
🌺
🌺
“Kamu mau pulang ?” Mytha mendapati putri pertamanya itu yang telah siap baru saja turun dari kamarnya pada hampir siang.
“Nggak.” Amara duduk di sofa dimana ibunya berada.
“Kok sudah rapi begini?”
“Aku mau cari tempat.” Gadis itu menjawab.
“Tempat untuk apa?”
“Ya untuk memulai bisnis lah.”
“Mau memulai bisnis?”
Amara mengangguk.
“Memangnya papamu tidak memberikanmu pekerjaan sehingga kamu harus membuka usahamu sendiri?”
“Nggak juga. Papa memang nawarin aku untuk milih mau kerja di mana.”
“Terus, kenapa malah mau mulai usaha sendiri.”
“ Nggak apa-apa, aku cuma mau memulainya dengan usahaku sendiri. Kalau kerja di tempat usahanya papa nanti malah dapat keistimewaan.”
“Memangnya kenapa? Kan bagus. Kamu tidak harus bersusah-susah mencari kerja, atau memikirkan banyak ide untuk memulai sesuatu.”
“Memang, tapi aku maunya begitu.”
“Kamu ini aneh sekali? Padahal ada banyak kesempatan karena papamu punya usaha yang bagus. Dia sukses membangun usahanya sendiri, dan seharusnya itu membuat hidupmu lebih mudah. Tapi kamu malah menempuh cara yang sulit.” Mytha berujar.
“Mama, hidupku ini sudah sangat mudah. Dari kecil aku selalu mendapatkan apa pun yang aku mau. Segala hal kalian berikan agar aku tetap merasa bahagia. Jadi apa salahnya kalau sekarang aku akan memulai usahaku sendiri? Lagian aku nggak sepenuhnya sendiri kok. Papa selalu ada di belakang untuk mendukung aku.”
“Benarkah? Dia mengijinkanmu melakukannya?”
Amara mengangguk.
“Itu cukup aneh. Seharusnya dia tidak membiarkanmu memulai usaha sendiri, karena pertama, kamu baru saja pulang dari Paris, dan kedua kamu belum tahu apa-apa soal itu.”
“Aku tahu kok apa yang aku lakukan. Dan papa juga mengerti, Makanya dia mendukung apa pun yang aku pilih. Dan aku harap Mama juga.”
Mytha terdiam menatap putri sulungnya itu. Dia tahu, ucapan apa pun yang terlontar dari mulutnya tidak akan pernah bisa mempengaruhinya sekarang ini. Amara sudah dewasa, dan dia bisa menentukan segala keinginannya sendiri tanpa campur tangan orang lain. Dia tahu persis sikap anak itu, dan semuanya turun dari ayahnya. Keteguhannya, keras kepalanya, dan pendiriannya yang tidak akan goyah meski keadaan di sekitarnya menjadi kacau sekalipun.
“Mama juga mendukung aku kan?” Amara merangkul pundak ibunya.
“Memangnya Mama punya pilihan lain? Bukankah papamu selalu mendukung apa pun yang kamu lakukan sehingga pendapat Mama tidak akan berarti lagi?” Mytha menjawab.
“Mama kok ngomongnya gitu?”
“Karena kenyataannya begitu. Semuanya selalu tentang papamu, dan sepertinya kamu tidak akan membutuhkan pendapat Mama dalam hal ini.”
Amara terdiam.
Memang selama ini dia lebih cenderung mengatakan apa pun kepada ayahnya. Meminta pendapat dan berdiskusi tentang segala hal. Bahkan kepergiannya ke Paris merupakan hasil diskusinya dengan Arfan yang meski kurang menyetujui niatnya, namun pria itu melepasnya juga untuk memilih pendidikan di sana. Sedekat itu dia dengan sang ayah.
Tidak peduli dia telah memiliki keluarga lain yang harus di urus, kesibukan yang luar biasa menjalankan usaha, tapi dia selalu memiliki waktu untuknya. Entahlah, Amara hanya merasa nyaman saja. Mungkin karena sejak bayi, pria itulah yang mengurusnya. Dan tanpa mengesampingkan peran Mytha sebagai ibunya, Arfan selalu menjadi tempat pertama untuk mengadu.
