dengan ekspresinya yang serius.
"Sekarang Kakak lebih ngaco lagi." Gadis itu menjawab.
"Tidak ada yang disebut ngaco kalau kamu merasa orang terdekatmu mengalami sesuatu. Itu disebut insting."
"Dan insting Kakak kayaknya salah."
Daryl menggelengkan kepala.
"Waktu bisa saja merubah orang dari apa yang sebelumnya kita tahu Kak."
"Really?"
Amara mengangguk.
"Atau aku bisa menyebutnya dengan … berusaha berubah karena sesuatu hal?" Pria itu masih mencari tahu.Â
"Apa itu salah?"
"No. Hal bagus ketika kamu berubah menjadi lebih baik. But, do it for your self."
"Memang."
"Are you sure?"
"Hu'um."
"Well, it's good."
"Aku tahu."
Kemudian keramaian pada siang itu dimulai ketika datang satu rombongan pengunjung yang segera memenuhi kedai.
"Astaga! Aku bahkan belum selesai bersiap!" Amara bangkit dari duduknya.
"Ini gara-gara Kakak ngajak aku ngobrol terus."
"What?"
"Nggak mau tahu, pokoknya Kakak harus bantuin aku sampai malam. Kalau bisa telefon lagi Kak Darren. Suruh dia ke sini!" Gadis itu segera berlari ke ruang memasaknya, dan segera saja mereka disibukkan oleh pesanan yang tiba-tiba saja membludak.
🌺
🌺
🌺
Bersambung ...
Kak Daryl yang selalu menyemangati
__ADS_1