“Mama jangan cemburu gitu dong,” ucap Amara sambil terkekeh.
“Mama tidak cemburu, memang itu kenyataannya kan?”
“Ya … mau sama siapa lagi aku gitu kalau nggak sama papa?”
“Kamu bicara begitu seolah tidak punya siapa-siapa lagi selain papamu.”
“Ah Mama, ….”
“Tapi … memang sudah sepantasnya juga kan dia begitu padamu? Hak dan kewajibannya membuat hidupmu bahagia dan tidak kekurangan apa pun sehingga kamu tidak akan merasa membutuhkan orang lain selain dia.”
“Itu Mama ngerti?”
“Tentu saja, Mama ini adalah mamamu.”
“Jadi, Mama mendukung aku kan?” Amara kembali merangkul pundak ibunya.
“Tentu saja, apa pun yang baik dan membuatmu bahagia, Mama pasti akan selalu mendukungmu.”
“Gitu dong, makasih Mama.” Amara menyandarkan kepalanya kepada sang ibu.
“Oh iya, Akmal hari ini pulang jam berapa?” Lalu dia ingat dengan adik semata wayangnya.
“Jam tiga, dia sangat sibuk akhir-akhir ini. Banyak kegiatan di sekolahnya dan hampir setiap hari dia ikuti.”
“Pulangnya?”
__ADS_1
“Papa Wira yang jemput.”
“Oh … tadinya mau aku jemputin, tapi kalau gitu ya udah, nggak jadi.” Gadis itu terkekeh.
“Jangan repot-repot, kamu juga banyak hal yang harus dilakukan.”
“Hmm … mungkin aku juga mau mampir dulu ke Nikolai Grup.” Amara bangkit.
“Nikolai Grup?”
“Ya.” Dia menganggukkan kepala.
“Mau apa?”
“Menemui ….”
“Galang? Mama kira kalian sudah putus?”
“Soal itu ….”
“Kalian bersama lagi?’
“Nggak. Umm … maksudku, belum.” Amara menjawab dengan raut malu-malu.
“Dan kamu mau menemuinya?”
Gadis itu mengangguk lagi.
“Untuk apa? Mau balikan?”
Amara mengatupkan mulutnya sambil menahan senyum.
“Ah, … percuma putus lalu sekolah jauh-jauh ke Paris tapi ujung-ujungnya tetap kembali dengan orang yang sama?” Perempuan itu bersedekap sambil merebahkan punggungnya pada sandaran sofa.
“Mama ih, ngomongnya gitu?” Kemudian Amara tertawa.
“Sudah, sana pergi. Nanti Galang tidak ada di kantor. Dia kan sangat sibuk sekarang?”
“Oh ya? Kok Mama tahu?”
“Tahulah, dia kan sekarang sudah jadi asistennya Dimitri. Jadi kemana-mana pasti ikut. Keluar negeri sekalipun dia pasti akan selalu mendampingi.”
“Masa?”
“Kalian ini benar-benar putus segala macam ya? Sampai-sampai kabar soal itu kamu tidak tahu?”
“Mama dengar dia sudah jadi orang penting sekarang. Seperti papamu dulu.”
“Dia benar-benar melakukannya ternyata?” Amara bergumam.
“Apa?”
“Soal karir dan segala macamnya?”
“Bukankah itu bagus?”
“Ya.”
“Hmm … pia-pria dan karir mereka yang cemerlang.”
“Ya udah, aku pergi dulu ya?” Amara bersiap pergi.
“Nanti pulang ke sini?” Mytha mengantar kepergian putrinya.
“Nggak tahu, lihat nanti aja.”
“Pulanglah ke sini kalau bisa. Mama masih kangen.”
“Oke.” Amara masuk ke dalam mobil miliknya.
“Hati-hati.” ucap Mytha.
“Baik Mama.” Gadis itu segera melajukan mobilnya keluar dari rumah masa kecilnya itu.
***
Hampir satu jam Amara berkendara melewati segala macam drama lalu lintas pada lewat tengah hari itu. Sebelum akhirnya dia tiba di depan gedung Nikolai Grup yang megah tak tertandingi.
Amara menatap bangunan setinggi dua puluh lantai yang sudah puluhan tahun berdiri dan mengalami beberapa kali renovasi itu. Dia ingat sekali saat pertama kali Arfan membawanya ke tempat itu untuk bekerja, dan kini hal itu terjadi lagi untuk alasan berbeda.
Dia menarik dan menghembuskan napasnya pelan-pelan, lalu menekan dadanya yang berdebar kencang, kemudian terkekeh.
Rasanya konyol sekali, tapi ini harus di lakukan.
“Ayo Ara, kamu bisa.” katanya, seraya memantapkan hati.
Kemudian Amara melangkahkan kakinya memasuki bangunan tersebut, dan masuk begitu sekuriti membukakan pintu untuknya.
__ADS_1
“Selamat siang, selamat datang di Nikolai Grup?” Seorang resepsionis segera menyapanya.
“Siang.” Amara menjawab.
“Ada yang bisa kami bantu?” Perempuan dibalik meja itu bertanya dengan ramah.
“Saya Amara.” Gadis itu memperkenalkan diri.
Sudah lama sekali sejak terakhir kali dirinya datang berkunjung, dan resepsionis di depan pun kini adalah orang yang berbeda dari yang dia kenal sebelumnya.
“Baik Bu Amara? Apa ada yang bisa saya bantu?” Resepsionis bertanya lagi.
“Saya mau bertemu dengan Kak, eh maksudnya … Pak Galang?” Amara menjawab.
“Pak Galang?”
“Ya, asistennya Pak Dimitri?”
Perempuan dibalik meja itu terdiam sambil mengerutkan dahi. Menatap wajah Amara yang tersenyum kepadanya.
“Apa sudah ada janji sebelumnya?”
Amara menggelengkan kepala.
“Oh, maaf sekali, sepertinya kami tidak bisa mempersilahkan anda masuk karena belum memiliki janji dengan beliau.”
“Tapi saya memang tidak bisa membuat janji sebelumnya, karena belum bertemu.”
“Apalagi jika seperti itu. Kami tidak bisa sembarangan menerima tamu untuk staff. Terutama karena tidak ada instruksi sebelumnya.”
“Tapi saya harus bertemu dengan Kak Galang, ehm … maksud saya Pak Galang. Ini penting.” Amara bersikeras.
“Maaf sekali Bu.”
“Saya mohon.”
“Lagi pula Pak Galang kebetulan sedang tidak ada di tempat. Jadi dengan menyesal Anda tidak bisa bertemu beliau.”
“Pak Galangnya pergi?’
“Ya.”
“Ke mana?”
“Sedang menghadiri pertemuan dengan pimpinan kami.”
“Kapan kembali?’
“Kami tidak tahu, karena memang tidak bisa ditentukan.”
Amara tertegun.
“Baik, ada lagi yang bisa kami bantu?’
“Umm … tidak ada, terima kasih.” Lalu gadis itu pun berjalan keluar.
***
“Benarkah?” Suara tawa perempuan terdengar riang di pelataran parkir.
“Ya, aku rasa.” Dan suara pria menjawabnya. Suara yang Amara kenal.
“Baiklah, mungkin lain kali kita harus pergi ke sana?”
“Memangnya kamu mau?”
“Ya, aku rasa aku membutuhkan liburan. Kamu benar, kalau itu akan membuat pikiran lebih baik.”
“Sekarang kamu percaya kan?”
“Ya, bagus juga untuk mengurangi stress.”
“Ya, ….” Mereka berdua tertawa bersama.
Galang dan Clarra yang berjalan bersisian menuju ke arah gedung. Keduanya terlibat percakapan yang cukup menyenangkan, hingga akhirnya mereka sama-sama tertegun ketika menyadari keberadaan Amara di sana.
“Ara?” Kedua bola mata Galang membulat secara penuh, dan tubuhnya seketika membeku.
“Kak Galang?” Amara pun menatap, dan tanpa pikir panjang lagi dia segera menghambur ke pelukan pria itu.
🌺
🌺
🌺
Bersambung ...
__ADS_1
ketemu? 😱😱